
Hany dengan langkah cepat memasuki area kantor Perusahaan Real Estate yang akan melakukan tes wawancara padanya pagi itu.
Macet dan juga ban motor yang pecah di jalan tadi pagi membuatnya bukan cuma terlambat tetapi membuat seluruh penampilannya jadi tampak sangat kusut.
Untungnya ia datang dengan hanya menggunakan pakaian kasual sehingga ia masih ada kesempatan untuk memperbaiki penampilannya sedikit sebelum memulai tes wawancara itu.
Beberapa menit yang lalu,
"Kamu tidak bisa baca ya, kalau ini bukan tempat parkir motor!?" bentak seorang pria muda saat ia membawa motor matiknya ke Valet di basemen Perusahaan besar itu.
"Maaf Pak, saya tidak tahu, tanda di depan tidak nampak. Atau saya yang terburu-buru mungkin," jawab Hany dengan senyum cengengesan.
Ia lantas membawa keluar motornya dari tempat parkir khusus mobil karyawan perusahaan itu dan tanpa sengaja menabrak mobil mewah yang baru saja masuk.
Brakkkk
"Astaghfirullah, apa lagi ini?" ujarnya pelan kemudian segera turun dari motornya dan memeriksa body mobil di depannya dengan wajah takut.
Hany sudah bisa membayangkan berapa biaya yang akan ia harus sediakan untuk mengganti kerusakan mobil itu.
Gadis itu langsung menghampiri pintu mobil dimana sang pemilik menatapnya dengan pandangan tak terbaca.
Deg
Hany merasa mengenal pria yang berada di dalam mobil itu.
"Singkirkan motormu!" ujar pria itu dengan tampang arogan.
"Eh iya Pak, maaf. Saya tak sengaja," ujar Hany dengan membungkukkan badannya sopan sekaligus takut.
"Maaf Pak," ujar Hany sekali lagi sembari mendorong motornya ke sisi jalan agar tidak menggangu kendaraan yang keluar masuk di Valet itu.
Gadis itu kemudian berjongkok disamping motornya kemudian mengusap wajahnya frustasi.
"Apa aku pulang saja ya, rasanya aku sudah tak bersemangat untuk tes wawancara itu. Otakku sudah blank dan tak punya selera lagi dengan pekerjaan ini." ujarnya pelan sembari mengelus lembut kuda besinya yang sudah berumur dan selalu setia menemaninya kemanapun.
Pria pemilik mobil itu tersenyum samar dari balik kaca spion kendaraannya. Ada rasa aneh dalam hatinya ketika bertemu dengan gadis itu lagi. Gadis angkuh yang ia temui di Restoran tempo hari.
__ADS_1
"Panggil pemilik kendaraan dengan no. Xxx, ke ruanganku sekarang!" titahnya pada Pak Yanto petugas Valet di Perusahaan itu.
"Baik Pak!," jawab Pak Yanto siap melaksanakan perintahnya. Yudhis kembali tersenyum samar dengan ide yang tiba-tiba muncul di kepalanya.
Hany terlonjak kaget karena tiba-tiba nopol Motor matiknya disebut-sebut dari pengeras suara di tempat parkir yang akan ia tinggalkan itu.
Tadinya ia memutuskan untuk pulang saja agar tidak bertemu dengan pria pemilik mobil itu lagi. Ia takut disuruh mengganti rugi karena sama sekali tak punya uang untuk itu.
Dan ya, ia lebih memilih menghadiri persidangan Yusi di Pengadilan hari ini bersama para Rangers, tetapi panggilan berulang-ulang itu membuatnya semakin khawatir.
"Perhatian, disampaikan kepada pemilik kendaraan dengan nomor polisi Xxx agar segera ke ruangan direktur utama PT. Yudhistira."
"Ya Allah, semoga ini bukan karena kerusakan mobil itu," ujarnya pelan sembari membawa motornya ke tempat parkir yang sebenarnya.
"Toiletnya dimana ya Pak?" tanya Hany pada seorang petugas kebersihan yang ia temui di sekitar tempat parkir itu.
"Disana mba, di pojok sana." jawab pria itu dengan sopan.
"Makasih Pak," ujar Hany kemudian segera meluncur dengan langkah cepat menuju tempat yang ia maksud.
Setelah merasa siap. Ia kembali mematut dirinya di depan cermin di dalam toilet itu. Gadis itu segera keluar dari toilet sembari mengelus lembut blouse yang ia pakai karena masih terlihat kusut.
Dengan petunjuk yang ia peroleh dari resepsionis. Ia memasuki ruangan direktur PT. Yudhistira itu dengan harapan dan prasangka yang baik.
"Duduk!"
"Terima kasih Pak," ujar Hany sembari menunduk. Ia tak berani menatap pria pemilik mobil yang ternyata adalah direktur dari perusahaan yang ia kunjungi sekarang ini.
"Kamu mengerti kenapa saya memanggilmu kemari nona sombong?" tanya direktur itu dengan seringaian diwajahnya.
Hany mendongak dan memastikan pendengarannya. Ia menatap pria itu lekat-lekat dan baru ingat kalau orang yang ada dihadapannya adalah orang yang mengajaknya kencan lewat kertas dari waiters di Restoran waktu itu.
Seketika tangannya terkepal dibawah meja. Ia ingin membalas dengan makian tetapi ia tak kuasa.
Ia khawatir akan mendapatkan masalah baru dengan pria itu karena masalah dengan mobil yang sempat tergores oleh motornya beberapa menit yang lalu.
"Iya Pak," jawab Hany dengan menggigit lidahnya kesal.
__ADS_1
"Kamu ternyata mempersiapkan diri ya, untuk menemuiku," ujar Yudhis dengan pandangan mencemooh.
Ia ingat gadis itu begitu kucel dan kusut tadi pagi tetapi sekarang sudah tampak rapih dan segar.
"Maaf ya Pak direktur yang terhormat. Saya kesini karena mendapat panggilan tes wawancara. Dan soal mobil anda yang tergores itu saya sekali lagi minta maaf." jawab Hany dengan berusaha menahan emosi dihatinya.
"Dan ya, saya telah merusak mobil anda, kalau saya ada uang saya akan mengganti biayanya."
"Oh ya? Saya kira kamu gadis kaya sampai menolak ajakan saya kemarin. Tapi sudahlah, jadi sampai kapan saya akan menunggu kamu punya uang? dan katamu kamu mau tes wawancara ya? kalau begitu saya yang akan mewawancarai kamu sekarang." ujar Yudhis tersenyum samar.
Hany menatap kembali wajah pria dihadapannya dengan pandangan tak terbaca.
"Kenapa? kamu tidak mau? kalau kamu lulus kan kamu jadi punya uang untuk mengganti kerusakan mobil itu."
"Eh tidak, bisa juga sih Pak kalau itu sesuai aturan perusahaan ini." jawab Hany dengan wajah berubah cerah. Setidaknya dengan berada di sini ia bisa mendayung dan melampaui 2 atau 3 pulau.
Pria itu kembali tersenyum samar.
"Perkenalkan dirimu dengan sikap yang sopan dan menarik!" perintah sang direktur sembari menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kebesarannya dengan santai.
"Apakah ini sudah termasuk tes wawancara Pak?" tanya Hany dengan pandangan curiga.
"Tentu saja, kamu belum pernah ikut tes wawancara sebelumnya ya?" tanya Yudhis dengan tatapan tajam. Hany langsung tersenyum cengengesan.
"Baiklah Pak, saya mengerti maksud anda." jawab Hany kemudian berdiri dari duduknya.
Dengan membaca bismillah dalam hati, Ia berusaha tampil anggun dengan membusungkan dadanya ke depan agar bisa seperti para karyawan di tempat ini. Yang selalu modis dan tampak cantik.
Gadis itu bahkan meminjam sepatu high heels dari teman kostnya untuk hari ini. Dan berjanji akan membelinya sendiri kalau ia sudah mendapatkan gaji pertama nantinya.
Perusahaan ini membuka lowongan sekretaris. Dan Hany dengan percaya diri mendaftarkan diri meskipun ia merasa tidak mempunyai keahlian di bidang ini. Ia hanya lulusan jurusan Bahasa.
Baginya ini adalah pengalaman pertama dan sekaligus untuk mencari uang kalau seandainya ia lulus.
*Tobe continued
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya, okey?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍