
Jaksa Penuntut Umum mulai membacakan surat Dakwaannya.
Surat Dakwaan
No.Xxx
Nama: Yusi Wantausen
Tempat lahir: Maluku.
Umur / Tanggal lahir: 20 tahun / 28 Juli 1991
Jenis Kelamin: Perempuan
Kewarganegaraan: Indonesia
Alamat: Jalan Mawar Kecamatan Cilincing Jakarta Utara
Agama: Islam
Pekerjaan: Petugas kebersihan
Pendidikan: SMA
Penahanan Terdakwa
Oleh Penyidik: Rutan sejak tgl. 01-Mei-2022
Dakwaan:
Bahwa terdakwa Yusi Wantausen pada hari Senin, 1-Mei-2022. Sekitar pukul 10.00 WIB ataupun setidak-tidaknya pada suatu waktu dibulan Mei berada di Kecamatan Cilincing Jakarta Utara.
Yang termasuk ke daerah hukum pengadilan Negeri Jakarta Utara.
Secara tanpa sengaja menghilangkan nyawa korban Bintang Bir usia 56 tahun yang dilakukan dengan cara sebagai berikut:
*Bahwa pada waktu serta tempat seperti diatas, Terdakwa, Yusi Wantausen sedang bersama dengan korban Bintang Bir.
*Bahwa Terdakwa Yusi Wantausen mengetahui tujuan mereka bersama di Hotel tersebut.
__ADS_1
*Bahwa Terdakwa Yusi Wantausen, tidak terima dengan pelecehan sek*sual yang dilakukan oleh korban Bintang Bir.
*Bahwa Terdakwa kemudian membela dirinya dan dengan sengaja menghilangkan nyawa korban dengan menggunakan benda tumpul yang berada di dalam kamar hotel tersebut.
"Saudara terdakwa, apakah anda mengajukan eksepsi?" tanya jaksa Penuntut Umum setelah membacakan surat dakwaan pada terdakwa pada Yusi Wantausen.
*Saya keberatan di poin kedua yang mulia, saya tidak tahu tujuan saya bertemu dengan Pak Bintang." jawab Yusi dengan tegas. Dan juga pada poin terakhir saya sama sekali tidak sengaja menghilangkan nyawa dari Pak Bintang.
Setelah mendengar eksepsi atau keberatan yang disampaikan oleh terdakwa pembunuhan Yusi Wantausen, terdengarlah kasak kusuk di ruang persidangan itu hingga Majelis hakim memutuskan,
"Dalam terdakwa/PH mengajukan eksepsi maka diberi kesempatan dan sidang ditunda," jawab Majelis hakim pada semua peserta persidangan.
"Dua minggu kedepan, Tok!" lanjut Majelis hakim kemudian mengetuk palu.
"Apa maksud pembunuh itu menolak surat dakwaan Pak Erick! bikin masalah ini berlarut-larut saja," ujar Filma mendengus kesal.
Gadis itu ingin sekali meraih sosok pembunuh papanya itu untuk ia jambak dan beri pelajaran.
Erick Bramantyo selaku kuasa hukum hanya tersenyum samar dan tidak mau menjawab keberatan dari gadis itu. Pria itu hanya sibuk membereskan dokumennya.
"Pak Erick aku kok dicuekin sih!?" seru Filma dengan wajah kesal. Erick menatap kliennya itu lalu berujar, "Ini hal yang wajar kalau terdakwa menolak dakwaan itu, karena ia pasti punya bukti yang sangat kuat." jawab Erick santai.
"Eh, anda kok sepertinya malah berpihak ke pembunuh itu sih?" kesal Filma dengan jawaban yang ia dapatkan dari pengacara yang ia sudah bayar mahal itu.
"Pak Erick! apa maksudmu? sebaiknya anda konsentrasi saja memperhatikan poin terakhir tadi, aku tidak percaya kalau papa ingin melakukan pelecehan pada gadis itu.
Yang aku yakin ia pasti sudah menggoda papa dan mungkin terjadi percekcokan dan ya pada akhirnya berakhir sangat buruk seperti itu." Filma meninggikan suaranya yang membuat peserta sidang yang masih berada di ruangan itu memandang mereka berdua.
"Tenanglah Filma dan pelankan suaramu, intinya saja adalah kejahatan itu sudah diakuinya jadi kita tinggal menunggu keputusan Majelis Hakim."
"Ih enak saja, jangan sampai majelis hakim malah menghukumnya dengan ringan hanya karena ia bisa bekerja sama dan mengakui perbuatannya.
"Aku tidak terima, pokoknya ia harus dihukum mati baru aku dan keluargaku puas." Filma semakin terbakar dan tak mau mendengar kalau terdakwa itu mendapatkan keringanan hukuman.
"Pulanglah dan kembali lagi 2 Minggu kedepan. mengerti nona Filma,"
"Tidak, aku tidak mau pulang. Aku ingin kita makan siang dulu di sebuah Cafe di depan pengadilan ini. Aku yang traktir." Filma langsung meraih tangan Erick dan membawanya keluar dari ruang sidang.
Sedangkan Erick Bramantyo sendiri masih mengedarkan pandangannya ke sekeliling Kantor Pengadilan itu untuk mencari sosok cantik yang sering mengganggu pikirannya.
__ADS_1
Mereka berdua menyeberangi jalanan ramai itu dan memasuki Cafe yang Filma maksud. Cafe yang sempat viral dengan macam-macam masakannya yang unik dan khas.
Saat Erick dan Filma baru duduk, Ratna kembali datang menyapa dan menyampaikan kalau ia mungkin minta izin tidak kembali ke kantor lagi siang ini karena ia dan sahabat-sahabatnya ada urusan lain yang sangat penting.
Erick mengiyakan saja karena ia tak ingin membawa urusan kantor dan perizinan karyawannya keluar lokasi kantor.
"Itu karyawanmu kok sok banget sih, masak sampai minta izin di tempat ini. lagipula itu pasti bukan urusanmu kan sebagai pimpinan." gerutu Filma yang merasa terganggu dengan basa-basi gadis itu tadi.
"Gak apa-apa, sudahlah katanya mau traktir." ujar Erick dengan pandangan mata lurus ke arah meja Ratna. Yang ia yakini dimana gadis itu berada pasti Beby juga ada ataupun sebaliknya.
"Ada urusan apa mereka semua setelah makan siang ini?" ujar Erick tanpa sadar.
"Heh ngomong apa kamu Pak Erick?!"
"Ah tidak. Hanya ngomong sama angin." jawab Erick sembari berpura-pura membuka buku daftar menu karena tiba-tiba pandangannya bersirobok dengan Beby Alesha Ibrahim dari arah mejanya.
"Ih ngapain si Ratna, kamu izin segala, jadinya kan si pengacara asem itu melihat kita di sini " semua mata langsung mengikuti arah pandangan Beby.
"Wah ada Pak Erick di sini, idola aku banget tuh," timpal Anny cepat.
"Tapi sayangnya ia sudah bersama dengan seorang gadis cantik, hummm jadi tak punya harapan lagi nih." lanjut Anny dengan wajah murung.
"Kamu mending pindah dan cari Idols lain deh Ann, kemarin waktu kita bertemu di Restoran itu kan, dia sama cewek lain dan sekarang cewek yang lainnya lagi, player banget gak tuh dan kalau malam jadi kupu-kupu hahaha," tawa Beby dengan suara kerasnya.
"Ih tega ngomong begitu sama bos aku," timpal Ratna pura-pura kesal padahal di Kantornya sendiri, sering sekali ia mendengar gibahan dari para karyawan perempuan kalau pimpinan EB & Partners itu sejenis badboy atau cowok nackal.
Ia mempunyai banyak koleksi gadis-gadis cantik sebagai pemuas hasratnya.
Tetapi herannya masih banyak juga karyawan yang mau terlibat affair dengan sang bos terutama si Fanta Ricola itu.
"Udah ah ayo cepat makan, Setelah ini kita masih ada misi penting."
"Yup betul banget, dan semoga persidangan Yusi berikutnya lancar dan gadis itu mendapatkan hukuman yang ringan."
"Aamiin, dan juga pengacara bos Ratna itu tidak menuntut macam-macam,"
"Aamiin." jawab mereka kompak.
*Tobe continued
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya, okey??
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍