
Jack Andrian mengabaikan panggilan masuk dari nomor Jihan. Pria itu tahu pasti perempuan itu sedang sibuk mencarinya di Pesta karena sekarang ini ia sedang berdiri di depan tempat kost Eka.
"Maaf kak, kata kak Eka mas pulang aja, dia gak mau ketemu," ujar Santi salah satu penghuni kamar kost di tempat itu. Gadis itu menyampaikan pesan Eka karena pria itu tetap tidak mau pergi dari sana dan menggangu orang-orang yang akan masuk dan keluar dari Rumah kost itu.
"Katakan padanya aku akan menunggunya sampai ia mau keluar," jawab Jack dengan wajah lempeng tak terpengaruh dengan kata-kata Santi.
"Baik mas, akan saya sampaikan," ujar gadis itu dan kembali lagi ke dalam, tepatnya di kamar Eka.
"Kak Eka, cowok kakak gak mau pergi sampai kak Eka keluar menemuinya." lapor Santi sembari duduk di atas ranjang gadis itu yang selama ini selalu ia bagi bersama dengan Anny. Tetapi karena Anny sudah menikah jadilah ia sendiri di kamar itu.
"Kalau gitu biarkan saja. Aku tidak peduli dan jangan sekali-kali bilang ia adalah cowok aku. Karena aku gak kenal sama pria brengsek itu!" jawab Eka dengan nada tinggi dan nampak ingin meremas dan memukul siapa saja yang ada dihadapannya.
Santi langsung menyingkir ke dinding kamar itu. Ia jadi merinding takut melihat kemarahan gadis itu.
"Gak kasihan Kak?" tanyanya lagi saat melihat Eka sudah agak tenang.
"Gak! biarin aja. Anggap saja ia tiang listrik atau tempat sampah di luar sana." jawab Eka masih dengan nada ketus.
"Baiklah kak, tapi emangnya nyakitin banget yak, sampai gak mau nemuin gitu,"
"Santi! kamu mau aku lempar keluar dari kamar ini hah?!" teriak Eka melengking sampai gadis itu langsung kabur dari kamar itu.
Eka memukul dadanya sendiri dan mulai lagi menangis sejadi-jadinya.
"Untuk apa kamu kemari lagi sialan!" teriaknya sambil menutup menutup mulutnya dengan bantal. Ia tak mau tetangga kamarnya tahu begitu menyedihkannya ia saat ini.
"Mau bilang maaf setelah jelas-jelas sudah punya istri dan calon anak, Aaaaaaa..."
"Aku membencimu Jack Andrian! aku benci padamu!" Eka terus menangis sampai ia tertidur dengan mata sembab.
Sementara itu di rumah Yudhistira tepatnya di dalam kamar pengantin itu. Hany masih belum juga mengganti pakaian pengantinnya. Entah kenapa hatinya masih sangat sakit saat melihat bagaimana perempuan hamil yang datang ke pesta pernikahannya itu begitu sangat mesra pada Jack Andrian.
__ADS_1
"Hany sayang, kok belum ganti pakaian sih, gak gerah ya?" tanya Yudhistira sembari duduk disamping istrinya itu.
"Eh, mas Yudhis bikin kaget aja," ujar Hany dengan ekspresi kaget.
"Kamu mikirin apa sih?"
"Aku mikirin Jack Andrian mas," wajah Yudhistira langsung berubah kecut. Di malam pengantinnya istrinya malah memikirkan orang lain.
"Kamu lupa Han, kalau sekarang hanya aku yang harus kamu pikirkan?"
"Eh maaf mas, bukan maksud aku begitu, aku cuma kesel aja sama laki-laki yang tidak bertanggung jawab seperti itu." ujar Hany mulai emosi.
"Masak sih ia sudah berjanji akan menikahi Eka sekarang malah gandeng perempuan yang lagi hamil, kurang ajar banget gak mas, ih pengen aku getok kepalanya tuh."
"Padahal selama ini orangnya baik, suka menolong kita-kita, eh tahu-tahunya ada main di luar, kesel deh!" Hany terus mengomel dengan bersemangat hingga suaminya hanya bisa menarik nafas panjang.
"Apa semua laki-laki seperti itu ya mas? eh mas gak punya simpanan kan?" tanya Hany dengan tatapan tajam pada Yudhistira sang suami.
"Mas Yudhis, kamu mau kemana?" tanya Hany baru sadar kalau suaminya meninggalkannya sendiri di kamar pengantin yang sudah disulap sangat romantis itu.
Yudhistira terus melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu tanpa mau mendengar panggilan dari istrinya.
"Ya udah keluar aja, aku sekarang mau mandi dan bobok cantik." ujar Hany kemudian membuka pakaian pengantinnya satu-satu berikut pernak-perniknya. Setelah itu ia melangkahkan kakinya ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Perempuan cantik itu memandang keseluruhan isi kamar suaminya dengan pandangan takjub. Ia baru menyadari kalau kamar ini begitu luas. Dan ia yakin ukurannya 3 kali lipat dengan kamarnya sendiri di rumahnya.
Tangannya mulai mencari pakaiannya yang ia bawa dalam sebuah koper besar. Ia tak sadar kalau kegiatannya itu sudah lama dipantau oleh Yudhistira yang masuk ke kamar itu karena kena marah Mamanya.
"Kamu ngapain berkeliaran di luar kamar hah?" begitu teguran mamanya saat ia kesal pada istrinya tadi dan malah meninggalkan istrinya itu menguasai kamarnya sendiri.
"Pengantin baru itu harusnya tinggal di kamar dan bermesraan dengan istri tercinta, dasar kamu ya," lanjut mamanya sembari mendorongnya kembali masuk ke kamarnya. Ia seperti mendapatkan rejeki nomplok karena mendapati Hany sudah mandi dan nampak sangat segar.
__ADS_1
Handuk putih pendek hanya sebatas pangkal paha yang dikenakan istrinya itu membuat dirinya merasa berada di dunia lain.
Ia seperti Joko Tingkir sedang melihat bidadari yang sedang mandi dan kehilangan selendangnya karena tiba-tiba saja handuk yang sedang dipakai istrinya itu terlepas begitu saja.
Tanpa sadar ia sudah melompat ke arah perempuan seksih itu dengan hasrat yang sudah sampai di ubun-ubun.
"Eh mas Yudhis?" Hany tersentak kaget karena tangan besar suaminya sudah merengkuhnya dengan sangat posesif.
"Kok bisa sudah ada di dalam kamar sih, kan tadi mas mar..." mulut Hany dibungkam oleh bibir suaminya yang sudah tidak sabar mendengarkan pertanyaan istrinya.
"Mas hammmmpt,"
"Han...Kamu indah sekali sayang, kamu sengaja ya menggodaku Hem?" bisik Yudhistira disela-sela kecupannya pada seluruh permukaan kulit Istrinya.
Hany sudah tidak bisa menjawab, ia cukup terbuai dengan sentuhan-sentuhan lembut itu. Hal pertama yang dialaminya dan itu dilakukan oleh orang yang halal menyentuhnya.
"Han, aku mencintaimu sayangku, kamu maukan memberikan mama cucu yang banyak?" bisik Yudhistira dengan suara bergetar menahan hasratnya yang semakin menggila.
Hany memejamkan matanya kemudian tersenyum manis,
"As you wish mas, I am yours, Aaaaakh," ucapan persetujuan istrinya itu membuat Yudhistira diatas angin, ia segera melepaskan semua penghalang ditubuhnya dan bersiap melakukan perjalanan panjang dan nikmat bersama istrinya itu.
"Bismillahirrahmanirrahim," ucapnya dengan nada yang sangat indah ditelinga sang istri.
"Masssss," Hany meremas seprei yang menjadi alas kegiatan panas mereka dengan keras ketika Yudhistira junior melesak merobek pertahanan dirinya.
*Tobe continued
Tarik nafas Han, Kita Cut dulu okey?
Like dan komentar dong 😍😍😍😍😍
__ADS_1