Beby Si Wonder Woman

Beby Si Wonder Woman
Bab 84 BSWW


__ADS_3

Setelah mandi bersama untuk membersihkan sisa percintaan mereka, Erick Bramantyo dan juga Beby Alesha turun ke lantai bawah untuk makan siang. Rupanya rasa lapar baru terasa setelah tujuan mereka tercapai.


Mata kedua pasangan yang sedang dimabuk asmara itu membola melihat ada tamu yang sangat tak mereka harapkan ada di ruang makan itu. Sisca dan juga Harun menatap kedua pasangan yang sedang berpegangan tangan itu dengan pandangan marah.


"Erick! Kami meminta kamu mencabut laporanmu di kantor polisi!" seru Sisca tanpa basa-basi. Ibrahim yang baru memasuki ruangan itu langsung menghampiri Sisca dengan wajah tak kalah marah.


"Apa tidak ada sedikitpun rasa malu yang kamu punya hah? Kalau putramu bisa membusuk di Penjara itu lebih baik lagi." ujar Ibrahim dengan tatapan jijik pada adiknya itu.


"Kak, apa kakak lebih menyayangi menantu barumu ini daripada putraku, ponakanmu sendiri?"


"Anak yang kita tidak tahu asal-usulnya yang ingin merebut semua harta kakak." ujar Sisca dengan dengan wajah yang sangat tak nyaman dilihat.


"Ya aku lebih menyayangi Erick. Tapi bukan itu masalahnya di sini. Putramu ingin melecehkan putriku, sepupunya sendiri. Dan semua orang tahu kalau Beby sudah bersuami. Apa mungkin perbuatannya itu bisa dimaafkan, Sisca?" geram Ibrahim dengan wajah memerah marah.


"Tapi itu belum terjadi kak, dan juga belum pasti kalau Taro melakukannya." jawab Sisca memberikan alasan. Perempuan paruh baya itu kemudian melanjutkan,


"Dan kurasa menantumu itulah yang mau mengambil keuntungan dari semua itu. Ia hanya mencari alasan untuk mendapatkan putrimu!" Sisca masih belum merasa bersalah karena perbuatan putranya itu.


"Diam kamu! Dasar kamu tidak punya rasa malu sedikitpun!" seru Ibrahim dengan tangan ingin menampar adik angkatnya itu. Tetapi tangannya ditahan oleh Harun suami Sisca.


"Jaga tanganmu kak Ibra, atau saya akan melupakan kalau anda adalah kakak ipar saya!" balas Harun dengan wajah angkuh. Beby Alesha langsung berlari ke sana dan menarik tangan Harun yang menahan tangan Papanya itu.


Perempuan itu tak rela kalau Papanya diperlakukan sangat tidak sopan seperti itu oleh orang lain.


"Hati-hati dengan lidahmu Om kalau bicara sama Papa. Karena aku tak suka." ujar Beby Alesha dengan tatapan tak suka pada pria paruh baya itu. Harun langsung mencibir.


"Aku tidak mau melihat kalian berada di rumahku. Keluar sekarang juga! entah apa yang akan terjadi jika niat putramu itu terlaksana." Ibrahim kembali bersuara dengan mengusir mereka berdua keluar dari rumah itu.


"Kak Ibra, kamu mengusir kami? Hanya kami keluarga dekatmu kak, pikirkan itu!" teriak Sisca dengan tatapan tajam pada Ibrahim.


"Berterimakasihlah karena aku masih mengusirmu dari hadapanku, karena kalau tidak kalian juga akan bergabung dengan Taro di Penjara." geram Ibrahim dengan rahang mengetat marah.


"Kak Ibra! ternyata kamu benar-benar telah membuktikan bahwa kita tidak mempunyai hubungan darah. Dan juga statusmu yang hanya sebagai anak angkat di keluarga kami!" teriak Sisca emosi. Ia tak rela diusir dengan memalukan seperti itu.


"Pergi kalian dari sini dan jangan pernah berniat untuk menginjakkan kakimu lagi di rumahku, keluar!" Ibrahim menunjuk pintu yang terbuka itu dengan telunjuknya.


"Kak Ibra, jangan sampai menantumu yang kamu bangga-banggakan itu akan membalasmu seperti caramu memperlakukan kami." ujar Sisca dengan emosi di dadanya.


"Karena ketika itu tiba, maka tidak akan adalagi orang yang akan membelamu, camkan itu!" Sisca masih tak mau mengalah.


Erick Bramantyo dan istrinya hanya bisa melongo melihat pertengkaran yang terjadi di depan wajah mereka. Kedua pasangan itu tak menyangka akan ada aksi buka-bukaan seperti itu.


"Tante, balasan kebaikan adalah kebaikan. Aku tidak mungkin melakukan itu pada Papa," timpal Erick sembari melangkah menghampiri Ibrahim yang menunduk dengan mengepalkan tangannya.

__ADS_1


Pria itu takut penyakit Papa mertuanya akan kambuh jika sedang tak bisa mengontrol emosinya seperti itu.


"Diam kau anak tak tahu diri!" bentak Sisca kemudian menarik tangan suaminya dan meninggalkan rumah mewah itu.


Ibrahim terduduk dengan tangan meremas dada kirinya. Ia tak menyangka akan bisa memuntahkan semua kemarahannya pada Sisca, saudara angkatnya itu. Selama ini ia masih mendiamkannya saja berharap Sisca dan Linda bisa berubah, tetapi ternyata jika dibiarkan mereka semakin melunjak saja.


"Papa tidak apa-apa kan?" tanya Beby Alesha dengan wajah khawatir. Ia mengelus lembut tangan Papanya dengan airmata menggenang di pipinya. Untunglah Mamanya tidak ada di tempat. Ia tak bisa membayangkan berapa hati yang sakit akan kejadian ini.


"Ambilkan obatku Erick," pinta Ibrahim sembari menunjuk lemari kaca yang ada di dalam ruangan itu. Suami dari Beby Alesha itu langsung melaksanakan perintah Papa mertuanya.


"Pa, kenapa Erick lebih tahu penyakitmu daripada aku?" tanya Beby Alesha dengan wajah sedihnya. Airmata semakin menyeruak keluar dari pelupuk matanya karena kasihan pada papanya yang sedang sesak nafas itu. Ibrahim tidak menjawab. Pria tua itu berusaha bernafas satu-satu dengan sangat tersiksa.


"Pa ini obatnya," ujar Erick sembari menyerahkan sebutir obat dan juga segelas air putih. Ibrahim segera meminum obat itu kemudian menutup matanya.


"Erick, ada apa dengan Papa, hiks," Beby memandang wajah suaminya karena tak sanggup melihat keadaan Papanya yang menyedihkan seperti itu.


"Sabar sayang, Papa pasti akan sehat dan melihat putra-putri kita tumbuh besar." ujar Erick Bramantyo sembari mengelus lembut punggung istrinya. Putri tunggal Ibrahim itu memeluk tubuh Papanya dengan perasaan takut.


"Apa kalian sudah membuatkannya untukku?" tanya Ibrahim tersenyum setelah perasaannya kembali baik. Ia jadi mempunyai semangat untuk hidup lebih lama saat melihat keakraban dua orang yang sangat ia cintai itu.


"Iya Pa, tunggu saja, cucumu baru saja kami cetak dan akan segera menemanimu nanti." ujar Erick dengan wajah gembira tetapi langsung mendapatkan cubitan panas dari istrinya.


"Erick, kamu tak malu sama Papa?" ujar Beby sembari menghapus airmatanya dan tersenyum melihat Papanya sudah kembali baik.


"Sayang, jepit aku dengan cara yang lain," rajuk Erick dengan senyumnya. Beby Alesha merasakan pipinya memanas. Ia melirik Papanya karena malu yang luar biasa.


"Astagfirullah Erick, kamu ya benar-benar bikin kesel tahu gak?!" Beby Alesha berdiri dari duduknya dan memukul tubuh suaminya pelan.


"Hey ada apa ini sayang?" tanya Hanna yang baru datang dari luar. Perempuan cantik itu menaruh tasnya di atas meja dan menatap tiga orang kesayangannya bergantian.


"Ini Ma, putrimu ingin menjepit aku," jawab Erick dengan wajah santai, sengaja agar Hanna tidak tahu kejadian besar apa yang terjadi baru saja di rumah itu.


"Beby?" Hanna memandang wajah putrinya dengan senyum bahagia diwajahnya. Ia tidak pernah menyaksikan ekspresi anak dan menantunya itu yang begitu berbeda. Biasanya mereka selalu tampak tak akur begitu.


"Ih bohong banget Ma," jawab Beby sembari melambaikan tangan di depan wajahnya.


"Iya deh Mama percaya, kamu gak mau sama suamimu," ujar Hanna dan mulai duduk di samping suaminya.


"Udah makan Pa?" tanyanya pada Ibrahim, sang suami.


"Ini baru mau makan, ayok kita makan," jawab Ibrahim dan mengajak istrinya itu untuk makan bersama-sama.


"Maaf nyonya diluar ada tamu," sela Bik Jum saat mereka akan makan siang bersama.

__ADS_1


"Siapa Bik?" tanya Beby Alesha pada perempuan tua itu.


"Sahabat-sahabatnya non Beby," jawab Bik Jum tersenyum.


"Oh ya ampun, panggil masuk bik, ajak makan bersama." jawab Beby Alesha dengan senyum bahagia di wajahnya.


Bibik itu pun keluar dan memanggil empat gadis cantik yang nampak malu-malu bahagia itu.


"Hey Ayo sini makan siang sama-sama," panggil Beby pada empat anggota Rangers itu.


"Duh jadi gak enak nih Beb, gak usah ah, malu sama Pak Bos." ujar Eka dengan wajah menunduk malu. Dua pimpinan di tempatnya bekerja itu tersenyum dengan ramah dan mempersilahkan mereka untuk bergabung.


"Aku bilang juga apa, jangan ke rumah orang saat waktu makan, begini kan jadinya," bisik Anny di kuping Eka yang lumayan terdengar oleh semua orang yang ada di meja makan itu.


"Ya gak apa-apa sayang, anggap rumah sendiri ya," ujar Hanna ramah agar keempat gadis itu merasa nyaman.


"Iya Tante," jawab mereka kompak dan mulai makan dengan malu-malu.


"Aku ambilkan ini ya," ujar Beby Alesha dan mengisi piring suaminya dengan bermacam-macam lauk.


Ia tak tahu makanan kesukaan suaminya tetapi ia berusaha untuk menjadi isteri yang baik.


Nampak sekali ia begitu sibuk mengurus Erick Bramantyo dan tidak sadar kalau sepuluh pasang mata sedang memandangnya.


"Biar aku ambil sendiri sayang, makanlah, kamu perlu energi yang banyak untuk melayaniku nanti. " ujar Erick sembari menatap mata bulat istrinya dengan penuh cinta. Beby Alesha tersipu dan tiba-tiba semua orang tersedak.


"Uhukkkk,"


"Uhukkkk,"


Aksi tatap-tatapan itu terputus oleh gangguan orang-orang yang terpana dengan interaksi mereka berdua.


"Ekhem Maaf, silahkan dilanjutkan makannya," ujar Erick Bramantyo dengan menampilkan wajah cool dan penuh percaya diri.


Ia pura-pura tidak peduli dengan pandangan semua orang. Sedangkan Beby, jangan ditanya bagaimana warna wajahnya sekarang ini.


Semua kembali makan dengan tenang sembari tersenyum-senyum sendiri. Mereka sudah mendapat kesimpulan kalau hubungan dua orang itu sudah mulai membaik.


*Tobe continued


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍 😍

__ADS_1


__ADS_2