Beby Si Wonder Woman

Beby Si Wonder Woman
Bab 130 BSWW


__ADS_3

"Kita akan siapkan operasi Caesar Bu, karena posisi bayinya cukup berbahaya bagi keselamatan keduanya," ujar dokter yang ikut memeriksa keadaan kandungan perempuan itu. Sinta dan Jihan saling bertatapan dengan perasaan khawatir.


"Lakukan yang terbaik dokter," ujar Sinta pada dokter yang sedang memeriksa kembali kesiapan ibu hamil itu.


"Apa suaminya ada disini Bu?" tanya dokter itu pada Sinta, satu-satunya keluarga yang mendampingi Jihan.


"Iya ada dokter," jawab Sinta dengan cepat.


"Kalau begitu silahkan minta suaminya mengurus administrasinya Bu, karena ada beberapa dokumen yang harus ditandatangani sebagai persetujuannya untuk tindakan yang akan kami ambil," jelas dokter itu kemudian segera mempersiapkan segala sesuatunya.


Sinta pun keluar dari ruangan itu dengan perasaan sedih dan khawatir. Tubuhnya yang sudah tidak kuat seperti dulu lagi mana bisa mengurus segala sesuatunya sendiri.


Randy yang sejak tadi mengikuti kemana Jihan dan perempuan paruh baya itu segera menghampiri Sinta.


"Ada yang bisa saya bantu Ibu?" tanyanya dengan sopan.


"Ah iya, apa kamu dokter atau perawat di sini nak?" tanyanya balik sembari memperhatikan penampilan Randy yang masih sangat rapih dengan setelan jasnya karena telah menghadiri pernikahan sahabat Eka.


"Bukan Bu. Aku hanya keluarga pasien. Kalau ibu butuh bantuan, silahkan katakan saja ibu," ujar Randy dengan senyum diwajahnya.


Saat ini pria itu akan berada di sini mendampingi perempuan itu untuk melahirkan. Ia akan membantu sebisanya karena ia ingin membuktikan sesuatu.


"Sinta, bagaimana keadaan Jihan?" tanya Kartika yang baru saja tiba di tempat itu. Kaki tua dan rematik yang diidapnya membuatnya baru tiba karena harus berjalan pelan agar sampai ke ruang bersalin.


"Jihan harus Caesar kak, bayinya sungsang. Dan sekarang dokter memintaku untuk mengurus administrasinya," jawab Sinta dengan wajah sendu.


"Kalau begitu urus sekarang juga supaya putrimu cepat mendapatkan tindakan," ujar Kartika sembari duduk disamping adiknya itu.


"Biar aku saja Bu, kalian berdua duduk saja dengan tenang disini. Istirahatlah. Ini sudah sangat larut." timpal Randy dan segera meninggalkan kedua perempuan paruh baya itu yang memang butuh istirahat.


Perjalanan sekitar 3 jam dari kampungnya menuju Rumah sakit ini saat mendengar kalau Jack kecelakaan membuat tubuh yang sudah mulai uzur itu perlu istirahat.


"Siapa dia San?" tanya Kartika pada adik perempuan sekaligus besannya itu.


"Aku tidak tahu kak, tapi aku bersyukur ada orang baik yang mau menolong kita di sini. Kakiku sudah tidak kuat untuk mengurus ini dan itu. Semoga kebaikannya dibalas oleh Tuhan," jawab Sinta kemudian menyadarkan punggungnya ke sandaran kursi di ruan tunggu itu.


"Apa anda suami pasien atas nama Nyonya Jihan?" tanya seorang perawat di bagian administrasi.

__ADS_1


"Iya, aku suaminya," jawab Randy cepat meskipun ia yakin kalau ia sedang berbohong saat ini.


"Tanda tangan di sini pak, dan ini contoh sampel darah dari istri anda. Silahkan anda cari dan cek di bank darah, semoga saja persediaan darah disana ada ya pak," ujar sang perawat dengan ramah.


"Terimakasih sus, permisi." Randy pun segera mencari persediaan darah yang dibutuhkan oleh Jihan dan syukurlah darah yang ia butuhkan ada di sana.


"Bagaimana nak, apa semuanya sudah beres?" tanya Sinta pada Randy yang sudah kembali duduk di samping mereka berdua.


"Iya ibu. Alhamdulillah semuanya lancar dan mudah. Sekarang Jihan sementara dioperasi."


"Kamu baik sekali nak, apa kamu malaikat yang diturunkan untuk membantu kami? sedangkan suaminya tidak bisa berbuat apa-apa karena juga sedang sakit," ujar Sinta dengan pandangan takjub pada pria tampan di hadapannya.


"Aku bukan malaikat ibu," jawab Randy sembari menundukkan wajahnya.


*Aku bukan malaikat tapi aku adalah iblis yang nyata.


Aku yang merebut keperawanan putrimu dan kemungkinan besar anak yang ada di dalam kandungannya adalah anakku*.


Flashback on


"Traktir kami dengan minum-minum Ran," ujar salah satu kawannya di Perusahaan tempatnya bekerja.


"Aku bisa traktir yang lain tapi jangan minum-minum ya, berbahaya soalnya," jawab Randy waktu itu tetapi kata-katanya tidak didengarkan oleh teman-temannya.


"Ah cemen kamu, pengusaha sukses kok gak pernah minum sih, sekali aja gak apa Ran, itung-itung coba-coba gitu," ujar yang lain memberi semangat.


Randy dilema. Ia sungguh tidak mau melakukan ini tetapi paksaan teman-temannya membuatnya tidak bisa menolak.


"Baiklah, tapi aku tidak minum ya, aku gampang pusing sih soalnya," ujar Randy akhirnya dan menyetujui keinginan teman-temannya.


Mereka pun masuk ke tempat yang terkenal sebagai tempat yang sangat berbahaya itu. Randy merapalkan do'a agar ia terhindar dari godaan yang pastinya menyesatkan.


Hingar bingar musik di dalam ruangan remang-remang itu membuatnya ingin kabur dari sana. Ia merutuki dirinya sendiri yang mau saja dijadikan alat oleh teman-temannya. Padahal seharusnya bisa ia tolak dengan tegas.


"Ran minum dong, masak ada disini seteguk pun kamu tak mau," ujar Kemal sembari menyodorkan satu sloki minuman berwarna kuning.


"Maaf ya, aku sudah bilang tidak mau ya tidak mau, kalian saja yang minum," tolak Randy kemudian segera berdiri dari duduknya.

__ADS_1


"Ran kamu mau kemana? jangan pulang ya, nanti siapa yang bayar semua ini?" teriak yang lainnya takut kalau Randy pergi dan berakhir mereka yang membayar semuanya.


"Tidak, aku masih di sini kok. Nanti aku bayar semuanya." jawab Randy kemudian mengedarkan pandangannya mencari satu tempat duduk sepi yang bisa ia tempati untuk tidur atau apa saja asalkan tidak bergabung bersama dengan teman-temannya itu.


"Jihan ayok sayangku," ujar seorang gadis seksih pada seorang gadis lainnya yang ternyata baru sampai di tempat itu.


Randy yang sudah siap memasang headset dikupingnya malah tidak jadi karena tiba-tiba tertarik dengan pembicaraan kedua gadis seksih itu.


"Gak ah, aku maunya duduk di sini aja," jawab seorang yang bernama Jihan itu.


"Eh, om Gibran sudah menunggu kamu Jihan, jangan sia-sia kan kesempatan ini." ujar gadis itu lagi.


Randy hanya bisa menggelengkan kepalanya bingung dengan para gadis-gadis yang tidak punya kerjaan lain di rumahnya. Dan lebih memilih mencari kepuasan di tempat seperti ini.


"Gak ah, aku takut. Aku mau pulang saja ya," ujar Jihan sembari meremas kepalanya yang ia rasakan tiba-tiba pusing.


"Kalau gitu pulang aja sendiri! katanya mau melupakan sepupumu itu, kok takut sih," ujar gadis bergaun sangat minim itu.


"Clara, kamu kasih apa sih ke minumanku, aku kok pusing begini ya," ujar Jihan menggerutu sembari mengernyit merasakan kepalanya yang seakan mau pecah.


"Aku kasih obat supaya kamu bisa melupakan Jack Andrian, move on dong. Ada om-om kaya yang menunggu kita di atas, Ayok," ajak gadis itu lagi dan membuat jiwa kemanusiaan Randy memberontak untuk menolong.


"Maaf, aku yang akan bawa Jihan untuk pulang, kamu lanjutkan saja rencanamu," ujar Randy berlaku sok akrab padahal ia juga tidak mengenal gadis yang bernama Jihan ini. Yang penting ia harus menolong gadis itu.


"Ya udah, tapi beri aku tip yang banyak. Aku tidak mau kena marah sama mucikari itu." ujar Clara sembari menengadahkan tangannya ke depan Randy.


"Astaga, kamu mau menjualku Clara, brengsek kamu!" teriak Jihan kemudian jatuh ke atas meja karena sudah tidak tahan dengan pengaruh obat yang ia minum dari Clara.


Randy pun memberikan beberapa lembar rupiah pada gadis yang bernama Clara itu dengan wajah tanpa ekspresi.


Ia tidak menyangka akan menghabiskan uang untuk hal-hal yang tidak berguna seperti ini. Padahal ia berniat untuk menabung dan mencari Eka Setiawati, kekasih hatinya untuk ia lamar.


"Terimakasih kasih ya, aku harap Jihan bisa mengganti uangmu ini dengan cara yang lain," ujar Clara kemudian meninggalkan Randy yang menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


*Tobe continued


Bentar kita lanjut ya gaess, like dan komentarnya dong supaya aku semangat lagi untuk update, hehehe.

__ADS_1


__ADS_2