Beby Si Wonder Woman

Beby Si Wonder Woman
Bab 21 BSWW


__ADS_3

Beby Alesha mengalihkan pandangannya ke arah lain saat mantan bosnya itu tiba-tiba menatapnya tak berkedip. Ia segera mengambil minuman di depannya dan menyeruputnya dengan cepat. Ia kesal dan juga grogi karena kedapatan memperhatikan pria itu dengan sangat tajam.


Erick Bramantyo menyingkirkan tangan-tangan perempuan penggoda yang telah berhasil menggerayangi tubuhnya itu. Ia baru akan mendekati Beby Alesha tetapi tubuhnya langsung direngkuh dan dibawa ke meja lain oleh sahabatnya si Royco.


"Kita duduk di sana Rick," ajak Royco sembari memaksa tubuh Erick Bramantyo bergerak dari tempatnya tadi berdiri. Tubuh tinggi tegap itu bagai terkena lem di lantai tak bisa bergerak sedangkan matanya terus menatap ke arah Beby yang sedang duduk dengan seorang pria paruh baya dan juga satu gadis di sampingnya.


Aku pernah melihat pria tua itu, dimana ya?


Erick terus memaksa otaknya untuk mengingat siapa pria yang bersama dengan Beby itu dan ada hubungan apa diantara mereka berdua, eh bertiga, ada gadis lain yang juga berada di sana.


"Rick, kamu ke sini kan mau dengar curhatanku kenapa sepertinya malah kamu yang bermasalah sekarang," gerutu Royco sembari mulai menyesap minumannya yang Erick yakin pasti mengandung alkohol. Pria itu langsung menyingkirkan gelas Royco kesampingnya.


"Kamu kesini mau curhat apa mau mabuk hah?" kesal Erick dengan tatapan masih berada di meja Beby.


"Ih kamu sendiri mau dengar aku atau matamu masih ada di meja itu!" balas Royco yang juga kesal dicuekin Erick sahabatnya.


"Sekarang ceritakan apa masalahmu?" tanya Erick Bramantyo setelah menarik nafas panjang dan mulai ingin mendengarkan curhatan Roy. Ia sungguh tak sabar ingin mendekati meja Beby yang sepertinya sedang sangat akrab dengan pria tua yang ia ingat sebagai petinggi di salah satu bank swasta itu.


Itu pasti sugar Daddynya


Oh ya ampun pak Ibrahim, kamu ingin menjodohkan putrimu yang nakal itu denganku? aku harus berpikir ribuan kali kalau seperti ini.


"Rick, Erick!" panggil Royco yang mendapati pengacara itu sedang melamun.

__ADS_1


"Ya ada apa Roy?"


"Katanya mau dengar ceritaku,"


"Ceritalah Roy, atau aku akan meninggalkanmu sekarang juga!" entah kenapa Erick tak bisa menahan perasaannya, ingin sekali ia membawa pulang gadis itu ke rumahnya sekarang juga. Ia sungguh tak rela Beby duduk sangat dekat dengan pria tua mata keranjang itu, yang tidak ingat anak dan istrinya di rumah.


"Sasa menuntut cerai dariku Rick, padahal aku masih sangat mencintainya." ujar Royco dengan suara agak keras, karena dentuman musik di ruangan itu sudah mulai berbunyi kembali. Beberapa pasangan sudah mulai turun di lantai untuk menari.


"Apa kamu tidak bisa membujuknya? ingatkan kembali masa-masa saat kalian bahagia," ujar Erick datar tanpa rasa, hati dan pikirannya masih berada pada Beby.


"Sudah Rick, semua kenangan indah kami sudah kuputarkan dalam bentuk video. Tapi ia tetap ingin berpisah, ia mengaku sudah punya orang lain dihatinya Rick, Sasa meninggalkanku, hiks." Royco menangis dan memeluk tubuh Erick.


Pria itu langsung menepuk bahu sahabatnya itu yang sudah menjalani pernikahan selama 5 tahun tapi tak juga merasakan kebahagiaan. Setiap saat ia selalu mengeluhkan sifat istrinya yang tak pernah menghargainya sebagai suami.


"Ya ampun, ternyata ia juga multifungsi," ujar Beby dari arah mejanya, matanya menangkap Erick dan seorang pria muda sedang berpelukan dengan dramatis.


Begitu banyak hal yang aneh di dunia ini, dan pasangan LGBT ini benar-benar meresahkan, Hem.


"Jadi gadis, bagaimana dengan tawaran saya?" tanya Pak Bintang dengan pandangan mesumnya ke arah Ratna dan juga Beby.


Ia merasa sangat beruntung kali ini, hanya memancing ikan kecil Nemo seperti Ratna ia juga mendapatkan satu ikan yang lebih cantik dan menarik lagi seperti sahabat Ratna ini. Ia harus bisa bermain cantik agar bisa mendapatkan keduanya.


"Mohon maaf pak, aku lebih baik tidak lolos jadi staf marketing di kantor bapak kalau harus mengikuti kemauan anda," ujar Ratna sembari menunduk.

__ADS_1


Ia memang sangat menginginkan pekerjaan itu tetapi kalau harus menjadi simpanan dari pria tua ini, ia lebih baik menjadi seorang penjual es Boba di Pinggir jalan daripada menjual harga dirinya.


"Jangan jual mahal kamu, beruntunglah aku mau memungutmu dengan menaikkan derajatmu! banyak perempuan yang mau jabatan ini." ujar Bintang sembari berusaha menarik Ratna ke pelukannya.


"Letakkan tangan Pak Bintang ke tempat semula, atau aku akan menghubungi istri anda untuk datang ke tempat ini." ujar Beby dengan suara datar.


"Hey, ada apa ini? kenapa kalian jadi kaku begini? jangan sok suci kalian, katakan berapa yang harus aku bayar untuk menyicipi tubuh kalian, hah?" ujar Bintang yang sudah mulai tak sabar, lama ia merayu dengan kata-kata manis dan juga janji hadiah yang banyak tetapi kedua gadis ini malah semakin banyak tingkah dan tak tersentuh.


"Anda tak perlu membayar pak Bintang, anda hanya perlu minta maaf dan kami anggap cara kotor anda ini selesai dan terakhir pada kami saja,"


"Oke baiklah, tetapi aku tidak janji ya, kalau Ratna bisa lulus pada tes itu, karena akulah penentunya." ujar Bintang dengan lirikan nakal pada Ratna. Beby menarik nafas panjang, rupanya bicara baik-baik dengan orang ini ternyata belum juga berhasil, masih ada nada ancaman dalam setiap kata-katanya.


"Ayolah malam ini kita bersenang-senang aja dulu, besok kita pikirkan apa aku tetap meluluskanmu atau tidak," ujar Bintang sembari mengangkat gelasnya. Beby dan Ratna saling berpandangan kemudian berniat meninggalkan tempat itu.


"Mohon maaf pak, tapi kami berdua harus pergi sekarang juga, dan terima kasih karena anda sudah mengatakan maksud anda mengundang kami kesini." ujar Beby kemudian berdiri tetapi kemudian duduk kembali karena tiba-tiba merasa sangat pusing, begitupun dengan Ratna, mereka berdua terduduk lemas di sofa itu sembari memegang kepala mereka.


"Aku sudah merekam semua yang anda katakan di sini pak Bintang, dan aku pastikan karirmu akan segera hancur," ujar Beby dengan suara seperti orang mabuk. Tubuhnya oleng dan kemudian jatuh tak sadarkan diri.


"Beb, bangun! kita segera pergi dari tempat ini," panggil Ratna dengan suara keras ditengah hiruk pikuknya musik dari DJ kenamaan ibu kota itu. Dengan sisa kekuatannya Ratna menampar wajah Bintang lantas berteriak sembari memegang kepalanya yang semakin berat.


"Apa yang kamu lakukan pada kami hah!" Bintang menyeringai kemudian meminta anak buahnya untuk membawa kedua gadis yang tak sadarkan diri itu kedalam mobilnya.


*Tobe continued

__ADS_1


Mana nih dukungannya untuk karya receh ini, like dan komentarnya dong supaya othor semangat updatenya.


__ADS_2