
"Beb boleh minta tolong gak?" bisik Hany di kuping Beby Alesha sang sahabat.
"Boleh lah, gak usah sungkan. Ada apa emangnya?" tanya Beby Alesha balik.
"Tadi pagi tuh aku kan rencana mau tes wawancara di sebuah perusahaan real estate di daerah Xx gitu, nah aku tidak sengaja nyerempet mobil karyawan di sana, sekarang ia minta ganti rugi Beb dan aku tidak punya uang, ngerti kan?" jelas Hany dengan wajah sedih.
Matanya masih betah menatap sebuah pesan singkat di handphonenya dengan senyum kecut.
"Jangan khawatir deh Han, kita kah sahabat jadi tentu saja kekhawatiranmu adalah kekhawatiranku juga sayang," jawab Beby kemudian merengkuh bahu Hany yang masih melorot sedih.
"Tapi kayaknya banyak deh Beb, mobil mahal lho?"
"Ih gak apa-apa. Mau dibayar sekarang atau gimana kata orangnya."
"Tunggu aku balas dulu ya pesannya." ujar Hany dengan perasaan lega karena ada sahabatnya yang sudah mau mengeluarkannya dalam masalah.
Jarinya pun dengan lincah mengetik-ngetik balasan dan tak lama kemudian datanglah pesan dari Yudhis, pria yang sudah dirusak mobilnya oleh motor bututnya.
"Nih katanya sore ini orang itu menunggu aku di Mall ini." ujar Hany sembari memperlihatkan pesan singkat tersebut.
"Aneh, kok janjiannya di Mall sih, bukannya di bengkel resmi gitu," ujar Beby dengan kening mengernyit.
"Ya kali aja aku mau ditraktir dulu kan baru disuruh bayar utang," jawab Hany dengan senyum diwajahnya.
"Ya mungkin saja, jadi mau pergi sendiri atau aku temenin?"
"Temenin lah, aku mana tahu harga perbaikan mobil jangan-jangan cuma kerusakan seuprit, trus malah aku disuruh bayar sekian jeti, kan parah tuh urusannya."
"Okey deh kita bersiap sekarang ya "
"Okey sipp."
Mereka berdua pun berpamitan pada 3 Rangers yang lainnya.
"Kita pergi dulu ya, kalian siapkan saja pesta untuk sebentar malam, aku dan Hany akan keluar sebentar dan akan bawa makanan ke rumah ini."
"Oke deh cepat pulang ya?"
__ADS_1
"Insyaallah."
Mereka berdua pun berangkat ke arah Mall tempat mereka janjian dengan Yudhis pemilik mobil itu.
"Maaf udah lama ya pak Yudhis?" tanya Hany berbasa-basi ketika baru sampai di tempat itu. Sebuah Restoran tempat mereka dulu Bertemu.
Yudhistira mendongak dan melihat gadis itu muncul bersama gadis lain yang pernah berdebat dengannya waktu itu.
Wah gawat! bisa-bisa rencana aku gagal nih. batin Yudhis sedikit khawatir.
"Eh, sudah datang kamu? aku juga baru sampai kok, silahkan duduk." jawab Yudhistira dengan wajah tiba-tiba yang nampak gugup.
"Iya terimakasih Pak," jawab Hany dan mengajak Beby untuk duduk juga di sampingnya.
"Oh anda? kebetulan sekali ya," ujar Beby Alesha sembari memandang wajah Yudhis yang nampak berusaha menguasai perasaannya.
Beby Alesha jadi teringat saat ia menghampiri meja Erick Bramantyo waktu itu.
Ia yang berniat menolak traktiran pria menyebalkan itu dan malah berakhir pria inilah yang membayar semua makanan mereka padahal Beby sudah menolak mati-matian.
"Ah ya dan kalian tidak perlu memanggil aku dengan bapak, aku jadi merasa sangat tua hehehe," kekeh Yudhis berusaha menyembunyikan perasaannya.
Pria itu takut teman Hany ini bisa menebak apa motifnya dengan semua ini.
"Baik pak, eh mas atau aku panggil siapa nih," ujar Beby berbasa-basi karena sedari tadi mereka bertiga hanya diam sembari mengaduk-aduk minuman yang baru diantar oleh waiters.
"Panggil senyamannya saja," jawab Yudhis sembari menatap Hany yang juga sedang menatapnya. Beby langsung tersedak karena mulai mengerti permasalahan yang sebenarnya.
"Eh maaf karena teman saya malu bertanya berapa utang yang harus dibayarnya, jadi aku langsung saja ya, berapa kerugian mas Yudhis atas kerusakan mobilnya."
Yudhistira merasa tak nyaman sendiri dengan situasi ini karena sebenarnya ini diluar rencananya.
Ia hanya ingin bertemu dengan gadis manis itu dan ingin memberikan penawaran tetapi sepertinya ini akan berat karena Hany malah membawa bantuan.
"Tidak usah dibayar aku hanya ingin Hany masuk bekerja di Perusahaan kami karena ia lolos tes wawancara tadi pagi." jawab Yudhistira sekenanya karena ia jadi tidak punya alasan lain.
Dan ia yakin teman Hany ini orang kaya dan pasti bisa membayar kerugiannya yang hanya sedikit itu. Hanya goresan tapi ia berniat untuk mengintimidasi gadis itu.
__ADS_1
"Ah yang benar pak?!" teriak Hany dengan suara melengking gembira. Hingga para tamu yang lain di Restauran itu memandang mereka bertiga termasuk Erick Bramantyo yang sedang bersama seseorang di tempat itu juga.
"Tentu saja, kamu kan jago menjawab pertanyaan-pertanyaan sewaktu wawancara tadi." jawab Yudhistira dengan senyum samar diwajahnya.
Hany melompat dengan ceria sambil mengajak Beby dan Yudhistira bersulang.
"Cheers makasih Pak Yudhis, semoga urusan anda lancar dan niat anda baik," ujar Beby Alesha yang langsung mendapat tatapan tak terbaca oleh pria itu.
Dan sekali lagi Erick Bramantyo merekam momen yang membuat darahnya mendidih seketika itu. Entah kenapa ia sangat tak suka kalau ada pria lain yang menatap gadis pujaannya yang selalu menampakkan wajah tak bersahabat itu padanya.
Sedangkan Yudhistira sendiri meremas tengkuknya gelisah. Ia yakin teman Hany ini tahu apa maksudnya menagih utang dan pada akhirnya malah memberikan pekerjaan pada sahabatnya.
"Ah iya sama-sama, kamu sudah bisa masuk bekerja mulai besok," ujar Yudhis sembari meminum minumannya.
"Terimakasih Pak, aku akan datang cepat dan tak akan terlambat lagi," jawab Hany sembari membungkukkan badannya sopan.
"Ayo silahkan dinikmati, makanannya aku yang traktir." ujar Yudhis dengan senyum diwajahnya.
"Aku harap ini murni panggilan kerja ya Pak," ujar Beby pelan sembari menyantap makanannya dan mengedarkan pandangannya kearah meja Erick Bramantyo yang juga sejak tadi memandang ke arahnya.
Beby tersenyum lebar untuk pertama kalinya pada pria yang sangat ia benci itu. Ia lantas mengangkat sendoknya ke depan wajahnya, memberikan kode kalau ia sedang menikmati makanannya.
"Tumben gadis itu nampak manis sekali hari ini," ujar Erick Bramantyo pelan.
"Maksud kamu?" tanya gadis cantik yang sedang makan bersamanya itu. Mata gadis itu ikut memandang kemana arah pandangan pria yang sedang ingin ia raih hatinya itu.
"Siapa dia Kak Erick?" tanya gadis itu lagi dengan wajah berubah tegang. Ia tak mau ada wanita lain dalam pandangan Erick. Hanya dia seorang yang harus ada dalam pikiran dan juga mata pria tampan ini.
Erick Bramantyo tidak menjawab ia hanya terus menatap Beby Alesha sampai gadis itu menarik matanya karena tak kuat bertatapan.
Aku harus manis padamu Pak Erick Bramantyo untuk yang terakhir kalinya karena besok aku akan dilamar oleh orang lain jadi Papa dan Mama tidak punya alasan lagi untuk menerimamu. Batin Beby Alesha dengan gembira.
*Tobe continued
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya, okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍
__ADS_1