Beby Si Wonder Woman

Beby Si Wonder Woman
Bab 109 BSWW


__ADS_3

Jack Andrian membawa calon istrinya itu pulang ke tempat kostnya setelah memastikan bosnya sudah sampai di rumah kediaman Ibrahim.


"Aku juga sudah pengen lihat kamu hamil Ek," ujar pria itu dengan wajah datar.


"Eh? ngomong apa sih?" ujar Eka dengan wajah tak percaya.


"Eh maaf, tapi beneran deh, aku cemburu lihat kebahagiaan Pak Erick, hahaha," untuk pertama kalinya gadis itu melihat kekasihnya itu tertawa bebas seperti itu. Biasanya hanya wajah datar sedatar tembok yang ia tampilkan.


"Ya Allah, aku sampai berpikir macam-macam kak," ujar Eka dengan senyum samar dibibirnya. Otaknya yang rada-rada gesrek dan suka mesum jadi membayangkan yang tidak-tidak.


Pletak!


"Awww," teriak Eka merasa kaget dan sedikit nyeri karena satu jitakan mendarat cantik ke dahinya. Gadis itu menatap wajah Jack Andrian yang kembali berwajah datar.


"Aku salah apa? kok kena jitak sih?"


"Supaya otakmu tidak mikir kemana-mana," jawab Jack santai tapi kemudian ia meraih tangan kekasihnya itu kemudian memintanya untuk membalas jitakan tadi pada keningnya sendiri.


"Balas aku,"


"Ih gak ah, gak sopan," jawab Eka sembari menarik tangannya kembali tetapi Jack menahannya dan menggenggamnya.


"Balas aku, cepetan,"


"Ih kenapa kak?" Eka semakin dibuat bingung dengan tingkah pria berkepribadian dingin ini.


"Karena aku juga memikirkan hal yang sama dengan yang kamu pikirkan."


"Astagfirullah, hahahaha," Eka tertawa terbahak-bahak kemudian menjitak betul kening pria itu dengan lebih keras.


"Aku turun sini kak," ujar Eka saat mereka sudah saling bermain dan bercanda di dalam mobil itu. Gadis itu baru mau membuka pintu mobil tetapi tangannya tiba-tiba ditarik lagi oleh calon suaminya itu.


"Aku sudah tidak sabar Ek," ujar Jack kemudian mengecup lembut pipi Eka Setiawati. Pria itu merasa pertahanannya kalah karena akhirnya berani menyentuh gadis itu lebih dari sekedar pegangan tangan.


"Maafkan aku," lanjut Jack kemudian membiarkan gadis itu keluar dari mobil atau ia akan melakukan hal yang lebih.


"Iya kak, hati-hati," jawab Eka kemudian segera berlari masuk ke tempat kostnya. Ia ingin segera memandang dirinya di cermin. Ia ingin melihat apakah bekas bibir Jack pada pipinya bisa ia lihat dan akan dijadikan kenang-kenangan yang amat indah.


Sedangkan Jack Andrian sendiri menyugar rambutnya ke belakang. Ia tak menyangka kalau ia sudah bertindak sejauh itu.


Dengan cepat pria itu memutar arah mobilnya. Tujuannya sekarang adalah bukan apartemen atau panti asuhan tempatnya biasa menghabiskan malam. Ia ingin orang tuanya segera menyiapkan pernikahannya secepatnya dengan Eka dalam pekan ini atau ia akan melakukan zina lagi. Zina hati, dan juga zina yang lainnya.

__ADS_1


🍁


Fadhil Akifah meraih tangan istrinya untuk turun dari mobilnya. Mereka berdua sedang berada di depan sebuah rumah mewah dan juga luas. Rumah itu adalah tempat kediaman orang tua salah satu manager di PT. IBRA.Tbk.


"Kita akan ketemu sama Papa dan Mama, sayang," ujar Fadhil Akifah memberi penghiburan pada istrinya itu yang sedari tadi diam saja.


"Iya mas, tapi boleh gak aku pipis dulu," ujar Anny sembari merapatkan kedua pahanya karena sepertinya ia sudah sangat kebelet.


Fadhil Akifah tersenyum dan sangat mengerti kalau istrinya itu pasti sedang gugup dan khawatir.


"Aku antar," ujar pria itu kemudian melangkah dengan cepat ke arah kamar pribadinya yang untungnya ada dilantai bawah.


"Fadhil, Papa menunggumu di ruang keluarga," tegur Rahmah Salam saat bertemu dengan putranya itu yang baru keluar dari kamarnya.


"Iya Ma, tapi aku tunggu Anny dulu di dalam sana," jawab Fadhil Akifah dengan pandangan mata kearah dalam kamarnya.


"Apa? kamu sudah membawa gadis itu ke dalam kamarmu? sejauh apa hubungan kalian hah?" Rahmah Salam melotot tak percaya dengan ucapan putranya.


"Anny sudah aku nikahi Ma, kami sudah sah melakukan banyak hal," jawab Fadhil Akifah dengan senyum diwajahnya.


"Ya Allah, kamu ya?!" Rahmah Salam langsung memukul lengan putranya itu dengan gemas.


"Tega kamu tidak bilang-bilang sama Mama dan Papa, kamu anggap kami apa?"


"Ann," bisik Fadhil Akifah ditelinga sang istri saat melihatnya sedang berdiri di depan cermin di dalam kamar mandi yang ia tidak kunci. Pria itu memeluk tubuh istrinya dari belakang kemudian menggigit pelan kuping Istrinya lembut.


"Ayo kita keluar sayang, Mama sama Papa sudah menunggu kita di luar."


"Aku takut mas,"


"Kenapa harus takut, kan ada aku di sini, Papa sama Mama baik kok, mereka sudah lama meminta aku menikah."


"Tapi mas,"


"Sudahlah jangan khawatir lagi, disini juga sudah ada bibit aku kan sayang, jadi jangan takut ya," Fadhil Akifah mengelus lembut perut sang istri berharap bibit yang ia semai di dalam sana sudah mulai tumbuh.


"Tapi bolehkan aku pipis lagi," ujar Anny dengan pandangan memohon ke arah kaca dihadapannya. Dimana pandangan mata mereka sedang beradu dengan penuh cinta dan hasrat.


Fadhil Akifah mengangguk kemudian melepaskan pelukannya. Ia berjanji akan membawa istrinya itu secepatnya ke dokter spesialis saraf atau apa pun itu agar penyakit Anny cepat sembuh.


Kebiasaan buruk perempuan itu membuatnya sering tersiksa, galau, dan merana. Apalagi kalau ia sedang berada di puncak dan ya ampun, ia jadi frustasi sendiri.

__ADS_1


"Aku sudah siap mas," ujar Anny yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya dan berhasil membuyarkan lamunannya.


"Ah iya, Papa dan Mama pasti sudah lama menunggu kita," Fadhil Akifah meraih tangan istrinya dan menggenggamnya erat. Mereka berdua melangkah keluar untuk menjelaskan status mereka sekarang ini.


"Papa Mama ini Anny Ahnisar istriku," ujar Fadhil Akifah sembari membawa istrinya itu untuk menyalami kedua orangtuanya.


"Duduklah!" titah Ansar Salam pada pasangan suami istri itu.


"Sekarang jelaskan apa yang terjadi kenapa bisa kalian berani mengambil keputusan itu tanpa melibatkan kami."


"Begini Pa Ma ceritanya,.." Fadhil Akifah mulai menceritakan perasaannya terlebih dahulu, bagaimana ia sangat menyukai seorang perempuan yang bernama Anny Ahnisar dan berniat melamarnya secara resmi dan normal seperti kebanyakan orang. Tetapi karena ada insiden yang tidak ia sangka-sangka, akhirnya ia menikah tanpa sepengetahuan orangtuanya sendiri.


"Dasar anak nakal, tapi papa suka gayamu," ujar Ansar Salam sang Papa dengan senyum diwajahnya.


"Ya ampun Papa, kok kayak didukung sih, bukannya dikasih hukuman gitu," tegur Rahmah Salam dengan kesal.


"Kamu sini," lanjutnya sembari melambaikan tangannya pada Anny agar berpindah tempat duduk ke sampingnya.


"Iya Tante," jawab Anny dengan takut-takut.


"Kamu harus kami pisahkan dulu sampai selesai resepsi selesai. Itu hukuman bagi anak nakal seorang kalian,"


"Ih mama tega," ujar Fadhil Akifah tak rela.


"Kali ini kalian harus nurut."


"Pa tolong Fadhil dong," bujuk Fadhil dengan wajah memelas. Mana mungkin ia bisa berpisah dengan perempuan cantik itu. Bisa-bisa ia stress setengah mati.


"Bujuk Papa dengan benar baru Papa bantu," jawab sang Papa dengan taktik diwajahnya.


"Waduh Pa, tolong dong, aku akan lakukan apapun perintah Papa plis ya Pa,"


"Ah belum nampan."


Fadhil Akifah meraup wajahnya kasar kemudian menatap istrinya dengan wajah sedih.


"Hahahaha," Ansar Salam dan istrinya tertawa bahagia melihat penderitaan putranya.


*Tobe continued


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2