
Jack Andrian menghadang langkah Eka yang akan memasuki ruangan di Divisinya. Perempuan yang tampak sangat cantik dengan blazer hitam senada dengan rok dibawah lutut itu langsung menghentikan langkahnya.
"Apa ada hal yang penting, Pak?" tanyanya pura-pura acuh tak acuh padahal hatinya sedang berdebar kencang.
Eka sebenarnya begitu rindu pada pria ini. Karena sejak permintaannya dulu ditolak olehnya, Jack Andrian tak pernah lagi menyapanya. Tapi sekarang, pria itu tiba-tiba ada dihadapannya dengan pandangan tak biasa.
"Bisa kita bicara nona Eka?" tanya Jack tanpa melepaskan pandangannya pada gadis itu.
"Kalau berhubungan dengan pekerjaan, kita bicarakan di dalam ruangan Pak Jack," jawab Eka dengan berusaha tampak profesional pada asisten Erick Bramantyo itu.
"Ini bukan tentang pekerjaan nona," ujar Jack dengan wajah serius bahkan terkesan sangat datar.
"Kalau begitu setelah pulang kerja saja, di sini." putus Eka kemudian melangkah ke depan dengan maksud agar pria itu menyingkirkan tubuhnya dan tidak menghalanginya di depan pintu.
"Aku menunggumu di Valet jam 5 sore ini," ujar Jack saat tubuh Eka sudah begitu dekat dengannya.
"Maaf Pak Jack tapi aku akan pulang bersama dengan Anny, permisi." Jawab Eka sembari menahan nafasnya. Ia belum pernah sedekat ini dengan pria itu. Dan sekarang sepertinya Jack sedang berusaha menguji imannya.
"Tapi aku akan tetap menunggumu di sana," ujar Jack kemudian melangkah menjauh dari tempat itu.
Eka menghembuskan nafasnya lega. Ia merasa sudah berhasil menutupi perasaannya saat ini.
Sepanjang hari itu, Eka tidak berkonsentrasi bekerja. Beberapa file yang ia ketik tak pernah ia selesaikan padahal sudah deadline.
"Ada apa sih?" tanya Anny saat melihat sahabatnya itu meletakkan wajahnya di atas meja. Nampak sekali kalau gadis itu tak bersemangat bekerja.
"Jack ingin bicara padaku Anny, setelah sekian lama." jawab Eka dengan senyum samar diwajahnya.
"Bagus dong, kamu kan udah lama rindu tuh."
"Aaaaa hatiku berdebar-debar. Apa menurutmu Jack akan melamarku?"
"Ih, kalau bermimpi jangan terlalu tinggi jatuh nanti sakit lho." ujar Anny dengan jari ia goyang-goyangkan di depan hidung sahabatnya itu.
"Lha terus untuk apa ia ingin bicara khusus denganku?"
__ADS_1
"Mungkin dia mau bilang kamu jangan sok jual mahal padahal demen, hihihi." jawab Anny cekikikan karena semua Ranggers tahu betapa Eka sangat mengidolakan Jack Andrian itu tetapi ketika cintanya dibalas dia malah nolak kan aneh.
"Eh, itu sih kamu sama pak Fadil. Suka tapi nolak, hemm," Eka mencibir Anny langsung terdiam. Ternyata mereka berdua sama.
"Udah ah, kembali kerja nanti dapat teguran lho dari Bumbu," ujar Anny dengan mengibaskan tangannya di udara. Ia langsung memutar posisi kursinya dan kembali menghadapi laptop yang ada di hadapannya.
"Eh, siapa itu Bumbu?' tanya Eka penasaran. Setahunya tak ada pimpinan di Perusahaan ini yang bernama Bumbu.
"Bumbu itu Bu Mbul hahahaha," jawab Anny sembari tertawa terbahak-bahak Eka ikut tertawa karena yang mereka maksud adalah Mbulan manager divisi yang memiliki bentuk tubuh Mbulat.
"Hey kalian mau kerja apa mau ribut sih, mengganggu tahu gak?" tegur salah satu karyawan di Divisi itu.
"Eh maaf mbak kalau sudah terganggu." ujar Eka cepat kemudian menaruh jari telunjuknya didepan bibirnya. Anny tersenyum dan memberikan kode yang sama.
Eka berusaha untuk tidak menebak-nebak apa yang akan disampaikan oleh Jack Andrian padanya. Gadis itu terus sibuk mengetik beberapa laporan yang akan dipresentasikan oleh Bu Mbul pada meeting besok pagi.
Tibalah saatnya pulang. Ia dan Anny melangkahkan kakinya ke arah halte busway yang kebetulan tak jauh dari perusahaan itu.
Sampai tibalah saatnya moda transportasi umum itu tiba di hadapan mereka. Dua gadis itu naik ke Bus tanpa ada yang bicara seperti biasanya.
"Ada apa sih, ribut banget," ujar Anny ikutan kaget.
"Pak Jack, ia menungguku di Valet, duh bagaimana ini?" ujar Eka dengan wajah panik. Ia melihat jam tangannya dan waktu sudah hampir pukul 6 sore.
"Ih kamu kok bisa lupa sih, padahal seharian ini hatimu terus menerus terpaut padanya, hadeh." Anny menepuk jidatnya keras.
"Aduh Ann, bantuin dong, mana halte masih jauh lagi." ujar Eka dengan wajah khawatir. Ia berharap pria itu tidak menunggunya di sana.
"Telpon aja kalau gitu, bilang kamu lupa dan udah keburu pulang." saran Anny sembari menyerahkan handphonenya.
"Emangnya kamu punya nomor handphonenya Pak Jack?" tanya Eka pada sahabatnya itu.
"Ya enggaklah, untuk apa aku menyimpan nomornya di handphone aku." jawab Anny sembari menyimpan kembali benda pipih itu ke dalam tasnya.
"Trus ngapain kamu kasih aku handphonemu?"
__ADS_1
"Kamu kan jarang ada pulsa, hihihi." jawab Anny cekikikan. Eka memutar bola matanya malas kemudian meraih handphonenya sendiri.
"Nih aku punya pulsa banyak," ujarnya dengan menunjukkan jumlah pulsa yang ia miliki tapi sayangnya ia juga tidak punya nomor handphonenya Jack Andrian. Anny kembali tertawa melihat penderitaan sahabatnya itu.
"Katanya idola, kok nomor handphone aja tidak punya, payah. Kalau sekarang Pak Jack memutuskannya untuk meninggalkan kamu itu sih wajar,"
"Ish jangan dong, trus gimana nih mana kita bentar lagi sampai di kosan." Eka menarik nafasnya berat.
"Pasti Pak Jack akan pulang sendiri kalau aku tidak datang," ujarnya untuk menghibur dirinya sendiri.
"Mungkin saja tapi mungkin juga tidak hahahaha," timpal Anny masih dengan ketawanya yang menyebalkan.
Bus itupun berhenti di halte depan. Dua gadis itu turun kemudian berjalan kaki lagi sekitar 20 meter ke arah tempat kost. Hari sudah hampir magrib seperti biasa setiap mereka berdua pulang.
Sampai di Kosan, mereka membersihkan diri dengan mandi sore kemudian sholat dan beristirahat.
"Ann, aku kok masih kepikiran Pak Jack ya," ujar Eka sembari membaringkan tubuhnya di samping Anny yang sedang sibuk membaca novel di handphonenya. Kebiasaannya setiap pulang kerja.
"Jangan dipikirkan. Tidak mungkinlah dia menunggu kamu di Valet sampai sekarang seperti kisah-kisah di novel itu." ujar Anny tanpa mengalihkan pandangannya dari layar handphonenya.
"Ih tapi bagaimana kalau beneran dia nunggu aku di sana." ujar Eka lagi dengan wajah khawatir.
"Ih emangnya dia mau dimakan sama nyamuk? malam-malam begini masih di betah di tempat sunyi begitu." timpal Anny lagi dengan cuek. Gadis itu benar-benar tidak ingin diganggu membaca novel kesayangannya.
"Ih kamu lagi baca apa sih, gak enak tahu kalau dicuekin." gerutu Eka kesal.
"Nih kamu baca novelnya Ex Mafia Hot Daddy, dijamin galaumu hilang," ujar Anny sembari memperlihatkan handphonenya pada Eka. Gadis itu langsung mencibir.
"Dibayar berapa kamu sama othornya sampai ngendorse gitu?"
"Ih gak perlu dibayar kali, aku kan suka semua karyanya," jawab Anny kemudian kembali serius membaca novel itu. Sedangkan Eka masih galau karena mikirin Jack Andrian.
*Tobe continued
Mana nih dukungannya untuk othor receh ini. Like dan komentar ya gaess.
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍