
Malam itu gadis-gadis cantik Rangers Dewaani benar-benar berpesta dengan makan-makan dan juga bermusik.
Suara musik mereka sudah tidak seperti yang lalu-lalu. Kali ini hanya lagu slow yang menemani mereka bergembira.
Sejak mendapat teguran dari Jack, gadis-gadis itu tak pernah lagi memutar musik-musik ngebeat yang memekakkan telinga.
Mereka lebih memilih musik yang slow dan kadang melow. Demi supaya tetangga mereka tidak terganggu.
"Wah senengnya, ada dua berita gembira yang kita punya malam ini." ujar Ratna tersenyum sembari membawa speaker ke arah mulutnya layaknya seorang Master of Ceremony atau MC.
"Berita baik yang pertama adalah dari ketua Genk Rangers Dewaani Beby Alesha Ibrahim..."
Gadis yang dimaksud langsung berdiri dari duduknya dan membungkukkan badannya dramatis. Ia bahkan melemparkan ciuman jauh pada semua sahabat-sahabatnya.
Prok Prok Prok
Tepuk tangan menggema di beranda rumah itu. Ada yang heboh bersiul supaya kelihatan lebih seru dan heboh.
"Gadis cantik ini sebentar lagi akan melepaskan masa lajangnya dan akan menikah dengan sang pangeran tampan yang masih dirahasiakan identitasnya, eyaaaak." lanjut Ratna bagaikan presenter berita gosip.
Keempat gadis itu terpingkal-pingkal melihat wajah Beby yang langsung kecut dan tak enak dipandang.
"Jangan-jangan pangeran kodok lagi, wkwkwkwk." kembali mereka tertawa dengan lelucon Anny.
"Pangeran kodok yang tak laku-laku hihihihi." lanjut Anny cekikikan.
"Au' ah ibu Ratih itu bikin aku pusing aja," gerutu Beby Alesha kemudian duduk kembali. Tapi sekali lagi bayangan akan kebebasannya dari keinginan kedua orangtuanya membuatnya kembali tersenyum.
"Dan yang kedua adalah Hany Khumaira, yang merupakan salah satu gadis tangguh kita."
"Mampu melawan para penjahat dengan serangan pisaunya. Alhamdulillah sudah mendapatkan pekerjaan sebagai sekretaris pribadi Direktur utama PT. Yudhistira yeeey," deskripsi Ratna lengkap dengan penuh semangat disertai wajah gembira.
Hany Humaira pun berdiri dan mengulang gaya Beby tadi membungkuk sedikit dan mengangkat rok mininya kemudian mengecup jari-jarinya dan melemparkannya untuk sahabat-sahabatnya.
"Yeay senangnya, semoga kita nyusul ya," ujar Eka ikut gembira.
"Nyusul yang mana nih?" tanya Ratna dengan wajah lucu.
"Nyusul dapat kerja trus menikah dong atau salah satunya juga boleh yang penting kan nyusul, hahaha." semua ikut tertawa dengan ucapan Eka.
"Tapi kok gak seru ya kalau ada salah satu dari kita menikah, apalagi Beby, gak bisa ngumpul bareng lagi deh kita kayak biasanya." lanjut Eka tiba-tiba sedih.
__ADS_1
"Iya juga ya?" Anny ikut menimpali. Yang lain pada diam dan mulai membayangkan horornya nanti rumah ini kalau semua pada menikah dan tidak bisa ngumpul-ngumpul lagi.
"Hey, jangan pada drama gitu deh, aku menikah kan cuma mau menolong Ibu Ratih jadi gak akan berkurang waktu kebersamaan kita. Toh ibu mertuaku tetanggaan sama Markas kita jadi pastilah kita selalu ketemu-ketemu."
"Duh yang punya calon mertua, bikin merinding ouye," canda Hany kemudian tertawa cekikikan.
Mereka kembali ribut tertawa dengan candaan-candaan lainnya.
Sampai tengah malam mereka saling melempar lelucon karena baru sempat lagi berkumpul bersama.
Sementara itu di tempat lain yang berjarak hanya sekitar 10 meter dari Markas mereka.
Tepatnya di Panti Asuhan Ibu Ratih terjadi diskusi yang sangat serius antara Erick Bramantyo dan juga ibunya.
"Ibu, ini sudah sangat larut, kenapa ibu memanggilku kemari?" tanya Erick sembari membuka jaket kulit yang sedang dipakainya.
Ia kemudian menyampirkan pakaiannya itu di sebuah gantungan baju di dalam kamar sang ibu.
"Duduklah dulu, ibu ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting denganmu." ujar Ratih dan menarik tangan putra semata wayangnya itu untuk duduk di atas ranjangnya. Sedangkan ia sendiri menarik sebuah kursi plastik dan mendudukinya.
"Gadis itu menerima lamaran ibu nak," ujar Ratih dengan senyum lebar diwajahnya.
"Gadis yang mana ibu?" tanya Erick Bramantyo dengan wajah bingung.
"Yang sering datang kemari membawa bantuan itu loh." lanjutnya dengan deskripsi lengkap.
"Oh gadis perawan tua itu?" ujar Erick dengan wajah dibuat sedang berpikir keras.
"Yang ibu ingin jodohkan aku dengannya?" Ratih mengangguk kemudian memukul lengan putranya dengan keras.
Plak
"Ibu, kenapa aku dipukul lagi, si?" gerutu Erick dengan wajah memelas.
"Gadis itu bukan perawan tua Erick. Dia masih sangat muda dan juga segar. Dia bagaikan sekuntum mawar yang sedang merekah dan siap dipetik, cantik sekali." Ratih memandang ke arah dinding kamarnya dan membayangkan Alesha ada disana sedang tersenyum padanya.
"Ibu? ibu tidak sedang bermimpi kan? ibu kan tahu aku paling tidak suka mawar, cantik tapi berduri untuk apa?" Ratih langsung melotot pada putranya itu dan sekali lagi melayangkan pukulan pada lengan kuat sang putra yang begitu sangat mengesalkan.
"Itu cuma perumpamaan anak nakal!" geram Ratih dengan wajah kesal setengah mati.
"Tapi kan ibu bisa memakai bunga yang lain," balas Erick dengan wajah datarnya.
__ADS_1
"Astagfirullah Erick, kamu itu bodoh atau sengaja bikin ibumu jengkel hah!"
"Tidak ibu, pakai bunga tulip aja, itu lebih bagus, indah dan juga manis." Ratih menggigit bibirnya kesal.
"Iya, Alesha seperti bunga tulip yang kamu inginkan. Dia cantik, manis, dan juga sederhana. Bersyukurlah gadis itu mau menerima lamaran ibu." Erick menarik nafasnya berat.
Pria itu bingung dengan keinginan ibunya yang terkesan sangat dipaksakan.
"Baiklah ibu, jadi apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" tanya Erick akhirnya. Ia harus mengalah karena bagaimanapun caranya mengalihkan perhatian ibunya tetap saja rencananya itu harus terlaksana.
"Tentu saja melamarnya pada kedua orangtuanya!" jawab Ratih dengan senyum kemenangan diwajahnya.
"Terus?"
"Kamu akan menikahinya dan memiliki anak darinya, ibu rindu menimang bayi kecil yang lucu."
"Bukannya di Panti ini hampir tiap bulan ada yang menitipkan bayinya pada ibu?"
"Tapi itu bukan anakmu Erick Bramantyo! ibu juga ingin melihat hasil karyamu." Ratih kembali tersenyum dan memandang dinding kamarnya. Membayangkan Alesha sedang hamil hasil dari pernikahan putranya dan gadis itu.
Tetapi kemudian perempuan tua itu tersentak karena mengingat janjinya pada gadis itu kalau putranya tak akan menyentuhnya.
Aku kan yang berjanji tapi bukan Erick putraku. ujarnya membatin kemudian melanjutkan khayalannya.
"Ibu?!" panggil Erick Bramantyo yang merasa dicuekin.
"Apa?"
"Aku pulang ya,"
"Astaghfirullah ini anak, ini sudah larut, nginaplah disini. Karena pagi sekali kita akan mendatangi rumah Alesha calon istrimu itu."
Erick Bramantyo mengusap wajahnya kasar. Berakhir sudah niatnya untuk memperistrikan Beby.
Cinta memang tak harus memiliki tapi aku tetap akan menjagamu untuk seumur hidupku. Sebagai balas budiku pada Papamu.
Hemmm ini sungguh berat.
*Tobe continued
Mana nih like dan komentarnya untuk karya receh ini. Tap favorit dan klik like dan ketik komentar ya gaess.
__ADS_1
Ada bunga dan vote??? waduh seneng banget.
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍