Beby Si Wonder Woman

Beby Si Wonder Woman
Bab 99 BSWW


__ADS_3

Fadhil Akifah kembali duduk di atas ranjangnya dengan senyum samar. Hatinya sangat senang karena sudah berhasil merasakan bibir Istrinya yang sangat manis dan juga legit.


Pria itu dengan sabar menunggu istrinya yang masih berada di dalam kamar mandi sembari mempersiapkan malam yang akan terasa sangat panjang malam ini.


Ia mulai mematikan lampu utama kemudian menyalakan lilin aromaterapi. Ia ingin istrinya itu merasakan malam pertama dengan begitu berkesan.


Sedangkan di dalam kamar mandi, Anny meraba bibirnya yang baru saja di sentuh dengan sangat lembut oleh suaminya. Gelenyar aneh merambat keseluruh sarafnya.


Aaaaaa


Ia menutup wajahnya karena sangat malu. Dan mulai membayangkan hal-hal yang tidak-tidak.


Oh tidak, pipinya ia rasakan menghangat.


Tok


Tok


Suara ketukan dari luar membuatnya segera menarik nafasnya. Ia benar-benar gugup sekarang. Dan kembali keinginannya untuk pipis kembali muncul.


"Ann? kamu baik-baik saja sayang?" tanya Fadhil Akifah dari arah pintu.


"Iya mas, aku mau pipis lagi," jawabnya dengan gugup kemudian segera melakukan ritualnya seperti biasa.


Dalam hati ia berdoa semoga kebiasaannya tidak akan lagi mengganggunya terus jika ia merasa gugup.


"Ann." panggil pria itu lagi yang sepertinya sudah mulai tidak sabar.


"Iya mas, aku sudah selesai kok," jawabnya sembari membuka pintu kamar mandi itu. Dan begitu kagetnya ia karena penampakan suaminya begitu berbeda dengan yang tadi. Kini ia bisa melihat salah satu pimpinan di Perusahaan tempatnya bekerja itu sudah tidak menggunakan pakaian tidur seperti tadi.


"Mas Fadhil, kamu ngapain buka baju seperti itu?" tanyanya sembari memandang pahatan sempurna pada tubuh tinggi tegap suaminya itu.


Fadhil tidak menjawab, ia sudah hampir kering menunggu di luar dan sekarang ia sudah tak sabar ingin mencicipi isterinya lebih dari sebuah bibir saja.


"Ann, izinkan aku sayang, aku menginginkanmu," bisik pria itu sembari meraih Anny ke dalam rengkuhannya.


"Mas, aku..."


Fadhil Akifah tak ingin mendengar Perempuan cantik ini bicara, ia hanya ingin mendengar dessahan manja atas apa yang akan dilakukannya nanti.


Dengan cepat ia meraup bibir merah yang sempat ia cicipi tadi, melumatenya pelan kemudian agak kasar dan menuntut.


Tangannya tak tinggal diam, ia bergerak dengan ritme yang sangat indah meremas dan meraba keseluruhan permukaan kulit istrinya. Memberikan sentuhan lembut agar Anny merasa nyaman dan tidak gugup.

__ADS_1


"Masss,"


"Hemmm,"


"Aaaaaakh hmmmmpt..."


Fadhil Akifah berhasil membuat tubuh istrinya bergetar hebat. Perempuan itu bahkan berteriak tertahan saat inti dirinya melesak masuk menembus dinding tipis pertahanannya.


"Masss, aku mau pipis, hmmmmpt," bisik Anny dengan pandangan mata sayu dengan wajah mengernyit sakit.


Fadhil Akifah tersenyum kemudian balas berbisik disela-sela cumbuannya.


"Itu bukan perasaan mau pipis sayang, tapi perasaan lain, hhhhmm," Pria itu terus memacu kecepatannya sampai Anny mendorongnya dan tautan mereka terlepas. Perasaan ingin pipis semakin tak bisa ia tahan.


Gadis itu berlari ke kamar mandi dengan menahan rasa sakit yang luar biasa. Fadhil Akifah meraup wajahnya kasar. Ia belum sempat melakukan pelepasan tapi isterinya benar-benar membuat hasratnya jadi ambyar.


"Mass, kok aku gak bisa pipis ya, dan astaga ini sakit sekali." gerutu perempuan itu dengan wajah mengernyit sembari berjalan pelan ke arah suaminya yang sedang berbaring tanpa menutupi inti dirinya yang masih sangat siap menyerang kembali.


Anny menutup matanya tak sanggup melihat pemandangan itu, ia baru menyadari kalau benda tumpul yang mengunjunginya tadi ternyata bentuknya seperti itu.


Rasa gugup dan gelenyar aneh kembali menyerangnya, ia ingin kembali lari ke kamar mandi tapi suaminya menariknya dengan cepat.


"Mau kemana kamu Ann?"


"Aku mau pipis lagi mas,"


"Hah?


Fadhil tak mau lagi dipermainkan oleh istrinya itu. Dengan cepat ia menahan tangan istrinya di atas kepalanya dan segera mencumbu kembali keseluruhan tubuh sang istri agar bisa santai dan menikmati permainannya.


Malam ini ia harus berhasil menebar benih di dalam sel ovum istrinya. Papa dan Mamanya sudah lama meminta cucu dan ia harus berhasil.


"Aaaaaakh mas, " Anny menjerit berkali-kali saat ia menghentak terus dengan lembut maupun kasar.


"Mas, plis aku mau pipis," bisik Anny disela-sela dessahannya.


"Pipis aja Ann, tapi aku tak bisa berhenti sayang aaargh" Fadhil mengerang nikmat saat ia sampai dan berhasil melepaskan benihnya di dalam sana.


Anny segera melompat kabur ke kamar mandi setelah inti suaminya berhasil keluar dari dirinya. Ia benar-benar harus pipis saat itu juga.


🍁


Sementara itu di sebuah rumah mewah, dua orang sedang bercakap dengan wajah tegang.

__ADS_1


"Brengsek! Semoga preman itu tidak membocorkan identitas kita mas," geram Sisca dengan emosi di dadanya.


Perempuan paruh baya itu menatap suaminya yang sedang sibuk menghisap rokok untuk menenangkan hatinya yang juga ikut emosi.


"Semoga saja mulut mereka tidak ember, kita kan sudah membayarnya mahal." jawab Harun berusaha tersenyum meskipun ia sedikit ragu dengan kata-katanya sendiri.


"Kamu dapat dimana sih preman Cemen seperti itu, masak lawan perempuan aja tidak bisa." gerutu Sisca masih dengan wajah kesalnya.


"Halah tidak usah menyalahkan aku, berharap saja kita tidak masuk penjara menyusul Taro," timpal Harun yang langsung membuat tubuh Sisca menjadi gemetar takut. Perempuan itu bergidik ngeri membayangkan harus tidur di lantai dinginnya Penjara.


"Kita harus segera pergi dari sini mas, kita harus kabur dan lari menjauh, aku takut di penjara."


Sisca meraih tangan suaminya dan berharap segera pergi dari kota ini.


"Apa menurutmu Erick Bramantyo itu akan membiarkan kita lepas Sisca?"


"Oh tidak, jangan membuatku takut mas, apa kata teman-teman sosial media ku kalau aku dipenjara."


"Ayo cepat kita lari dari kota ini mas," Sisca segera berdiri dan melangkahkan kakinya ke arah lemari. Ia mengambil perhiasan, uang dan pakaiannya dan memasukkannya ke dalam koper besar.


"Ayo mas, kira harus pergi sekarang juga," ujarnya sembari menarik dua buah koper dan juga satu buah tas besar.


"Kamu mau kabur atau mau pindah rumah hah?! barang bawaanmu banyak sekali." gerutu Harun melihat begitu banyak perintilan yang dibawa oleh istrinya.


"Yah salah-salah dong mas kalau kabur tapi tidak ada persiapan. Rugi mas, rugi!"


"Ya sudahlah terserah kamu saja," jawab Harun kemudian menarik salah satu koper besar itu keluar kamar.


"Maaf nyonya, tuan, mau kemana malam-malam begini?" tanya bik Min yang menjumpai mereka di depan pintu kamar.


"Kami mau keluar kota dulu bik. Jaga rumah baik-baik ya?" ujar Sisca dengan wajah tak rela meninggalkan rumah mewahnya.


"Tapi di depan ada banyak tamu nyonya," ujar Bik Min dengan wajah khawatir.


"Tamu siapa?"


"Polisi nyonya."


"Hah?!"


Sisca dan Harun saling berpandangan dengan wajah khawatir.


*Tobe continued

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2