Beby Si Wonder Woman

Beby Si Wonder Woman
Bab 71 BSWW


__ADS_3

Pagi yang beda dengan pagi yang biasanya, Ibrahim selaku Presiden Direktur PT IBR Tbk. memasuki loby perusahaan itu bersama dengan putrinya, calon pewaris tunggal pada semua aset kekayaannya.


Semua karyawan yang melihat mereka berdua tampil di publik selain saat hari pernikahan begitu takjub akan kecantikan sang putri tunggal.


Mereka yakin bahwa perempuan cantik itu yang akan memimpin Perusahaan ini setelah ayahnya memasuki purna bakti.


"Selamat pagi Pak Presdir,"


"Selamat pagi nyonya Bramantyo," sapa Gendhis sembari membungkukkan tubuhnya agak rendah saat kedua orang itu lewat dihadapannya.


"Selamat pagi Gendhis, tolong minta Pak Banu untuk menyiapkan ruangan wakil Presiden Direktur untuk putri saya ya," titah Ibrahim kepada sekretarisnya itu.


"Baik pak, permisi." Gendhis segera mundur dari hadapan pimpinan tertinggi di Perusahaan itu dan segera menghubungi Pak Banu kepala divisi Sarana dan Prasarana agar melakukan perintah sang Presiden Direktur tadi.


"Pa, kok aku disediakan tempat di ruangan Erick sih? bukannya Papa yang akan mengajari aku disini?" tanya Beby Alesha dengan wajah bingung.


"Papa hanya akan memantau perkembangan belajarmu dan kalau Erick menyatakan kalau kamu sudah lulus dan pantas berada di sini maka dengan senang hati ruangan ini akan jadi milikmu."


"Tapi Pa, aku bisa belajar sendiri, aku toh sudah banyak memperhatikan semua pekerjaan karyawan di sini selama ini, jadi aku sudah tahu semua karakter mereka."


"Siapa yang baik, yang disiplin, dan juga mau membangun Perusahaan ini." jelas Beby Alesha yang tanpa sadar membuka kedoknya selama ini menjadi OB di Perusahaannya sendiri.


Ibrahim tersenyum samar dan merasa bangga dengan putrinya tapi ia mempunyai niat lain dengan menempatkan kedua orang itu satu ruangan.


Sudah 4 bulan pernikahan kedua orang kesayangannya itu tapi sepertinya hubungan mereka tidak mengalami kemajuan.


"Memangnya kamu tahu darimana tentang karyawan disini? apa kamu mempunyai mata-mata yang melaporkannya padamu sayang?" tanya Ibrahim berusaha mencari tahu apa saja yang dilakukan putrinya itu selama ini.


"Eh, tidak kok Pa, aku kan hanya sering mencari tahu tentang itu semua pada mbah Gugel," jawab Beby Alesha dengan wajah tak nyaman. Ia khawatir Papanya tahu akan penyamarannya selama ini.


"Baiklah, kamu keruangan di sebelah dan pelajari apa saja yang sudah dikerjakan oleh Erick di sana."


"Baiklah Pa," jawab Beby Alesha kemudian melangkah keluar dari ruangan Papanya.

__ADS_1


Di depan pintu, ia tak sengaja bertemu pandang dengan Gendhis seorang sekretaris seksih yang sudah menyatakan cinta padanya karena menganggapnya sebagai pria. Perempuan itu nampak tertegun.


"Ruangan anda sudah siap nyonya, silahkan." ujar perempuan itu dengan sopan tetapi pikirannya dipenuhi oleh bayangan mata Boy sang pujaan hati.


Beby Alesha memasuki ruangan yang akan menjadi ruangan kerjanya nanti dengan senyum diwajahnya.


"Hah Erick, saatnya aku mendepakmu dari sini," ujarnya menyeringai kemudian duduk di kursi wakil Presiden Direktur itu selama ini.


Ia duduk sembari memutar-mutar kursi itu dengan pandangan kearah meja di hadapannya. Matanya tertumbuk pada satu bingkai foto yang memuat dirinya bersama Erick saat akad nikah telah selesai.


Perlahan tangannya mengambil bingkai foto itu. Dan tanpa ia duga dadanya berdebar hebat tatkala ia membaca sebuah kata dibawah foto itu.


My Love


Dengan cepat ia menaruh kembali bingkai foto itu dan menyimpannya dalam posisi terbalik.


"Pria brengsek! beraninya mengambil keuntungan padaku saat aku tidak sadar samasekali." geramnya menahan kekesalan yang tiba-tiba muncul lagi saat mengingat ia dengan bodohnya menyerahkan tubuhnya pada pria itu.


"Ih sebel, aku tahu niatmu Erick Bramantyo, kamu ingin membuatku jatuh dalam pesonamu dan memberikan hal yang sangat berharga dari diriku dan kemudian dengan mudahnya kamu mencampakkan aku dan mengambil semua harta Papa!" ujarnya sembari tersenyum miring.


Beberapa hari yang lalu saat ia masih datang bekerja sebagai Office Boy, ia tanpa sengaja mendengar pembicaraan Erick dan Om Harun di ruangan ini.


Dan itu adalah kunjungan kesekian kalinya Om Harun ke Perusahaan ini yang ia lihat. Mereka berdua sedang berencana melakukan sesuatu yang sangat berbahaya bagi perusahaan.


Meskipun ia tak melihat Erick begitu antusias dengan rencana busuk omnya sendiri tapi jika itu dikaitkan dengan ilmu hukum pidana. Maka itu termasuk adalah merencanakan sebuah kejahatan bersama.


Sejak saat itu kekesalannya pada Erick Bramantyo semakin menjadi-jadi saja. Apalagi pria itu bahkan semakin menghindarinya dengan selalu pulang larut dan tak pernah sekalipun tidur di kamar yang sama dengannya.


Ia yakin betul kalau rencana Erick bersama Om Harun sudah matang sekarang dan mungkin dalam waktu dekat akan ia eksekusi.


"Dasar kau tak tahu terimakasih sama Papa!" ujarnya marah sembari menunjuk gambar Erick yang lain yang terdapat di atas meja itu. Pria tampan itu menatapnya dengan angkuh.


"Cih! sok tampan tapi mesum! gak jujur, gak bisa menepati perjanjian yang sudah dibuat!" Beby Alesha terus berbicara dengan gambar pria itu seolah-olah sosok itu ada dihadapannya.

__ADS_1


Tok


Tok


Beby Alesha tersentak kemudian menatap ke arah pintu. Dan begitu dirinya sangat kaget karena yang berdiri di situ adalah orang yang sedari tadi ia rutuki dengan kekesalan yang berlipat-lipat.


"Kamu pantas berada di kursi itu, selamat datang ibu Wakil Presdir," ujar Erick Bramantyo sembari membungkukkan badannya hormat.


Eh


Beby Alesha langsung gelagapan dan tak tahu mau berkata apa, soalnya kursi yang ia duduki sekarang adalah milik Erick Bramantyo Wakil Presdir yang sebenarnya sedangkan kursinya sendiri berada di samping kursi itu.


Beby Alesha terdiam sejenak kemudian ia menyeringai,


"Ya, akulah yang pantas disini, trus kamu mau apa?!" ujarnya sok angkuh. Ia menaikkan dagunya menantang. Erick Bramantyo hanya tersenyum kemudian duduk di kursi yang baru yang ada di ruangan itu.


"Aku tidak akan melakukan apapun. Dan kalau kamu minta aku keluar dari sinipun aku bersedia." jawab Erick santai dan justru membuat Beby Alesha gregetan sendiri. Bukan yang seperti ini yang ia inginkan.


Perempuan cantik itu ingin Erick Bramantyo menantangnya atau menolaknya supaya ia punya tenaga untuk membuka kedok pria itu.


Membuka semua motifnya bekerja di Perusahaan ini padahal ia punya perusahaan sendiri yang lebih hebat dan maju.


Beby Alesha terdiam beberapa lama. Ia hanya bisa memandang pria itu mengambil semua barang-barangnya dan memindahkannya ke meja baru di sampingnya. Tanpa menyisakan satu benda pun.


Beby Alesha menghentakkan kakinya kesal. Dan langsung keluar dari ruangan itu


"Dasar laki-laki tak peka!!!" teriak Beby Alesha sembari membanting pintu itu keras.


Erick Bramantyo hanya bisa melongo tak tahu harus berbuat apa.


Semua yang ia lakukan selalu salah dimata perempuan cantik itu.


*Tobe continued

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2