
Sore itu juga, Fadhil Akifa membawa ibu dan ayah mertuanya ke Ibukota. Penyakit pria paruh baya itu sudah cukup kronis dan harus ditangani dengan serius.
Di dalam mobil mewah sang suami, Anny Ahnisar merasa dirinya seperti bermimpi. Ia belum mau memikirkan dengan serius kalau statusnya sekarang adalah istri dari manager di Perusahaan tempatnya bekerja.
Dan juga ia belum mau memberi tahu pada semua sahabatnya kalau ia sudah menikah. Ini terlalu mengejutkan dan sulit ia percayai sendiri.
"Ada apa Ann, apa ada masalah?" tanya Fadhil sembari melihat sekilas wajah cantik istrinya.
Mereka masih berada di dalam perjalanan menuju ibu kota.
"Ah tidak, aku cuma merasa sedang bermimpi pak," Fadhil Akifa tersenyum kemudian memperhatikan jalanan di hadapannya.
Ia maklum kalau Anny merasa ini bagaikan sebuah mimpi karena ia juga merasakan hal yang sama. Dan sekarang perempuan cantik yang ada di sampingnya ini benar-benar sah dan halal untuk ia pikirkan dan juga ia sentuh.
"Aku akan membawa kalian ke apartemenku terlebih dahulu karena papa dan mama belum tahu ini semua."
"Iya pak,"
"Jangan panggil aku seperti itu Ann, aku merasa seperti seorang atasanmu saja,"
"Bapak kan memang atasan aku,"
"Kalau di kantor sayang, kalau di rumah kita partner kerja, okey?"
"Lalu aku harus manggil apa?"
"Terserah yang penting bukan bapak ya,"
"Iya kak,"
"Kakak? Ah ganti. Berasa kamu adalah adikku Ann," Anny memutar otaknya berpikir.
"Mas Fadhil aja bagaimana?" tanya Anny dengan pandangan mata polosnya, Fadhil Akifah serasa ingin tenggelam dalam bola mata itu, ia langsung mengangguk dengan senyum samar dibibirnya.
Fadhil Akifah Anshar merasa semakin jatuh cinta pada perempuan cantik disampingnnya ini. Ingin rasanya ia menyentuhnya dengan sangat indah tetapi di jok belakang kedua ibu dan ayah mertuanya mungkin sedang memperhatikan percakapan mereka.
Tak lama kemudian mereka pun sampai ke Apartemen untuk beristirahat baru setelah itu mereka akan berangkat ke Rumah Sakit.
__ADS_1
"Silahkan masuk ibu, bapak. Apartemen ini milik putrimu mulai sekarang karena Ini adalah maharnya." ujar Fadhil Akifah sembari membuka pintu apartemen mewah itu di depan kedua orang tua perempuan yang sangat dicintainya itu.
Indah dan Wahyu tampak terpana melihat sebuah ruangan luas yang sangat mewah itu. Ruangan di dalam bangunan bertingkat yang baru pertama mereka lihat seumur hidup mereka.
"Terimakasih banyak nak Fadhil, ini sangat luar biasa."
"Ini belum seberapa dibandingkan cintaku pada putrimu." ujar Fadhil Akifah sembari meraih tubuh istrinya kedalam pelukannya.
Anny merasakan tubuhnya membeku kemudian segera melepaskan diri dan lari ke kamar mandi untuk pipis. Pria itu melongo dengan tingkah istrinya.
"Kamu belum tahu kebiasaan istrimu nak Fadhil padahal katanya kalian sudah lama menikah kan?" Indah menatap menantunya dengan wajah ingin tahu.
Ia dan suaminya yakin kalau pengakuan mereka pasti hanyalah drama saja.
Buktinya mereka berdua tampak sangat canggung dan tampak belum terlalu akrab.
"Eh, iya ibu, kami terus terang tidak tinggal bersama selama ini."
"Jadi?"
Ia baru menyadari bahwa demi keinginannya itu keluarga Anny jadi sangat malu dan bahkan gadis itu mendapatkan julukan perempuan tidak benar.
"Maafkan aku ibu ayah, Anny sungguh tidak tahu hal ini, karena ini murni spontan saja karena ideku sendiri." Fadhil Akifah bersujud dibawah kaki kedua mertuanya itu.
"Dan aku beruntung karena datang tepat waktu hingga aku tidak akan sakit hati berkepanjangan jika hal itu benar-benar terjadi."
"Kami memaafkanmu nak, kami hanya berharap kamu mencintai istrimu dengan tulus. Anny putri kami satu-satunya. Dan ia mempunyai banyak kekurangan." ujar Wahyu dengan senyum tulus diwajahnya.
"Bangunlah nak, kamu sekarang adalah putra kami. Cukup berikan cinta yang melimpah pada Anny,"
"Iya ayah, aku tidak ingin berjanji. Tapi akan aku buat putrimu bahagia." jawab Fadhil kemudian mempersilahkan kedua mertuanya itu agar beristirahat di dalam kamar tamu. Sedangkan ia sendiri membawa istrinya kedalam kamar utama di apartemen itu.
"Ann, apartemen ini milikmu. Kamu bisa melakukan apa saja asalkan tidak kamu jual ya,"
"Ih apaan sih, mana mungkin aku bisa jual wong pemiliknya adalah kamu mas,"
"Ini kamu yang punya Ann, besok aku akan merubah nama pemiliknya menjadi milikmu." Anny tersenyum kemudian memandang ke sekeliling ruang kamar yang sangat luas itu.
__ADS_1
Perempuan cantik itu tersentak kaget karena tiba-tiba saja dua buah tangan besar memeluknya dari belakang. Dan pemilik tangan itu sedang menaruh dagunya di bahunya.
"Ann, terimakasih ya, karena kamu mau mengikut drama aku sewaktu di rumah sakit," ujar Fadhil Akifah dengan suara pelan mirip sebuah bisikan.
Anny hanya diam, ia tak tahu harus melakukan apa disaat berada pada situasi menegangkan saat ini. Tubuh mereka begitu rapat dan dekat. Dan ini adalah pertama kalinya ia berada sedekat ini dengan lawan jenis.
"Kamu tahu sayang, bagaimana hidupku kalau seandainya aku datang terlambat dan kalian sudah menikah?" Anny menahan nafasnya. Ia sekali lagi tak bisa menjawab.
Hanya debaran dihatinya saja yang mampu mengimbangi kewarasan otaknya saat ini. Apalagi tangan suaminya mulai bergerak ke atas dan meremass asetnya. Anny merasakan sensasi yang luar biasa.
"Aku bisa gila Ann, aku pasti akan sangat menyesal karena tidak berusaha memperjuangkan kamu." Fadhil Akifah membalik tubuh istrinya agar bisa berhadapan dengannya.
"Kamu kok diam saja sih, kamu gak senang ya aku jadi suamimu?" tanya pria itu sembari menatap dalam wajah istrinya.
"Tentu saja aku senang mas, aku kan masih malu." jawab Anny dengan semburat merah diwajahnya.
Cup
Fadhil Akifah memberikan kecupan lembut di permukaan bibir Istrinya, kemudian menatapnya sembari tersenyum.
Drrrt
Drrrt
Fadhil Akifah Anshar mengerang kesal karena handphonenya tiba-tiba berbunyi dan mengganggu konsentrasinya pada tubuh istrinya.
"Maafkan aku, Ann. Aku harus kembali ke rumah sekarang juga. Katanya ada hal penting yang akan dibicarakan oleh mama dan Papa di rumah." ujar pria itu kemudian pergi meninggalkan Anny setelah memberinya kecupan singkat di bibir Istrinya itu.
"Iya mas, hati-hati."
"Aku akan mengirim sopir ke sini yang akan mengantar kalian ke rumah sakit." lanjut Fadhil Akifah kemudian hilang dari pandangan Anny yang sedang sibuk menata debaran jantungnya.
*Tobe continued
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍
__ADS_1