
Randy tersentak kaget saat Eka keluar dari ruang UGD dengan wajah bersimbah air mata.
"Ada apa Ka? Apa keluarga Jack menyakitimu?" tanyanya dengan wajah khawatir.
"Eh, Ndy kamu masih di sini? dan tahu darimana kalau keluarga kak Jack sudah ada didalam?" tanya Eka dengan wajah kaget.
Gadis cantik itu cepat menghapus air matanya agar Randy tidak tahu kalau ia sedang bersedih meskipun itu sangat terlambat. Pria itu sudah melihat kalau ia sedang menangis.
"Aku melihat mereka masuk dan menyebut nama Jack, dan kamu ada apa? kenapa menangis? apa terjadi sesuatu pada pria itu?" tanya Randy dengan pertanyaan yang beruntun.
"Gak apa-apa kok, ayo kita pulang saja," jawab Eka berusaha untuk tersenyum.
"Apa Jack sudah sadar?" Eka menggelengkan kepalanya dengan wajah berubah sedih.
"Aku ikut bersedih Ka, kalau boleh tahu perempuan hamil yang baru masuk itu, istrinya Jack ya?" Randy menahan tangan gadis itu dan memberinya lagi pertanyaan.
"Iya, namanya Jihan. Emangnya kenapa? kamu kenal ya?"
"Ah enggak kok, cuma penasaran aja sih," ujar Randy dengan berusaha menutupi rasa gugup yang tiba-tiba muncul di dalam hatinya. Eka tersenyum kemudian memandang ke arah pintu Ruang UGD itu.
"Gimana? Mau aku antar pulang atau kamu masih mau tinggal di sini?" Randy kembali bertanya dengan mata tak lepas dari pintu ruangan UGD itu. Mereka berdua sepertinya belum rela pergi dari tempat itu.
"Iya Ndy aku ingin pulang saja. Keluarga kak Jack sudah datang dan juga mereka pasti akan menjaganya di dalam."
"Beneran nih udah mau pulang?" tanya Jack lagi berusaha memastikan keinginan Eka padahal sebenarnya ia yang tidak ingin meninggalkan tempat itu.
Ada sesuatu yang mengganjal hatinya saat melihat perempuan hamil itu masuk ke dalam ruang UGD.
"Ndy? Ada apa? sepertinya kamu deh yang belum mau pulang," ujar Eka dengan tatapan curiga pada sahabatnya itu. Randy langsung merebahkan tengkuknya gugup.
"Cepat ambil brangkar!" teriak seorang perawat dari dalam ruang UGD. Dan seketika membuat dua orang keluar dari arah pintu itu dengan langkah terburu-buru.q
__ADS_1
Eka dan Randy yang sudah bersiap untuk pulang kini harus membatalkan niatnya karena merasa khawatir dengan apa yang terjadi di dalam sana.
"Ada apa sus?"tanya Eka pada salah seorang suster yang berlari keluar dan mengambil brangkar Rumah Sakit.
"Itu mbak, ada ibu hamil di dalam sana yang sepertinya sudah ingin melahirkan. Ketubannya sudah pecah dan juga mengeluarkan darah," jawab perawat itu dengan nafas memburu. Tampak sekali kalau ia sedang panik.
"Astaghfirullah!" ujar Eka dan juga Randy secara bersamaan. Pikiran mereka langsung tertuju pada Jihan yang sedang berada di dalam ruangan itu.
Eka dan Randy pun berlari mengikuti perawat yang sedang terburu-buru itu. Mereka memasuki ruang UGD dengan perasaan campur aduk.
"Ibu sakit sekali, huaaaa," Jihan berteriak kesakitan sembari menggenggam tangan ibunya.
"Yang sabar ya sayang. Sebentar lagi bayimu akan lahir. Kamu harus kuat," hibur Sinta sembari mengikuti brangkar itu di dorong ke ruang bersalin.
Randy mengikuti para perawat yang membawa Jihan sedangkan Eka harus tinggal di kamar Jack karena Kartika yang memintanya.
"Nak Eka, tinggallah di sini bersama putraku. Aku akan mengikuti mereka ke kamar bersalin." ujar Kartika sembari menggenggam tangan gadis cantik itu.
"Terimakasih nak, kamu baik sekali." ujar Kartika dengan senyum tulus di wajahnya yang sudah mulai keriput.
Perempuan paruh baya itu pun mengikuti Sinta dan para perawat dari jauh. Dalam hati ia terus berdoa semoga Jihan bisa melahirkan dengan selamat.
Eka menarik nafasnya dalam kemudian memutar tubuhnya ke arah ranjang Rumah Sakit dimana ada Jack sedang berbaring di sana. Pria itu sedang menatapnya dengan pandangan mata sendu.
"Eh, kak Jack? kamu sudah sadar?" tanya Eka dengan wajah kaget. Jack Andrian tersenyum tipis kemudian mengangguk pelan.
"Alhamdulillah, ya Allah," ujar Eka kemudian menghampiri ranjang itu dengan wajah gembira dan haru.
"Aku senang sekali kak Jack sudah agak baikan," ujar Eka lagi sembari menghapus air matanya yang kembali keluar tanpa permisi. Gadis itu membenci dirinya yang akhir-akhir ini sangat cengeng dan gampang menangis.
"Maafkan aku ya," ujar Jack Andrian pelan. Ingin sekali ia meraih gadis itu kedalam pelukannya dan menghapus airmatanya tetapi keadaannya sangat tidak memungkinkan.
__ADS_1
"Iya kak. Aku juga minta maaf karena gara-gara aku kak Jack kecelakaan," ujar Eka sembari menghapus lagi airmatanya.
"Tetaplah di sisiku Ek, jangan pernah berniat meninggalkan aku," Eka mengangguk kemudian meraih tangan pria itu.
"Jangan berpikir macam-macam kak. Aku akan di sini kalau kamu memintaku, tapi aku tidak mau dimadu," ujar Eka tersenyum. Pria itu juga tersenyum dengan lembut.
"Tidak sayang, aku tak akan berani melakukannya," jawab Jack dengan debaran jantung yang membuncah karena bahagia.
"Setelah Jihan melahirkan aku akan melepaskannya," ujar pria itu lagi untuk meyakinkan gadis itu. Eka sekali tersenyum lembut.
"Aku akan menunggu kak," jawab gadis itu dengan tatapan haru dan bahagia. Semua alasan pria itu menikahi Jihan sudah sangat jelas dari Erick Bramantyo sang bos. Jadi ia hanya ingin menunggu waktu itu tiba.
Sementara itu di dalam ruang bersalin. Jihan semakin berteriak kesakitan dengan pembukaan baru pada tahap ke 5 sedangkan tenaganya sudah habis karena berteriak kesakitan.
"Aku mau Caesar saja ibu, aku sudah tidak kuat, Aaaaaaaargh," keluh Jihan saat kontraksi itu datang dan membawa rasa sakit yang teramat sangat.
"Ibu...tolong... maafkan aku ibu," Jihan menangis memohon ampun karena telah melakukan satu kesalahan besar yang mencoreng nama baik keluarga. Ia dinikahi oleh Jack sepupunya sendiri karena ia membawa aib.
"Minta maaflah pada Tuhan nak, karena kamu telah menyia-nyiakan dirimu dengan hal yang tidak berguna," ujar Sinta sembari menyiapkan dirinya untuk di Cengkram kuat jika rasa sakit itu datang.
"Aaaargh, ibu sakit lagi..." Jihan kembali mengerang kesakitan.
"Sabar ya ibu, sekarang kita USG dulu ya," ujar bidan yang sedang menanganinya di dalam ruang bersalin itu."
"Banyak berdoa ya Bu, posisi bayinya sungsang nih ibu, apa tidak pernah diperiksakan setiap bulan ya?" Jihan menggelengkan kepalanya sedangkan Sinta meringis membayangkan keadaan bayi yang sangat membahayakan itu.
*Tobe continued
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍
__ADS_1