
Erick Bramantyo hanya bisa memandang dari jauh kebahagiaan seorang Beby Alesha Ibrahim yang sedang melaksanakan prosesi wisudahnya hari ini.
Pria itu mendapatkan undangan dari Pak Ibrahim untuk datang dan memberikan selamat pada putri semata wayangnya itu agar hubungan mereka berdua bisa lebih dekat.
Tetapi kenyataannya ia hanya bisa berdiri saja di depan mobilnya dengan buket bunga yang ia simpan di atas cup kendaraannya itu.
Erick Bramantyo cukup tahu diri karena gadis cantik itu sangat membencinya. Dan sepertinya ia lebih baik berada di sana saja daripada ia mendekat dan hanya mendapatkan aura kebencian dari gadis itu.
"Erick, kesini kamu!" seru Ibrahim lewat panggilan telepon. Rupanya ia melihat pengacara muda itu hanya berdiri saja dan agak jauh dari tempat itu.
"Maaf Pak Ibra, aku lagi ada urusan yang sangat penting. Assalamualaikum." jawabnya kemudian langsung menutup panggilan itu sepihak.
Erick Bramantyo lebih baik menghindar mulai dari sekarang atau ia akan tersiksa dengan perasaannya sendiri.
Ia merasa tak akan bisa memenuhi permintaan dari bapak angkatnya itu. Ibunya juga sudah sering memaksanya menikah dengan gadis pilihannya sendiri.
Menghindar atau bahkan menghilang itu lebih baik bagi semua orang dan juga bagi hatinya. Gadis itu tak bisa ia jangkau bagaimanapun ia ingin.
Beby Alesha Ibrahim seperti sedang membangun tembok tinggi tak kasat mata yang tak bisa ia tembus.
"Aku akan tetap membantumu mengurus perusahaanmu Pak Ibra, setelah pernikahanku dengan gadis pilihan ibuku terlaksana, dengan begitu tidak ada lagi alasan bagimu memaksaku." ujarnya pelan sembari memandang kebahagiaan keluarga kecil Ibrahim dari jauh.
Ia pun naik ke mobilnya dan meninggalkan tempat itu dengan membawa kembali buket bunga yang ingin ia berikan pada Beby Alesha Ibrahim sang wisudawan hari ini.
"Ibu, aku akan mengikuti kemauanmu meskipun Pak Ibra nanti akan ikut membenciku, yang penting kamu bahagia." Erick menambah kecepatan mobilnya dengan hati bergetar menahan rasa tak nyaman.
"Papa sibuk banget sih, ayo dong berfoto disini sama kita-kita." Beby menarik tangan Ibrahim sang Papa agar berhenti menggerutu dan memaki handphonenya itu.
"Nelpon siapa sih Pa?"
Hanna jadi gregetan sendiri dengan suaminya yang sibuk marah-marah dengan benda pipih segi empat itu.
"Erick, anak itu suka bikin Papa kesal." ujar Ibrahim dengan wajah masih ditekuk kesal.
__ADS_1
"Memangnya kenapa sih!" Hanna ikut penasaran juga dengan ucapan sang suami.
"Papa suruh datang kemari tapi ngakunya lagi banyak urusan. Semakin hari anak itu semakin jago ngelesnya."
"Awas saja kalau aku menemukannya, akan kupukul kakinya pakai tongkatku." Beby Alesha yang sempat menyimak pembicaraan kedua orangtuanya hanya bisa memutar bola matanya malas.
Gadis cantik itu berjanji akan menerima permintaan ibu Ratih pemilik Panti Asuhan itu. Ia tak peduli bagaimana tampang putra dari perempuan paruh baya itu. Yang penting ia tidak dijodohkan dengan si pengacara menyebalkan itu.
🍁
Meskipun kasus Yusi tak seviral dan seheboh kasus kopi bersianida yang sempat sangat ramai diperbincangkan oleh banyak orang, tetapi masalah ini cukup pelik dan menyita perhatian Rangers Dewaani.
"Gimana Beb?" tanya Ratna dengan wajah khawatir. Pasalnya dialah yang pertama menemukan gadis bernama Yusi itu yang sedang melarikan diri setelah menghilangkan nyawa seseorang yang ia kenal. Seseorang yang menurutnya pantas mendapatkan hukuman seperti itu.
Anggota Rangers Dewaani yang lain juga nampak sangat khawatir pasalnya pengacara yang mendampingi keluarga korban adalah seorang Erick Bramantyo yang sudah terkenal sangat hebat dan juga tangguh.
"Pak Erick itu sering didatangi oleh gadis cantik yang mengaku sebagai putri dari Pak Bintang." ujar Ratna yang tahu banyak karena bekerja di kantor pengacara itu..
Deg
"Mereka benar-benar telah siap menghukum Yusi dengan ancaman hukuman mati." lanjut Ratna yang semakin menambah kekhawatiran para Rangers Dewaani.
"Jadwal sidang perdana besok Beb, dan apa yang bisa kita bantu selain datang memberi semangat." Hany menimpali dengan wajah murung. Meskipun mereka baru bertemu dengan gadis itu tetapi hubungan emosional diantara mereka sudah cukup terjalin.
"Udah ah, jangan pada tegang begitu, ini kan weekend ya, kenapa kita tidak pergi hanging-hanging gitu sambil memikirkan bagaimana membantu Yusi."
Merekapun bersorak setuju.
Mall adalah tempat mereka menghibur diri. Memikirkan kasus yang menimpa Yusi cukup menguras tenaga dan pikiran mereka.
Beberapa hari ini mereka diam-diam mendatangi hotel tempat kejadian perkara itu terjadi. Mereka menyamar menjadi tamu dan juga bahkan menjadi gadis panggilan agar mereka bisa tahu cerita-cerita dibelakang layar, latar belakang terjadinya peristiwa naas itu.
Kemarin mereka ingin mengunjungi Yusi ditahanan tetapi mereka tidak mendapatkan izin sama sekali. Akhirnya mereka hanya bisa datang pada persidangan pertama besok hanya sebagai penyemangat dan juga sebagai saksi kalau dibutuhkan.
__ADS_1
"Boleh gabung di sini gak?" tanya beberapa pria mapan dan tampan yang sedang membawa nampan minuman dan juga makanannya dengan sopan.
"Kalian gak lihat kalau disini udah gak ada kursi kosong?" kesal Hany dengan mata mendelik kesal.
"Galak amat sih jadi cewek," ujar pria tadi dengan senyum samar diwajahnya.
Para pria itu pun berlalu dan mencari meja kosong yang tak jauh dari meja para Rangers.
Hany semakin kesal karena sepertinya sedang dikerjain oleh para pria itu.
"Ih, ada-ada aja, sudah tahu tak ada tempat kosong malah kesini cari-cari perhatian, sebel." gerutu Hany dengan bibir komat-kamit mengumpat.
"Hahahaha, kenapa ditolak sih, mereka kan bisa menjadi vitamin mata kita, asyik tauk lihat yang ganteng-ganteng, bisa nambah semangat," ujar Eka dengan tawa dibibirnya.
"Udah mau berpaling kamu dari si Jack petugas kebersihan itu?" tanya Ratna mengingatkan dengan senyum diwajahnya.
"Gak lah, Jack tetap dihati pastinya, tetapi...boleh dong lihat yang segar-segar hihihi," ujar Eka cekikikan.
"Awas lho, nah tuh Jack ada di sini juga," ujar Ratna dengan mata membola.
Dari arah pintu Restoran ia melihat Jack melangkah masuk ke Restoran dengan stelan jas yang rapih dan di sampingnya Pak Erick Bramantyo dan juga seorang pria yang bernama Royco sedang bersama pria yang sedang dibicarakan itu.
"Hah? Jack ada di sini?" tanya Eka tak percaya. Ia mengedarkan pandangannya ke segala arah kemudian berbisik pada Anny yang kebetulan bersisian duduk dengannya.
"Apa ia juga jadi petugas kebersihan di Resto ini?" Anny mengangkat bahunya lalu berujar,
"Hem, bisa jadi. Sekarang kan sulit mencari pekerjaan. Kita aja ini masih nganggur."
"Iya, betul juga ya." Eka membenarkan. Ia semakin suka dan bangga sama Jack si cleaning Servis itu. Ganteng-ganteng tetapi mau bekerja sebagai petugas kebersihan dimana saja.
Di sudut sana di Restoran itu. 3 pasang mata juga sedang memandang ke meja para Rangers.
*Tobe continued
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya, okey?