Beby Si Wonder Woman

Beby Si Wonder Woman
Bab 38 BSWW


__ADS_3

Malam itu Percakapan seru juga terjadi di sebuah Rumah mewah.


Ibrahim dan Hanna duduk di atas ranjang king sizenya dengan wajah tanpa ekspresi.


Informasi yang diberikan oleh Beby Alesha sang putri membuat mereka berdua nampak berpikir keras.


"Pa, gimana dong?" tanya Hanna setelah mereka lama terdiam.


"Aku juga bingung nih Ma, kok bisa-bisanya putri kita itu malah bikin acara seperti ini sih?" ujar Ibrahim balas bertanya. Ada ekspresi kesal diwajahnya.


"Itu karena putrimu itu gak suka sama Erick Bramantyo pilihanmu itu." jawab Hanna dengan wajah tak kalah kesalnya. Mereka jadi saling melotot berdua.


"Lah, memangnya kamu tidak setuju kalau Erick jadi menantumu, sayang?" tanya Ibrahim sembari menyentuh tangan istrinya itu.


"Setuju sih Pa, kita kan sudah tahu banget latar belakang Erick Bramantyo. Dan juga Papa kan sudah menyerahkan semua urusan pekerjaan sama anak itu."


"Beby mau menikah saja aku sudah senang Pa, tapi kalau urusannya jadi seperti ini kan malah jadi ribet."


"Trus kalau menantu kita orang lain, apa mungkin ini akan membuat kekacauan nantinya?" Ibrahim hanya bisa menarik nafas panjang. Dadanya terasa sesak.


Pria paruh baya itu langsung meraih handphonenya dan segera menghubungi Erick Bramantyo untuk mencari solusi dari masalah ini.


Lama ia menunggu baru kemudian sambungan telepon itu tersambung.


"Halo," ujar suara di seberang sana dengan suara berat khas baru bangun tidur.


"Erick!, kamu sudah tidur?" tanya Ibrahim dengan mata memandang jam dinding di kamarnya. Penanda waktu itu sekarang menunjukkan pukul 12 Malam lewat sedikit.


"Ekhem, aku baru saja tertidur. Ada apa!?" tanya Erick dengan nada ketus. Ia sungguh jengkel kalau dibangunkan paksa seperti ini.


Pria itu kemudian bangun dari tidurnya. Matanya mulai memperhatikan layar handphonenya dan mencari tahu siapa gerangan yang menelpon malam-malam begini.


Astaga Pak Ibrahim, ada apa pria itu menelponku malam-malam begini? tanyanya membatin.


"Ada yang bisa saya bantu Pak?" tanyanya setelah berhasil mengumpulkan nyawanya.


"Beby... Erick, putriku itu membuat masalah baru."


"Ada apa dengan Beby Pak?" Erick menegakkan punggungnya karena khawatir. Matanya langsung menyala terang.


"Ceritakan Pak,"


"Gadis nakal itu telah berani menerima lamaran seseorang tanpa sepengetahuan kami."


"Dan kamu tahu? pria itu akan datang ke rumah ini bersama orangtuanya besok."


Deg

__ADS_1


Dada Erick berdebar kencang, ia tak rela mendengar itu semua, tapi permintaan ibunya juga tak bisa ia abaikan.


"Lalu apa yang bisa saya lakukan Pak?" tanya Erick dengan suara menurun tak bersemangat.


Ia harus berpikir realistis. Andaikan saja Beby mau berlaku manis padanya sedikit saja, ia mungkin akan memperjuangkan gadis itu di depan ibunya tapi apa? Gadis itu selalu saja memasang wajah kesal tak bersahabat.


Dan ya, dengan menerima lamaran orang lain itu membuktikan bahwa gadis itu memang sangat tak ingin bersamanya.


"Kamu harus cari tahu siapa laki-laki itu! Dan usahakan untuk menggagalkan niatnya."


"Ya ampun Pak, itu bisa melanggar hukum. Itu tidak benar Pak Ibra," jawab Erick tak percaya dengan perintah Ibrahim.


"Tapi aku mau hanya kamu yang menjadi suami Beby Erick!"


"Tapi Pak,"


"Jangan membantah!" Erick tak menjawab. Dan akhirnya mereka berdua terdiam sembari berpikir dengan keras.


"Saya juga akan melamar seseorang Pak besok pagi atas perintah ibu saya," ujar Erick pada akhirnya setelah lama terdiam.


"Apa?!" teriak Ibrahim dari ujung sana. Nampak sekali kalau ia sedang menahan emosinya.


"Kenapa kalian kompak begini sih menantang kemauanku?!"


Tut!


Oh ya Tuhan, semoga aku bisa tidur nyenyak malam ini.


🍁


"Astagfirullah, aku tidak membawa pakaian untuk kerja hari pertama ini, sepatu yang aku pinjam kemarin pun masih rusak." ujar Hany saat bangun dari tidurnya pagi itu.


Rasa panik kembali melandanya. Gadis itu turun dari ranjang dan melangkah menuju kamar mandi.


"Jam berapa ini?" biasanya anak-anak panti di sebelah itu akan kedengaran ribut mengaji dan membangunkan para tetangga." gumamnya sembari mencari handphonenya untuk melihat jam.


"Ya Allah, pantas saja sekarang pukul 6.30. Mana lagi aku belum sholat." Hany menepuk keningnya pelan. Kemudian masuk ke kamar mandi dan mengambil air dalam sebuah wadah kecil.


"Aawwwww, banjir!"


"Hujan!"


Teriak para Rangers karena Hany memercikkan air pada wajah mereka semuanya.


"Oe bangun!" teriak Hany dan kembali memercikkan air itu lagi dan langsung masuk ke kamar mandi dengan berlari karena takut kena lemparan bantal dari para korban hujan lokal para sahabatnya.


"Ya Allah, kita belum sholat subuh." Ratna menghapus percikan air diwajahnya kemudian lari ke kamar kosong di sebelahnya untuk mencari kamar mandi.

__ADS_1


Gadis itu ingin berwudhu dan kemudian sholat subuh kesiangan.


"Beb, bangun! belum sholat kan?" panggil Ratna sembari menggoyang-goyangkan tubuh sahabatnya itu yang masih setia memeluk bantal.


"Beb, bangun dong! kamu belum sholat kan?" ujar Ratna dengan wajah panik. Pasalnya ia ingin meminta Beby untuk mengantarnya ke kantornya pagi itu. Kalau ia harus naik angkot maka pasti akan sangat terlambat lagi.


"Hum, aku lagi datang bulan, libur sholatnya." ujar Beby masih menutup matanya.


"Antar aku ke kantor ya, plis?!"


"Iya Beb aku juga, Ini hari pertama aku masuk kerja." timpal Hany yang baru selesai mandi dan masih memakai handuknya.


"Eh, enak saja kalian ini, sana naik motor matikmu aja boncengan berdua." ujar Eka dengan wajah masih bermuka bantal.


"Kantor kalian itu berjauhan, emangnya Beby sopir pribadi kalian?" lanjut Eka dengan nada tak suka. Dua gadis yang sedang minta tolong itu langsung terhenyak dan membenarkan kata-kata Eka.


"Iya deh aku cari ojek onlen aja," ujar Ratna sembari mencari handphonenya.


"Gak perlu, aku akan antar kalian, sekalian cari sarapan di luar. Lapar banget nih." ujar Beby kemudian segera bangun dan mencuci wajahnya dan dilanjutkan dengan menyikat giginya.


"Ayok berangkat!" seru gadis itu setelah mencepol rambutnya dengan asal. Dua gadis yang akan berangkat itu langsung naik ke mobil dengan wajah gembira.


Brak!


Piiip!


Seperti biasa ketika Erick Bramantyo mengeluarkan mobilnya dan bersamaan dengan mobil dari arah Rumah mewah minimalis di sebelah maka akan selalu ada insiden seperti ini.


"Bisa menyetir gak sih?!" seru Erick Bramantyo yang juga sedang melajukan mobilnya dengan terburu-buru.


Telpon dari Ibrahim semalam sungguh membuatnya tidak bisa tidur lagi dan baru bisa tidur setelah sholat subuh. Dan akhirnya ia terlambat untuk ke kantor.


"Kamu yang tak bisa nyetir! udah lorong sempit juga, sana minggir dulu!" balas Beby dengan wajah kesal. Erick Bramantyo yang bisa melihat bahwa pengemudi itu adalah Beby langsung turun dari mobilnya. Dan menghampiri gadis itu.


"Mundur dulu supaya aku bisa lewat, aku sudah terlambat." ujar Erick dengan memandang wajah Beby yang masih tampak kesal.


"Anda yang mundur Pak Erick, aku juga terlambat." jawab Beby tak mau mengalah. Erick tersenyum samar dan menarik kunci mobil gadis itu.


"Kalau begitu kita sama-sama terlambat." ujar pria itu dengan seringaian di wajahnya.


Kedua penumpang yang sedang terburu-buru itu hanya bisa menarik nafas berusaha bersabar.


*Tobe continued


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya, okey??


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2