Beby Si Wonder Woman

Beby Si Wonder Woman
Bab 44 BSWW


__ADS_3

Matahari sudah nampak memancarkan warna jingga di ufuk barat sore itu ketika sebuah mobil mewah memasuki halaman luas kediaman Ibrahim.


Gadis cantik kesayangan Ibrahim dan Hanna itu turun dari mobil sembari membuka topi dan juga kacamatanya.


"Assalamualaikum Ma, Pa," sapa Beby Alesha saat bertemu dengan kedua orangtuanya sore itu.


"Waalaikumussalam warahmatullahi." jawab Ibrahim dan Hanna bersamaan. Mereka berdua sedang duduk santai di beranda depan sembari meminum teh hangat.


"Kok baru pulang sayang, gak capek apa main di luar terus," tegur Hanna sembari menarik tangan putrinya itu duduk disampingnya.


"Hari ini capek banget Ma, aku sama Eka dan Anny sibuk jalan," jawab Beby kemudian langsung menyeruput teh hangat milk sang Mama.


"Alhamdulillah, ini enak banget," lanjutnya dengan senyum merekah di wajahnya.


"Ada baiknya kamu gak banyak jalan dulu deh sayang, seminggu lagi kan kamu nikah,"


"Uhukkkk," Beby Alesha langsung tersedak saat ia sedang menyeruput kembali cairan manis kemerahan itu.


"Hati-hati dong kalau lagi minum," ujar Hanna sembari menyerahkan sekotak tissue agar sang putri bisa membersihkan hasil minuman yang tumpah itu.


"Seminggu? cepat amat Ma," ujar Beby dengan mata melotot tak percaya. Ia pun mengambil beberapa lembar tissue untuk melap bibirnya.


"Lho kamu kan bilang semua diserahkan sama Papa dan Mama," jawab Ibrahim setelah menyimpan handphonenya di atas meja di hadapannya.


Pria itu baru saja membuat janji dengan tim Event Organizer untuk mengatur pernikahan putrinya yang cuma sebiji itu.


Ia menginginkan sebuah Pernikahan yang cukup mewah untuk putri semata wayangnya itu. Pernikahan yang akan dikenang dan cukup bermakna antara Beby Alesha dan Erick Bramantyo kesayangannya.


"Tapi kan gak harus seminggu juga Ma, Pa. Cepat banget, dan Ih kok aku ngeri ya, boleh mundur gak?"


"Eh, enak aja mau mundur, emang kamu gak kasihan sama Ibu Ratih?" ujar Hanna dengan nada tak senang dengan rencana putrinya itu.


Sengaja ia membawa nama perempuan itu agar Beby tidak berulah dan mencari alasan lagi.


"Tapi kan kalau seminggu itu terlalu mepet banget waktunya,"


"Sebuah kebaikan akan lebih baik kalau dipercepat sayang, dan juga kedatangan Ibu Ratih dam putranya itu memang sudah lama kami harapkan." ujar Ibrahim sembari mengelus lembut punggung putrinya itu.


Beby menatap wajah teduh Papanya dan hanya bisa tersenyum tipis.


Apa boleh buat, ia harus tetap melanjutkan hidupnya dengan permintaan semua orang yang ia sayangi.


Meskipun ia sendiri masih sangat berat meninggalkan masa lajang yang sangat memberinya banyak hal yang sangat indah dan penuh kebebasan.


"Serah Mama sama Papa deh, aku mau istirahat dulu. Pagi-pagi sekali aku mau berangkat kerja," ujar Beby setelah lama terdiam. Ia kemudian berdiri dari duduknya dan meninggalkan beranda itu.


"Hey, kerja apa Beb? kamu harus dipingit dulu, nyalon gitu supaya pas nikahan jadi cantik dan bikin suamimu pangling."

__ADS_1


"Nyalon jadi Bupati maksudnya Ma? ih ogah ah," jawab Beby Alesha bermaksud melucu sembari melanjutkan langkahnya ke lantai 2 dimana kamarnya berada.


"Beb?!" panggil Hanna lagi.


"Iya Ma, aku denger, nanti aku scrubbing sendiri deh di kamar gak usah ke salon. Lagian udah ada perjanjian pranikah kok," ujar Beby dengan suara pelan.


Ya, ia tak perlu merawat diri sampai harus ke salon, toh ia sendiri dan suaminya tak akan saling memperdulikan.


"Perjanjian pranikah apa?" tanya Hanna dengan wajah khawatir.


Perempuan cantik yang melahirkan Beby itu ternyata sudah mengikuti langkah putrinya itu ke tangga.


"Gak Ma, aku cuma bercanda, hehehe Peace Ma!" jawab Beby sembari mengangkat kedua jari telunjuk dan jari tengahnya.


Gadis itu kemudian melanjutkan langkahnya ke atas menyisakan Hanna sang Mama mengernyit bingung.


Perempuan cantik


itu pun kembali menghampiri suaminya yang masih duduk di beranda.


"Pa, putrimu itu kok aneh banget ya,?"


"Aneh bagaimana?"


"Masak gak lihat sih tadi, benar-benar tak peduli dengan pernikahannya, ia sebenarnya lagi mikirin apa sih?" Hanna menarik nafas dalam-dalam dan duduk di samping suaminya.


"Udah, kamu tidak usah mikir macam-macam. Biar kita yang urus semuanya. Biarkan dia menikmati masa gadisnya, nanti kalau sudah menikah sama Erick, putri kita akan diurus dan dijaga sama menantu kita itu."


Hanna pun terdiam dan membenarkan perkataan suaminya.


🍁


Hany Khumaira berdiri di depan halte bus untuk menunggu moda Transportasi umum itu untuk pulang. Lama ia menunggu tapi tak kunjung datang juga.


Dalam hati itu menyesal kenapa ia tidak memakai motor bebek bututnya saja untuk datang bekerja tadi pagi hingga ia tak harus menunggu kendaraan umum itu untuk pulang.


Sebuah motor sport tiba-tiba berhenti di depannya dan menawarkan boncengan.


"Ikut aku yuk," tegur Downy, seorang karyawan yang sama dengannya, yang baru ia kenal tadi di Kantin saat makan siang.


"Emangnya kita searah, kak?"


"Aku bisa ngantar kamu kok, meskipun kita tidak searah." jawab Downy lagi dengan senyum diwajahnya.


Hany menatap motor sport itu kemudian kembali menatap dirinya sendiri yang sedang berusaha tampil feminim dengan blouse dan juga rok dibawah lutut.


"Aku mana bisa dengan rok seperti ini, maaf ya kak Don." jawab Hany tersenyum.

__ADS_1


"Lain kali aku akan bawa pakaian ganti deh kalau mau ikut denganmu." lanjutnya sembari menunjuk pakaiannya sendiri.


"Kamu bisa boncengan seperti cewek deh, ayok... meskipun akan sedikit tidak nyaman sih." ujar pria itu memberi solusi tetapi terkesan memaksa.


Hany menatap penanda waktu mungil di pergelangan tangannya. Dan merasa bahwa ini sudah sangat sore kalau ia masih bertahan menunggu di sana maka kemungkinan besar ia akan kemalaman.


Dengan terpaksa ia pun melangkah ke arah motor sport itu untuk mengikuti tawaran teman barunya itu


Piiip!


Piiip!


Sebuah Mobil mewah tiba-tiba melewati mereka berdua dan membunyikan klakson berkali-kali agar mendapatkan perhatian dari keduanya.


"Kamu ikut aku!" titah seorang pria yang ada di dalam mobil itu sembari tangan menunjuk Hany yang sudah bersiap naik ke boncengan Downy.


Pria pemilik mobil itu ternyata adalah Yudhistira, bos mereka.


"Tapi aku ingin ikut sama Kak Downy Pak," jawab Hany sembari memandang bergantian Downy dan juga Yudhistira.


"Kamu tidak patuh sama perintah bosmu Hah?!" nampak Yudhistira mulai kesal.


"Udah Han, ikut sama Bos aja, lain kali deh aku antar kamu pulang." ujar Downy yang merasa tidak nyaman dengan tatapan sang Bos.


"Maaf Pak, aku duluan." ujar pria itu kemudian melajukan motornya dan meninggalkan Hany disana sendiri.


Hany pun akhirnya masuk ke mobil itu dengan tak enak hati.


"Terimakasih Pak." ujarnya saat sudah berada di dalam mobil dan duduk berdampingan dengan pimpinannya itu.


"Untuk seterusnya aku yang akan menjemput dan mengantarmu pulang, ngerti?"


Eh?


"Tidak perlu repot-repot Pak, aku punya motor kok, meskipun sudah tua tapi masih kuat ngantar aku kesana-kemari."


"Kamu mau membantah perintahku?"


Eh?


Hany hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal dengan kemauan bos barunya ini.


*Tobe continued


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya, okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2