Beby Si Wonder Woman

Beby Si Wonder Woman
Bab 116 BSWW


__ADS_3

Erick Bramantyo bersama Royco melajukan mobilnya ke arah kampung Jack Andrian. Pria itu merasakan emosi yang sangat pada hatinya saat ini setelah mendengar kisah yang diceritakan oleh istrinya tadi siang.


Dan rupanya asistennya itu termasuk penyumbang rasa sedih yang dialami oleh Eka Setiawati, karyawan dan juga sahabat dari istrinya.


"Kenapa kita tidak menelponnya saja dan meminta anak itu untuk datang, Rick?" tanya Roy yang merasakan kalau tindakan yang diambil oleh sahabatnya ini sangat tidak efektif.


"Aku sudah menghubungi beberapa kali nomornya tetapi sengaja ia matikan, benar-benar kurang aja itu si Jack!" geram Erick dengan wajah emosi.


"Dan lihat apa yang ia lakukan? setelah ia memberikan harapan pada Eka, kini ia ingin pergi begitu saja dan malah sudah menikah dengan orang lain, kurang ajar sekali dia!" Royco tidak bisa berkata-kata lagi. Ia juga penasaran kenapa Jack melakukan semua ini padahal yang ia tahu pria itu sangat mencintai Eka.


"Assalamualaikum," salam Erick saat mereka sudah sampai di sebuah rumah besar dan luas yang ia tahu adalah milik orang tua Jack Andrian.


"Waalaikumussalam warahmatullahi," jawab seorang perempuan paruh baya yang Erick kenal sebagai ibu dari Jack Andrian.


"Eh nak Erick, mari silahkan masuk," ajak perempuan yang bernama Kartika itu.


"Terimakasih Bu,"


"Ibu senang sekali nak Erick datang, kalau tidak salah setahun yang lalu ya kamu kesini bersama Jack,"


"Eh iya ibu, tapi ngomong-ngomong Jack dimana ya Bu?" tanya Erick langsung pada poin yang sangat penting itu. Ia sedang tak ingin berbasa-basi dulu.


"Oh, Jack setelah menikah ia tinggal di rumah istrinya di kota, memangnya nak Erick tidak diberi tahu ya?"


Deg


Royco dan Erick Bramantyo saling berpandangan.


"Jack menikah saja aku tidak diberi tahu ibu padahal kan aku juga ingin datang," ujar Erick berubah kesal.


"Oh iya maafkan ibu, pernikahan itu begitu mendadak nak, dan kami pun tidak membuat pesta yang besar. Cukup sederhana saja yang penting sakral."

__ADS_1


"Oh iya Bu, kalau begitu bisa aku minta alamatnya Jack di kota?"


"Oh iya tentu saja, biar ibu ambil catatannya karena ibu juga sering lupa apa namanya," ujar Kartika kemudian segera masuk ke kamarnya dan mengambil kertas yang ada di dalam lacinya.


Tak lama kemudian Perempuan paruh baya itu keluar lagi dan menyerahkan selembar kertas kecil yang ada di tangannya pada Erick Bramantyo.


"Terimakasih Bu, kalau begitu kami permisi," pamit Erick pada ibu Kartika.


"Eh, belum disuguhi minum lho ini, kok buru-buru amat," ujar Kartika tak nyaman.


"Tidak apa ibu, kami masih ada keperluan lain lagi, Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam warahmatullahi, hati-hati ya, kalau nanti bertemu dengan Jack sampaikan salam ibu,"


"Iya ibu, insyaallah." jawab Erick sembari melangkah ke arah mobilnya.


"Brengsek benar itu anak, alamatnya saja dekat dengan rumahku tetapi kenapa kesannya malah menyembunyikan diri padahal pekerjaan menumpuk di kantor." geram Erick semakin kesal.


"Alasan kalau ia sudah menghamili perempuan itu?" tanya Erick sembari menghidupkan mesin mobilnya dan mulai menjalankannya untuk pulang.


"Entahlah, kalau itu aku juga tidak berani berkata-kata," ujar Royco dengan pandangan ia arahkan keluar jendela. Ia hanya berharap masalah sahabatnya ini cepat selesai karena ia tak rela berpisah jauh-jauh dari istrinya.


Hubungan persahabatan antara para istri mereka begitu sangat dekat hingga seorang saja yang sakit maka akan mempengaruhi yang lainnya. Mereka terkadang lebih mementingkan persahabatan daripada para suami mereka.


🍁


"Lho mas?" tanya Beby Alesha dengan wajah kaget. Ia memandang suaminya yang sedang berdiri di depan pintu rumah Eka itu yang sedang membawa selimut dan juga bantal kesayangannya.


"Aku bawakan bantalmu takutnya kamu tidak bisa tidur nyaman di rumah yang baru kamu datangi ini." ujar Erick dengan pandangan penuh cinta pada istrinya itu.


"Ya ampun mas, kamu balik lagi dari kota ke sini hanya untuk bawa bantal sama selimut aku?" tanya Beby Alesha lagi dengan wajah tak percaya. Pasalnya ia bukan perempuan semanja itu hingga tidak bisa tidur tanpa bantal dan selimut yang biasa ia gunakan di rumahnya.

__ADS_1


"Iya sayang, dan sebenarnya aku yang tidak bisa tidur tanpa memelukmu," bisik Erick ditelinga istrinya takut ada orang lain yang mendengarkan percakapan mereka berdua.


"Astagfirullah mas, aku sudah menduga ini, dan kamu hanya mencari-cari alasan iya kan?" ujar Beby Alesha dengan senyum bahagia diwajahnya. Ia juga sebenarnya ingin tidur bersama dengan suaminya tetapi ia juga tidak tega meninggalkan yang lainnya di sana.


Erick Bramantyo memandang rumah Eka yang sangat sederhana dan masih nampak suasana duka disana. Teringat kembali ia tentang Jack yang ia harapkan bisa membantu kondisi ekonomi keluarga Eka nantinya kalau mereka sudah menikah.Tetapi apa boleh buat, semuanya sudah tidak mungkin lagi.


"Mas, kamu lagi mikirin apa?" Erick tersentak.


"Ah tidak, aku baru ingat kalau Royco juga ikut kembali ke sini, ia juga tidak mau jauh-jauh dari istrinya."


"Astagfirullah, kalian ya, suka modus, tapi kami tetap akan tidur disini mas bersama dengan Eka, jadi mas Erick sama mas Roy cari penginapan dekat sini karena rumah ini tidak luas dan kamarnya cuma 2," ujar Beby Alesha sembari menarik nafas dalam-dalam. Ia tak percaya suaminya begitu lebay tak mau ditinggal beberapa jam saja.


"Eh pak Erick, gak usah cari penginapan kamar tamu ada kok yang kosong, keluarga yang lain gak ada yang menginap di sini," timpal Eka yang ternyata mendengar pembicaraan mereka berdua. Ia sangat paham kalau pasangan suami istri itu pasti tidak rela berjauhan.


"Eh, aku kira kamar tidur cuma ada 2 Ek," ujar Beby sembari menatap keadaan rumah itu.


"Ada 3 Beb, cuma ukurannya tidak luas sih, pak Erick sama mas Roy bisa kok tidur di situ." jawab Eka dengan senyum diwajahnya. Tampak sekali kalau rada sedih masih menggantung diwajahnya. Matanya begitu sembab karena menangis seharian.


"Ah iya terimakasih banyak kalau begitu," jawab Erick sembari tersenyum pada istrinya. Meskipun tidak tidur bersama yang penting ia bisa memantau istri bisa nyaman dan makan dengan baik agar kandungannya tidak terganggu.


"Aku panggil Royco dulu ya," ujar Erick pada istrinya.


"Iya mas,"


Erick pun keluar dan memanggil Royco yang sedang mencari tempat parkir untuk mobil Erick yang ia kemudikan tadi dari kota, sedangkan mobilnya sendiri sudah aman di dalam pekarangan luas rumah Eka.


Royco turun dari mobil dengan tangan penuh dengan makanan dan minuman ringan. Malam itu mereka akan duduk-duduk sambil membaca Alquran untuk mendiang ibunya Eka.


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2