
Ratih tersenyum bahagia melihat Beby Alesha masuk ke Rumahnya dengan tangan digenggam erat oleh putranya. Ia yakin hubungan dua orang yang sempat tidak akur ini kini sudah pada tahap menggembirakan.
"Assalamualaikum ibu, maaf aku sama mas Erick baru mengunjungi ibu," ujar Beby Alesha sembari memeluk dan mencium pipi kiri dan kanan ibu mertuanya itu.
"Tak apa, ibu tahu kalian pasti sangat sibuk, iyakan?" Ratih memandang wajah cantik menantunya yang sangat berseri-seri itu.
Nampak sekali kalau perempuan ini sedang bahagia dan jatuh cinta pada suaminya.
"Kalau aku kan hampir setiap hari kesini ibu, tapi istriku yang cantik ini baru ada waktu datang bersamaku." ujar Erick Bramantyo sembari memandang wajah istrinya yang tersipu.
Tak ada lagi ekspresi galak di wajah itu, yang ada hanya binar bahagia dan merona ketika Erick menatapnya.
"Iya ibu, maaf insyaallah aku akan menginap disini sama dengan di rumah Papa." Ratih tersenyum kemudian mengelus lembut rambut panjang menantunya.
"Ibu bahagia sekali kalian bisa akur seperti ini. Rasanya tujuan ibu hidup sudah tercapai dan lengkap," ujar Ratih dengan senyum diwajahnya. Selama ini ia selalu khawatir akan nasib hubungan pasangan ini.
Bagaimana kalau seandainya Beby Alesha tidak pernah bisa menerima dan malah berakhir dengan meminta berpisah atau bercerai. Hal itulah yang selalu ditakutkannya.
"Erick memperlakukan kamu dengan baik kan sayang?" tanya Ratih sembari memandang wajah Beby Alesha sang menantu.
"Tentu saja ibu, mas Erick bahkan sangat baik padaku," jawab perempuan cantik itu dengan senyum diwajahnya.
Beberapa hari ini hatinya rasanya tak pernah berhenti berdebar bahagia dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan suaminya itu.
Ia benar-benar merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya pada seorang pria yang untungnya adalah suaminya sendiri.
"Tentu saja aku memperlakukan istriku sangat baik dan istimewa ibu. Aku ingin ia mengandung anakku saat hatinya selalu bahagia, iyyakan sayang?" Beby Alesha kembali tersipu dan itu membuat Erick sang suami jadi gregetan sendiri. Istrinya itu kadang seperti kucing liar dan kadang berubah jadi kucing yang sangat jinak seperti itu.
"Kalian mau istirahat dulu atau mau ikut ibu ke kebun belakang, anak-anak panti sedang memanen buah jambu dan juga ubi jalar." ujar Ratih merasa tak nyaman melihat dua orang yang sedang dimabuk asmara itu saling tatap-tatapan seperti itu.
"Kita istirahat sejenak dulu ibu, nanti kita bergabung. Soalnya perjalanan dari rumah ke sini itu jauhhhh sekali." jawab Erick sembari meremas tengkuknya gelisah.
__ADS_1
"Ih apaan jauh, cuma 1 jam begitu," timpal Beby Alesha dengan wajah lucu. Ratih paham kalau putranya itu pasti ingin melakukan sesuatu yang amat penting hingga ia memberikan alasan seperti itu.
Ia bisa mengerti kalau putranya sedang ingin mengganti masa-masa tersiksa karena tidak mendapatkan yang ia mau dari istrinya itu.
"Baiklah, istirahatlah di kamar. Kalau kalian sudah selesai, kami tunggu di belakang ya," Ratih pergi dari tempat itu sesegera mungkin karena udara di tempat itu sudah ia rasakan memanas.
"Ayok sayang, kita istirahat dulu," ajak Erick pada istrinya itu untuk melangkah ke dalam kamar pribadinya setiap ia berkunjung ke Panti itu.
"Mas, kayaknya ibu kok ngertiin kita banget sih." ujar Beby Alesha saat suaminya itu dengan lincah membuka semua pakaiannya dengan alasan tidak bisa istirahat kalau tidak melihat yang indah-indah.
"Ibu sudah lama menanti kita seperti ini sayang," jawab Erick kemudian menggendong istrinya ke atas ranjang.
"Masss, aku jadi malu sama ibu, aku pernah berkata kasar padanya." ujar Beby Alesha menahan untuk tidak mendessah saat Erick sudah menyerang titik-titik sensitifnya. Erick tidak menjawab, mulutnya sedang penuh dan ia hanya ingin minum dan makan sepuasnya saat ini.
"Masss aaaakh," dessah Beby Alesha saat Erick menghisap dirinya dengan agak kasar. Tangannya sampai menjambak rambut suaminya itu karena merasakan sensasi yang begitu nikmat dan membuatnya bergetar hebat.
Ia sampai melengkungkan tubuhnya kedepan karena tak kuat menahan hasratnya yang juga sedang tersulut oleh perlakuan suaminya. Mereka berdua tak sadar kalau kamar mereka tidak seperti di rumah pribadi Erick atau di Rumah istrinya yang kedap suara.
Ia tahu bos besar sedang melakukan ritual ibadah di dalam sana. Cuma masalahnya yang ia takutkan ada anak panti di bawah umur yang memasuki daerah terlarang untuk sementara waktu ini.
Dan tidak mungkin ia menegur dua orang yang sedang dimabuk asmara itu yang tak lain adalah bosnya sendiri.
Jadilah ia berdiri di sana untuk berjaga-jaga jangan sampai ada orang yang datang. Ia merasakan dirinya memanas dengan apa yang ia dengar dan ia bayangkan.
Dan untuk menjaga kewarasannya ia berjanji akan melamar Eka dalan waktu dekat. Pria itu segera memasang headset di kedua kupingnya sembari duduk di depan kamar sang bos.
"Jack? apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Erick Bramantyo saat membuka pintu kamar sejam berikutnya. Pria itu sudah nampak segar dengan rambut yang masih basah.
"Lagi jadi obat nyamuk bos,"
"Hah maksudnya?"
__ADS_1
"Lain kali kalau mau itu, lihat kondisi pak Bos. Di sini ada banyak anak di bawah umur dan di atas umur seperti saya." ujar Jack menggerutu agak kesal. Erick tersenyum akan kata-kata Jack Andrian. Ia mengerti kalau asistennya itu sudah cukup terganggu dengan kegiatan mereka barusan.
"Menikahlah Jack, karena rasanya sangat nikmat." ujar Erick kemudian menepuk bahu asistennya itu yang juga berpikir yang sama.
Pria itu kembali masuk ke kamar dan ikut membantu istrinya mengeringkan rambut panjang Beby yang masih basah itu.
"Mas, aku malu keluar kalau rambutku masih basah begini, nanti semua orang berpikir macam-macam lagi," rajuk Beby Alesha dengan manja. Ia lupa membawa hairdryernya dari rumah karena tak menyangka akan melakukan kegiatan menyenangkan seperti ini di siang hari yang cukup panas ini.
"Kalau malu, mau gak sayang kamu pakai hijab aja, supaya setiap saat basah pun semua orang tidak tahu, dan cuma aku yang tahu," ujar Erick sembari memandang wajah istrinya penuh cinta, ia kemudian memberikan ******* lembut pada bibir istrinya itu.
Ia sudah lama menginginkan istrinya ini menutup tubuhnya yang sangat menarik itu dan hanya ia saja yang menikmatinya tetapi ia belum ada cara yang tepat. Karena pria itu tahu sifat istrinya yang keras kepala.
Beby Alesha mengangguk setuju sembari membalas ******* bibir suaminya. Ia benar-benar sedang jatuh cinta pada Erick Bramantyo hingga apapun yang diminta suaminya akan ia berikan dan laksanakan.
"Terimakasih sayang, aku sangat mencintaimu." bisik Erick dengan perasaan membuncah bahagia.
🍁
Sisca dan Harun menghadiri persidangan Taro di Pengadilan dengan wajah sedih dan juga marah. Rupanya kemampuan Erick Bramantyo sebagai pengacara hebat sudah mereka saksikan sendiri di depan hidungnya sendiri.
Taro benar-benar dibantai dengan tuduhan pelecehan pada korban secara terencana dengan bukti-bukti yang sangat kuat untuk menjebloskan pria itu ke dalam Hotel Prodeo.
Dan dengan menyembunyikan identitas korban agar tidak terekspose keluar, pengacara muda dan tampan itu bisa menuntut putra pertama dari Harun dan Sisca itu dengan pasal berlapis. Hingga bisa dijerat hukuman yang sangat berat.
"Gawat ini mas, lalu bagaimana kita bisa melawan mereka?" ujar Sisca dengan perasaan campur aduk. Hatinya sudah mulai gentar dan juga takut setengah mati. Ia tak menyangka kalau anak yatim yang selama ini ia hina ternyata sudah menjelma menjadi pria yang sangat hebat.
"Sabar sayang, pokoknya saya tidak akan tenang kalau mereka tidak ikut menangis dengan apa yang sudah dilakukannya pada keluarga kita." ujar Harun dengan segala rencana buruk di dalam kepalanya.
"Pastikan itu mas, karena sungguh aku tidak akan rela kalau mereka tertawa-tawa di atas penderitaan kita." Harun menggenggam tangan Istrinya sembari menunggu keputusan hakim.
Hukuman kejahatan yang dilakukan oleh Taro yang ternyata sudah sering melakukan pelecehan serupa pada banyak gadis di kota ini adalah kurungan 20 tahun penjara.
__ADS_1