Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
79 :


__ADS_3

Sekitar pukul empat pagi. Mardiyah merasa tubuhnya bergerak, dan di panggil-panggil namanya. Saat ia membuka mata, ternyata Abhimata yang membangunkan dirinya dan juga Lutfan yang masih terlelap di samping, tidur dengan posisi terduduk.


"Lut, Lutfan," ujar Abhimana yang menggoyang tubuh Lutfan. Hingga sang empu tersadar. "Bangun. Subuhan, ayok!"


"Oh ..." Lutfan setengah sadar mengangguk-angguk. "Iya-iya. Gue bersih-bersih bentar."


Melihat Abhimana membantu Lutfan memasuki kamar mandi. Mardiyah menatap Abhimata.


"Aku panggilin perawat, Kak."


"Iya. Makasih, Abhimata."


Niat hati mereka ingin salat berjamaah di Masjid terdekat. Namun ternyata hujan mengguyur kian deras, dan payung masih belum sampai di ruang rawat inap Mardiyah. Hingga Abhimata memutuskan untuk salat berjamaah di ruang rawat ini saja, dengan di-imami oleh Lutfan.


Di akhir salam, masing-masing memanjatkan do'a. Sedangkan, Mardiyah terdiam memandangi dari belakang. Di tatapannya satu persatu punggung setiap lelaki yang berada di depan. Seketika hatinya berdesir, ia merasa bahwa ... inilah yang di namakan keluarga? Melihat Lutfan, dengan Abhimana dan Abhimata akur, membuat perasaannya tak karuan.


Semoga Allah mengabulkan segala do'a mereka, batin Mardiyah.


Do'a masing-masing mereka telah usai. Mardiyah melihat Lutfan berbalik, dan mendorong kursi roda mendekatinya. Kemudian saat telah berada tepat di sampingnya, Lutfan menyodorkan tangan kanan.


"Apa?"


Lutfan melirik tangannya. "Salim."


"O-oh iya." Mardiyah mengambil tangan Lutfan dan mengecup singkat tepat di punggung tangan. "Maaf, saya lupa."


Lutfan menatap lurus. "Bisa-bisanya lo lupa. Padahal biasanya lo dulu yang nawarin."


Namanya juga sudah lama nggak sholat berjamaah. Wajarkan aku lupa? batin Mardiyah dengan tertunduk malu. "Maaf."


"Cukup, dong. Nggak usah mesra-mesraan di depan para jomblo. Nggak baik ini, nggak patut di contoh," sahut Aldo yang telah selesai melipat sajadah. "Mana kelihatan banget lagi pamernya. Mentang-mentang udah halal."


"A-apaan sih lo! Ya nikah sana lo! Mana ada gue mesra-mesraan?" Lutfan terlihat sewot. "Orang cuma salim aja. Nggak ada tuh gue niat pamer-pamer."


Saat Aldo hendak bicara. Abhimana terlebih dahulu membuka mulut. "Lo aja yang jomblo, Do. Gue mah enggak. Gue udah ada rencana---"


"Rencana apa? Rencana pacaran?" Aldo menampilkan wajah kesalnya, dengan mengambil duduk di sofa. "Orang bisa di katain nggak jomblo itu kalau udah nikah. Status pacaran mah nggak termasuk. Non-halal."

__ADS_1


"Anjir!"


Lutfan, Abhimata dan Aldo sempat tertawa melihat Abhimana ternista. Sedangkan Mardiyah hanya tersenyum tipis sembari menutup mulut.


"Lo juga harusnya ngaca, Do." Abhimana menatap tajam Aldo. "Inget, umur. Lo udah waktunya nafkahi anak orang. Jangan kelihatan nggak laku gitu dong, bukannya lo kerja di outletnya Lutfan. Gue yakin pasti lo ada gitu ke gaet anak orang."


"Apasih lo! Anjir, nggak usah bawa-bawa jodoh gue lo!" sewot Aldo.



Siang hari tepat pukul satu. Manggala, Gautama dan juga Gumira terlihat memasuki ruang rawat inap Mardiyah. Lutfan yang baru saja kembali dari Masjid cepat-cepat meminta Abhimana untuk mendorong kursi rodanya dengan lebih cepat lagi.


"Sabar. Lagian ada Om Gumira. Nggak mungkin Om Gumira biarin dia kenapa-napa." Abhimana menatap Abhimata sejenak. "Kita tunggu di luar aja. Barangkali ada hal penting yang mau mereka bicarain."


Hal penting apa? Semua hal penting yang berkait sama Mardiyah, gue harus tahu, batin Lutfan yang mendongak, menatap tajam Abhimana. "Mardiyah istri gue. Kalau ada apa-apa sama dia, lo mau tanggung jawab?"


"Gila ... lo pikir dia bukan keluarga gue?" Abhimana tersulut. "Dia Kakak gue. Gimana mungkin gue biarin dia kenapa-napa, hah? Lo sewot banget sih! Untung-untungan gue---"


"Silent. Kita tunggu aja. Selama nggak ada perdebatan yang nyudutin dia. Kita nggak perlu ikut campur, Lut," sanggah Abhimata dengan jelas.



Mendengar nama yang diberikan oleh Manggala Adiwangsa di sebut, spontan Mardiyah mencari arah suara itu. Pak Manggala? batinnya dengan tangan yang tiba-tiba bergetar, tanpa sadar meremas kuat seprai, ia masih takut. Sejujurnya untuk bertemu dengan beliau lagi, rasa-rasanya masih tak sanggup. Mengingat ... beliau lah yang ... menyebabkan pendarahan hebat yang terjadi padanya.


"Jadi, kamu hamil?"


Dia sudah mati. Anda terlambat untuk bertanya, batin Mardiyah yang masih tidak membuka mulut.


"Dia keguguran, Pa," sahut Gautama.


Manggala terlihat mendekat, duduk tepat di samping kursi brankar. "Itu salahmu. Kenapa tidak berbicara pada Kakek atau Papamu? Bahkan kamu menolak untuk di periksa tanggal terakhir menstruasi dan hubungan intim yang kamu lakukan dengan cucu Bashir itu."


Mardiyah masih tidak membuka suara.


"Pa, jangan terlalu kasar," sahut Gumira.


Terdengar helaan napas. "Entah apa yang terjadi dengan keluarga Kakek. Kedua cucu Kakek terutama Abhimana dan Abhimata. Mereka sangat membela anak haram sepertimu, Mahika. Kata mereka, kamu ini Kakaknya. Kata mereka, melukaimu itu kesalahan. Padahal Kakek sama sekali tidak berniat menyakitimu, jika saja kamu ini menurut."

__ADS_1


"Pa, cukup," sahut Gumira yang mulai menatap Mardiyah. "Nak, apa perutmu sudah membaik?"


"Sedikit," lirih Mardiyah.


Gumira mendekat. "Om periksa sebentar nggak pa-pa?"


Mardiyah mengangguk, membiarkan Gumira memeriksanya sejenak. Setelah beberapa detik, Gumira memisah jarak.


"Sudah."


"Kapan saya boleh pulang?"


Gautama menyahut, "Sementara di sini saja, sampai kamu benar-benar pulih, Nak. Dan Gumira, jangan izinkan dia pulang sebelum dia benar-benar membaik."


Gumira mengangguk. "Seperti yang dikatakan oleh Papamu. Lebih baik di sini sampai pulih, Nak."


Mardiyah terdiam dan menunduk.


Namun tiba-tiba map kertas hijau, yang di dalamnya ada selembar kertas putih di serahkan pada Mardiyah oleh Manggala. "Tahu kamu ini apa?"


Mardiyah masih diam.


"Surat gugatan perceraian," lanjut Manggala yang mengambil selembar kertas itu, dan mengangkatnya tepat di depan Mardiyah. "Bersedia tanda tangan?"


Mardiyah mendongak, menatap Manggala.


"Atau ... mau Kakek robek saja surat gugatan ini?"


Deg.


Robek? batin Mardiyah.


Tatapan Manggala tiba-tiba saja berubah. Seperti terbesit kesedihan mendalam yang tidak pernah Mardiyah duga-duga. "A-apa maksud Pak---"


"Kakek akan merobek ini. Dengan satu syarat ..."


Apa? batin Mardiyah yang terdiam menatapi sang Kakek.

__ADS_1


" ... tetaplah menjadi bagian dari keluarga Adiwangsa," jelas Manggala.


__ADS_2