Beby Si Wonder Woman

Beby Si Wonder Woman
Bab 46 BSWW


__ADS_3

Beby Alesha Ibrahim atau Boy memasuki ruangan Presiden Direktur dengan membawa nampan berisi minuman untuk Pak Ibrahim dan juga tamunya.


"Silahkan Pak," ujar Boy dengan suara rendah dan berat.


"Terimakasih." jawab Erick Bramantyo yang menjadi tamu Pak Presiden Direktur hari itu. Pria itu sedari tadi menatap Office Boy itu dengan pandangan tak terbaca.


Pria itu sepertinya mengenal tatapan mata dan juga bulu mata yang cukup lentik yang dimiliki Office Boy ini.


Setelah menata minuman tersebut diatas meja kaca di depan para petinggi Perusahaan itu. Ia pun segera pamit.


"Permisi Pak," ujar Boy kemudian segera melangkah keluar dari ruangan itu. Ia merasa Erick Bramantyo sedang memperhatikannya terus.


Syukurlah ia bisa mengatur suaranya dengan baik sehingga tak ada yang mencurigainya.


"Hei, tunggu dulu, kamu Office Boy baru ya?" tanya Ibrahim ketika Boy sudah hampir sampai di depan pintu keluar.


Deg


Beby Alesha merasakan dadanya berdebar hebat. Ia takut jangan sampai Papanya mengenal dirinya.


Ia pun berbalik dengan wajah tetap menunduk.


"Iya Pak," jawabnya singkat dengan suara berat.


"Selamat bekerja ya," ujar Ibrahim dengan senyum diwajahnya. Boy mengangguk kemudian pamit dari sana dengan langkah cepat.


Office Boy itu tak mau berlama-lama di sana dan berakhir dikenali.


"Bisa minta tolong gak Boy?" ujar seorang karyawan cantik dan seksih ketika ia membuka pintu ruangan itu.


Rupanya dia adalah sekertaris Presiden Direktur dan sudah lama menunggu office Boy ganteng itu keluar dari ruangan.


"Bisa mba,"


"Berkas ini tolong difotokopi di ruangan sana ya, trus bawa kemari."


"Iya mbak," jawab Boy cepat.


"Makasih ya," Beby tidak menjawab, ia tak mau membuang waktu dengan berbasa-basi dengan karyawan cantik yang sedari tadi menatapnya tak berkedip.


Dengan langkah cepat Ia pun menuju ruangan fotokopi yang dimaksud.


Apa tidak salah ini? Erick Bramantyo yang super menyebalkan itu menjadi wakil Presiden Direktur di Perusahaan ini?


Papa dikasih minum obat apa sih sama pria itu?!

__ADS_1


Ini tak boleh terjadi, aku akan buat pria itu tidak betah bekerja di sini.


ujar Beby Alesha membatin dengan wajah semakin dongkol dan emosi.


Tanpa sadar ia meremas kertas hasil fotokopi itu dengan emosi dan segala prasangka buruk di hatinya.


"Eh, kok dirusak Boy?" tanya seseorang dari arah belakangnya yang ternyata adalah Roma, temannya sesama OB.


"Ah, tidak. Aku kira ini wajah orang itu." jawab Beby eh Boy dengan suara berat.


"Wajah? kok diremas?" tanya Roma dengan bingung. Boy tidak merespon lagi kebingungan temannya sesama OB Itu.


Tangannya segera mengambil kertas-kertas Hasil Fotokopi yang berisi tentang Surat Keputusan penetapan Erick Bramantyo sebagai wakil Presiden Direktur di Perusahaan besar itu.


"Aku duluan ya Rom,"


"Ya," jawab Roma kemudian membuka cup mesin fotocopy yang baru digunakan oleh Boy itu untuk ia pakai juga.


"Ini Mba," ujar Boy sembari menyerahkan kertas-kertas fotokopi tadi.


"Bisa minta tolong lagi gak, Boy? kamu gak keberatan kan?" tanya sekretaris bernama Gendis itu. Ia menatap Boy dengan tatapan penuh pemujaan.


"Kamu kok ganteng banget sih, gak cocok jadi OB tahu gak?" ujar Gendis sembari menatap lekat-lekat wajah Boy yang tertunduk itu.


"Iya Mba, tadi mau minta tolong apa?"


"Baik Mba,"


"Terimakasih ya Boy, bentar siang aku traktir deh di Kantin."


"Iya Mba, makasih banyak." Boy kemudian undur diri dan segera melakukan perintah sekretaris itu.


Setelah semua pekerjaannya beres, ia pun kembali ke Pantry, dimana Eka masih ada di sana menunggunya.


"Gimana Beb, kamu gak jadi OB jadi-jadian kan di ruangan Presdir" tanya Eka dengan wajah penasaran. Gadis itu menyambut Beby di depan pintu karena cukup khawatir.


Pasalnya Beby cuma mengantar minuman tapi kok bisa lama sekali.


Gadis itu jadi takut kalau sahabatnya ketahuan kalau sedang memalsukan identitas apalagi ada karyawan yang sudah sempat curiga tadi.


"Enggak lah, aku rasa aktingku cukup bagus hari ini." jawab Beby dengan nafas lega.


Tetapi kemudian ia merasa kesal kembali ketika mengingat bahwa Erick Bramantyo adalah pimpinan tertinggi di Perusahaan ini.


"Kenapa kamu? kok malah berubah jutek begitu?" tanya Eka penasaran.

__ADS_1


"Jengkel aja, kok bisa sih Papa mengangkat Erick Bramantyo itu sebagai Wakil Presiden Direktur di sini sih? secara kan pria itu juga sibuk di Kantornya." jawab Beby dengan bibir manyun.


"Papamu pasti punya alasan yang sudah ia pikirkan dengan baik, Beb." balas Eka berusaha menurunkan emosi dari sahabatnya itu.


"Alasan apa coba? Papa tuh sudah dicuci otaknya sama si Mr. EB itu, kesal banget tahu gak Ek, sampai-sampai aku dijodohkan sama dia," ujar Beby tanpa sadar membuka rahasia yang selama ini ia simpan.


"Apa? kamu dijodohkan dengan Pak Erick? wah hebat banget tuh orang mau mendapatkan sahabatku yang cantik ini."


"UPS, kok aku bilang sih," Beby langsung memukuli bibirnya karena keceplosan.


"Pantas aja kamu kayak punya chemistry dengan beliau, ternyata ya..." Eka tersenyum menggoda sembari mengedip-ngedipkan matanya lucu.


"Ih apaan sih, tapi perjodohan itu batal sayang, untungnya Ibu Ratih ngelamar aku untuk putranya dan aku terima jadi ya, good bye Mr.Erick Bramantyo yang menyebalkan, hihihi." Beby seketika tertawa cekikikan karena merasa bahagia luar biasa.


Eka ikut tertawa tetapi tiba-tiba pintu Pantry itu diketuk dari luar membuat mereka kembali waspada.


"Lho Anny? ada apa?" tanya Eka saat melihat yang muncul di depan pintu adalah Anny sahabatnya, sesama Office Girl.


"Aku mau mundur dari pekerjaan ini, huaaaa." Anny langsung memeluk Eka dengan tangis di wajahnya.


"Ceritakan apa yang terjadi, Anny?"


"Ada karyawan di lantai 2 itu ngerjain aku, aku mau pulang kampung aja, huaaa." Eka menatap Beby dengan senyum diwajahnya.


"Anggota Rangers kok lebay gini sih, biasanya jago ngerjain balik." ujar Eka menghibur.


"Pokoknya aku gak mau kerja di sini lagi," ujar Anny sembari menghentakkan kakinya kesal.


"Siapa sih orangnya biar aku kasih pelajaran," ujar Beby dengan mengepalkan tangannya kesal.


"Dari Divisi Humas," jawab Anny dengan bibir mengerucut sebal.


"Laki atau perempuan?"


"Laki-laki, dan kayaknya dia itu manager deh di divisi itu."


"Lho? manager?" tanya Eka dengan wajah kesal juga.


"Kok Bisa sih?"


"Aku akan kesana Ann, atau kita akan lapor sama Pak Presdir."


"Makasih ya Beb," ujar Anny sembari menghapus airmatanya.


*Tobe continued

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya supaya othor semangat updatenya, okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2