
"Lama banget sih di rumah Bu Ratih?" tanya Eka dengan wajah penasaran.
Empat gadis Rangers Dewaani itu menatap Beby Alesha yang baru masuk ke Markas dengan langkah gontai tak bersemangat.
"Lama ya? kirain cuma sebentar aja," jawab Beby Alesha kemudian menghempaskan bokongnya ke atas sofa empuk disamping para sahabatnya.
"Heh, ngomong apa Bu Ratih padamu Beb, kok khawatir gitu sih?" Hany ikutan bertanya kepada Beby.
"Ngomongin pernikahan," jawab Beby dengan wajah berubah ngeri.
"Maksudnya? Bu Ratih mau menikah lagi?" tanya Anny dengan wajah polos dan langsung mendapat jitakan di keningnya oleh Eka.
"Ih sakit tauk," ujar Anny dengan bibir manyun sembari mengelus keningnya.
"Kamu sih ngomong kayak gitu, mana mungkin Bu Ratih yang sudah 60 tahun itu mikir untuk menikah, eh jangan-jangan tukang kebunnya itu si Jack ..." ujar Hany yang langsung mendapat pelototan tajam dari Eka.
"Maksud kamu apa Han,?" Eka langsung merasa tak nyaman dengan perkataan Hany. Ia sudah mulai menebak-nebak dengan segala persangkaannya.
"Aku gak rela kalau Jack yang disodorkan oleh Bu Ratih padamu Beb, kamu sudah nolak kan?" lanjut Eka dengan wajah khawatir.
"Kok pada mikirin Jack sih kalian ini?" tanya Beby Alesha gregetan sendiri dengan kekacauan pikiran para Rangers.
"Lah kan cuma Jack, cowok dewasa di Panti itu, atau Fadlan mungkin?" ujar Anny dan kembali mendapat jitakan halus lagi dikeningnya.
"Ya ampun kalian yah, tapi bisa jadi sih, aku kan gak pernah lihat orang dewasa lain di Panti itu, Hem." ujar Beby sembari berpikir. Ia menyesal tidak mau menanyakan siapa nama putra Ibu Ratih itu.
"Tidak! kalau itu Jack aku pastikan akan melawanmu Beb, kita akan bertarung berdua, Jack hanya milikku," ujar Eka dengan pandangan tajam. Beby Alesha langsung terbahak-bahak dibuatnya.
"Ya ampun Eka, demi cowok kita akan bertarung? yang benar saja...tapi okelah, sudah lama aku tidak melatih otot-ototku ini, ayok lawan aku." ujar Beby Alesha sembari berdiri dan memasang kuda-kuda.
"Apaan sih kalian ini, bikin malu aja," tegur Hany dan menarik tangan gadis itu untuk duduk kembali.
"Kalau Pria itu Jack aku pastikan memberikannya padamu gratis Ek," ujar Beby kemudian memeluk tubuh Eka dengan senyum diwajahnya.
"Persahabatan kita lebih diatas segalanya, dan untuk kata Cinta pada Cowok bagiku itu tidak akan mungkin, jadi tenang saja." lanjut Beby dengan senyum diwajahnya.
"Tapi aku mungkin akan membantu Ibu Ratih untuk menikah dengan putranya yang tidak aku tahu siapa orangnya."
"Hah?" keempat gadis itu melotot tak percaya dengan pendengaran mereka.
"Astaga Beby, jangan mau dong, masak sih kamu mau mengorbankan dirimu sendiri dengan keinginan ibu Ratih itu." Hany menyentuh bahu sahabatnya itu pelan.
__ADS_1
"Tak apa, kami sudah bikin perjanjian kok, kalau pria yang tak jelas itu tidak akan menyentuhku." jawab Beby dengan senyum diwajahnya.
"Maksudnya apa nih? kamu membuat perjanjian dengan ibunya?" Ratna bertanya dengan ekspresi heran.
"Bukannya di novel-novel yang pernah aku baca, calon pengantin yang membuat kontrak pernikahan seperti itu dan tidak diketahui oleh orang lain?" gadis itu bingung dengan cara berpikir sahabatnya yang ia kenal sangat cerdas itu.
"Untuk kali ini, aku ingin ini beda, biar Ibu Ratih sudah tahu semuanya lebih awal dan tidak ada hal yang kami sembunyikan."
"Hah?" sekali lagi keempat gadis itu menganga tidak percaya.
"Lalu apa tujuannya Ibu Ratih menikahkanmu dengan putranya kalau nantinya kalian tidak boleh bersentuhan?" Eka menatap Beby intens sedangkan yang ditatap itu hanya tersenyum cengengesan.
"Putranya itu hanya perlu status supaya tidak diganggu oleh banyaknya semut merah diluar sana," jawab Beby dengan wajah yakin sesuai kata-kata Ibu Ratih.
"Memangnya ia sangat manis sampai banyak semut yang mengerumuninya?"
"Kata ibunya sih iya, manis dan kaya, Hem," jawab Beby sembari menjilati bibirnya seakan menikmati makanan manis.
"Wah asik dong, coba sama aku aja, disentuhpun aku rela banget," jawab Anny lagi dengan pikiran-pikiran aneh didalam otaknya.
"Ih, jangan mikir macam-macam, siapa tahu ia punya kelainan kok sampai disodor-sodorkan gitu ya sama ibunya." Hany memandang plafon rumah itu dan membayangkan seorang pria tua cacat di atas sebuah kursi roda.
"Wah Beb, kamu akan menjadi janda kaya sayang," lanjutnya dengan pikiran-pikiran buruk di dalam otaknya.
"Sebentar lagi Papa dan Mama tak akan memaksa aku lagi untuk menikah dengan si Erick Bramantyo itu, hihihi." ujarnya cekikikan. Dengan cepat ia meraih handphonenya dan menghubungi Mamanya.
"Assalamualaikum Ma,"
"Waalaikumussalam Beb, ada apa sayang? kamu baik-baik saja kan?" tanya Hanna dari seberang.
"Iya Ma, aku sehat dan sangat senang sekarang ini,"
"Alhamdulillah, kamu belum pulang?"
"Belum Ma, ini masih di Markas bersama teman-teman. Aku cuma mau bilang kalau ada seorang ibu yang akan datang melamarku untuk putranya besok pagi, diterima ya Ma jangan sampai ditolak karena sekarang aku sudah ingin sekali menikah."
"Ap Apa?" teriak Hanna dari seberang sana. Nampak sekali kalau perempuan itu tidak percaya dengan pendengarannya.
"Iya Ma, namanya ibu Ratih dan beliau akan melamar aku untuk putranya jadi jangan ditolak ya, dan jangan ditanyai macam-macam."
"Alhamdulillah, akhirnya kamu mau juga menikah sayang, Mama sangat senang sekali."
__ADS_1
"Iyya Ma, aku kan mau membuat kalian bahagia,"
"Terimakasih sayang,"
"Iya Ma, dan tolong kasih tahu Papa aku tidak mengikuti kemauannya. Mohon maaf ya Ma,"
"Iya sayang, Mama akan membujuk Papamu supaya menerima pria itu. Kamu tenang saja, Mama akan membujuknya."
"Terimakasih Ma, tapi aku izin gak pulang dulu ya malam ini,"
"Memangnya kamu mau kemana?"
"Mau bersenang-senang Ma dengan sahabat-sahabatku. Pesta lajang gitu sebelum menikah, bolehkan?"
"Ah iya tapi jangan macam-macam ya?"
"Iya Ma, kita cuma ngumpul-ngumpul aja di rumah ini sambil nyanyi dan makan-makan."
"Iya deh, Mama akan kasih tahu Papamu."
"Iya Ma, Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam sayang." Beby menutup panggilan telepon itu dengan rasa lega dihatinya. Gadis itu langsung bergabung kembali ke ruang tamu dan mulai melakukan pembicaraan rahasia.
Drrrt
Drrrt
"Handphone kamu bunyi itu Han," ujar Ratna sembari menunjuk handphone milik Hany yang sedari tadi bergetar di atas meja.
"Siapa ya? nomornya tak dikenal begini." ujar Hany sembari memandang terus layar handphonenya.
"Angkat Han, siapa tahu penting," ujar Ratna lagi.
"Gak ah, takut nantinya cuma ganggu aja," Hany meletakkan kembali handphone itu ke atas meja. Tetapi malah berbunyi kembali dengan nada pesan yang masuk.
Aku menunggu niat baikmu membayar utang sekarang!
Hany mengernyit dengan bunyi pesan itu. Perasaan ia tidak pernah punya utang sama orang lain.
*Tobe continued
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya, okey?