
"Ibu..." Beby Alesha langsung menubruk dan memeluk tubuh Ratih.
Ada banyak rasa yang ia ingin tumpahkan pada perempuan berhijab yang sekarang menjadi ibu mertuanya itu.
"Alesha, apa putra ibu membuatmu sedih, nak?" tanya Ratih sembari membelai rambut sang menantu cantiknya.
"Ibu yang membuatku sedih, kenapa ibu tidak bilang kalau Pak Erick itu putra Ibu, hiks?" Beby Alesha menyusut air mata yang keluar dari pelupuk matanya.
Ratih tersenyum kemudian memandang Erick yang kebetulan juga berada di dalam ruangan itu. Putranya itu sedang bersandar di bingkai pintu kamar sang ibu.
"Memangnya kenapa kalau Erick itu putra ibu? Apa tampangnya mengganggu penglihatanmu nak?" tanya Ratih dengan tangan masih mengelus lembut rambut menantunya.
"Iya ibu, putramu itu orang yang paling aku tidak harapkan menjadi suamiku." jawab Beby Alesha yang langsung membuat Erick menegang.
"Tapi kenapa kalian sepertinya sengaja merencanakan ini semua?!" lanjut Beby yang nampak kesal sangat.
Ratih menatap Erick, sang putra. Ia tak pernah menyangka gadis yang sangat ingin ia jadikan menantu malah menampilkan perilaku seperti itu.
Tetapi ia tetap tersenyum karena bukan salah gadis ini jika ia bertingkah seperti itu. Mereka semua yang salah karena telah menyembunyikan hal sebesar ini padanya.
Beby Alesha langsung melepaskan diri dari rengkuhan ibu mertuanya. Perempuan itu berbalik dan menatap suaminya yang masih terbatuk-batuk itu.
"Ngapain kamu ikut ke dalam sini? pokoknya aku tidak mau seruangan denganmu!" seru Beby sembari meninggalkan kedua orang itu yang memasang wajah bengong.
"Ibu bisa lihat kan kalau Beby tak pernah menyukaiku," ujat Erick dengan wajah sendu. Ratih tersenyum kemudian mengajak putranya itu duduk di sampingnya.
"Kemarilah anak nakal, ibu tidak tahu ada kejadian apa hingga menantuku itu tidak menyukaimu tapi yang jelasnya aku sangat bersyukur karena dia anak yang baik dan tak tega mempermalukan papa dan mamanya," Ratih menepuk bahu sang putra lembut.
"Ingat-ingat kalau kamu mungkin pernah menyakiti perasaannya di masa lalu, minta maaflah, dan juga kamu harus ingat bahwa perempuan itu paling suka menyimpan kenangan buruk. Memorinya sangat kuat akan hal itu. Jadi usahakan ia melupakan perbuatan burukmu padanya,"
"Iya Ibu, aku akan minta maaf padanya." jawab Erick sembari mencium pipi sang ibu.
"Dan sekarang aku ingin tahu, kenapa ibu kembali ke Panti ini tanpa memberi tahuku atau Jack dan malah pulang naik Taksi?" tanya Erick ingin tahu. Ratih tidak menjawab.
Perempuan paruh baya itu hanya memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia tak sanggup mengatakan alasannya kenapa ia meninggalkan pesta itu tanpa pamit pada siapapun bahkan pada besan dan juga putranya sendiri.
__ADS_1
"Ibu? aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu dariku, katakan padaku ibu."
Ratih masih diam. Dengan perlahan ia menutup matanya dan malah membuat beberapa cairan bening meluncur bebas di pipinya yang sudah tak muda lagi. Ada hal yang begitu menyakitkan hatinya di saat resepsi pernikahan putranya itu.
"Tidak Erick, ibu tidak apa-apa, sekarang bawa istrimu pulang ke rumah orangtuanya. Kalian menginap di sana saja malam ini."
"Ibu?"
"Erick, dengarkan ibu, dan ingat minta maaf pada istrimu. Rumah tangga akan gampang digoncang angin kencang kalau kalian berdua membuka celah angin untuk masuk."
"Ibu?"
"Dengarkan ibumu ini nak, bagaimanapun perlakuan Alesha padamu, terima saja dengan sabar tetapi jangan pernah sekalipun meninggalkannya. Ia belum menyadari begitu berartinya hubungan kalian ini."
"Ibu?"
"Sudah, cepat temui istrimu.Jangan sampai ia kembali ke rumahnya sendiri." Erick tak bisa lagi berkata-kata. Ia tahu ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh ibunya saat ini.
"Baiklah ibu, aku permisi, besok aku akan datang lagi mengunjungimu." pamit Erick kemudian mencium tangan sang ibu. Ia berjanji akan mengikuti semua perintah dan nasehat ibunya.
"Kami permisi ibu."
"Iya Ibu, assalamualaikum."
"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh." jawab Ratih sembari menarik nafasnya berat.
🍁
"Kamu tidak berpamitan sama ibu?" tanya Erick saat mereka sudah akan kembali pulang ke rumah kediaman Ibrahim.
Beby Alesha hanya bisa terdiam. Sungguh ia merasa bersalah karena membentak perempuan yang sangat dikaguminya itu tetapi ia sudah gengsi untuk kembali ke dalam Panti.
"Beb, pamit sama ibuku," titah Erick tegas. Beby langsung menatap Erick dengan pandangan tajam.
"Kamu berani mendikteku sekarang, hanya karena kamu sudah menjadi suamiku?" Beby melengos tak mau padahal hatinya sangat ingin.
__ADS_1
"Hargai orang tua, aku tak mau ibu sedih. Cepat masuk dan berpamitan dengan benar." lanjut Erick dengan nada memerintah. Ia tiba-tiba lupa peringatan ibunya untuk mengambil hati istrinya itu.
"Baiklah, tuan arogan, yang sukanya main perintah-perintah. Andai ini bukan ini karena ibu Ratih aku tak akan mau mengikuti perintahmu, dengar?!" ujar Beby Alesha dan langsung berlari masuk kembali Ke Panti Asuhan itu.
Disana ia memeluk Ibu Ratih dengan mengucapkan permohonan maaf karena telah mematahkan hati perempuan bersahaja itu.
Erick Bramantyo yang menunggu di depan mobilnya tersenyum senang saat melihat istrinya diantar oleh ibunya sampai di depan pintu.
Ada drama peluk dan cium diantara dua perempuan yang sangat dicintainya itu.
"Ayo kita pulang!" titah Beby Alesha saat sudah sampai di depan mobil pria yang sudah resmi menjadi suaminya itu.
"Baik nyonya." jawab Erick sembari membungkuk pelan seolah-olah sebagai pelayan dari perempuan cantik itu.
"Ish lebay!" cibir Beby Alesha dengan mencebikkan bibirnya. Erick Bramantyo tak perduli. Ia hanya ingin berterimakasih pada istrinya karena telah membuat ibu yang sangat dicintainya itu tersenyum kembali.
"Sebelum kembali ke rumah, nyonya Bramantyo ingin singgah di suatu tempat?" tanya Erick sembari menghidupkan mesin mobilnya.
"Tidak!" jawab Beby Alesha singkat dan tegas.
"Ke Markas kalian mungkin, saya siap mengantar nyonya," lanjut Erick yang semakin membuat wajah Beby Alesha memerah kesal.
"Gak lucu!"
"Oh gak lucu ya, ya udah, kita pulang." ujar Erick dengan tarikan nafas panjang. Pria itu yakin perlu waktu yang lama untuk mengambil hati perempuan yang sudah menjadi istrinya itu.
Tak butuh waktu lama, mereka pun sampai di rumah kediaman Ibrahim.
"Bagaimana keadaan ibu mertuamu sayang?" tanya Hanna ketika sepasang pengantin baru itu masuk ke dalam rumah besar itu.
"Baik Ma, ibu titip salam sama Papa dan Mama. Ia juga minta maaf karena cepat meninggalkan acara resepsi."
"Ya wajarlah, ibu mertuamu itu kan merasa tak pantas berada dikalangan keluarga kaya seperti kita ini." timpal Linda, tante dari Beby Alesha. Erick Bramantyo yang juga berada di tempat itu langsung merasakan kupingnya memanas.
*Tobe continued
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya, okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍