
Yudhistira menghentikan serangannya karena melihat sang istri nampak sangat kesakitan. Pria itu mulai memberikan sentuhan-sentuhan lembut agar Hany bisa santai. Ia memang sangat terburu-buru sekali sampai lupa diri.
"Han, aku lanjut ya sayang?" tanya Yudhistira saat istrinya sudah mulai menatapnya dengan pandangan sayu, memohon agar ia memberikan lebih dari pada sebuah sentuhan.
"Aaaaaakh massss," kembali Hany mendessah dengan memanggil namanya dengan suara yang sangat syahdu. Pria dominan itu semakin dibuatnya diatas angin. Ia mengayuh dengan ritme cepat hingga keduanya sampai ke puncak bersama dan turun pelan-pelan dengan senyum yang sangat puas.
"Makasih sayangku, kamu lezat sekali Han," bisik Yudhistira kemudian jatuh tertidur di samping tubuh istrinya.
🍁
Pagi pun datang menyinari bumi. Semua orang bangun dengan segala harap bahwa hari ini akan lebih baik daripada hari sebelumnya.
Hany dan Yudhistira sudah bangun dan melakukan ritual sholat subuh berjamaah. Mereka mengucap banyak syukur pada Tuhan karena ibadah mereka sudah menyempurnakan ibadah mereka.
"Han, aku ingin berterima kasih padamu," ujar Yudhistira saat Hany mencium tangannya selesai berdoa.
"Terimakasih untuk apa mas," jawab Hany masih dengan wajah malu-malunya. Ia belum berani menatap wajah suaminya sejak bangun dari tidurnya.
"Karena semalam kamu benar-benar membuatku sangat bahagia sayangku, dan sekarang aku ingin minta lagi bolehkan?" Pria itu mulai mendekatkan lagi tubuhnya pada sang istri yang masih menggunakan mukena itu.
"Ih mas, masih sakit, nanti aja ya," jawab Hany dengan perasaan yang tiba-tiba gugup.
"Han, kalau diulang lagi gak akan sakit, aku akan pelan-pelan ya sayang," bisik Yudhistira kemudian meraih bibir sang istri dan menyentuhnya dengan sangat lembut. Dan tak lama kemudian ia pun sudah berhasil mengangkat tubuh sang istri ke atas ranjang. Mereka berdua ingin mengulangi kegiatan semalam untuk saling mengenal lebih dekat.
Sementara itu di kamar lain di tempat yang lain.
Drrrt
Drrrt
Drrrt
Eka menggeliat pelan karena merasa terganggu dengan panggilan telepon yang masuk ke handphonenya. Setelah berusaha mengumpulkan nyawanya ia kemudian melihat panggilan dari nomor yang tidak ia kenal.
__ADS_1
"Ih siapa sih? pagi-pagi begini udah gangguin orang saja," ujarnya sembari merapikan rambutnya dan masuk ke kamar mandi. Ia mandi dan bersuci kemudian melaksanakan sholat subuh.
Drrrt
Drrrt
Handphonenya berbunyi lagi saat ia selesai melakukan ritual doa pada ibadah dua rakaat itu.
"Assalamualaikum, ini Eka ya?" sapa suara pria dari seberang sana.
"Waalaikumussalam, siapa ya?" balas Eka dengan pertanyaan yang lain.
"Udah sholat belum? aku berhasil membangunkan kamu ya,"
"Iya makasih banyak, tapi ini siapa ya?" Eka masih berusaha menerka-nerka suara pria itu yang membuat keningnya berkerut.
"Aku Randy, semalam kamu beri aku nomor teleponmu, ingat gak?"
"Gak apa-apa. Kamu save nomorku ya, maaf ganggu pagi-pagi. Silahkan lanjutkan aktivitasmu aku juga udah mau siap-siap kerja nih," ujar Randy dengan nada ceria.
"Iya Ndy, makasih udah bangunin aku, bye assalamualaikum," ujar Eka kemudian segera menutup panggilan telepon itu.
"Waalaikumussalam warahmatullahi, semoga harimu menyenangkan," tutup Randy dengan senyum cerahnya pagi itu. Dadanya berdebar hebat karena bahagia. Gadis yang selama ini ia rindukan ternyata bisa bertemu lagi. Ia berharap ia bisa mendapatkan hati gadis itu.
"Kak Eka, udah sarapan belum?" tanya Santi saat melihat Eka keluar dari kamarnya.
"Belum, ini baru mau buat sarapan," jawab Eka sembari berjalan ke arah dapur umum tempat kost mereka.
"Aku punya banyak menu sarapan nih, jadi kakak tidak perlu buat sarapan lagi takutnya kak Eka terlambat ngantornya," ujar Santi sembari memperlihatkan satu kresek berisi macam makanan di dalam sana.
"Ih tumben kamu beli makanan sebanyak itu secara kan ini tanggal tua, biasanya ngeluh aja, hehehe," ujar Eka dengan tangan meraih kresek itu.
"Ini bukan aku yang beli kak, mana mampu aku beli makanan sebanyak ini, tapi silahkan dipilih aja karena ini adalah anugerah pagi-pagi."
__ADS_1
"Wahh hebat, masih pagi udah dapat yang gratisan, aku ambil bubur ayam aja deh," ujar Eka dan segera membuka paket bubur ayam itu.
"Ini kok enak sekali sih San, kayak bukan bubur ayam langganan kita deh," Eka mulai mengunyah dengan wajah cerah. Lidahnya sangat cocok dengan makanan itu. Apalagi ia memang merasa sangat lapar. Maklum semalam ia tertidur dengan diantar oleh tangisan.
"Emang bukan. Ini spesial dari orang spesial kak," jawab Santi dengan senyum lebarnya.
"Dari siapa sih? baik banget itu orang, pagi-pagi udah bersedekah makanan sebanyak ini. Ini bisa untuk semua penghuni tempat kost ini lho," Eka memandang kresek yang berada di atas meja makan itu yang dipenuhi oleh banyak makanan.
"Dari mas yang kakak tolak semalam hehehehe, ia masih ada di depan kak, kayaknya tidur di mobilnya," jawab Santi dengan senyumnya lagi.
"Apa?! kenapa kamu tidak bilang sih San, ini aku sudah habiskan buburnya lagi, ueeeek," Eka begitu kaget dengan jawaban Santi dan ia berusaha memuntahkan kembali bubur ayam yang sudah ia habiskan. Gadis itu sudah bertekad untuk tidak bertemu dengan Jack Andrian dan juga tidak mau menerima pemberian pria brengsek itu.
"Ih Kak Eka, gak baik lho seperti itu. Makanannya enak disyukuri aja, gak usah dimuntahkan juga," tegur Santi tak nyaman.
"Kalau kak Eka gak mau kasihkan aku aja itu masnya, Soalnya orangnya tampan banget dan juga baik," ujar Santi dengan senyum aneh diwajahnya.
"Ih, dia itu sudah punya istri San, kamu mau jadi pelakor? ih gak banget deh," Eka bergidik sendiri membayangkan status Jack Andrian.
"Ih masak sih kak, sudah beristri tapi masih nungguin kak Eka semalaman di luar, tipe don Juan benget tuh, tapi aku suka, kalau ia mau sedikit saja melihatku kak, aku siap kok jadi pelakor," ujar Santi dengan rasa percaya diri yang sangat tinggi.
"Astagfirullah Santi! nyebut kamu, tidak pernah ada pelakor yang bahagia, semuanya selalu dikutuk dan aku tidak mau itu. Masih banyak pria single lain di luar sana." tegas Eka kemudian meninggalkan dapur itu. Ia ingin segera mandi dan bersiap untuk berangkat kerja. Santi hanya mencebikkan bibirnya tak suka dengan nasehat Eka.
"Ek, plis aku mau ngomong sama kamu," panggil Jack Andrian saat Eka muncul di depan pagar rumah kostnya.
Gadis itu tersentak kaget melihat pria yang ia benci sekaligus ia cintai itu masih sama penampilannya dengan semalam, artinya Jack Andrian benar-benar tidak pulang ke rumahnya dan tidur di atas mobilnya saja.
"Maaf, gak kenal, " jawab Eka kemudian segera berlalu dari hadapan Jack.
*Tobe continued
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍
__ADS_1