
Fadhil Akifah Anshar memanggil Eka Setiawati ke ruangannya. Ia ingin tahu banyak informasi tentang kepergian Anny Ahnisar ke kampung halamannya beberapa hari yang lalu.
"Apa sahabatmu itu ada masalah di kampung sampai sudah seminggu tak masuk bekerja?" tanyanya pada Eka.
"Iya Pak, Anny kan sudah mengajukan cuti. Ayahnya sakit keras dan ia ingin merawatnya sampai benar-benar pulih." jawab Eka sembari menjalin jari-jarinya di bawah meja.
"Sakit keras?" tanya manager itu lagi dengan wajah berubah khawatir.
"Iya Pak, sudah seminggu ini dirawat di Rumah Sakit dan rencananya akan dirujuk ke kota ini karena belum juga mengalami perubahan."
"Oh, kasihan sekali. Sebaiknya memang harus dibawa ke Rumah sakit yang lebih lengkap fasilitasnya."
"Eh, ngomong-ngomong kamu sudah mengunjunginya di kampungnya?"
"Sudah pak, kemarin, Pak Erick dan istrinya juga ikut."
"Wah kamu tega ya tidak bilang-bilang sama saya,"
"Maaf Pak, saya tidak tahu kalau bapak juga ingin kesana." jawab Eka dengan senyum meringis. Ia jadi tidak tega menceritakan kalau Anny Ahnisar sebentar lagi akan menikah dengan jodoh pilihan orangtuanya.
"Berikan alamat rumah sakitnya padaku, aku kebetulan tidak ada kerjaan sampai besok, aku akan kesana."
"Tapi Pak,"
"Kenapa? apa aku tak boleh menjenguk ayahnya?" Manager muda itu menatap Eka dengan pandangan tanya. Eka sekali lagi tersenyum meringis.
"Ah tidak, baiklah saya akan tuliskan nama Rumah sakitnya." jawab Eka dengan perasaan tak nyaman. Ia sungguh tak ingin pria baik ini kecewa terlalu dalam dan untungnya Anny juga belum pernah membalas cintanya.
"Terimakasih ya, apa kamu ingin menitip pesan sama sahabatmu itu?" tanya Fadhil Akifah setelah Eka menulis alamat rumah sakit tempat ayah Anny dirawat.
"Katakan saja pada sahabatku itu, kalau ia harus mendengarkan kata hatinya."
Fadhil Akifah Anshar sang manager langsung mengernyit bingung. Ia tidak mengerti akan ucapan Eka Setiawati barusan, tapi ia tidak mau bertanya lagi. Ia hanya tersenyum melihat kertas itu dan segera membereskan laptop dan berkas-berkas ke dalam tasnya.
__ADS_1
Pria itu rindu pada Anny Ahnisar yang sudah seminggu ini tidak bertemu. Dan ia sudah bertekad akan menjenguk ayah gadis itu sekalian melamarnya.
Eka yang sudah memberikan informasi yang dibutuhkan oleh manager itu kemudian keluar dari ruangan itu dengan langkah cepat sampai ia tak sengaja menabrak tubuh tinggi tegap di depan pintu.
"Eh, Pak Jack?"
"Ada urusan apa kamu di dalam ruangan Pak Fadhil?" tanya Jack Andrian dengan pandangan tajam. Setahunya Eka yang seorang karyawan di Divisi Marketing tak perlu punya urusan di Divisi ini.
"Oh, ada urusan pribadi, Pak."
"Maksud kamu?" tanya Jack dengan perasaan tak nyaman dihatinya karena jawaban itu.
"Eh maksud aku, Pak Fadhil menanyakan hal pribadi yang bukan urusan pekerjaan pak," jawab Eka sembari meremas jari-jarinya karena merasa jawabannya mungkin tidak tepat.
"Apa itu?" tanya Jack dengan wajah datar tapi tidak memberikan jalan untuk gadis itu pergi.
"Pak Fadhil ingin mengunjungi Anny Pak di kampungnya."
"Oh," jawab Jack singkat. Wajahnya berubah cerah karena yang ia pikirkan ternyata tidak benar.
"Eh,"
"Lanjutkan pekerjaanmu, dan tunggu aku saat pulang nanti. Kita pulang sama-sama." Jack Andrian meninggalkan Eka dan masuk ke ruangan Fadhil Akifah Anshar sang manager Divisi Humas. Wapresdir memintanya membawakan beberapa berkas MOU yang harus ditangani oleh manager itu.
Eka hanya menarik nafas panjang dengan tingkah Jack Andrian yang begitu datar dan tak bisa ia lukiskan dengan kata-kata itu.
Tapi bagaimanapun juga hatinya selalu berdebar kencang setiap ia bertemu dengan pria dingin itu.
🍁
Fadhil Akifah Anshar melajukan mobilnya ke Kabupaten S dengan hati riang. Ia berharap bisa bertemu dengan gadis pujaannya itu dan segera melamarnya di depan ayah dan ibunya.
Ia tak perduli lagi kalau gadis itu belum membalas perasaannya. Baginya cinta harus diperjuangkan dan ia tak ingin jadi pria pasif lagi.
__ADS_1
Orangtuanya sudah tak berhenti menanyakan kapan ia membawa calon istri ke rumah mereka, dan inilah saatnya ia akan memberikan apa yang orangtuanya minta.
3 jam perjalanan ia tempuh dengan semangat 45. Rasa lelah tak ia rasakan demi bertemu dengan sang kekasih hati.
Kembali ia menatap kertas kecil yang ditulis oleh Eka tadi pagi. Langkahnya ia percepat ke arah ruang perawatan Sakura no. 6. Kedua tangannya sudah penuh dengan hadiah dan oleh-oleh yang ia bawa dari ibukota.
"Assalamualaikum." sapanya saat ia berhasil mendorong pintu kamar perawatan itu dengan menggunakan lengannya.
"Waalaikumussalam warahmatullahi." jawab semua orang yang ada di dalam kamar itu.
Ada perasaan hancur saat pandangan matanya tertumbuk pada dua orang yang sedang duduk berdampingan di depan sosok tubuh lemah yang sedang berbaring itu.
"Pak Fadil?" Anny menatap tak percaya sosok yang berdiri di depan pintu kamar perawatan ayahnya.
"Silahkan masuk nak," panggil Indah pada tamu yang sepertinya dikenal oleh putrinya itu.
Fadhil Akifah Anshar memasuki ruangan itu dengan wajah tak terbaca. Pandangannya terus tertuju pada Anny yang sedang duduk dengan seorang pria muda di depan pasien yang ia yakini adalah ayah dari Anny Ahnisar.
"Bagaimana pak ibu, kita lanjutkan acara akad nikahnya?" tanya bapak penghulu yang sudah lama duduk di sisi yang lain.
Anny tidak menjawab tetapi bola matanya yang berkaca-kaca menatap atasannya yang baru masuk itu dengan perasaan remuk. Fadhil Akifah tahu ada hal yang tak beres disini.
"Maaf pak penghulu, apa halal seorang perempuan menikah lagi saat ia sebenarnya masih sah sebagai istri orang lain?" tanya Fadhil Akifah dengan emosi diwajahnya.
"Tentu tidak pak, itu haram hukumnya." jawab penghulu itu dengan suara tegas.
"Kalau begitu, jika pernikahan ini terjadi maka hukumnya adalah haram pak. Karena Anny Ahnisar binti Wahyu ini adalah istri saya." ujar Fadhil Akifah Anshar sembari menatap tajam bola mata Anny yang sedang menahan tangis itu.
"Apa maksudnya ini?!" teriak Murni, ibu dari Adi yang sangat menginginkan Anny sebagai menantunya.
"Anny, apakah itu benar nak?" tanya Wahyu pada putrinya yang hanya bisa diam dan menyusut airmatanya. Perlahan gadis itu mengangguk dengan bahu bergetar. Ia menggigit lidahnya dan memohon ampun pada Tuhan karena sudah berbohong pada semua orang.
*Tobe continued
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍