Beby Si Wonder Woman

Beby Si Wonder Woman
Bab 24 BSWW


__ADS_3

Ibrahim menatap handphonenya tak percaya.


Pesan gambar yang ia terima pagi ini membuatnya tiba-tiba menyunggingkan senyum diwajahnya.


Semalam, saat ia dan istrinya sudah putus asa mencari tahu dimana posisi putri semata wayangnya itu berada, Mendadak ia mendapat kabar dari Erick Bramantyo kalau Beby sedang bersamanya saat itu dan memintanya untuk tidak khawatir.


"Pa kok senyum-senyum aja sih," ujar Hanna dengan wajah curiga.


"Sebentar lagi kita akan mempunyai cucu dan menambah penerus kita sayang," ujar Ibrahim dengan senyum lebar di wajahnya.


"Maksud Papa apa?" tanya Hanna tak mengerti.


"Beby kan belum menikah Pa, dan sepertinya ia tak pernah mau menikah." lanjutnya lagi dengan wajah suram.


"Aku punya rencana agar Beby mau menikah dengan Erick." Ibrahim mulai berbisik di telinga istrinya dan berakhir mendapatkan cubitan dari Hanna sang istri.


"Itu beresiko Pa, aku tidak setuju." ujar Hanna dengan bibir mengerucut.


Sementara itu di Rumah kediaman Erick Bramantyo.


"Terimakasih pak Erick, saya akan datang ke kantor bapak besok pagi." ujar Ratna dengan senyum diwajahnya.


Erick yang sudah mendengar rekaman percakapan gadis-gadisnya itu dengan Bintang si tua bangka keparat itu memutuskan untuk mengajak Ratna bergabung di kantornya saja agar lebih aman dari orang-orang semacam Bintang itu. Yang suka menggunakan kekuasaannya untuk menekan orang lain.


Ia juga sudah menyalin bukti itu untuk sewaktu-waktu akan ia gunakan untuk menjadi senjatanya untuk melawan Bintang suatu saat nanti.


"Hey Ratna kamu kok malah mau kerja sama mantan bosku itu sih." bisik Beby dengan wajah kesal. Ia sendiri sejak semalam sudah memikirkan akan membuat firma sendiri untuk anggota Rangers Dewaani yang sedang nganggur itu.


Beby Alesha ingin membuka lapangan kerja untuk sahabat-sahabatnya itu.


"Ya, gimana ya Beb, aku kan harus segera bekerja supaya bisa hidup, bosan tauk kalo aku nganggur terus."


"Dan juga aku tak mau lagi ke Bank itu. Yakin deh aku pasti sudah dicoret disana oleh pak Bintang." Beby terdiam, ia membenarkan kata-kata sahabatnya itu kemudian tanpa sengaja memandang Erick yang juga sedang menatapnya dalam. Satu detik dua detik sampai 10 detik mereka saling menatap.


Deg

__ADS_1


"Kenapa?!" tanya Erick dengan wajah datar meskipun hatinya sedang tidak baik-baik saja setiap ia berdekatan dengan gadis cantik itu. Hatinya selalu berdebar tak karuan.


"Ya gak apa-apa, sensi banget sih jadi cowok karatan." cibir Beby dan langsung melempar pandangannya ke arah lain. Ia melengos pergi.


"Ayok kita pulang," Beby segera menarik tangan Ratna dan melangkah ke arah pintu.


"Aku antar." ujar Erick Bramantyo dengan langkah cepat. Ia bahkan mendahului dua gadis itu yang sedang berjalan ke arah pintu itu.


"Aku ikut," timpal Royco yang baru muncul dan nampak sudah segar habis mandi.


Beby Alesha tak bisa menolak karena ia sedang tak membawa mobil. Akhirnya ia ikuti kemauan sang tuan rumah.


🍁


"Terimakasih banyak pak Erick," ujar Ratna setelah mobil yang membawanya sampai di depan tempat kostnya.


"Sama-sama." jawab Erick tersenyum, lalu ia melanjutkan, "Dan ya besok kamu harus cepat datang ke kantor, jangan sampai terlambat."


"Iya Pak. Saya akan datang cepat. Beb, Pak? gak mampir dulu?" ajak Ratna sembari melambaikan tangannya ke arah Beby yang duduk dengan wajah tak tenang di dalam mobil.


"Kamu gak ngajak aku mampir ya?" tanya Royco dengan senyum diwajahnya.


"Ah iya, maaf, masak mampir aja tak boleh sih?" ujar Royco cengengesan. Mobil itu pun berlalu dari hadapan Ratna menuju rumah Beby Alesha Ibrahim.


Bugh


Beby Alesha menutup pintu mobil itu dengan keras kemudian ia memandang Erick Bramantyo yang juga ikut turun dari kendaraan roda empat itu.


"Gak perlu turun pak, aku akan mengucapkan terimakasih dengan baik sekarang. Terima kasih pak Erick Bramantyo yang terhormat." ujar Beby Alesha sembari membungkukkan badannya.


Pria itu tersenyum samar tetapi tidak merespon ucapan terimakasih dari gadis itu. Ia hanya melangkahkan kakinya ke dalam rumah yang sangat mewah itu dengan langkah ringan.


"Pak Erick!" panggil Beby dengan suara keras. Ia tak menyangka pria itu bisa dengan santainya masuk ke rumahnya.


Beby Alesha khawatir pria itu akan memberi tahu papanya tentang apa yang terjadi padanya semalam.

__ADS_1


"Beby!" bentak Ibrahim dengan suara keras menggelar dari depan pintu.


"Papa? ada apa?" tanya Beby dengan wajah kaget dan takut. Ia tak pernah dibentak seperti ini oleh papa maupun mamanya.


"Kamu mulai jadi gadis tidak benar ya?! kamu mau mempermalukan kedua orang tuamu hah?!" teriak Ibrahim dengan nada suara yang belum juga turun.


"Papa, aku tidak..."


"Jangan mencari alasan! apa salah kami mendidikmu dengan baik selama ini? kurang apa kasih sayang kami padamu Beb?!" seru Hanna dengan suara tak kalah marah dan histeris.


Para pelayan dirumah itu mengintip dari balik dinding. Mereka tak menyangka kalau tuan dan nyonya rumah itu bisa juga marah pada gadis kesayangannya.


"Papa, Mama? ada apa? Beby tidak mengerti yang kalian katakan." tanya Beby dengan wajah frustasi. Ia menangis dan memeluk mamanya. Tetapi pelukannya malah ditepis oleh sang mama.


"Lihat ini!" seru Hanna sembari menunjukkan sebuah gambar dirinya yang sedang tertidur di atas sebuah ranjang yang ia kenali adalah milik Erick Bramantyo.


Beby Alesha melotot tak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Ini tidak benar papa, aku hanya tidur saja dan tidak melakukan apa-apa disana." Beby berusaha membela dirinya sendiri dan memandang Erick Bramantyo yang masih berdiri di sana dengan wajah tenang tanpa ekspresi.


"Tapi Beb, bukti itu jelas kalau kamu sudah mulai nakal dan berani!" timpal Ibrahim masih dengan rahang mengetat marah.


Otak Beby memanas, wajah Erick Bramantyo yang begitu tenang dan tampak tak terpengaruh dengan insiden yang diciptakan oleh pria itu kini membuat dirinya tersudut.


Dengan langkah ringan ia mendatangi pengacara muda itu dan menunjuk wajahnya yang dingin dan datar itu.


"Dasar kamu ya! kamu sengaja ya bikin cerita fiktif seperti ini, kamu ingin mengambil keuntungan dari perbuatan baikmu itu. Iyya?!" Erick tidak menjawab, sungguh ini diluar dari skenarionya.


"Aku membencimu Erick Bramantyo!" teriak Beby kemudian berlari ke kamarnya. Ia mengabaikan panggilan dari mamanya. Ia hanya ingin mengunci dirinya di kamar dan menenangkan hatinya yang begitu kesal.


Erick Bramantyo menarik nafas panjang dan menatap dua orang bapak dan ibu angkatnya yang sedang tersenyum lebar itu.


"Aku tidak tahu kalau Pak Ibra membuat drama seperti ini, " ujar Erick Bramantyo dengan pandangan mata ke arah tangga dimana tubuh Beby masih nampak melangkah dengan cepat ke arah kamarnya.


*Tobe continued

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya, okey?


Like dan komentarnya dong 😍😍😍😍😍


__ADS_2