Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
Bagian 8


__ADS_3

Jika ia diminta untuk mendeskripsikan Lazuardi hotel yang mana ini adalah penginapan mewah di bawah naungan keluarga Adiwangsa. Sungguh ia tak bisa berkata apa-apa lagi. Dirinya hanya seorang perempuan yang bekerja sebagai penjaga toko bunga tak mungkin bisa menginap di sini. Sangat mewah. Benar. Hanya orang elit saja yang bisa atau mungkin, orang-orang yang berniat saja sampai mengumpulkan uang untuk sekadar menginap di sini.


"Mau sampai kapan ngelamun, Mar? Ayo, masuk!" ujar Kak Devina.


Mardiyah masuk dengan di tangannya membawa buket bunga mawar merah pekat dan meletakkannya di atas meja permintaan dari wedding organizer. Pikirnya, pernikahan semewah ini pasti sangat rumit dan melelehkan.


Saat ia berbalik, entah kesalahannya entah pula kesalahan orang di depannya. Karena tiba-tiba saja saling tertabrak, bahkan ia sampai terjatuh. Sedikit memalukan, tapi ini benar-benar sakit.


"Jalan lihat-lihat dong! Mata lo nggak buta 'kan?" maki lelaki itu.


Salah satu laki-laki lain melebar matanya. Bahkan mengulurkan tangan hendak membantu, tapi Mardiyah menolak, dengan berdiri sendiri.


"Maaf," ujar Mardiyah.


"Ma---"


Laki-laki yang hendak membantunya tadi menyanggah, "Abhimana! Jangan marah-marah. Lo yang salah! Diem!


"Anjir gu---"


"Diem, Abhimana!"


Jadi yang Mardiyah tabrak tadi bernama Abhimana. Lelaki tadi melihatnya lagi dengan tersenyum tipis dan berujar, "Adik saya nggak sengaja, Kak. Mohon maaf sekali lagi. Apa perlu ke rumah sakit? Atau klinik, Kak?"


"Jatuh gitu doang! Lo gila, Abhimata? Pakai nawarin ke rumah sakit! Yang ada elo di manfaatin!"


Saudara kembar ternyata. Sikapnya berbeda sekali, batin Mardiyah.


Dari arah kanan tiba-tiba saja ada yang menyentuh bahunya. "Tuan Muda Abhimana dan Abhimata. Mohon maaf jika staf saya berbuat kesalahan."


Abhimata yang baik hati itu menggeleng. "Enggak-enggak, Bu Dev. Tadi Abhimana nggak sengaja nabrak Kakak ini. Mohon maaf sekali lagi."


Sedangkan Abhimana tak henti-hentinya bergumam kesal. Sebab saudara kembarnya meminta maaf. "Udah deh! Ayo pergi, Bhimata! Di tungguin ini sama Mama!"


Kedua saudara kembar itu pergi. Sedangkan Mardiyah terdiam mematung, melihat betapa ... menyenangkannya, mungkin, jika dirinya memiliki saudara. Ada yang mengingatkan, ada yang pula memarah-marahinya jika berbuat kesalahan.


Impiannya.


"Mar, dengar!" ucap Kak Devina.


Mardiyah menjawab, "Apa?"


"Dia itu anaknya Gautama Adiwangsa, hotel yang kita injek sekarang tanahnya itu milik Bapaknya mereka. Please dong kamu jangan buat masalah sama saudara kembar itu. Saya takut banget lho, Nyonya Harsa tahu."


Mardiyah mengangguk pelan. "Iya."


"Iya, aja?"


"Kak Devina, mau saya jawab apa emang?"


Kak Devina menghela napas berat dan menarik tangan kiri Mardiyah untuk keluar. "Ayo kamu ikut saya aja balik lagi ke toko, Mar."


Memangnya saya salah jawab? batin Mardiyah.


Sesaat hendak memasuki mobil tiba-tiba saja Nyonya Harsa menghampiri keduanya.


"Devina, Mardiyah ..."

__ADS_1


"Ya, Nyonya?"


Nyonya Harsa memberi sebuah kunci. "Ini kunci ruangan saya. Kayaknya saya nggak bisa ke toko bunga lagi. Di sana ada baju kalian. Dan inget! Sebelum datang nanti malam harus ke salon dulu. Inget lho! Saya mau staf-staf saya nggak malu-maluin. Harus cantik!"


"Baik, Nyonya," ujar Kak Devina.


Nyonya Harsa melihatnya. "Dengar, Mardiyah?"


"Dengar, Nyonya Harsa."


...🌺...


Umma Sarah


Nak, sudah makan siang?


Kedua sudut bibir Mardiyah terangkat. Ia senang mendapatkan pesan singkat dari Umma Sarah.


^^^Ini makan siang, Umma^^^


Sesaat Mardiyah melahap nasinya. Terdengar lagi gawainya berbunyi, cepat sekali Umma Sarah membalasnya.


Umma Sarah


Makan apa kamu?


^^^Hari ini, Nyonya Harsa menyiapkan menu Ayam bakar nasi merah, Umma^^^


Umma Sarah


Yaudah makan yang kenyang


^^^Iya, Umma^^^


Layar gawai Mardiyah matikan. Sekarang ia sedang makan berhadap-hadapan dengan Regita.


"Mar."


Mardiyah menatap Regita.


"Kamu tadi nabrak anaknya Bapak Gautama, ya?"


Mardiyah menjawab, "Nggak sengaja."


"Kak Devina bilang, untung ada Tuan Muda Abhimata. Asal kamu, tahu Mar. Abhimana itu orangnya emosian, yang salah dia, bisa aja kamu yang di salahin Mar," jelas Regita.


Mardiyah mengangguk. "Iya. Tadi nggak sengaja."


Azan salat zuhur terdengar dan makanan Mardiyah pun telah habis. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi, ingin bersantai sejenak saja. Pekerjaan di toko bunga hari ini cukup melelahkan, jika bisa ingin tidur.


"Udah azan, Mar. Kamunya nggak ibadah?"


Mardiyah menggeleng.


"Kenapa? Bukanya dosa kalau nggak apa ... sholat?"


Mardiyah menjawab, "Lagi datang bulan, Gita. Jadi nggak boleh sholat."

__ADS_1


Regita mengangguk-angguk. "Saya mau baru tahu."


Mardiyah memejamkan matanya. Sedangkan Regita mengambil piring dan gelas bekas dirinya dan Mardiyah untuk di cuci. Karena hari ini adalah tugasnya. Regita mengambil spon dan memberi sedikit sabun. Sesaat kemudian, ia berujar, "Mar, saya boleh tanya nggak?"


Netra Mardiyah terbuka. "Tanya apa?"


"Berarti dari kecil itu ... kamu tinggal di panti asuhan, ya?"


"Iya."


Dari belakang Mardiyah dapat melihat bahwa Regita mengangguk-angguk. "Kebutuhan kamu di sana bener-bener terpenuhi emang, Mar?"


"Terpenuhi."


"Buktinya, Mar?"


"Buktinya, saya masih hidup dan sehat."


Terdengar tawa ringan Regita. "Kamu bener juga, ya! Duh, aneh-aneh aja pertanyaan saya."


"Nggak aneh. Biasa aja."


Piring dan gelas kotor telah selesai di cuci. Regita kembali duduk di kursi. "Terus Mar, misal ya ..."


"Apa?"


"Ada yang adopsi kamu gitu. Terus kamunya jadi anak orang itu. Kamunya mau nggak? Atau gimana gitu? Ada aturannya nggak di panti asuhanmu?"


"Ada aturannya, Gita. Tapi bagian terpentingnya, anak yang ingin di angkat itu mau atau enggak."


"Kalau nggak mau?" sahut Regita cepat.


"Ya, enggak jadi. Karena semua tergantung pada anaknya."


Regita mengangguk-angguk. "Gitu, ya?"


"Iya." Mardiyah menjeda sejenak. "Lagi pula, Git. Di panti asuhan saya jarang ada yang mau di adopsi."


"Kenapa?"


"Karena kita nggak butuh orang tua baru lagi. Ibu panti asuhan yang kita punya, sudah cukup memberi kasih dan sayang," ujar Mardiyah.


Regita tersenyum tipis. "Bener sih, Mar. Tapi menurut saya ..."


"Apa?"


"Itu cuma semacam pertahanan diri aja."


"Maksudnya?"


"Semacam nggak mau tersakiti atau kehilangan rasa memiliki orang tua untuk kedua kalinya, Mar. Karena saya pun enggak tahu, anak yang tinggal di panti asuhan itu entah karena yatim piatu, entah karena anak hasil hubungan gelap, entah yang lainnya pula."


Mardiyah memandangi meja---memutuskan kontak mata dengan Regita. Benar.


"Saya rasa kamu lebih tahu apa yang saya maksud, Mar. Dan kabar baiknya, Ibu panti asuhan yang kamu tinggali adalah orang yang benar-benar baik."


Mardiyah tersenyum tipis. "Terima kasih, Regita."

__ADS_1


"For what?"


"Kamu memiliki rasa empati yang tinggi. Terhadap anak yatim-piatu ini," ujar Mardiyah.


__ADS_2