Beby Si Wonder Woman

Beby Si Wonder Woman
Bab 88 BSWW


__ADS_3

Anny Ahnisar tak bisa menahan tangisnya saat mendengar ayahnya di kampung sedang sakit keras dan ia diminta untuk segera pulang saat itu juga.


Meskipun sedang bersedih tetapi kabar menyedihkan yang tiba-tiba itu cukup membuatnya kembali berlari ke kamar mandi untuk membuang hajatnya.


Dengan gerakan cepat ia mengumpulkan semua berkas-berkas perusahaan yang sedang ia kerjakan dan menyimpannya di atas mejanya.


Gadis itu sudah menghubungi Eka sahabatnya yang sedang menemani Bumbu menyaksikan pameran produk-produk Perusahaannya di sebuah hotel kalau ia akan pulang kampung hari itu juga.


"Anny, mau kemana?" tanya Fadil Akifah Anshar saat melihat karyawan dari divisi marketing itu sedang terburu-buru keluar dari perusahaan.


"Ini belum jam istirahat, apa ada hal penting yang harus kamu kerjakan di Luar?" tanya manager itu lagi karena Anny hanya diam menunduk.


"Aku sudah minta izin sama ibu Wapresdir pak, ada urusan keluarga di kampung, permisi." ujar Anny kemudian melanjutkan langkahnya ke jalanan di depan Perusahaan.


"Hati-hatilah kalau begitu," ujar manajer itu dengan tatapan khawatir. Ia tidak tahu harus bilang apa karena sepertinya gadis itu tak pernah berusaha membalas perhatiannya.


Fadhil Akifah hanya bisa menatap kepergian Anny Ahnisar dengan perasaan tak terbaca.


Pria itu sudah pernah mengutarakan cinta pada karyawan ex office girl itu tetapi sampai sekarang gadis itu menggantungnya, tidak menjawab tidak tetapi tidak juga menjawab iya.


Anny menghapus air mata di pipinya kemudian melanjutkan langkahnya ke halte Bus yang ada di seberang jalan.


Gadis itu akan naik bus ke tempat kostnya untuk mengambil beberapa pakaian dan menuju terminal untuk melanjutkan perjalanan ke kampungnya.


Butuh 4 jam dengan menggunakan Bus agar sampai di kampungnya di Kabupaten S.


"Assalamualaikum, ibu... bagaimana ayah?" ujar Anny saat ia tiba di dalam rumahnya.


Gadis itu menyaksikan ada banyak orang sedang duduk melingkar membacakan doa-doa dan ayat Alquran pada sosok lemah tak berdaya yang tak lain adalah ayahnya sendiri.


Semua orang yang ada di dalam ruangan itu memandang gadis yang baru datang itu dengan wajah sedih. Pria paruh baya yang dikenal sebagai juragan sayur itu sedang terbaring lemah sudah beberapa hari ini.


"Ayah, ini putrimu sudah datang," ujar sang ibu memberitahu bahwa putri semata wayangnya itu yang sangat dirindukannya itu sudah berada disampingnya.


"Iya ayah, aku sudah datang untuk ayah, sekarang sembuh ya," ujar Anny dengan menahan agar tidak menangis di hadapan ayahnya.

__ADS_1


Perlahan pria itu membuka matanya setelah mendengar suara putrinya.


"Anny, betulkah itu kau nak?" tanyanya dengan suara bergetar menahan rindu.


"Iya ayah, aku minta maaf karena baru bisa pulang, hiks." ujar gadis itu kemudian memberikan pelukan sayang pada ayahnya.


"Bagaimana pekerjaanmu nak, apa kamu meninggalkannya karena ayah?"


"Tidak ayah, aku memang mau pulang kok. Dan sudah minta cuti yang lama supaya bisa menjaga ayah disini." pria itu menarik bibir pucatnya untuk tersenyum.


Semua orang menarik nafas lega karena pak Wahyu akhirnya bisa tersenyum setelah lama berbaring sakit. Rupanya kedatangan orang yang dirindukan membuat pria sakit itu langsung sembuh.


"Terimakasih atas bantuan dan doanya," ujar Anny pada semua tetangga yang sudah meninggalkan rumah itu satu persatu.


"Ibu, ayah sebenarnya sakit apa sih? kenapa aku baru diberi tahu." tanya Anny pada Indah, ibunya yang sedari tadi mengelus lengan suaminya yang tampak sangat lemah dan kurus itu.


"Biasa penyakit orang tua. Rindu mau melihat putrinya menikah." jawab sang ibu tersenyum. Anny menutup mulutnya tak percaya. Karena kondisi fisik sang ayah benar-benar mengkhawatirkan.


"Katakan ibu, atau kita bawa ayah sekarang juga ke rumah sakit."


"Uhukkkk, uhukkkk," Wahyu terbatuk dengan keras sampai makanan yang baru ke mulutnya langsung dimuntahkannya keluar.


"Ayah, tuh kan ayah sakit," ujar Anny sembari memberi satu gelas air putih untuk minum. Tetapi batuk itu tak berhenti hingga yang dimuntahkannya adalah cairan merah dari dalam tubuhnya.


"Ayah!" teriak Anny histeris.


"Ibu, ayah muntah darah ibu!" teriak Anny lagi diiringi dengan tangis. Gadis itu membantu ayahnya untuk bangun dan mengelus dadanya yang sepertinya sakit.


"Ayah, kita ke rumah sakit ya?" Anny membujuk pria paruh baya itu dengan wajah sedih. Wahyu mengangguk pelan. Ia akan mengikuti kemauan putrinya agar ia bisa panjang umur untuk melihat Anny Ahnisar sang putri menikah dan bahagia.


Putri semata wayangnya itu langsung berdiri dan mulai mempersiapkan pakaian dan kebutuhan yang akan diperlukan untuk dibawa ke rumah sakit.


Sebuah mobil berhenti di depan rumahnya saat mereka sudah bersiap ke rumah sakit.


"Mau kemana Bu Indah?" tanya Murni, istri kepala desa yang kebetulan akan bertamu ke rumah Wahyu itu

__ADS_1


"Kami akan membawa mas Wahyu ke rumah sakit Bu Murni."


"Oh kalau begitu biar kami antar, belum panggil mobil kan?" ujar ibu Desa itu dengan ramah.


"Iya Bu, kami baru mau mencari sopir karena Anny belum bisa membawa mobil tua itu." jawab Indah sembari melirik ke arah garasi dimana ada mobil Van tua di sana yang biasa dipakai oleh suaminya untuk menjemput dan menjual sayuran.


"Eh, nak Anny kebetulan sekali ya, kapan kamu datang?" tanya Ibu Desa itu dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.


"Baru beberapa jam yang lalu tante," jawab Anny sembari memapah ayahnya ke dalam mobil istri kepala desa itu.


"Adi yang akan mengantar kita, masih ingat Adi kan Anny?"


"Iya tante, Adi kan teman SMA Saya," mereka terus mengobrol sampai tiba di rumah sakit.


Murni dan putranya itu betul-betul menyediakan waktunya untuk mengurus ini dan itu agar Wahyu bisa ditangani dengan baik di rumah sakit itu.


"Terimakasih banyak tante," ujar Anny saat Murni dan putranya berpamitan.


"Sama-sama Ann, dan semoga ayahmu segera sembuh ya, supaya pernikahan kamu dan Adi segera bisa dilaksanakan." ujar Murni yang langsung membuat Anny mematung.


"Maksud Tante apa?" tanya Anny dengan wajah bingung.


"Nanti kamu tanyakan sama ayah dan ibumu saja, kalau kami sudah melamarmu dan mereka sudah menerimanya."


"Kami pamit ya, Adi kalian belum ngobrol lho." ujar Murni dan menatap putranya yang sedari tadi diam saja.


"Ann, bentar malam aku akan kesini lagi. Aku antar mama pulang dulu." ujar Adi dengan wajah datar.


"Ah iya, terimakasih banyak." Anny memandang punggung dua orang itu yang meninggalkan kamar perawatan ayahnya dengan gamang.


Apa ini? ujarnya membatin. Ia harus menanyakan hal penting ini pada ibu dan ayahnya.


*Tobe continued


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2