Beby Si Wonder Woman

Beby Si Wonder Woman
Bab 39 BSWW


__ADS_3

Beby dan Erick saling bertatapan dengan pikiran dan wajah yang tampak berbeda.


Erick tersenyum puas sedangkan Beby mencibir dengan bibir mengerucut sebal.


"Serahkan kuncinya pak Erick Bramantyo yang terhormat," seru Beby dengan menengadahkan tangannya ke depan wajah pria itu.


"Boleh, asal kamu bersedia mundur."


"Tidak akan! aku yang duluan Pak Erick! dan lihat penumpangku sudah sangat telat, memangnya anda mau bertanggung jawab kalau mereka terlambat?!"


Erick Bramantyo tak bergeming.


Pria itu seakan tidak perduli. Ia malah menyandarkan tubuhnya yang sudah rapih dengan setelan jasnya itu di badan mobil gadis impiannya itu. Sambil memutar kunci mobil itu di tangannya.


"Dan kamu? keluar rumah dengan hanya memakai baju tidur? trus bilang terlambat? terlambat kemana? yang ada terlambat bangun iya, Hem."


Grrrrr


Beby mengangkat tangannya bersiap untuk meremas wajah pria itu.


Tetapi kemudian ia urungkan pasalnya ia baru sadar kalau ia hanya memakai pakaian tidur tipis tanpa lengan dan pastinya memperlihatkan lengan bagian dalam serta ketiaknya.


Belum lagi celana yang ia pakai hanya sebatas paha.


Gadis itu langsung kembali masuk ke mobilnya dan menghentakkan kakinya kesal.


"Pakai baju yang benar kalau keluar rumah." ujar Erick dengan suara pelan dan ia yakin Beby pasti mendengar suaranya.


Ratna dan Hany yang sudah mulai gregetan dengan tingkah dua orang yang bagaikan kucing dan tikus itu langsung saling berbisik.


"Lakukan sesuatu Rat, atau kita berdua akan mendapatkan masalah di kantor, plis."


Ratna pun membuka pintu mobil dan turun. Ia segera menghampiri Bosnya itu dengan senyum cengengesan.


"Pak, boleh ngalah sedikit gak?" pinta Ratna sembari melipat tangannya di depan dada memohon.


"Beby, teman aku tuh lagi PMS, salah sedikit anda bisa dimakan lho pak, tolong kasih kuncinya ya Pak?"


"Apa itu PMS?" tanya Erick penasaran. Matanya kembali menatap Beby yang sudah duduk didepan kemudi dengan wajah kesal.


"Premenstrual Syndrome Pak, emosi kadang gak bisa diajak kerjasama. Apalagi kalau sedang deras-derasnya, Plis ya Pak? saya juga sudah telat ngisi daftar hadir di kantor nih Pak,"


"Dan juga dia udah kebelet kawin Pak, bisa-bisa Pak Erick tuh yang diserangnya, kan berabe tuh."


Erick Bramantyo tersenyum miring dan sangat berharap memang dirinya yang mau diserang oleh si Wonder Woman itu.

__ADS_1


Setelah lama terdiam ia pun berujar, "Okey, ini demi temanmu ya aku mengalah," sengaja ia sedikit menambah volume suaranya agar Beby mendengarnya.


Pria tampan itu pun menyerahkan kunci itu kepada Ratna.


"Tapi saya ikut mobil bapak bisa gak? soalnya Beby juga akan mengantar Hany ke kantor barunya. Boleh ya Pak?" ujar Ratna memohon setelah memberikan kunci itu kepada yang punya mobil.


Erick menggeram tetapi pandangan masih ke arah Beby Alesha.


"Kamu ya? ngelunjak kalau dikasih jalan, aah sudahlah, ayo naik." ujarnya mengalah kemudian naik ke mobilnya sendiri dan memundurkan kendaraannya itu kembali masuk ke halaman Panti.


"Beb, aku ikut mobil bos aku yah, bye!" teriak Ratna sembari melambaikan tangannya.


"Ish dasar tak setia, lihat yang keren gitu langsung berkhianat." gerutu Beby kemudian melajukan mobilnya cepat ke arah kantor baru Hany. Penumpang yang sisa sendiri itu hanya bisa menahan senyumnya.


Sementara itu, Jack yang kebetulan baru sampai di depan gerbang Panti itu langsung dihadang oleh Erick agar tidak masuk dulu ke dalam.


"Kamu antar Ratna ke kantor pakai mobil ini. Dan motormu aku yang pakai." ujar Erick kemudian memaksa Jack turun dari motornya dan membuka helm pria itu.


Wusssh


Pria itu langsung melajukan motornya kencang mengikuti mobil Beby Alesha Ibrahim yang ada di depannya.


Jack ternganga, ia bingung dengan apa yang terjadi.


"Eh iya, tapi itu Pak Erick mau kemana? kok lebih pilih naik motor sih dan lagipula dia kan ada urusan penting hari ini sama ibunya,"


"Udah Jack cepetan, bos memang selalu bebas mau ngapain aja gak usah dipikirin." ujar Ratna semakin tak sabar apalagi jam tangannya sudah menunjukkan pukul 7.30.


"Baiklah kita berangkat." Pria itu pun naik ke mobil dan melajukannya dengan wajah masih bingung.


Sementara itu Erick yang mengikuti mobil Beby menuju Perusahaan PT. Yudhistira, menyaksikan dari jarak dekat adegan perpisahan dramatis dari dua sahabat itu.


"Makasih ya Beb, semoga aku termasuk tidak terlambat ini," ujar Hany sembari melihat jam tangan mungil di tangannya.


"Hahahaha, semoga saja ya Han, dan ya sepatumu okey juga tuh." ujar Beby sembari menutup mulutnya menahan tawa.


Pasalnya model sepatu ala iklan Mentos sedang digunakan oleh Hany sekarang ini dengan membuka semua heelsnya dan berakhir menjadi flat shoes.


"Padahal kita bisa beli sepatu dulu lho sebelum masuk."


"Gak apa-apa, aku suka tampil beda. Bye." ujar Hany kemudian segera berlari masuk ke pintu utama Perusahaan besar itu.


"Aduh baru kerasa laparnya, tapi Hany dan Ratna sempat sarapan gak ya tadi? dan apa mereka bawa uang untuk belanja di kantin?" ujar Beby dengan pandangan terus ke dalam Perusahaan besar itu.


"Ah, aku sudah gak kuat, mau cari sarapan dulu sekalian untuk Eka dan Anny di Rumah." Ia bermonolog sendiri sambil terus mencari warung pinggir jalan yang sudah buka dipagi hari itu.

__ADS_1


Seketika matanya berbinar melihat warung Padang di pinggir jalan yang nampaknya sudah siap menjual.


Gadis itu pun menepikan kendaraannya dan siap untuk turun tetapi saat ia ingin membuka pintu mobilnya itu sebuah sepeda motor malah berhenti pada di sisi kanannya dan membuatnya tidak bisa membuka pintunya.


"Bisa minggir gak, aku mau turun nih." seru Beby dengan wajah kesal. Tangannya sudah mengepal marah. Ia sekarang bagaikan singa lapar yang siap menerkam lawan.


"Gak boleh turun, bilang aja mau apa, nanti aku bantu," ujar pria yang sedang memakai motor dengan helm bungkus di kepalanya itu.


Ini siapa sih, perasaan orang asing ini sedari tadi ngikutin aku terus deh. Pas di traffic light tadi, ia selalu berada di sini kanan aku. Apa mungkin ia seorang begal motor?


"Pindah gak dari situ, aku udah lapar nih, atau aku makan kamu mau?"


"Boleh juga." ujar pria itu dari dalam helmnya yang tak mau ia buka sedikitpun.


"Minggir!" seru Beby karena sudah tak sabar.


Ia membuka pintu mobilnya dengan keras agar bisa mengenai sang pengendara motor. Tetapi gerakannya itu sudah diprediksi oleh Erick yang sedang menyembunyikan identitasnya itu.


Pria itu langsung melajukan motornya ke depan hingga pintu mobil itu tidak berhasil mengenainya kemudian ia mengitari mobil itu dan segera memaksa kembali Beby agar segera masuk dan duduk tenang.


"Kamu jangan keluar! kalau tidak, aku akan merusak mobilmu dan kamu akan jalan kaki pulang, ngerti!"


"Tapi aku lapar sialan! kamu mau apa sih?!" bentak Beby yang semakin tak bisa mengontrol emosinya.


"Tunggu di sini, okey? dan ingat jangan keluar dari mobil ini," ujar Erick kemudian melajukan motornya ke dalam warung.


Beby mulai duduk dengan tenang menunggu pria asing itu membawakan makanan untuknya.


"Ambil ini trus kamu pulang. Dan jangan pernah keluar dari mobil kecuali sampai di rumahmu!" ujar Erick sembari menyerahkan satu kresek berisi makanan.


Beby terdiam dan menatap pria asing yang sedang memakai helm bungkus berkaca hitam itu.


Sepertinya aku mengenal orang ini. ujarnya membatin.


Ah sudahlah, aku mau makan. Bodo amat orang ini siapa.


"Makasih ya, ini uangnya," ujar Beby sembari menyerahkan satu lembar rupiah berwarna merah.


"Gak usah, aku traktir." tolak Erick kemudian melajukan motornya kembali ke Panti Asuhan. Ibunya pasti sudah menunggunya.


*Tobe continued


Mana nih dukungannya untuk karya receh ini?


Like dan komentarnya dong supaya aku semangat updatenya.

__ADS_1


__ADS_2