
Lutfan telah memutuskan untuk menemui Rajendra. Lelaki kasar itu adalah salah satu saudara istrinya. Sebenarnya, ia enggan. Namun jika lelaki itu tidak diberitahu tentu akan semakin mengacau di resepsi pernikahannya nanti. Apalagi resepsi hari itu akan di adakan di Jyotika Ira.
"Tuan Muda Rajendra, sedang ada meeting," ujar seseorang yang Lutfan yakini adalah sekertaris.
Lutfan menjawab, "Saya akan menunggu."
Mungkin, sekitar satu jam menunggu. Rajendra Adiwangsa akhirnya tiba. Dari kejauhan wajah tegas lelaki itu sangat terlihat jelas pada pandangan Lutfan. Semakin dekat, semakin menampakkan senyum remeh. Lalu tak lama dengan wajah sombongnya itu, Rajendra mengambil duduk.
"Orang cacat ini ... ada keperluan apa ya dengan saya?" ujar Rajendra.
Anjir. Sumpah! Otak dia ini seakan-akan terkontrol buat hal-hal buruk aja deh! Perasaan setiap ketemu, setiap lihat dia di tv nggak di aslinya aura-aura nggak warasnya masih kelihatan jelas, batin Lutfan yang mencoba biasa aja. "Orang cacat ini, ada keperluan dengan anda. Apa mengganggu?"
"Sembilan puluh sembilan persen mengganggu. Tapi, saya sangat ingin meladeni orang cacat ini," balas Rajendra. "Silakan. Keperluan anda?"
"Jika saya bisa meminta. Tolong anda jangan memotong ucapan saya," pinta Lutfan.
Rajendra terlihat mengangguk. Namun seakan-akan enggan.
"Saya dan Mardiyah. Anak dari Ayah anda, akan melaksanakan resepsi pernikahan di Jyotika Ira. Kita di sana membayar penuh uang sewa gedung. Bahkan Ibu dan Kakekmu setuju-setuju saja. Jadi, dengan segenap hati saya meminta tolong sedikit kebaikan anda untuk tidak mempersulit. Dan jika anda bersedia, silakan datang, istri saya pun tidak melarang. Karena sebagaimana pun anda menolak fakta, istri saya tetap darah daging Ayah anda. Dan jelas juga ... dia bagian dari Adiwangsa," jelas Lutfan.
Rajendra menggaruk bagian atas mata kirinya. "Saya tidak akan mengganggu. Lagi pula, siapa yang bersedia memiliki urusan lagi dengan anak haram seperti dia?"
"Baiklah. Itu hal yang bagus." Lutfan telah memegang rodanya. "Saya harap anda menepati janji."
Sekejap saja lamunannya pecah. Saat tangan hangat milik Mardiyah menyentuh tangannya.
"Kamu kenapa?"
Lutfan menggeleng. "Nggak. Nggak pa-pa."
__ADS_1
"Kamu khawatir ya? Gara-gara di sana ada Rajendra?" Tatapan Mardiyah mengarah pada lelaki berwajah tegas yang sedang duduk berdampingan dengan Cecilia.
"Sedikit," balas Lutfan.
Mardiyah mengusap lembut tangan suaminya. "Nggak pa-pa. Ada Mama Cecilia. Rajendra nggak akan berani macam-macam, kalau ada Mama sama Pak Manggala."
"Iya." Mata Lutfan langsung beralih menatap Mardiyah. "Mar, perutmu nggak sih, kan?"
"Enggak."
"Aku khawatir. Soalnya keinget waktu itu, kamu kayak mau pingsan."
Kening Mardiyah mengerut. "Kapan?"
"Waktu di Adiwangsa hospital."
Acara demi acara berlalu. Hingga memasuki waktu asar dilaksanakan salat terlebih dahulu. Di mushola yang telah di sediakan oleh Jyotika Ira. Sejujurnya acara ini hanya tiga jam saja, tetapi Mama Cecilia meminta setidaknya enam jam, karena barangkali ada yang tidak bisa datang di siang hari. Jadi mungkin, sore harinya menjelang Magrib orang-orang masih sempat untuk datang.
Itu pun tidak sepenuhnya Mama Cecilia meminta full dirinya di duduk di pelaminan. Beliau mengizinkannya untuk istirahat saat memasuki waktu asar ini. Kata beliau pun, jika tidak sanggup menyambut tamu biar beliau, Umma Sarah dan Pak Manggala berserta Ayah Gautama saja yang menyambut.
"Mau di ambilin makan?"
"Enggak, Ma. Makasih. Saya belum lapar," jawab Mardiyah.
Dari pantulan cermin Mardiyah dapat melihat senyum simpul yang Mama Cecilia tampakkan. "Kamu kelihatan makin cantik, Nak," puji beliau.
Jujur, Mardiyah tersipu dan hanya bisa membalas dengan senyum tipis.
__ADS_1
"Mama keluar dulu, ya?"
"Iya, Ma."
Mama Cecilia telah pergi. Sang penata rias yang sedari tadi ingin mencoba bercakap-cakap dengan pengantin, akhirnya bisa. "Mbak Mardiyah ini ... anak pertama, ya?"
Apa bisa dikatakan anak pertama? batin Mardiyah seolah tak yakin. "Iya, Mbak. Bisa di bilang begitu."
"Ngomong-ngomong kenapa resepsinya di tunda, Mbak?"
"Suami saya kena musibah, Mbak. Jadi mau nggak mau saya harus nunda." Padahal itu semua karena Lutfan juga nggak mau ada resepsi, lanjut Mardiyah.
Penata rias yang tadi santai bertanya. Kini terlihat canggung. "Ma-af, Mbak."
"Nggak pa-pa, Mbak. Santai aja. Lebih baik saya di ajak ngobrol, dari pada diem-diem." Mardiyah menampilkan senyum tipisnya. "Mbaknya sudah menikah?"
"Alhamdulillah sudah, Mbak Mardiyah." Sang penata rias itu menyikap kerudung yang menutupi bagian perutnya. "Kebetulan saya baru diberi amanah setelah tujuh tahun menikah."
"Masya Allah." Mardiyah spontan langsung berbalik, dan menatap penata rias sejenak. "Mbak, saya boleh pegang perutnya?"
"Boleh, Mbak. Boleh. Silakan," jawab penata rias.
Perlahan-lahan tangan Mardiyah terangkat. Ya Allah ... berilah hamba dan suami hamba seorang anak. Jika memang kami telah pantas menjadi orang tua yang baik. Aamiin. Usap-usapan lembut ia putari pada perut penata rias ini. "Semoga Allah memudahkan persalinan Mbak nanti. Dan bayinya ... semoga lahir dengan sehat."
"Aamiin. Makasih, Mbak. Semoga do'a baiknya kembali ke Mbak Mardiyah."
.
Note: Saya update dua bab. Satunya mungkin jam 8an malam.
__ADS_1