Beby Si Wonder Woman

Beby Si Wonder Woman
Bab 64 BSWW


__ADS_3

Sore itu Yudhistira memaksa Hany Khumaira menghadiri ulang tahun mamanya. Niatnya adalah ingin memperkenalkan gadis itu sebagai kekasih hatinya.


"Maaf Pak, tapi aku belum belum siap dan juga tidak bawa kado," tolak Hany dengan halus.


Gadis itu sudah tahu maksud dari pria yang menjadi atasannya ini tapi ia belum bisa menerima ungkapan perasaan darinya.


Hatinya belum sepenuhnya percaya kalau orang seperti Yudistira, pemilik perusahaan besar di kota besar ini menyukainya dengan tulus.


Gadis cantik itu setipe dengan Beby Alesha sahabatnya yang tidak gampang percaya kepada yang namanya laki-laki.


Terkadang mereka berdua menganggap cinta itu bulshit atau omong kosong.


Gadis itu perlu pembuktian secara nyata baru ia bisa tertarik pada lawan jenis.


"Gak usah bawa kado, Han," bujuk Yudhis dengan sabar.


Pria itu masih terus saja berharap meskipun gadis yang ia angkat sebagai sekretarisnya ini masih belum juga memberi jawaban.


"Tapi pak," Yudhistira tidak menggubris lagi apapun alasan dari gadis itu, yang terpenting sekarang adalah ia harus membawa gadis cantik ini untuk bertemu dengan Mama dan Papanya.


🍁


Hany dengan langkah canggung memasuki rumah mewah dan sangat luas milik orang tua Yudhistira sang bos.


"Ayo, jangan malu-malu, aku disini bersama kamu," ajak Yudhis dengan senyum diwajahnya.


"Ah, iya," jawab Hany singkat sembari mengikuti langkah pria itu ke dalam rumah.


Happy Birthday to you


Happy Birthday to you


Happy Birthday to Mama Happy birthday to you


Lagu ucapan selamat ulangtahun dari semua anggota keluarga itu mengalun dengan indah dan kompak.


Setelah itu tepuk tangan bergema di dalam ruangan yang luas dan mewah itu.


"Ma selamat ulangtahun ya, semoga panjang umur dan makin sayang sama Papa dan aku," ucap Yudhistira sembari meraih perempuan cantik itu ke dalam pelukannya.


"Terimakasih banyak sayang, sekarang mana kado Mama yang kamu janjikan itu," jawab Virly Ramli dengan wajah sumringah bahagia.


"Ini kado untuk Mama, kubawakan calon menantu yang sangat cantik untuk rumah ini."

__ADS_1


Yudhistira meraih tangan Hany Khumaira dan menunjukkannya pada sang Mama. Gadis cantik itu tersenyum lembut kemudian melangkah maju dan meraih tangan perempuan cantik itu dan menyalaminya.


Seketika wajah Virky Ramli berubah warna tetapi dengan cepat ia menyembunyikannya dari putranya.


"Oh hai, nama kamu siapa?" tanyanya berbasa-basi.


"Saya Hany Khumaira Bu," jawab Hany sembari menunjuk dirinya sendiri.


"Sudah lama kenal sama putra saya?" Hany tersenyum kemudian menggeleng pelan.


"Belum Ibu, baru sekitar 2 bulan."


"Oh, gitu ya? sekarang silahkan kamu nikmati pestanya, makanan dan minuman ada di sebelah sana," ujar Frliy Ramli dengan wajah tanpa ekspresi.


Hany jadi merasa tak nyaman. Ia sempat percaya diri kalau kedatangannya akan disambut dengan hangat atau gembira tetapi ternyata tidak, semuanya datar saja dan tidak ada yang istimewa tetapi ia berusaha berpikir positif.


Toh ia hanya seorang tamu yang dipaksa datang dan tamu yang harus tahu diri.


"Selamat ulang tahun Bu, semoga panjang umur dan sehat selalu." ujar Hany dengan wajah canggung. Ia malu karena tidak membawa kado untuk sang tuan rumah.


"Terimakasih Han, nikmati pestanya ya," Hany pun pamit untuk mencari tempat untuk duduk karena ia sepertinya tidak diharapkan bergabung dengan keluarga inti yang sedang berbagi bahagia itu.


"Han, kamu di sini aja," ujar Yudhis sembari menarik tangan gadis itu.


"Ah ya, duduklah di sana dan aku akan segera menyusul, okey?" Hany mengangguk sembari tersenyum.


Yudhistira memandang punggung gadis yang ia sayangi itu dari jauh kemudian ia menghampiri mamanya yang sedang memotong kue untuk diberikan kepada suaminya dan juga kepada dirinya.


"Ma, aku temenin Hany ya," ujar Yudhis sembari menerima sepotong kue dari mamanya. Ia ingin membawakan kue itu gadis pujaan hatinya.


"Makan dulu kuenya, itu untuk kamu dan bukan untuk gadis itu," ujar Firly dengan suara berubah ketus.


"Mama? kok ngomongnya gitu sih, aku akan motong sendiri, kan masih banyak."


"Hey jangan! kue itu kue yang sangat mahal dan hanya untuk keluarga inti saja."


"Mama?" Yudhistira menatap wajah mamanya dengan pandangan kecewa.


"Jangan menatapku seperti itu, kamu kok sepertinya tak tahu cara memilih calon istri sih, bikin malu mama saja," Firly Ramli berlalu dari hadapan putranya yang sedang bengong tak percaya dengan kata-kata mamanya.


"Pa?" Yudhistira menatap papanya meminta pertolongan.


"Sabar, mamamu hanya mau yang terbaik untukmu. Istrimu haruslah yang terbaik karena ia yang akan mendampingimu selamanya dalam karir maupun rumahtangga. Pikirkan baik-baik." Ramli menepuk bahu putranya pelan.

__ADS_1


Yudhistira tak bisa berkata-kata lagi. Ternyata pilihannya bukanlah termasuk kriteria yang diinginkan oleh Papa dan Mamanya. Dengan langkah gontai ia menghampiri Hany Khumaira dan memberikan sebuah piring kecil berisikan kue ulangtahun Mamanya.


"Coba deh, ini dari Mama," ujar Yudhis tersenyum. Ia telah berbohong untuk menyenangkan gadis itu.


"Terimakasih Pak," Hany meraih piring berisikan sepotong kue lezat itu dengan balas tersenyum.


"Kuenya enak Pak," ujar Hany setelah menyicipi dan bahkan menghabiskannya dalam sekejap. Yudhistira hanya tersenyum meringis.


"Kamu mau makan apalagi biar aku ambilkan,"


"Pak Yudhis, jangan seperti itu. Aku bawahan bapak gak enak dilihat sama semua orang."


"Tidak apa Han, sekarang bukan lagi di lokasi kantor jadi kamu bukan bawahanku, kamu tamu spesialku," Yudhis kembali tersenyum dan berdiri untuk mengambilkan minuman dan kue lainnya.


Hati Hany Khumaira menghangat akan perhatian bosnya itu.


Pria yang selama ini begitu suka mengintimidasinya di kantor dan sekarang malah melayaninya dengan sangat manis.


"Putra saya bukan pelayan kamu ya," Firly Ramli muncul di depan mereka berdua dengan tatapan tak ramah.


"Mama..."


"Jabatan kamu apa sih di kantornya Yudhistira sampai ia kamu buat sebagai pelayan yang melayanimu seperti ini?" sarkas Firly Ramli dengan bibir mencebik kesal.


Sedari tadi ia perhatikan putranya itu sibuk mengambilkan ini dan itu untuk gadis yang asal-usulnya saja sangat tak jelas.


Wajah Hany Khumaira langsung berubah tak nyaman. Jelas sudah kalau ia sebenarnya mendatangi tempat yang salah. Tempat yang tidak menerimanya dengan baik.


Gadis itu menarik nafas panjang untuk melepaskan kekecewaan dalam hatinya.


"Maafkan saya Bu, karena tak tahu diri kalau hanya karyawan rendahan dan tak pantas mendapat perlakuan istimewa dari Pak Yudhis, maafkan saya Bu, saya permisi." ujar Hany tanpa basa-basi lagi. Ia tidak bisa menunjukkan wajahnya yang tebal dan pura-pura tidak tahu kalau ia tak dinginkan di dalam rumah itu.


"Han, aku akan mengantarmu, jangan kemana-mana, okey? aku ambil kunci mobil dulu." Yudhistira tidak memperdulikan tatapan tajam mamanya. Ia sudah cukup malu sama Hany karena perempuan yang sangat dicintai dan dihormatinya itu.


"Jaga jarak dengan putraku ya," ujar Firly Ramli dan meninggalkan Hany yang mengangguk sopan.


Iya Ibu, mulai sekarang aku akan menjaga jarak dari putramu.


*Tobe continued


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya, Okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2