
Di Ruangan Divisi Humas. Seorang pria muda sedang tersenyum samar dengan mata sedang memandang sebuah video di layar handphonenya.
"Ini sih gak cocok jadi OG, cocoknya jadi model." ujarnya pelan dengan wajah masih dihiasi senyum.
Ternyata beberapa menit yang lalu itu ia sudah mengerjai seorang Office Girl baru di Perusahaan besar itu.
ia meminta Anny Ahnisar, seorang Office Girl yang baru untuk membersihkan ruangannya padahal sudah sangat bersih.
Beberapa menit yang lalu masih di ruangan itu.
"Kamu Office Girl yang baru itu?" tanya Fadil Akifah Anshar, manager Humas yang masih muda itu.
Tatapan pria itu tak pernah lepas dari gadis cantik berseragam OG yang sibuk membersihkan meja dan juga benda apa saja yang diperintahkan oleh sang manager.
"Iya Pak," jawab Anny tanpa menghentikan tangannya menari diatas meja kaca itu. Nampak bulir-bulir keringat sudah mulai muncul diwajahnya yang cantik mulus.
"Kamu tinggal dimana?" tanya Fadhil lagi sembari merekam aksi membersihkan Office Girl lewat handphonenya itu.
"Saya masih kost di dekat kampus UNM, Pak."
"Jalan apa itu?"
"Jalan Dg Tata VI Pak."
"Oh, kalau aku perintahkan kamu membersihkan kamarku di rumah, bisa tidak?"
"Maksud bapak apa?" tanya Anny dengan mata melotot kemudian menghapus keringatnya yang lumayan banyak keluar. Ia sudah mulai merasa kesal karena diperlakukan tidak manusiawi oleh manager itu.
Cekrek
Dengan santainya Fadhil Akifah berhasil mengambil gambar Anny yang sedang menghapus keringat di wajahnya itu.
Momen indah itu begitu cantik dimatanya. Dan sekarang ia jadikan sebagai wallpaper di handphonenya.
"Bapak sepertinya mengerjai saya ya?" ujar Anny mulai tersadar dengan apa yang dilakukan oleh sang manager.
"Maksud kamu apa?" tanya Fadhil pura-pura tak tahu.
"Anda mengambil gambar saya diam-diam kan?"
"Ih mana ada, kamu jangan Ge Er ya?"
Anny menghentakkan kakinya kesal karena lelah dikerjain oleh manager itu.
Ia segera keluar dari sana sembari menahan airmatanya yang siap menganak sungai.
Ia bertekad untuk kembali ke kampung saja untuk Mencari kerja di sana.
Diluar sana, Beby Alesha atau Boy sedang melangkah tergesa-gesa menuju ruangan Presiden Direktur untuk melaporkan manager divisi Humas yang sudah melakukan tindakan pelecahan pada sahabatnya itu.
__ADS_1
Ia sebenarnya ingin memberi pelajaran pada pria itu. Tetapi Eka sang sahabat memberinya saran agar melaporkan orang itu pada pimpinan tertinggi di Perusahaan itu agar mendapatkan teguran.
Baginya, siapapun tersangka perbuatan yang tidak menyenangkan haruslah mendapatkan hukuman yang setimpal.
Tok
Tok
Pintu Presiden Direktur terbuka dan menampilkan wajah Gendis sang sekertaris.
"Eh Boy, kebetulan sekali ini."
"Iya mbak."
"Aku udah mau hubungin kamu, ini hampir masuk waktu makan siang, janji aku tadi pagi ingin aku tunaikan, lho."
"Eh iya, tapi sekarang saya lagi ingin berjumpa dengan Pak Presdir mba," ujar Beby Alesha dengan wajah menunduk.
"Tapi Pak Presdir udah keluar tadi, katanya ada urusan yang sangat penting terkait pernikahan putrinya itu."
"Oh gitu ya Mba? sayang sekali ya."
"Tapi tenang saja, di dalam ada Pak Wakil Presdir kok, kamu bisa bicara sama beliau."
"Tapi Mba?"
"Loh gak apa-apa, Pak Erick Bramantyo orangnya baik banget, Ayo cepetan masuk," ujar Gendhis sembari mendorong tubuh Boy ke dalam ruangan itu.
"Aku tunggu di depan ya Boy," ujar Gendhis sembari mengedipkan matanya menggoda. Ia sangat tertarik dengan Office Boy itu yang mirip sekali dengan aktor Korea Favoritnya.
"Ada apa Boy?' tanya Erick Bramantyo tanpa mengalihkan pandangannya pada layar komputer di hadapannya.
"Hemm, anu pak.," Erick Bramantyo langsung menoleh mendengar suara Boy yang begitu ia kenali.
Deg
Pria itu merasakan jantungnya berdetak kencang. Punggungnya ia tegakkan dengan mata memandang lurus kearah Office Boy yang punya penampilan lain dari yang lain itu.
"Saya ingin melaporkan manager Divisi Humas, Pak." ujar Boy dengan suara kembali berat khas laki-laki.
"Atas tuduhan apa?" tanya Erick Bramantyo sembari terus memandang wajah Boy yang menunduk dalam.
Ia sedang ingin mengenali suara itu. Sekali lagi OB itu bicara, ia yakin bisa mengetahui siapa orang yang sedang berdiri di hadapannya ini.
"Pelecehan dan perbuatan tidak menyenangkan."
I got you wonder woman !
Erick tersenyum puas. Ia yakin OB yang ada didepannya adalah Beby Alesha calon istrinya.
__ADS_1
Beberapa kali ia melihat gadis ini sedang menyamar dan ia sudah sangat mengenalnya. Tetapi ia sekarang berpura-pura tidak kenal.
Pria itu ingin tahu untuk apa gadis nakal milik Pak Ibrahim ini menyamar menjadi Office Boy di Perusahaannya sendiri.
"Apa yang kamu inginkan untuk manager itu Boy?!" tanya Erick Bramantyo dengan senyum samar di wajahnya.
"Saya ingin bapak menegurnya supaya tidak melakukannya lagi."
"Hem, baik-baik."
"Terimakasih Pak, saya permisi."
"Jangan keluar dari ruangan ini, aku ingin mentraktirmu makan siang,"
"Tidak, tidak perlu Pak, mbak Gendis yang akan mentraktirku Pak, terimakasih." ujar Beby sembari menggelengkan kepalanya dan segera keluar dari ruangan itu.
"Astaga Beby," ujar Erick Bramantyo sembari meraup wajahnya kasar. Gadis itu benar-benar bisa membuatnya gila.
"Kenakalan apalagi yang kamu lakukan ini, wonder woman?" lanjutnya dengan senyum diwajahnya.
Dengan cepat ia menghubungi Manager Humas yang dilaporkan oleh Beby tadi.
Kalau seandainya Beby yang dilecehkan oleh manager itu. Maka Ia pastikan Pria itu akan ia berikan hukuman yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya.
"Pak Fadil Akifa, silahkan ke ruangan saya sekarang!"
Sementara itu, Boy dan Gendis masih mengobrol di depan ruangan Presiden Direktur itu.
Office Boy itu terpaksa mengikuti langkah Gendis yang sangat ingin mentraktirnya makan siang di Kantin, padahal ia ingin sekali makan bersama sahabat-sahabatnya.
"Mau pesan apa Boy?" tanya Gendhis sembari menarik tangan Office Boy itu etalase di kantin itu. Dimana terdapat banyak menu makanan yang bermacam-macam di sana.
"Saya sup ayam aja Mba," ujar Beby sembari menunjuk menu sup ayam di depannya.
"Eh, Gendhis, mau main sama brondong ya?" sapa seorang karyawan perempuan lain yang kebetulan juga sedang berada di Kantin itu untuk makan siang.
"Kenapa? mau juga? tuh si Roma OB yang baru, masih single." jawab Gendhis sembari menggandeng tangan Boy.
Office Boy itu jadi merasa risih sendiri. Karena Gendhis sampai menyentuhkan buah dadanya yang montok kearah lengannya.
"Mba, saya tidak nyaman nih, boleh dilepas gak tangan saya?"
"Eh iya Maaf ya, aku terlalu senang sama kamu Boy," ujar Gendhis sembari tersenyum menawan.
Mereka pun duduk dan makan siang bersama dibawah perhatian dari Erick Bramantyo.
*Tobe continued
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess. Like dan komentarnya aku tunggu.
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍