
Beby segera keluar dari Cafe itu dengan langkah cepat diikuti oleh anggota Rangers Dewaani yang lain.
Erick Bramantyo melirik kepergian gadis-gadis itu lewat ekor matanya.
"Ya ampun kita sampai lupa menyapa Yusi tadi," ujar Anny sembari memukul dahinya pelan.
"Tenang aja, Yusi sudah melihat kita kok, dan ya kita kan tidak bisa dekat-dekat dengan terdakwa, ada polisi yang selalu bersamanya." ujar Eka dengan langkah cepat mengimbangi langkah Beby menuju tempat parkir.
Misi mereka sekarang adalah membantu para korban kebakaran yang baru saja terjadi di sekitar Markas mereka.
Menurut berita yang baru Beby dengar dari orang yang ditugaskan membersihkan markas itu, kebakaran baru saja terjadi dengan jarak 1 blok dari tempat mereka sering berkumpul.
Tapi karena peristiwa itu sudah diatasi oleh petugas pemadam kebakaran makanya mereka menyempatkan diri untuk makan siang dulu baru menuju Tempat Kejadian Perkara (TKP).
"Untunglah markas kita masih selamat dari sijago merah itu ya, padahal jaraknya sisa satu rumah yaitu Panti Asuhan tetangga kita." ujar Hany dengan wajah penuh syukur.
Pandangannya ia arahan berkeliling markas setelah mereka semua turun dari mobil Beby.
"Alhamdulillah, Tuhan masih menjaga tempat ini." timpal Ratna mengiyakan.
"Dan tentunya panti asuhan tetangga kita di sebelah itu." timpal Eka sembari menunjuk bangunan sederhana di sebelah.
"Bacaan Alquran mereka setiap hari yang menghindarkan Panti itu dari marabahaya dan berakibat pada Markas kita juga." Beby ikut berpendapat.
"Turunin barang-barang di mobil yuk, baru kita bawa ke korban bencana itu." lanjutnya lagi sembari melangkah ke arah bagasi mobil.
Ke empat sahabatnya itu langsung bergerak menurunkan sembako dan juga pakaian-pakaian baru yang sempat Beby beli sebelum mereka menuju tempat itu.
Setelah semua barang sudah turun dari mobil merekapun berjalan kaki menuju tempat kejadian kebakaran itu.
"Nak Alesha? eh kalian semua ada di sini?" sapa Ibu Ratih pemilik Panti Asuhan yang juga berada di Tempat Kerja Kebakaran itu. Rupanya ia juga ikut membantu korban.
Perempuan tua itu membantu mengatur sisa-sisa barang yang sempat diselamatkan ke dalam sebuah tenda darurat dari kementrian sosial.
"Iya ibu, kami baru mendengar kabar ini dan langsung kemari," jawab Beby Alesha Ibrahim sembari menyentuh lengan sang ibu Panti.
"Ibu apa kabar?" lanjutnya lagi.
"Alhamdulillah baik nak, cuma ada sedikit hal yang ingin ibu minta sama kamu, semoga kamu bisa membantu ibu ya?"
__ADS_1
"Oh, iya Insyaallah aku akan bantu Ibu sebisanya," jawab Beby tersenyum kemudian ikut membantu juga sembari bercakap-cakap dengan korban pemilik rumah yang kebakaran itu.
"Terimakasih karena kalian sudah datang membantu kami, barang-barang ini pasti akan sangat bermanfaat bagi kami," ujar Pak Rizal sebagai kepala Rumah Tangga yang menerima bantuan tersebut.
"Iya pak sama-sama, semoga keluarga bapak sabar atas cobaan ini." ujar Eka sebagai perwakilan yang menyerahkan bantuan itu.
Mereka membantu mengatur dan menata harta yang yang tersisa dan masih bisa diselamatkan di dalam tenda darurat agar keluarga itu bisa menempatinya dengan nyaman.
Para Rangers itupun pamit karena waktu sudah sangat sore. Tetapi ibu Ratih memaksa agar gadis-gadis itu mampir dulu di Panti Asuhan.
"Mampir dulu, kalian pasti lelah, anak-anak sudah menyiapkan makanan dan minuman untuk kalian di sebelah."
"Wahh, kebetulan banget ibu, aku juga haus sekali," ujar Anny sembari tersenyum lebar. Ke empat gadis itu langsung menatapnya tajam.
"Eh, kenapa? aku kan memang haus?" tanya Anny dengan wajah polos tak mengerti.
Beby Alesha langsung menepuk bahu Anny kemudian berbisik,
"Kita kan punya minuman di Markas, jangan malu-maluin dong."
"Oh begitu ya?" jawab Anny masih dengan senyum lebarnya.
"Eh gak apa-apa, kalian tetap harus mampir di Panti. Ibu sudah meminta anak-anak untuk menjamu kalian." ujar Ibu Ratih tersenyum setelah mendengar bisik-bisik dari gadis-gadis itu.
"Assalamu'alaikum kakak-kakak cantik." sapa seorang anak panti yang begitu akrab dengan mereka semua.
"Waalaikumussalam Fadlan sayang," sapa kelima gadis itu kompak.
"Tumben baru mampir lagi. Kami kangen banget tahu gak kak." ujar Fadlan sembari memeluk kaki Beby Alesha yang masih berdiri di ambang pintu.
"Wahhh kami juga kangen sama kalian tapi kakak lagi sibuk banget," jawab Beby dengan senyum hangat diwajahnya.
Entah kenapa setiap memasuki tempat ini selalu ia rasakan kedamaian dan kebahagiaan.
Alunan suara anak-anak yang menghafal ayat-ayat Alquran dari setiap sudut-sudut tempat membuat tempat ini terasa nyaman dan damai.
"Ayo masuk kak, didalam ada singkong goreng dan juga teh hangat." Fadlan menarik tangan Beby untuk masuk dan duduk bersama sahabat-sahabatnya.
"Terimakasih ibu, singkongnya renyah dan gurih," ujar Ratna sembari terus mengunyah suguhan dari ibu Ratih dan anak-anak Panti itu.
__ADS_1
"Eh, kirain, Hem." cibir Anny dengan wajah lucu.
"Kenapa Ann?" tanya Beby dan Hany tersenyum lucu.
"Kirain cuma aku yang mau mampir dan dijamu disini ternyata semua pada doyan ya," gerutu Anny dengan mata mendelik kesal.
"Hahahaha," keempat gadis itu tertawa bersama merasa tersindir dengan ucapan Anny dan tetap melanjutkan melahap singkong goreng yang dicocol dengan sambel pedis level 3 ala anak Panti.
"Habiskan ya, di dalam masih banyak." ujar Ibu Ratih sembari menambah lagi singkong itu di atas meja.
"Eh kita ini doyan apa lapar ya?" tanya Eka yang juga tak berhenti mengunyah.
"Kedua-duanya, hahahaha," Hany menimpali kemudian meminum teh hangatnya dan langsung tersedak.
"Uhukk uhuk..."
"Hati-hati Han, kalau minum jangan sambil tertawa bisa keselek, hihihihi." Ratna langsung memberikan tissue kepada gadis itu karena bajunya jadi basah karena tumpahan teh hangat itu.
"Iya nih, kayaknya ada yang lagi sebut-sebut namaku nih,"
"Hahahaha, percaya aja yang kayak gitu, yang ada tuh kalau kita makan atau minum sambil bicara ya seperti ini emang bisa keselek bukan karena lagi ada yang nyebut hahahaha," jelas Beby kemudian tertawa dan berakhir keselek singkong juga.
"Ya Allah, hati-hati nak." ujar Ibu Ratih yang langsung memberikan segelas air putih untuk Beby karena matanya sempat melotot karena tak bisa bernafas.
Potongan singkong goreng itu tersangkut di dalam tenggorokannya.
"Beb?! semua orang panik dan kemudian bernafas lega karena gadis itu langsung tersenyum dan bisa bernafas lega.
Saat mereka berpamitan untuk pulang, ibu Ratih menahan tangan Beby Alesha karena ingin menyampaikan satu hal penting yang tidak boleh didengar oleh sahabat-sahabatnya yang lain.
"Eh, kalian duluan aja ke sebelah. Aku ada suatu hal penting dulu sama ibu Ratih."
"Iya, terimakasih banyak ibu suguhannya, lain kali kami akan mampir lagi ya," ujar Anny dengan rasa percaya diri. Ibu Ratih hanya tersenyum kemudian membalas lambaian tangan mereka.
"Kita masuk ke dalam ya, ada yang ibu ingin minta padamu,"
"Iya ibu, mari." Beby mengikuti langkah ibu Panti itu ke dalam kamarnya.
*Tobe continued
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan tap favorit ya.
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍