Beby Si Wonder Woman

Beby Si Wonder Woman
Bab 41 BSWW


__ADS_3

Pagi itu, Hany Humaira dengan langkah sedikit pincang berlari ke dalam kantor barunya dengan terburu-buru.


"Maaf permisi, ruangan HRD dimana ya?"


"Maaf, anda siapa?"


"Saya Hany Khumaira. Kemarin Pak Yudhistira meminta saya untuk melapor bahwa saya diterima sebagai sekretarisnya." jawab Hany dengan satu tarikan nafas.


Karyawan itu langsung menatapnya dari atas sampai ke bawah dengan intens.


"Oh anda yang bernama Hany itu? yang masuk lewat jalur khusus dan tidak mengikuti prosedur yang sewajarnya?" karyawan itu berdecak tak suka.


Hany langsung merasa tak nyaman dengan tuduhan sepihak karyawan tersebut.


"Ruang HRD ada di sana. Dan ya, aku tidak tahu kenapa kamu bisa lulus. Tapi ingat satu hal, Perusahaan ini tidak menerima karyawan yang tidak berkualitas. Jadi tunjukkan kemampuanmu agar bisa bertahan." jelas karyawan perempuan itu dengan wajah tak bersahabat.


"Eh iya, saya akan bekerja dengan baik, terimakasih petunjuknya." jawab Hany sembari membungkukkan badannya sopan.


Setelah itu ia menuju ruangan HRD untuk melaporkan dirinya agar mendapatkan petunjuk selanjutnya.


"Silahkan mbak Hany ke kantor pak direktur. Saya yakin bapak sudah tak sabar menanti anda, sudah 10 kali panggilannya ke bagian ini untuk menanyakan apa anda sudah datang atau belum." ujar Sweetie kepala bagian HRD itu dengan senyum ramah.


"Terimakasih Bu, saya akan segera kesana. Mari Bu." ujar Hany dan segera pergi dari ruangan itu. Sweetie hanya tersenyum samar karena ia merasa mencurigai sesuatu pada gadis itu dan sang direktur.


Tok


Tok


Tok


"Permisi Pak, bisa saya masuk?" tanya Hany setelah melongokkan kepalanya ke dalam ruangan sang direktur dan melihat kalau pria penguasa Perusahaan itu ada di dalam sana.


"Masuklah!" jawab Yudhistira dengan senyum samar diwajahnya tetapi kemudian berubah menjadi senyum menyeramkan.


"Hari pertama kerja kamu sudah mulai terlambat, hebat betul!" bentaknya saat Hany sudah berdiri pas dihadapannya.


"Maaf Pak, saya kesiangan bangunnya."


"Mau kerja serius gak sih kamu? tahu tidak kemarin itu aku terpaksa menerima kamu di tempat ini karena kamu ada utang yang harus kamu bayar jadi seharusnya kamu itu serius."


Hany hanya menunduk dengan perasaan tak terbaca. Ia membenarkan kata-kata pria di depannya ini dan kini ia merasa bersalah.


"Maaf Pak, tapi kemarin kan bukannya saya berniat membayar utang dan bapak malah menawarkan pekerjaan ini." jawab Hany dengan membalas tatapan sang direktur.


Meskipun ia bersalah karena terlambat ia juga tak mau diintimidasi seperti ini. Ia bukan orang yang mengemis-ngemis pekerjaan ini.


"Eh, kamu malah menyalahkan aku! sana kamu periksa schedule aku hari ini." seru Yudhis karena terpojok dengan jawaban Hany yang sebenarnya ingin ia kerjain.


Tapi ternyata perempuan ini cukup tangguh dan percaya diri juga.


"Baik, terimakasih Pak," ujarnya kemudian segera mencari meja yang ditunjuk oleh direktur itu dengan langkah yang cukup mengganggu kenyamanannya, pasalnya sepatunya sebenarnya sangat tak memenuhi standar Operasional kenyamanan tetapi ia tetap percaya diri.


Gadis ini kelihatannya tangguh juga, Hem.


Yudhistira memperhatikan terus gadis itu sampai berhasil sampai di tempatnya.

__ADS_1


🍁


Ratna De Galih turun dari mobil Erick Bramantyo tak luput dari pandangan mata julid Fanta Ricola.


Ia heran kenapa gadis itu malah ikut di mobil mewah sang Bos.


"Selamat pagi Bu," sapa Ratna saat melewati kepala bagian Humas di kantor itu.


"Pagi," jawab Fanta dengan wajah tak bersahabat seperti biasa.


"Eh, berhenti!" serunya pada Ratna yang sudah menjauh darinya sekitar beberapa langkah itu.


"Eh, iya Bu, ada apa ya?" tanya Ratna dengan perasaan was-was. Ia takut ditegur karena keterlambatannya pagi itu.


"Kamu ada urusan apa sama Pak Erick sampai diantar pakai mobilnya kesini padahal big bos sedang tak masuk kerja hari ini?" tanya Fanta Ri Cola penasaran.


"Oh itu Bu? tadi saya minta tolong ikut di mobilnya karena kebetulan kami bertemu di jalan. Dan ternyata bapak ada keperluan penting dan akhirnya Pak Jack lah yang mengantar saya ke sini."


"Oh, gitu? sana kamu kembali ke ruanganmu."


"Oh iya Bu, terimakasih banyak." Ratna pun segera memasuki ruangan kerjanya setelah mengabsen diri pada mesin Finger Print di kantor itu.


Sedangkan Fanta Ricola merasa sangat aneh karena Jack sang asisten kembali memutar balik mobil yang ia gunakan itu keluar dari area kantor.


"Tak biasanya Pak Erick tak masuk kerja, padahal ada jadwal rapat hari ini." ujarnya dengan wajah mengernyit pemasaran.


Drrrt


Drrrt


"Selamat Pagi, persiapkan rapat 30 menit kedepan lewat Google Meeting!"


"Eh iya Pak,"


"Okey,"


Tut


Fanta menatap layar handphonenya setelah panggilan itu ditutup oleh lawan bicaranya.


Gadis itu segera mengetik undangan pada semua peserta rapat pagi itu.


Dan tak lama kemudian rapat pun dimulai dengan sangat baik oleh Erick Bramantyo.


Tetapi ada hal yang membuat semua karyawan jadi kasak-kusuk karena tiba-tiba sebuah percakapan tentang pernikahan Pimpinan EB & Partners itu masuk dalam pembahasan rapat.


Fanta Ricola mengerang kesal mendengar hal tersebut begitupun karyawan perempuan lainnya yang selama ini mengidolakan sang bos.


🍁


Beby Alesha Ibrahim dengan wajah gembira turun dari mobilnya pagi itu sembari menenteng kresek berisi makanan gratis dari seseorang yang tidak ia kenal.


"Anny, Eka, sarapan dulu yuk," panggilnya pada dua orang anggota Rangers Dewaani yang sedang sibuk membersihkan rumah sekaligus markas mereka itu.


"Wah, enak banget nih, warung Padang ya?" tanya Eka dengan hidung mengendus bau masakan khas dari Sumatera Barat itu.

__ADS_1


"Ho oh, cuma ini warung yang terbuka pagi ini." jawab Beby kemudian mengambil piring dan sendok untuk dipakai mereka makan.


"Ini kok belinya banyak sekali Beb?" tanya Eka dengan mata tak percaya saat membuka kresek itu. Ternyata ada sepuluh bungkus makanan di dalamnya dengan menu yang berbeda-beda.


"Bukan aku yang beli, tapi ditraktir." jawab Beby kemudian membaca Bismillah dan mulai menyuapkan makanan yang masih hangat itu ke dalam mulutnya.


"Wuih, tumben ada yang traktir, biasanya juga kamu yang traktir orang lain."


"Iya juga sih, tapi aku senang banget lho, ternyata ditraktir itu enak, hihihi," ujar Beby dengan tawa cekikikannya.


"Cowok pastinya ya?" tebak Eka dengan mata berkedip lucu.


"Iya, dan tampangnya aku gak lihat karena ia memakai helm bungkus gitu."


"Jangan-jangan fans kamu tuh Beb," ujar Anny yang baru ikut nimbrung setelah mencuci tangannya di wastafel.


"Ah ngaco, fans aku tuh ibu-ibu kayak ibu Ratih. Dan ibu-ibu yang lain di dunia ini."


"Tapi bisa jadi kan, buktinya ia mentraktirmu seperti ini, iya kan Ann?" Anny pun mengangguk dengan wajah tak berdosa.


Drrrt


Drrrt


Beby Alesha Ibrahim segera mengangkat telepon dari mamanya di rumah.


"Beb, kamu gak pulang dulu ke rumah sayang? Ibu Ratih sudah lama nunggu lho sama putranya," ujar Hanna dari ujung sana yang disenyumin oleh semua orang di ruangan itu.


Rupanya Hanna menelpon dengan menghidupkan loud speakernya jadi semua orang yang ada di ruangan itu mendengar percakapan mereka.


"Titip salam aja sama Ibu Ratih dan putranya ya Ma, bilang aja aku setuju semua kesepakatan kalian, aaah Uhhh," Jawab Beby dengan suara tertahan karena kepedisan. Ia tak sengaja memakan sambel khas masakan Padang itu.


"Kenapa kamu sayang?" tanya Hanna khawatir.


"Sambelnya pedis Ma, itu yang traktir tadi gak sadar apa kalau sambelnya itu harus dipisah." gerutu Beby dengan suara sedikit kesal di ujung sana sedangkan di sini Erick Bramantyo langsung tersedak bahkan sampai terbatuk-batuk.


"Hey kamu kenapa?" tanya Ratih pada putranya sembari menepuk-nepuk punggung sang putra.


"Tidak apa-apa ibu," jawab Erick dengan suara pelan, takut suaranya akan kedengaran gadis itu.


"Okey, sudah ya sayang, jangan terlalu banyak makan sambel nanti sakit perut lho."


"Iya Ma, Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


"Nah, kita sudah bisa menentukan hari baiknya karena putri kami sudah menyetujui semuanya," ujar Ibrahim mengambil alih pembicaraan.


Ratih dan Erick hanya tersenyum penuh makna. Mereka sangat senang dengan hal ini hingga segalanya mereka serahkan sepenuhnya pada Pak Ibrahim dan istrinya.


"Pekan depan ya, lebih cepat kan lebih baik, iya gak?"


*Tobe continued


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh in dengan cara klik like, tap favorit, ketik komentar agar othor semangat updatenya.

__ADS_1


__ADS_2