
"Dari mana kamu nak?" tanya Ratih saat putranya itu baru masuk ke halaman Panti Asuhan dengan menggunakan motor sport milik Jack Andrian sang asisten.
"Maaf ibu, Ada hal penting tadi," jawab Erick sembari menyimpan helmnya dan merapikan rambut dan pakaiannya.
"Ibu baru bicara sama orang tua nak Alesha lewat telepon dan mereka menunggu kita sekarang."
Deg
Erick Bramantyo merasakan dadanya berdebar kencang.
"Ibu, bisa tidak kita batalkan saja, Aku masih belum siap," ujar pria itu dengan perasaan yang tiba-tiba gundah.
Penampakan Beby Alesha Ibrahim tadi pagi benar-benar mengganggu pikirannya.
Ia sungguh tak rela ada yang melihat dan menikmati tubuh indah itu selain dirinya.
"Mikir apa kamu nak? jangan permalukan ibu ya,"
"Ibu sudah mati-matian membujuk gadis itu agar mau menerima lamaran ibu dan sekarang kamu ingin mundur, yang benar saja." Ratih mendengus tak suka dengan ucapkan putranya itu.
"Iya ibu, maafkan aku. Ayo kita berangkat sekarang." ujar Erick Bramantyo dengan wajah tak bersemangat. Nafasnya ia rasakan sangat berat.
"Apa kamu akan membonceng ibu pakai motor seperti ini Erick? kamu pikir ibu ini masih muda?"
"Astagfirullah. Tunggu sebentar ibu, sebentar lagi Jack akan membawa mobil itu kemari. Duduklah dulu ibu." Ratih mengikuti kata-kata putranya. Ia pun masuk ke dalam Panti dan duduk dengan tenang.
Perempuan berhijab yang sudah nampak cantik itu diusianya yang sudah menginjak yang ke 60 tahun memandang putranya yang nampak gelisah.
"Ada apa Rick? kamu benar-benar belum menerima dengan ikhlas permintaan ibu ini?"
"Maafkan Erick Bu, tapi sungguh Aku sangat berat menemukan ini semua. Aku seperti tidak punya pilihan sendiri."
"Apa itu cuma alasanmu saja karena kamu masih belum membuka hatimu setelah dikhianati oleh perempuan itu, hah?" Erick tersentak dengan kata-kata keras sang ibu. Ia pun menatap ibunya dalam.
"Tidak Bu, aku sudah lama melupakannya. Itu adalah masa lalu yang tidak perlu kita bicarakan lagi."
"Lalu kenapa wajahmu masih ditekuk seperti itu? kamu jadi nampak sangat tua daripada usiamu nak."
"Ibu, pujilah aku sedikit, biar calon menantu idamanmu itu senang," Ratih langsung tersenyum dengan lelucon putranya itu. Putranya itu selalu bisa mengalihkan pembicaraan dengan sangat baik.
Piiip
Terdengar bunyi klakson mobil dari arah pintu gerbang Panti Asuhan itu.
"Nah itu Jack sudah datang, mari Bu kita berangkat." Mereka pun berangkat setelah Jack memasukkan beberapa paket kue tradisional ke dalam bagasi mobil sebagai oleh-oleh untuk calon besannya itu.
__ADS_1
"Kita berangkat Bu?" tanya Jack setelah memeriksa semua barang bawaan sudah masuk semua ke bagasi kendaraan itu.
"Iya Jack, sang ratu sudah lama menunggu waktu baik ini." jawab Erick dan langsung mendapatkan tatapan tajam dari Ratih sang ibu. Pria itu langsung meremas tengkuknya sendiri.
"Alamatnya ini ya Jack," ujar Ratih sembari menyerahkan selembar kertas kecil hasil catatan tangan Alesha.
"Oh iya Ibu," jawab Jack tersenyum samar sembari menghidupkan mesin mobil dan melajukannya pelan.
Erick Bramantyo dan ibu Ratih tidak melakukan percakapan selama mereka di dalam kendaraan roda empat itu.
Mereka berdua sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Erick Bramantyo sibuk mengadakan Google meeting karena tidak sempat masuk kantor hari ini atas permintaan sang ibu. Padahal ada jadwal meeting yang harus ia pimpin saat ini.
"Erick, kita sudah sampai nak," ujar Ratih saat mobil yang mereka memasuki rumah kediaman Ibrahim, calon besannya.
Erick Bramantyo tidak mendengar panggilan dari ibunya karena sedang memakai Headset dikupingnya.
"Erick!" panggil Ratih sembari memukul lengan putranya itu.
"Eh iya ibu," jawabnya dengan nada kaget.
"Kita sudah sampai di rumah calon istrimu, ayo turun." ujar Ratih dengan suara lantang dan berhasil membuat kerusuhan di dalam Google Meeting itu.
Kasak kusuk mulai terdengar dari beberapa peserta rapat daring itu.
Iya Pak Bos tampan hampir tidak single lagi.
Selamat ya Pak.
Ih jangan nikah dulu dong pak. Nanti gak bebas lagi kita mandangin yang keren-keren.
Erick kemudian tersadar akan kerusuhan yang terjadi.
Dengan cepat ia sebagai pimpinan rapat itu menutup Google Meeting saat itu dengan kalimat permintaan maaf dan akan melanjutkannya pada kesempatan berikutnya.
"Kita sudah sampai ya Bu, kok cepat sekali?" tanya pria itu sembari membuka kaca mobil dan kaget dengan kedua kalinya.
"Jack, kita tidak salah alamat?" tanyanya dengan wajah mengernyit bingung. Pasalnya rumah yang mereka datangi adalah rumah Ibrahim sang bapak angkat.
"Ayo turun! Gak usah banyak tanya," seru Ratih sembari membuka pintu mobil. Erick Bramantyo keluar dari mobil itu masih kelihatan bingung.
"Pak Erick bantuin bawa oleh-olehnya." ujar Jack sembari membuka bagasi mobil itu.
Erick menurut dan membawa paket-paket cantik ke dalam rumah Ibrahim. Otaknya yang cerdas sedang mengolah pikiran dan tebakan yang berseliweran dalam kepalanya.
__ADS_1
"Assalamualaikum," ujar Ratih saat memasuki rumah besar itu.
Nampak Ibrahim dan Hanna menjemput mereka bertiga dengan pandangan melongo tak percaya.
"Waalaikumussalam warahmatullahi, Erick Bramantyo?!" seru Ibrahim dengan wajah berubah-ubah. Antara kaget dan juga gembira yang luar biasa menghiasi wajahnya.
"Pak Ibra? ibu?" Erick menghampiri kedua orang itu dan mencium punggung tangan mereka setelah menyimpan oleh-oleh yang ia bawa di atas meja.
Ratih tak kalah kaget dan tidak percaya atas apa yang ia saksikan di depan matanya.
Perempuan itu juga mengenal Ibrahim dan Hanna sebagai orang yang telah membantu putranya selama ini dan bahkan menganggap putranya sebagai anak angkat.
"Ibu, jelaskan apa maksud semua ini?" Erick menatap ibunya dengan pandangan penuh tanya sedangkan ibunya sendiri tersenyum penuh makna.
Ia sangat bersyukur bahwa ternyata Alesha adalah putri dari Ibrahim yang sangat baik hati itu. Seperti orangtuanya seperti itulah juga putrinya. Pilihannya tidaklah salah untuk putra semata wayangnya.
"Silahkan duduk Bu Ratih, kami sangat senang dengan kedatangan anda di rumah kami, dan mengenai putra anda ini, anda tidak perlu memperdulikannya."
Erick Bramantyo tersenyum dengan dada semakin berdebar kencang bahkan yang ia rasakan adalah, jantungnya hampir berhenti berdetak.
"Sebaiknya kita langsung saja membicarakan waktu yang tepat untuk pernikahan ini Bu Ratih," ujar Ibrahim tak sabar.
"Astagfirullah Papa, ibu Ratih bahkan belum mengutarakan maksudnya pada kita," tegur Hanna sembari memukul paha suaminya pelan.
Ratih dan Erick Bramantyo saling bertatapan dengan senyum cerah diwajah mereka berdua.
"Apa perlu aku melamar putri anda langsung Pak Ibra?" tanya Erick dengan senyum samar diwajahnya.
"Oh, tidak nak Erick. Rahasiakan ini pada Beby, jangan sampai ia tahu hal ini, okey?"
Ratih menatap putranya dengan wajah tanya.
"Jadi? kamu sudah mengenal Alesha?"
"Tidak ibu, aku hanya mengenal Beby sebagai putri dari Pak Ibrahim."
Plak
"Kamu mau membuat ibu bingung, hah?"
Semua orang yang ada di dalam ruangan itu tertawa bahagia.
*Tobe continued
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya. Okey?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍