Beby Si Wonder Woman

Beby Si Wonder Woman
Bab 113 BSWW


__ADS_3

Eka Setiawati yang sudah dihubungi oleh Beby Alesha langsung memasuki ruangan Wapresdir itu dengan wajah tak terbaca.


"Beb, apa yang terjadi?" tanyanya pada sahabatnya yang sedang menghadapi seorang perempuan sedang terbaring di lantai.


"Aku sudah melumpuhkan tante Linda yang berusaha ingin mencelakaiku." jawab Beby Alesha sembari menepuk kedua tangannya seakan-akan sedang membersihkan debu yang sudah menempel.


"Bagus Beb, biarpun keluarga kalau selalu mau jadi virus yang menggangu sebaiknya memang disemprot hingga mati jangan kasih kesempatan untuk tumbuh," jawab Eka dengan senyum diwajahnya.


"Tapi ngomong-ngomong kamu tidak membunuhnya kan ya?" lanjut Eka dengan wajah sedikit khawatir.


"Gak lah, cuma ditotok sedikit peredaran darahnya bentar lagi pasti siuman."


"Kalau gitu kita apain Tante ganjen mu ini?"


"Aku sudah hubungi om Gibran, aku harap ia segera datang menjemput istrinya yang sudah sakit saraf tingkat akut ini," jawab Beby sembari jarinya ia letakkan di dahinya pertanda khusus. Eka hanya tersenyum dibuatnya.


"Kasihan ya Beb Tante Linda, ia terlalu terobsesi pada cinta yang tidak berbalas hingga akhirnya seperti ini,"


"Iya Ek, tapi menurutku sih itu bukan cinta namanya. Tapi Nafsu,"


"Emang ada bedanya cinta sama nafsu ya?"


"Ya tentu beda lah, cinta itu murni dan suci sedangkan nafsu ya sama aja sih hahahaha," Beby tertawa sendiri dengan penjelasannya yang tidak jelas.


"Dalam cinta pasti ada nafsu Tetapi dalam nafsu belum tentu ada cinta, begitu kali ya?" lanjut Eka sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Udah ah, bahas cinta dan nafsu bikin pusing aja, sekarang aku mau tanya nih dimanakah cintamu itu berada? soalnya mas Erick pusing nyariin Jack tapi itu anak gak pernah muncul, kali aja kamu umpetin di kamar kost kamu atau dimana gitu?"


Deg


Eka tiba-tiba merasa hatinya yang sudah cukup terhibur dengan bertemu sahabatnya ini kini kembali merasa galau lagi.


Sejak terakhir Jack mengantarnya pulang ke kostannya, pria itu sudah tidak pernah lagi menghubunginya. Nomornya pun tak pernah aktif. Tidak ada pesan maupun apapun itu yang ia sampaikan padanya.


"Aku pikir kamu tahu Beb, dimana keberadaan kak Jack sekarang ini?" ujar Eka dengan wajah sendu.


"Hah? jadi kamu juga tidak tahu?"


"Iya, kupikir ia hanya menghindariku saja dan tidak pernah lagi aku Lihat di Perusahaan ternyata kamu juga tidak tahu ya?"


"Iya Ek, mas Erick juga sudah menghubunginya berkali-kali tetapi memang tidak tersambung."


Tok


Tok

__ADS_1


Tok


Percakapan mereka terhenti oleh ketukan beberapa kali dari luar.


"Silahkan masuk," jawab Beby Alesha kemudian berdiri dari duduknya.


"Nak Beby? mana Tantemu?" seorang pria paruh baya memasuki ruang kerja Wapresdir itu dengan wajah khawatir.


"Eh om Gibran. Maaf om kami belum memindahkan tubuh Tante Linda dari sana. Soalnya kami tidak kuat,"


"Tidak apa nak, tantemu ini memang suka membuat ulah dan akhirnya berakhir seperti ini," ujar Gibran dengan wajah malu. Pria itupun membawa tubuh istrinya keluar dari ruangan itu untuk dibawa pulang.


"Sebaiknya om ikat kakinya tante Linda supaya tidak suka berkeliaran seperti itu dan mengganggu orang," ujar Beby Alesha sebagai pesan oleh-olehnya pada pria itu.


"Iya nak, sesampainya di rumah, om benar-benar akan mengikatnya sampai tidak bisa lepas lagi." jawab Gibran dan benar-benar meninggalkan ruangan itu.


"Ya ampun baik banget sih itu si Om, semoga suamiku nanti bisa sesabar itu aamiin," ujar Eka dengan senyum pengharapan di wajahnya.


"Tapi kalau kamu sama Jack sih, pas banget soalnya orangnya sabar dan tidak neko-neko," timpal Beby Alesha yang diangguki oleh gadis itu.


"Tapi masalahnya kak Jack ada dimana Beb, apa jangan-jangan ia sudah menikah sama orang lain dan membuatku menunggu sampai keriting."


"Iya ya, eh beneran lho rambutmu kok sudah keriting beneran, suer deh Ek,"


"Beby!!!!"


"Hahahaha, percaya aja kamu dasar, gegara rindu tuh sama si Jack Andrian yang hilang ditelan bumi." Beby Alesha tertawa dengan tingkah konyol sahabatnya itu. Dalam hati ia berdoa semoga hubungan persahabatan mereka berdua selalu seperti ini dan bahagia selalu.


🍁


"Rick, tolong bantu aku ya?" pinta seorang perempuan cantik dan seksih dengan tangis di wajahnya.


"Pasti kami bantu, bukankah aku memang bekerja dibagian jasa khusus untuk membantu orang yang sedang membutuhkan bantuan."


"Terimakasih Rick kamu baik sekali. Dan maafkan aku karena pergi darimu waktu itu," ujar perempuan cantik yang bernama Dian itu.


"Sudah kumaafkan dan tidak usah dibahas lagi, okey?" jawab Erick dengan wajah santai. Pria itu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kebesarannya dan memutar-mutarnya.


"Tapi aku yang tidak nyaman Rick. Aku selalu membawa rasa sesal ini dalam hidupku dan lihat Jeffrey menyakitiku. Ia tak lagi mencintaiku seperti janjinya dulu,"


"Lalu?"


"Bantu aku agar segera lepas darinya dan kita akan kembali merajut asmara yang pernah kita tinggalkan." jawab Dian dengan penuh percaya diri.


Erick Bramantyo langsung terkekeh dibuatnya. Dengan pandangan sinis, ia berdiri dari duduknya dan mendekati mantan kekasihnya itu.

__ADS_1


"Kamu pikir aku mau barang bekas ya? mantan akan selalu jadi mantan buatku,"


"Tapi Rick, aku menyesal dan kamu tahu kenapa aku kesini diantara banyaknya kantor pengacara terbaik di kota ini?"


"Who cares," jawab Erick mencibir.


"Karena aku ingin memperlihatkan pada Jeffry kalo aku sudah mempunyai calon yang lebih daripada dirinya."


"Percaya diri sekali kamu Dian. Kamu tidak punya rasa malu sedikitpun ya?" tanya Erick dengan wajah jijik.


"Tentu saja aku percaya diri karena aku masih ada di dalam hatimu, iyyakan? dan aku yakin tidak akan pernah ada yang menggantikan aku disini," jawab Dian sembari mengelus lembut kelopak jas yang sedang dipakai oleh pria tampan itu.


Erick tersenyum samar, ia selalu berhasil menghipnotis setiap kliennya hanya dengan memberikan tatapan khusus. Dian mengeluarkan semua isi hati kotornya pada dirinya.


"Aku sudah menikah Dian, dan aku sangat mencintai istriku jadi hentikan niatmu itu," ujar Erick dan meninggalkan perempuan itu yang sedang berusaha menyentuhnya.


"Tidak mungkin Erick! kamu yang berjanji akan selalu menungguku,"


"Cih, kamu pikir aku tidak punya pekerjaan lain selain menunggumu terus. Kamu saja pergi semaumu seperti itu."


"Erick, itu bukan kemauanku, keadaan yang memaksaku,"


"Sudahlah, silahkan cari pengacara lain karena aku tidak mau melihat wajahmu lagi dimanapun, keluar sekarang juga!"


"Erick, kamu mengusirku?"


"Menurutmu? kalau kamu mengerti bahasa, aku yakin kamu tahu maksudku, keluar!"


Perempuan itu akhirnya pergi meninggalkan ruangan itu dengan perasaan marah dihatinya.


"Kamu tahu gak siapa istri Pak Erick Bramantyo?" tanya Dian pada Ratna yang kebetulan ia temui di depan loby kantor itu.


"Iya mbak, namanya nyonya Beby Alesha Ibrahim," jawab Ratna sembari tersenyum ramah.


"Aku mau memberi sebuah kado spesial padanya, boleh aku minta alamatnya?"


"Oh boleh mbak," jawab Ratna kemudian memberikan alamat Bosnya pada perempuan cantik itu.


"Terimakasih banyak ya,"


"Sama-sama mbak,"


*Tobe continued


Mana nih dukungannya untuk karya receh ini, like dan komentar aja sudah bikin Othor senang ya 😍

__ADS_1


__ADS_2