
Randy duduk termenung sendiri di depan ruang UGD. Beberapa menit yang lalu Erick Bramantyo dan juga Istrinya pamit untuk pulang dan beristirahat. Kembali pria itu meraup wajahnya kasar. Berkali-kali ia menarik nafasnya dan membuangnya pelan.
Cinta yang dulu ia simpan dalam hati dan ingin ia sampaikan kini harus kembali ke dalam tempat yang paling dalam di tempat yang tersembunyi.
Setelah mendengar kisah cinta Eka dan Jack Andrian dari bos gadis itu kini ia ingin merelakan saja apa yang pernah ia tanam untuk gadis itu. Ia tidak akan bisa menjalin hubungan dengan gadis yang mencintai pria lain dalam hidupnya.
Tak
Tak
Tak
Suara langkah yang terburu-buru dari arah koridor Rumah sakit membuatnya mendongak dan memperhatikan siapa yang datang ke ruangan itu.
Deg
Hatinya tiba-tiba merasakan debaran yang aneh ketika melihat seorang perempuan cantik yang datang bersama dengan 2 orang perempuan paruh baya.
Gadis itu
Hamil?
Mata Randy menatap intens pada perempuan cantik dengan penampilan yang sangat kontras dengan keadaan malam yang sudah sangat larut ini.
Randy menundukkan kepalanya dengan dada berdebar tak karuan. Sebuah kenangan buruk tiba-tiba terlintas di benaknya ketika melihat wajah perempuan hamil itu.
"Ma, kita masuk aja, katanya Kak Jack ada di dalam sana," ujar Jihan dengan wajah khawatir. Mereka bertiga pun masuk ke ruang UGD itu untuk melihat pasien korban kecelakaan tunggal yaitu Jack Andrian.
Deg
Randy merasakan dadanya berdebar semakin kencang. Ingin ia pergi dari tempat itu tetapi entah kenapa rasa penasarannya menahan kakinya untuk tidak bergerak dari tempat itu.
Sementara itu di dalam sana.
__ADS_1
"Hey! siapa kamu?!" tanya Jihan pada Eka yang tiba-tiba tersentak dan bangun dari tidurnya saat mendengar suara ribut-ribut di ruangan itu.
"Eh, maaf aku ketiduran," jawab Eka sembari berusaha mengumpulkan nyawanya.
Gadis itupun berdiri dari duduknya dan berniat berpindah tempat agar keluarga Jack Andrian bisa bebas melihat pasien itu. Tetapi tangannya ternyata digenggam oleh Jack Andrian yang sedang menutup matanya.
"Eh, maaf." ujarnya sekali lagi karena ia jadi tidak bisa bergerak samasekali. Tiga perempuan yang baru masuk itu langsung menatap tautan tangan kedua orang itu.
"Siapa kamu nak?" tanya salah satu perempuan paruh baya itu yang nampaknya mirip dengan Jack Andrian.
"Aku Eka Bu," jawab Eka sembari tersenyum kikuk. Ia merasa malu dan canggung karena tangannya tidak bisa ia lepaskan dari genggaman Jack Andrian yang katanya belum sadarkan diri itu.
"Oh jadi kamu gadis yang sudah mengganggu hubungan aku dan kak Jack sampai tidak pernah lagi tidur di rumah?" cibir Jihan dengan nada marah.
"Jihan!? jaga sikapmu nak, di sini Rumah Sakit dan ibu mohon jangan membuat masalah." ujar Kartika, ibu dari Jack Andrian.
"Tapi ibu bisa lihat sendiri kan? kenapa ia bisa berada disamping suamiku saat ini. Apa jangan-jangan gadis ini yang mengakibatkan kak Jack kecelakaan."
Jihan menuruti perkataan ibunya. Kandungannya yang sudah menginjak usia trimester terakhir itu membuatnya kewalahan dalam berjalan atau beraktivitas.
"Ka, kamu sudah lama di sini?" tanya Kartika pada Eka yang masih berdiri di samping ranjang perawatan Jack Andrian putranya.
"Iya ibu, Pak Erick Bramantyo yang menghubungi aku untuk kesini," jawab Eka dengan senyum meringis. Ia sungguh merasa sangat malu dan risih karena bisa berada di dekat Jack Andrian yang sudah tidak ada hubungan apa-apa dengannya.
"Apa kamu tahu apa penyebab kecelakaan putra ibu?" tanya Kartika lagi dengan nada pelan. Hatinya mencurigai kalau putranya itu ada hubungan khusus dengan gadis cantik bergaun hijau lumut itu. Pantas saja Jack sangat menolak ketika ia ingin menikahkannya dengan Jihan sepupunya sendiri.
"Aku tidak tahu ibu, maafkan aku karena juga tidak bersama dengan kak Jack saat itu," jawab Eka sembari menundukkan wajahnya. Tidak mungkin ia menceritakan kalau Jack kecelakaan karena marah saat melihat ia sangat akrab dengan Randy saat pesta pernikahan Anny dan juga Fadhil Akifah.
"Kamu disini saja, sepertinya Jack lebih membutuhkan kamu daripada kami semua," ujar Kartika dengan mata masih memandang tangan Jack yang sedang menggenggam tangan gadis itu.
"Kenapa kak Tika bicara seperti itu?" tanya Sinta pada kakak sekaligus besannya itu.
"Jihan ada disini kak, dan ia adalah istri sahnya Jack. Apa wajar kakak membiarkan gadis lain berada di antara hubungan mereka?" tanya Sinta pada kakaknya dengan wajah tak suka.
__ADS_1
"Sinta, kamu urus putrimu saja, Jack sedang diurus oleh gadis cantik ini, maukan temani Jack disini sampai sembuh sayang?" Kartika tidak menggubris protes dari adiknya.
Untuk saat ini kebahagiaan Jack lah yang paling penting. Ia menyesal sudah memaksa Jack untuk menikahi sepupunya sendiri sebagai penutup aib.
"Ibu, kamu tega!" teriak Jihan dengan emosi. Ia langsung bangun lagi dari duduknya dan ingin mendekati Eka.
"Kamu keluar dari ruangan ini, kamu tidak malu jadi pelakor hah? sudah tahu Kak Jack sudah punya istri tapi kenapa kamu masih mendekat? dasar tidak tahu malu!" Jihan menunjuk wajah Eka dengan sangat marah.
"Jihan! sudah ibu bilang jaga sikapmu, ini Rumah Sakit dan kamu lihat, bagaimana keadaan Jack saat ini," tegur Kartika dengan mata tajam.
"Ibu, meskipun ini tempat umum sekalipun, aku tidak rela kalau ada seorang perempuan pun yang mendekati suamiku. Keluar kamu sekarang juga!" teriak Jihan semakin histeris.
Eka berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Jack Andrian dan berlari keluar dari ruangan itu. Gadis itu tidak ingin tinggal di sana meskipun Kartika menahannya untuk tidak pergi.
Beberapa dokter dan juga perawat mendatangi ruangan itu karena mendengar suara ribut-ribut di tempat itu.
"Maaf, tolong jangan buat keributan disini. Kalian tidak lihat kalau pasien saja masih dalam kondisi kritis seperti itu?" tegur dokter jaga dengan wajah marah.
"Silahkan keluar semua," perintah sang dokter karena melihat ada perubahan pada tubuh Jack Andrian. Tubuh itu sepertinya mulai merespon setiap suara yang ada di dalam ruangan itu.
"Aku tidak mau keluar dokter, pasien ini suamiku. Aku yang harusnya berada di sampingnya," ujar Jihan dengan wajah garang. Dokter dan perawat itu tidak menggubris perkataan Jihan. Mereka mulai sibuk memberikan tindakan cepat pada tubuh Jack Andrian.
Ada yang mulai memeriksa detak jantungnya dan juga alat-alat vital yang lainnya.
Kartika yang melihat ada perkembangan pada tubuh putranya segera menghampiri ranjang dan menyentuh tangan Jack.
"Jack, kamu dengar suara ibu nak?" tanya Kartika pada putranya dengan airmata yang mulai keluar dari kelopak matanya.
"Tobe continued
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍
__ADS_1