
"Anny? Kamu berani menikah tanpa restu dari ayahmu nak? Uhukkk!" Wahyu memaksakan dirinya untuk bangun dari posisi berbaringnya.
Anny tidak menjawab. Ia sekarang berada pada posisi yang sangat buruk. Betul kata orang bijak, sekali berbohong pasti akan ada kebohongan baru yang akan muncul.
"Kamu mempermalukan kami Anny! kupikir kamu gadis baik-baik ternyata ya, apa ini hasil dari kuliah di kota Iyya?" seru Murni sembari menunjuk wajah gadis cantik itu. Ia betul-betul merasa sangat malu sekarang ini.
"Maafkan kami ayah ibu, Tante dan Om, itu murni kesalahan saya, jadi kami harus menikah tanpa izin dari ayah dan ibu terlebih dahulu." timpal Fadhil Akifa cepat.
Ia tak rela gadis yang ia cintai kena marah seperti itu hanya karena keegoisannya sendiri yang memulai karangan bebas ini.
"Anny kamu tega ya?!" Adi yang sejak tadi diam saja memandang wajah calon istrinya itu dengan perasaan marah dan kecewa.
"Jadi kalau seandainya suamimu ini tidak datang tepat waktu, berarti kamu mau poliandri?" tanya Adi dengan pandangan jijik.
Ia tak menyangka gadis yang merupakan cinta pertamanya itu mau melakukan hal yang menjijikkan ini hanya karena materi.
Orang tua Anny mau menikahkan putrinya itu karena utang yang sudah terlalu banyak kepada kedua orangtua Adi karena bisnis sayur mayur yang dijalaninya itu akhir-akhir ini merugi dan juga membuatnya sakit-sakitan.
Anny merasa dunianya hancur. Ia tak menyangka hanya karena mengikuti permainan dari Fadhil Akifa yang tiba-tiba datang itu malah membuat keluarganya malu.
Tapi bagaimana kalau atasannya itu tidak datang apa ia harus menikah dengan terpaksa seperti ini?.
"Bayar utang kalian sekarang juga!" sentak Murni dengan suara melengking marah.
"Ma kita pulang saja, jangan bahas itu di sini. Om Wahyu sedang sakit." ujar Adi kemudian mengajak Papa dan Mamanya keluar dari ruangan itu.
"Tidak bisa! mereka harus membayar utang itu sekarang juga." Murni masih bertahan tidak ingin keluar dari kamar itu tetapi Adi dan suaminya menyeretnya keluar.
"Berapa utang ayah mertua saya tante?" langkah mereka terhenti di depan pintu atas pertanyaan pria muda yang mengaku sebagai suami dari Anny Ahnisar itu.
"50 juta, belum termasuk bunganya!" jawab Murni dengan wajah berubah cerah.
"Berikan nomor rekeningnya akan saya transfer sekarang juga." ujar Fadhil Akifah Anshar dengan tangan siap mentransfer uang yang dimaksud.
"Terimakasih banyak, kami permisi." ujar Murni setelah handphonenya berbunyi tanda transferan itu berhasil.
__ADS_1
Adi menatap Anny sekilas dengan perasaan hancur. Mereka bertiga keluar dari kamar perawatan itu dengan perasaan kecewa dan malu.
"Saya juga permisi pak Wahyu, semoga penyakit Bapak segera diangkat oleh Allah SWT." bapak penghulu itu berpamitan karena tugasnya tidak terlaksana. Ia melangkah keluar dari kamar itu tetapi langkahnya di dihalangi oleh Fadhil Akifah di depan pintu.
"Maaf pak penghulu, saya mau meminta tolong untuk menikahkan putri pak Wahyu dengan saya saat ini juga." ujar pria itu sembari menyentuh tangan pak penghulu itu.
"Maksud kamu apa? bukannya kamu sudah menikahi putrinya pak Wahyu?" Fadhil tersenyum meringis. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Pernikahan kami belum sah karena Ayahnya belum memberikan restunya pak." jangan Fadhil Akifah dengan wajah menunduk malu.
"Astagfirullah semoga Allah mengampuni kamu nak, dan juga semoga kalian belum terlalu jauh melangkah."
"Mari pak, kita laksanakan saja pernikahannya segera." ajak Fadhil Akifah sembari membawa pria paruh baya itu untuk melangkah masuk lagi ke arah tempat tidur pasien.
"Pak penghulu, apa ada barang anda yang ketinggalan?" tanya Indah dengan berusaha tersenyum padahal mereka semua sudah cukup malu pada petugas pencatat nikah dari kantor KUA itu.
"Saya belum melaksanakan tugas saya Bu Indah."
"Tugas apalagi pak?"
"Hah?" Anny, Indah, dan Wahyu menatap pria itu dengan wajah tak mengerti.
"Anak ini yang mengaku sebagai menantu palsu kalian ini ingin menikahi Anny Ahnisar secara sah karena merasa pernikahannya selama ini tidak sah."
"Hah?!" sekali lagi ketiga orang itu melongo tak percaya. Anny yang ingin berdiri dan menanyakan apalagi maunya atasannya itu langsung dicegah oleh Fadhil.
"Anny duduklah dengan tenang dan aku akan melamarmu dengan resmi kepada ayah dan ibumu."
Anny sekali lagi melongo tetapi kemudian ia tersenyum. Dadanya berdebar kencang saat pandangan mata mereka berdua beradu.
"Ayah, izinkan aku menjadikan putrimu sebagai istriku yang menemaniku sampai menua." Fadhil meraih tangan Wahyu dan meminta putrinya itu. Wahyu hanya tersenyum.
"Saya tidak mungkin menolakmu karena kalian mungkin sudah berkumpul sudah lama," jawab Wahyu sembari menatap wajah putrinya yang menunduk.
"Semoga Allah mengampuni kalian berdua nak,"
__ADS_1
"Iya ayah maafkan kami, sekarang kami akan menikah dengan resmi di hadapan ayah dan ibu." ujar Fadhil Akifah sembari menyentuh tangan Anny. Gadis itu tersentak kaget kemudahan menunduk lagi. Debaran di dadanya benar-benar seperti sebuah genderang.
"Aku akan keluar untuk mencari saksi. Tunggu sebentar ya Pak," Fadhil Akifah segera melangkah keluar dari kamar perawatan itu untuk mencari 2 orang laki-laki dewasa yang muslim, sehat, dan juga berakal untuk menjadi saksi pernikahan dadakan ini.
"Saya terima nikahnya Anny Ahnisar binti Wahyu dengan mahar satu unit apartemen dibayar tunai karena Allah,"
"Sah!"
"Sah!"
Doa keberkahan pun diucapkan oleh bapak penghulu itu dengan penuh rasa hikmat. Anny mencium tangan Fadhil Akifah Anshar yang sekarang menjadi suaminya yang sah.
Fadhil memasangkan sebuah cincin yang sangat cantik pada jari istrinya. Cincin yang selama ini ia bawa kemana-mana untuk Anny seorang.
"Permisi pak," ujar Anny dan segera berlari ke kamar mandi untuk mengeluarkan hajatnya seperti biasa saat ia merasakan emosi yang cukup tinggi, seperti takut, kaget, maupun bahagia yang teramat sangat.
"Aku akan membawa ayah untuk dirawat di ibukota, yang rumah sakitnya lebih lengkap dan juga pelayanannya lebih baik."
"Terimakasih banyak nak," ujar Wahyu dan istrinya. Mereka berdua seperti mendapatkan durian runtuh.
"Apakah Anny sudah mulai menunjukkan akan memberi kami cucu nak Fadhil?" tanya Indah dengan suara berbisik kepada menantu barunya itu. Tetapi suaranya masih sempat didengar oleh Anny sang putri.
"Uhukkkk uhukkkk uhukkkk," Wahyu dan Anny bersamaan terbatuk-batuk.
"Sebentar lagi Bu, kami masih saling mengenal belum sempat membuatnya Bu," jawab Fadhil Akifah yang langsung membuat Anny terbatuk-batuk lagi.
"Anny, kamu kenapa sih? wajar kan ibu tanya karena kalian sudah lama menikah dan tidak bilang-bilang sama ayah dan ibu."
"Uhukkkk uhukkkk uhukkkk," Fadhil segera mengelus lembut punggung istrinya itu dengan senyum samar di wajahnya.
*Tobe continued
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍
__ADS_1