
Beby Alesha memasuki loby hotel bintang lima itu dengan langkah cepat. Sejak tadi tante Linda, adik dari Papanya menghubunginya terus kalau pesta ulangtahun Taro akan segera dimulai.
"Iya tante, aku sudah ada di loby nih," ujar Beby Alesha kemudian menutup panggilan telepon itu dan menaruh handphonenya di dalam sling bagnya.
"Maaf mbak, aku mau nanya pesta ulangtahun atas nama Taro Harun di lantai berapa ya?" tanya Beby pada seorang resepsionis di bagian depan loby.
Ia bahkan tidak sempat menanyakan ruangan dan lantai berapa acara itu berlangsung saking buru-burunya.
"Sebentar ya mbak," jawab sang resepsionis sembari membuka sebuah buku daftar tamu dan acara pada hari itu.
"Dilantai 15 ruangan Diamond," jawab resepsionis itu dengan senyum ramahnya.
"Makasih ya mbak," Beby Alesha langsung berlari menuju lift yang hampir saja tertutup. Dengan cepat ia memencet angka 15.
Dan Tanpa disangka-sangka ia bertemu dengan Erick Bramantyo, sang suami bersama dengan seorang perempuan cantik di dalam lift itu.
Mereka sempat beradu pandang selama beberapa menit kemudian kedua orang itu saling melepaskan pandangan dan menatap dinding lift di depannya.
Tidak ada yang saling menyapa di dalam ruangan berbentuk kotak itu. Hanya mata mereka yang berkomunikasi lewat pantulan didinding aluminium yang nampak mengkilap itu.
Tring
Pintu Lift terbuka dan secara kebetulan mereka bertiga keluar dari kotak besi itu bersamaan.
"Mau kemana?" tanya Erick dengan suara pelan. Yang ia yakin hanya Beby Alesha yang mendengarnya karena posisi mereka berdua begitu dekat.
"Ultahnya Taro, permisi," jawab Beby Alesha singkat. Perempuan itu langsung melangkah ke arah barat setelah keluar dari lift sedangkan Erick melangkah ke arah Utara.
"Taro," gumam Erick Bramantyo tanpa sadar. Ingatannya tentang sepupu dari istrinya itu tiba-tiba berkelebat dalam kepalanya.
Pria itu pernah menemuinya dan terang-terangan menyatakan kalau ia mencintai Beby Alesha istrinya dan tak tahu malu mengatakan ingin merebut Beby Alesha dari tangannya.
Ia begitu heran sebenarnya dengan tingkah laku keluarga Ibrahim, Papa mertuanya.
Apa mungkin ilmu hipnotisnya selalu bekerja jika bertemu dengan orang-orang rakus itu hingga mereka selalu terang-terangan mengakui niat buruknya pada sang mertua.
Atau mungkinkah mereka punya rencana lain lagi yang mereka sembunyikan dengan sangat rapih?
"Pak Erick, apa ada masalah?" tanya perempuan cantik yang sedang ditemani Erick itu dengan wajah penasaran. Erick tersentak dari lamunan panjangnya.
"Ah, tidak. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu, maaf. Silahkan." ujar Erick Bramantyo sembari mempersilahkan perempuan yang bernama Dona itu agar melangkah terlebih dahulu.
Selama mengikuti meeting dengan para pengacara dan kliennya di ruangan itu, pikiran Erick Bramantyo tak bisa berkonsentrasi.
Entah kenapa hatinya selalu memikirkan Istrinya yang baru ia temui beberapa jam yang lalu. Berkali-kali ia menatap jam tangannya memeriksa perubahan waktu.
"Bagaimana dengan permasalahan yang dihadapi dengan klien kita pak Erick, apa menurutmu ia bisa lolos dari jeratan hukuman?" tanya seorang pengacara muda yang baru bergabung dengan EB & Partners.
Erick Bramantyo tak menjawab, ia hanya sibuk mencoret-coret sesuatu di dalam sebuah nota kecil yang sedang dipegangnya.
"Maaf Pak Erick,!" tegur Romy, pengacara yang lainnya tak sabar karena melihat ketua kuasa hukum dari tersangka perbuatan tersangka kasus korupsi itu tidak merespon.
__ADS_1
"Ah, eh, ada apa?" tanya Erick gelagapan. Ia tak menyadari kalau pikirannya sedang berada ditempat lain meskipun tubuhnya ada di sini bersama para partnernya.
"Maaf, maaf, ada hal yang sedang mengganggu pikiranku. Aku harap meeting ini kita tutup dulu sampai di sini karena aku ada urusan yang sangat penting saat ini." dengan segera pria itu berdiri dan mengambil tablet dan kunci mobilnya.
"Maafkan aku sekali lagi, kerugian waktu kalian akan aku ganti, permisi," ujar Erick dengan nada suara terburu-buru.
Semua orang yang ada di ruangan itu saling mengangkat bahu dengan wajah bingung.
Entah kenapa ia begitu khawatir pada istri wonder womannya itu.
Padahal seharusnya tidak ada yang perlu ia khawatirkan karena perempuan cantik itu sedang berada di tengah-tengah keluarganya sendiri. Dan lagipula istrinya itu pasti bisa menjaga diri dengan baik.
Langkahnya ia percepat ke arah barat tempat Beby tadi melangkah.
"Ruang Diamond, aku pikir hanya ini ruangan yang ada di bagian barat lantai 15 ini." ujar Erick kemudian dengan pelan mendorong pintu ruangan itu.
Ramai, itulah kesan pertama yang ia tangkap di dalam ruangan itu. Bunyi musik klasik mengalun lembut di dalam ruangan yang nampak remang-remang itu.
Perlahan Ia pun masuk dan mulai mengedarkan pandangannya mencari sosok cantik yang sangat ia cintai itu.
Tangannya tiba-tiba ia rasakan mengepal. Ia tak suka melihat pemandangan di depannya. Semua anggota keluarga Ibrahim menari dan berdansa di tengah-tengah Ruangan.
Dengan mengikuti musik yang berbunyi, mereka saling berganti pasangan untuk berdansa.
Kebetulan sekali Beby Alesha dan Taro yang sedang mendapat kesempatan untuk menari berpasangan.
Tangan Taro memeluk erat pinggang ramping Beby Alesha sampai musik sudah berganti pun ia tak juga mengganti pasangannya. Padahal nampak sekali kalau perempuan itu ingin melepaskan diri.
Ia menatap wajah Taro yang kaget dengan pandangan mata tajam. Sedangkan pria itu hanya menyeringai tak suka.
"Erick, kamu mempermalukan Taro," geram Beby Alesha pada suaminya yang sekarang sedang merengkuh pinggangnya lebih rapat daripada yang dilakukan oleh Taro tadi.
"Oh ya?" alis Erick terangkat tanpa menghentikan dansanya dengan istrinya. Beby Alesha berusaha menggeliat dan ingin melepaskan diri tetapi tangan besar Erick menekan pinggangnya semakin erat.
Tubuh mereka berdua semakin tak berjarak hingga deru nafas mereka pun saling menerpa wajah masing-masing.
"Erick, aku tak suka ini," geram Beby Alesha dengan wajah kesal. Mata mereka saling berpandangan dengan tubuh berusaha mengikuti musik yang sedang mengalun.
"Dan aku tak suka kalau ada tangan lain yang memelukmu selain aku, mengerti?!" jawab Erick dengan bisikan di kuping istrinya.
Tangannya ia tarik semakin rapat hingga ia bisa merasakan dada Beby Alesha yang empuk dan kencang itu semakin merapat ke tubuhnya.
"Erick, jangan salahkan aku kalau aku tendang milikmu brengsek!" Beby mengumpat kesal karena sepertinya suaminya mengambil banyak keuntungan dari acara dansa ini.
"Hem, coba saja dan akan aku pastikan akan menjadi budaknya, mengerti?" Erick mengecup lembut pipi Istrinya dan semakin membuat perempuan itu kesal.
Beby Alesha tapi tak bisa berbuat banyak karena hampir semua pasang mata menatap mereka berdua yang ternyata belum juga saling melepaskan dilantai itu.
Ibrahim dan Hanna yang melihat pemandangan indah itu saling bertukar senyum. Mereka sangat bahagia dengan apa yang mereka lihat di depan matanya.
Beda halnya dengan semua keluarga Ibrahim yang lain terutama Taro.
__ADS_1
Mereka semua seperti sedang mengulum bara api dalam mulut mereka. Panas dan sakit yang mereka rasakan.
"Siapa yang memberi izin anak sialan itu masuk ke pesta kita," geram Sisca kesal.
"Cari cara agar pria itu pergi dari tempat ini atau rencana kita gagal," lanjutnya dengan seringai jahat.
Beberapa saat kemudian handphone Erick berbunyi tiada henti dan membuatnya harus menghentikan dansa itu.
Iapun melepaskan tubuh istrinya dan membungkuk pelan terus keluar dan mencari tempat yang agak sepi untuk menjawab telepon di handphonenya.
Setelah selesai menerima panggilan penting itu,
Erick Bramantyo segera menghampiri Papa dan Mama mertuanya kalau ia harus ke suatu tempat karena ada hal penting yang terjadi.
"Kami juga sudah mau pulang nak, kita keluar dari sini sama-sama saja," ujar Ibrahim saat ia berpamitan.
"Bagaimana dengan Beby Pa, kenapa Papa tidak mengajaknya pulang sekalian aja?," tanya Erick dengan wajah khawatir.
"Hey, anak itu sering ngumpul-ngumpul begini dengan para sepupunya. Biarkan sajalah. Siapa tahu ia masih mau menari dengan Taro hemm," Erick nampak tak suka dengan jawaban mertuanya tetapi ia bisa apa, mungkin kekhawatirannya saja yang berlebihan.
"Mari Pa Ma," mereka bertiga pun keluar dari ruangan itu setelah berpamitan dengan saudara-saudara Ibrahim termasuk Taro sang tuan rumah.
Sesampainya di Loby mereka bertiga berpisah karena mempunyai tujuan yang berbeda.
Ibrahim dan Hanna pulang ke rumahnya sedangkan
Erick Bramantyo pulang ke rumahnya karena mendapatkan telepon penting tadi dari seorang satpam di rumahnya kalau ada orang asing yang sedang memaksa masuk ke rumah itu meskipun sudah dikasih tahu kalau pemiliknya tidak ada.
Dengan perasaan kesal karena waktunya yang sangat berharga bersama Beby Alesha terganggu, ia pun mengemudikan mobilnya ke arah rumah pribadinya dengan kecepatan penuh.
Tiga puluh menit kemudian ia sampai di rumahnya dan mendapati satpam itu sedang tertidur dengan nyaman di dalam pos jaganya.
"Pak Mun, bangun!" seru Erick dengan perasaan kesal sampai ke ubun-ubunnya.
Pasalnya ia sudah meninggalkan acara tadi hanya karena panggilan dari pria tua yang justru tertidur dengan santainya disini.
"Eh Pak Erick, maaf saya ketiduran Pak,"
"Hah? bisa-bisanya kamu ketiduran padahal baru saja menelponku kalau ada orang asing yang memaksa masuk ke rumah ini." kesal Erick.
"Maaf Pak, bukan saya yang menghubungi bapak, handphone saya sudah 2 hari ini rusak." jawab Pak Mun dengan wajah takut.
Erick berpikir sejenak dan mengingat bagaimana wajah Taro tersenyum menang saat ia dan mertuanya berpamitan.
Dengan cepat ia kembali masuk ke mobilnya dan segera kembali ke hotel itu dengan kecepatan penuh Ia harus kembali kesana dan memastikan Beby Alesha baik-baik saja.
* Tobe continued
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍
__ADS_1