Beby Si Wonder Woman

Beby Si Wonder Woman
Bab 145 BSWW


__ADS_3

Berada di rumah sakit untuk beberapa saja sudah sangat membosankan bagi semua orang. Meskipun begitu orang masih bertahan untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik di rumah sendiri.


Hari ini tiga pasien sudah bersiap untuk pulang. Jack Andrian yang sejak semalam sudah tidak sabar untuk pulang malah pergi sendiri ke bagian admistrasi untuk mengurus kepulangannya.


"Jack? kamu sudah kuat sampai ngurus sendiri urusan administrasinya?" tanya Erick saat mereka berdua bertemu di loket pembayaran.


"Iya pak. Bahkan untuk menikah pun aku sudah sangat kuat "


"Hahaha, bercandamu sangat lucu Jack, tapi aku suka," Erick tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi asistennya yang pastinya sudah tidak sabar.


"Eka dimana? semalam kok gak balik ke kamarnya Beby?"


"Tidur di kamar ku Pak bos," jawab pria itu dengan wajahnya yang seperti biasa, datar sedatar tembok.


"Kamu tidak mengambil kesempatan kan?" tanya Erick dengan pandangan curiga.


"Rencananya sih begitu pak , tapi aku sadar itu tidak benar."


"Nah bagus itu. Itulah pria yang bertanggung jawab. Menjaga dengan baik wanitanya sampai benar-benar halal untuk disentuh."


"Tapi aku sudah nyicip sedikit pak."


"Astagfirullah Jack, kamu ternyata brengsek juga ya," ujar Erick sembari meninju bahu asistennya itu. Jack Andrian meringis sakit tetapi ia bertahan tidak bergeming.


"Antar aku melamar Eka hari ini pak," ujarnya pada Erick sang bos.


"Baiklah, aku siap. Aku bawa Beby pulang dulu ke rumah."


"Terimakasih banyak Pak," Erick Bramantyo tersenyum begitupun dengan pria itu. Dan tanpa disangka-sangka Randy juga ada disana sedang mengurus hal yang sama untuk Jihan.


"Dua papa baru, selamat ya." ujar Jack tersenyum sembari menjabat tangan Randy. Ia ingat semalam Eka menyuruhnya menjalin hubungan baik dengan pria itu, yang akan menjadi calon sepupunya kelak.

__ADS_1


"Terimakasih banyak Jack, dan aku berharap kamu siap jadi saksi pernikahan aku dan Jihan hari ini," ujar Randy dengan senyum diwajahnya.


"Eh, tunggu aku melamar Eka dulu lah. Kalian kok suka sekali main serobot-serobot begitu," balas Jack Andrian dengan wajah berubah kesal.


"Aku sudah tidak sabar Jack, aku ingin bersama dengan bayiku tanpa harus ada rintangan lagi," jawab Randy tersenyum penuh makna.


"Bayimu atau ibunya hah?"


"Dua-duanya,"


"Ish, masih nifas pak Randy," ujar Erick ikutan berkomentar. Randy tersenyum begitupun Jack Andrian. Kemudian dengan fasih Jack Andrian yang pernah belajar di sekolah madrasah itu langsung membaca salah satu ayat dalam Al-Qur'an surah Al-Ahzab ayat 49.


" Yā ayyuhallażīna āmanū iżā nakaḥtumul-mu`mināti ṡumma ṭallaqtumụhunna ming qabli an tamassụhunna fa mā lakum 'alaihinna min 'iddatin ta'taddụnahā, fa matti'ụhunna wa sarriḥụhunna sarāḥan jamīlā


Artinya: Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan-perempuan yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya maka sekali-sekali tidak wajib atas mereka 'iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya. Maka berilah mereka mut'ah dan lepaskanlah mereka itu dengan cara yang sebaik-baiknya.


"Nah itu pak Erick, aku sah menikahi Jihan tanpa harus menunggu iddahnya karena kamu belum pernah bercampurnya dengannya kan Jack?" ujar Randy dengan tatapan serius pada Jack Andrian mantan suami Jihan.


"Ya betul sekali Randy, aku memang tidak pernah bercampur atau menyentuh Jihan tetapi ia ada dalam masa nifas. jadi anda sebaiknya menunggu sampai ia suci. Aku takut kamu kebablasan hahaha," ujar Jack Andrian dengan tawanya yang menyebalkan ditelinga pria itu.


"Ish!" Jack Andrian mencibir, sedangkan Erick Bramantyo hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tarikan nafas berat.


Mereka bertiga pun berpisah dengan satu tujuan utama yaitu berangkat ke Kampung Eka Setiawati untuk melamar gadis itu pada keluarganya.


🍁


Paman dan bibi Eka menyambut Beberapa pria muda dan tampan itu di rumah Eka yang baru saja dibersihkan karena mendapat telepon mendadak dari gadis itu.


"Mohon maaf paman, bibi, dan para tetua adat di kampung ini karena kami datang dengan tanpa memberi tahu terlebih dahulu." ujar Erick Bramantyo yang didaulat sebagai juru bicara pada acara lamaran dadakan itu.


"Tidak apa-apa nak. Meskipun kami cukup kaget karena baru mendapatkan kabar dari keponakan kami. Tapi kami sangat gembira karena ini adalah berita baik yang kami dapat setelah meninggalnya ibunda Eka." jawab paman Eka yang bernama Sulaiman itu.

__ADS_1


"Iya Paman, jadi maksud kami kemari adalah untuk melamar Eka menjadi calon istri dari sahabat atau adik kami ini, yang bernama Jack Andrian."


"Alhamdulillah, kami menerimanya nak. Kami sangat senang karena ada laki-laki seperti nak Jack ini yang berniat menjaga putri dan keponakan kami."


"Syukurlah paman kalau seperti itu. Artinya urusan kedepannya pasti akan lebih mudah. Dan untuk waktu pernikahannya kami ingin agar segera dipercepat paman dan untuk biayanya akan ditanggung sepenuhnya oleh pihak kami." lanjut Erick Bramantyo dengan nada tegas.


"Kami setuju nak. Kalau untuk kebaikan maka sebaiknya memang harus dipercepat."


"Bagaimana kalau hari ini saja paman?" timpal Jack Andrian yang langsung mendapat tatapan tajam dari semua orang yang ada di dalam ruangan itu.


"Hahaha, anak ini sudah tidak sabar ya?" Sulaiman langsung tertawa terbahak-bahak melihat keinginan calon suami keponakannya itu.


"Sebenarnya itu boleh saja nak. Syarat sah orang menikah adalah, ada calon pengantin laki-laki dan perempuan, wali, saksi, dan ijab kabul. Tapi kami ingin pernikahan kalian sah dimata negara bukan hanya dimata agama nak." jelas Sulaiman tersenyum maklum pada semangat Jack Andrian.


"Silahkan urus administrasinya di kantor KUA agar segera terdaftar nak. Kami ingin status Eka Setiawati jelas agar haknya sebagai istri terlindungi, kamu mengerti maksud kami kan?"


"Iya Paman aku mengerti," jawab Jack sembari menunduk. Ia tahu betul tentang hal tersebut tetapi entah kenapa ia sudah sangat tidak sabar menikahi gadis pujaannya itu.


"Jack, bersabarlah sedikit saja," bisik Yudhistira dengan senyum diwajahnya.


"Hem," jawab Jack bagai Geraman. Semua orang di ruangan itu tertawa bahagia. Akhirnya akan ada kebahagiaan di rumah itu setelah sekian lama rumah itu ditinggal oleh penghuninya untuk selama-lamanya.


"Dan ingat nak, mahar haruslah benda yang berharga karena akan menjadi milik istrimu kelak," ujar Sulaiman mengingatkan pria itu sebelum mereka semua kembali ke kota.


"Iya Paman, aku sudah lama menyiapkannya untuk Eka," jawab Jack tersenyum.


Mahar itu sudah siap sebelum aku menikahi Jihan


ujarnya membatin.


*Tobe continued

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2