Beby Si Wonder Woman

Beby Si Wonder Woman
Bab 67 BSWW


__ADS_3

Beby Alesha membuka amplop yang pertama dengan ekspresi tak terbaca sampai-sampai Erick sang suami menjadi tidak nyaman dibuatnya.


"Ini untuk apa?" tanya Beby Alesha sembari mengangkat sebuah kartu black card yang ada ditangannya.


"Itu dari aku untuk kebutuhanmu, kamu bisa pakai semua itu. Bebas."


"Hah?" wajah Beby tampak melongo dan kemudian berubah mencibir.


"Aku juga punya penghasilan sendiri dan kamu tidak perlu menafkahiku," jawab Beby kemudian memasukkan kembali kartu sakti kedalam amplop. Erick Bramantyo merasakan wajahnya memerah karena kecewa.


"Kita menikah hanya untuk menyenangkan kedua orangtua kita Pak Erick jadi anda tak perlu berlebihan seperti ini." Beby Alesha mendengus kemudian duduk di atas ranjang itu santai.


Ia mulai mencepol rambutnya yang panjang karena kegerahan. Di dalam kamar itu tidak ada AC yang ada hanya kipas angin kecil yang hanya memberikan angin yang tak seberapa.


Erick Bramantyo hanya bisa terdiam. Ia berusaha menahan kekecewaannya dengan memasang senyum tipis.


"Kalau kamu tak mau memakainya tak apa, simpan saja siapa tahu nanti kamu butuh. Aku hanya melakukan kewajibanku sebagai suami." ujar Erick kemudian mengganti pakaiannya di depan Beby Alesha dengan santai.


"Hei ngapain ganti pakaian di depan aku, kan ada kamar mandi." ujar Beby Alesha dengan wajah kaget. Ia tak mau matanya tidak bisa bekerjasama dengan otak dan hatinya.


"Ini kamar aku, dan aku tidak suka mengganti pakaian di kamar mandi. Kalau kamu terganggu tutup saja matamu," jawab Erick dengan senyum samar dibibirnya.


Ia sudah cukup panas dingin dengan pakaian perempuan itu sekarang. Dan sekarang ia juga ingin membalasnya.


Dan kalau istrinya itu normal maka ia pastikan akan menelan salivanya dengan bentuk tubuhnya yang selama ini banyak diinginkan oleh kaum hawa.


Beby Alesha mencari kesibukan dengan membuka amplop putih yang satunya lagi.


Matanya melotot tak percaya dengan apa yang diberikan suaminya itu padanya.


Sebuah Surat Keputusan tentang hukuman yang diperoleh oleh Yusi Wantausen.


Bahwa Pembunuhan yang dilakukan adalah tidak dengan sengaja Diatur dalam Pasal 359 KUHP:


β€œBarang siapa karena kealpaannya menyebabkan matinya orang lain, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau kurungan paling lama satu tahun”.


Dan karena Yusi Wantausen usia 20 tahun melakukan pembunuhan itu dengan alasan membela dirinya.

__ADS_1


Maka hukuman Yusi hanya satu tahun kurungan penjara.


Beby Alesha melipat kertas itu dengan rasa syukur yang sangat jelas diwajahnya. Matanya berkaca-kaca karena bahagia yang luar biasa.


Meskipun Yusi tetap dihukum tetapi ia tetap merasa senang karena cuma setahun. Gadis itu pasti bisa menjalaninya.


Sekarang ia tahu ini pasti karena Erick sang pengacara pelapor tidak terlalu menekan.


Ia memandang pria yang masih tak berpakaian itu dengan wajah bahagia.


Tak sadar kakinya melangkah mendekat dan meraih tangan Erick.


"Terimakasih banyak Pak, ini luar biasa," ujar Beby sembari menyusut airmatanya. Ia sangat terharu dengan apa yang diberikan suaminya itu.


"Hey, kamu harus berterimakasih dengan benar." jawab Erick dengan senyum samar diwajahnya. Ia yang tadinya kecewa kini berubah senang luar biasa.


"Maksud kamu?" Beby Alesha melepaskan tangan suaminya dengan kasar.


"Tidak mudah membantu lawan dalam pengadilan, karena itu berarti aku harus kalah dan rugi, kamu tahu kan maksud aku?" ujar Erick menyeringai.


"Ish gak ikhlas," Beby Alesha mencibir kemudian kembali naik ke tempat tidur.


Beby Alesha hanya diam sembari berpikir apa yang akan diberikan pada pengacara lawan itu sebagai balasan.


"Uang?" gumamnya dengan suara pelan.


"Bagaimana dengan uang yang banyak Pak Erick?" tanya Beby dengan suara pelan, ia takut pengacara itu akan tersinggung. Erick langsung menatapnya tajam.


"Kamu pikir aku butuh uang kamu? kamu anggap aku pengacara apaan?" Erick nampak sangat kecewa dengan tawaran perempuan itu.


"Lalu apa?"


"Pikirkan sendiri," jawab Erick dengan wajah masih menampakkan kekecewaan. Beby Alesha kembali terdiam.


Ia mengedarkan pandangannya kesekeliling kamar yang tak luas itu dan tidak menemukan sofa seperti yang ada di dalam kamarnya di rumah Papa Ibrahim. Sebuah idepun muncul di kepalanya.


"Kamu bisa tidur di atas ranjang ini dan aku akan cari tempat tidur lain di rumah ini." Erick melongo tak percaya dengan kata-kata istrinya itu.

__ADS_1


"Aku kok tidak merasa itu balasan terimakasih." ujar Erick dengan bibir terangkat mencibir.


"Apa-apaan itu, apa kata penghuni panti ini terutama ibu,"


"Kalau begitu kita tidur bersama di ranjang ini tapi janji tidak boleh bergerak sama sekali," ujar Beby Alesha tak mau mengalah.


"Astagfirullah. Memangnya kita ini robot yang tidur tanpa bergerak sama sekali?" Beby Alesha melotot dengan mata bulatnya. Erick langsung menarik nafas dalam-dalam.


"Baiklah, aku cuma merasa apa yang aku dapatkan tidak sebanding dengan usahaku di ruang persidangan, Hem," ujar Erick berpura-pura menggerutu.


"Lalu apa yang kamu inginkan Pak Erick?" tanya Beby mulai kesal.


"Apa semua yang aku inginkan akan kamu penuhi?" tanya Erick dengan tatapan mata tajam pada bola mata bening istrinya. Ia ingin sekali tenggelam dalam bola mata itu dan meraba perasaan istrinya.


"Eh, i iya, kalau itu tidak akan membuatku susah," jawab Beby Alesha gugup. Ia merasakan hatinya tiba-tiba berdebar sangat kencang.


"Baiklah, kamu boleh tidur. Akan aku pikirkan apa yang aku inginkan nanti," ujar Erick kemudian memutus tautan mata mereka. Pria itu mencari piyama untuk tidur.


Beby Alesha menarik nafas dalam-dalam. Dadanya begitu terasa sesak. Ia mulai merebahkan tubuhnya di ranjang itu dengan pelan.


Tapi kemudian ia bangun lagi dengan perasaan khawatir. Ia menaruh bantal guling sebagai pembatas antara dia dan Erick.


"Jangan pernah melewati batas ini ya Pak Erick?" ujarnya dengan suara agak keras agar suaminya bisa mendengarnya.


"Hem," jawab Erick singkat kemudian mematikan lampu utama. Hanya lampu tidur bertenaga rendah saja yang menyala di dalam sana.


Tubuh Beby Alesha membeku saat ia merasakan Erick Bramantyo sang suami naik ketempat tidur dan berbaring disampingnya.


Perempuan itu terus siaga, jangan sampai Erick bergerak dan menyentuhnya.


Sedangkan Erick Bramantyo pura-pura tidur dengan tenang padahal dadanya berdebar dengan kencang. Berbagai macam pikiran kotor muncul di otaknya.


Bagaimana mungkin ia bisa tidur dengan seorang perempuan cantik dengan pakaian terbuka seperti itu tanpa boleh disentuh.


*Tobe continued


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya, okey?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2