
"Hey, bangun! aku antar kamu pulang," ujar Randy pada Jihan yang sudah tertelungkup lemas di atas meja. Pakaiannya yang memang cukup terbuka saat itu secara langsung menampilkan sesuatu yang cukup menggoda iman siapapun.
"Ya ampun gadis ini," ujar Randy kemudian membuka jaketnya dan memakaikannya pada gadis berkulit putih susu itu.
"Aku antar kamu pulang, dimana rumahmu hah?" tanyanya lagi kemudian menarik tangan Jihan untuk berdiri. Gadis itu membuka matanya pelan kemudian menatap wajah Randy dengan mata sayu.
"Aku lupa, aku cuma merasa panas," jawab Jihan kemudian berusaha membuka jaket yang dipakaikan Randy agar asetnya yang sangat berharga itu tidak nampak Dimata semua orang.
"Jangan dibuka, nanti setelah sampai di rumahmu baru kamu buka, okey?" ujar Randy dan dengan segera membawa gadis yang semakin lemas itu keluar dari Club.
"Ran mau kemana?!" tanya teman-temannya yang masih sibuk minum di depan bartender. Randy hanya tersenyum tipis kemudian menunjuk gadis cantik yang sedang bersandar di bahunya.
"Hebat lho udah dapat gadis cantik, kita aja masih belum dapat nih," ujar Kemal dengan senyum mesum diwajahnya.
"Aku pulang duluan, dan ini untuk kalian," ujar Randy sembari menyimpan segepok uang diatas meja bartender itu.
"Selamat bersenang-senang Ran, besok aku tunggu ceritamu!" teriak Kemal lagi dengan tawanya yang menyebalkan.
Randy tidak ingin membalas candaan teman-temannya itu. Ia langsung membawa Jihan ke atas mobilnya karena sepertinya gadis itu sudah berada dibawah pengaruh obat yang katanya diberikan oleh Clara.
"Hey, apa yang kamu lakukan hah!" sentak Randy saat Jihan membuka jaket yang ia pakaikan tadi dan melemparnya ke jok belakang mobil pria itu.
"Aku gerah," jawab gadis itu dengan ekspresi aneh.
"ACnya udah aku nyalakan. Tenang sebentar lagi kita sampai di rumahmu," ujar Randy yang sudah tahu alamat rumah gadis itu karena sudah membuka dompetnya dan melihat tanda pengenalnya.
"Hentikan mobilnya, kumohon," pinta Jihan dengan wajah frustasi. Pakaian yang sangat minim itu sudah ia lepaskan hingga yang tersisa adalah underwear yang sangat tipis dan sangat menggoda.
Randy berusaha konsentrasi mengemudi tetapi tangan gadis itu membuatnya tidak berada di dunianya sekarang.
"Astagfirullah," Randy berusaha menyebut nama Tuhan agar akalnya segera mengendalikan hasratnya yang juga terbakar karena gadis itu.
Ciiiiiit
Randy akhirnya sampai di rumah Jihan yang sangat luas dan mewah. Tak ada orang disana kecuali satu orang pelayan yang membukakan pintu rumah.
Randy menggendong gadis itu kedalam rumah setelah mereka berdua sempat melakukan DP di dalam mobil.
"Dimana kamarnya bik," tanya Randy pada perempuan paruh baya yang merupakan pelayan di rumah itu.
"Sebelah sini den," jawab pelayan atau asisten rumah tangga itu sembari menunjuk sebuah kamar yang sangat luas di dalam rumah itu.
__ADS_1
Bik Sum begitu kaget melihat nonanya datang dengan pakaian yang sudah sangat kacau itu.
Gadis itu sebenarnya sering membawa tamu pria tetapi tidak pernah sekalipun dibawa ke kamarnya. Tetapi untuk ini Bik Sum benar-benar khawatir.
Randy meletakkan tubuh Jihan yang sudah sempat ia cicipi di dalam mobil itu karena sungguh terpancing akan permainan jari-jari gadis itu padanya.
"Tidurlah," ujarnya pelan dan bersiap untuk keluar dari kamar itu. Ia ingin segera pergi dari sana tetapi tatapan memohon gadis itu padanya membuatnya membatalkan niatnya.
Ada rasa penasaran pada apa yang sudah ia sempat cicipi tadi di atas mobil. Bibir gadis itu terbuka memintanya untuk tinggal. Tubuhnya yang sudah tak berpenghalang itu juga menggodanya untuk melakukan hal lebih.
"Tolong, aku sangat tersiksa...kumohon beri aku penawarnya," ujar Jihan sembari menyentuh bagian-bagian tubuhnya sendiri untuk meredakan gairah yang sangat menyiksanya itu.
Randy lupa diri, ia pun Menghampiri gadis yang sangat menggodanya itu.
"Jangan salahkan aku karena kamu yang meminta, Hem," bisik pria itu dengan suara parau. Jihan tanpa sadar mengangguk.
Antara sadar dan tidak ia ingin melakukannya dan membayangkan wajah Jack ada di hadapannya.
"Aaaaakh," Jihan berteriak kesakitan saat bagian tubuh Randy berhasil mengoyaknya. Randy menghentikan gerakannya di dalam tubuh Jihan.
"Kamu masih perawan?"
Flashback off
"Apa Bu?"
"Iya nak, bayi Jihan sudah Lahir," jawab Sinta dengan wajah penuh syukur. Sinta dan Kartika saling berpelukan.
"Alhamdulillah ya Allah," ujar Randy ikut bahagia.
"Terimakasih banyak nak, kamu sudah ikut menolong persalinan Jihan, biayanya akan diganti oleh putri saya," ujar Sinta sembari memeluk tubuh pria itu.
"Tidak masalah Bu, aku ikhlas kok," jawab Randy dengan mata berkaca-kaca.
"Boleh aku lihat Bayinya?" tanyanya dengan nada memohon.
"Oh silahkan. Kamu bebas melihatnya," ujar Sinta sembari mengantar pria asing itu untuk masuk ke dalam ruang bersalin.
Jihan yang masih dalam proses pemulihan tidak begitu memperhatikan siapa yang ditemani oleh ibunya mengambil bayinya.
"Apa boleh aku mengazani bayi ini, Bu?" tanya Randy sembari mencium bayi yang masih merah itu. Sinta dan Kartika saling berpandangan. Mereka merasakan keanehan pada tingkah pria asing ini.
__ADS_1
"Siapa namamu nak?" tanya Sinta dengan pandangan curiga.
"Aku Randy Bu," jawab pria itu tanpa melepaskan tatapannya pada bayi mungil yang sedang ada di dalam gendongannya.
Sinta dan Kartika mulai menelisik wajah itu baik-baik. Dan mereka berdua merasakan tubuh mereka lemas dengan dada berdebar kencang. Wajah bayi itu mirip sekali dengan wajah pria asing itu.
"Kamu siapa?" tanya Sinta lagi tetapi Suaranya tertelan oleh suara Randy yang sedang mengumandangkan azan ditelinga bayi mungil itu.
Allahu Akbar Allahu Akbar
Allahu Akbar Allahu Akbar
Asyhadu anlaailaaha illallah
Asyhadu Anna Muhammadarrosulullah
Laa ilaaha Illallah.
"Ibu, ini cucu ibu sepertinya ia sangat senang dengan suaraku," ujar Randy setelah selesai mengumandangkan azan di telinga sang bayi.
"Kamu?" tanya Sinta lagi dengan dada berdebar kencang.
"Apa yang ibu pikirkan adalah benar, maafkan aku ibu, tapi aku ingin bertanggung jawab." ujar pria itu kemudian menyerahkan baby mungil nan tampan yang baru saja digendongnya.
"Kalau ibu mau memukulku aku rela, tapi biarkan aku bersama dengan bayiku," lanjut Randy karena Sinta dan juga Kartika hanya menatapnya dengan pandangan tak percaya. Dua Perempuan paruh baya itu merasakan dunia berhenti berputar. Ada banyak hal yang mereka ingin tanyakan tetapi lidah mereka terasa kelu.
"Aku akan menemui Jihan Bu, aku harus bertanggung jawab." ujar Randy kemudian melangkah masuk ke ruang operasi.
"Maaf pak, anda siapa" tanya dokter yang sedang memberikan perawatan kepada Jihan pasca operasi.
"Anda sebaiknya diluar dulu pak, kami masih bekerja."
"Baiklah, aku akan menunggu," ujar Randy dan hanya melihat Jihan dari jauh. Ia membatalkan niatnya untuk muncul di hadapan perempuan itu sampai keadaan lebih baik.
Ia takut kalau perempuan itu histeris dan mungkin saja menolaknya.
*Tobe continued
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍