Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
47 : Satu-satunya Cara


__ADS_3

Manggala, Gautama, dan Gumira meninggalkan panti asuhan dengan segala keangkuhan. Menyisakan luka di hati Kiai Bashir, Umma Sarah dan jelas pada Mardiyah. Pertemuan keluarga yang diinginkan untuk berakhir baik-baik saja, nyatanya tidak. Meskipun menjadi teman karib tidak memungkinkan Kiai Bashir mengatur-atur Manggala. Sebab darah Adiwangsa memang lah seperti ini, tidak akan pernah kalah atau pun mengalah.


Kiai Bashir menyerah.


Semua telah kembali di serahkan pada Lutfan. Sebab memang yang berhak atas Mardiyah adalah Lutfan. Segalanya memang telah ditetapkan, namun jika menjadikan Mardiyah sebagai keluarga adalah kesalahan. Nampaknya memang harus dilepaskan saja. Kendatipun nanti Lutfan memilih menahan, Kiai Bashir tidak bisa membantu lagi.


"Umma, maaf."


Umma Sarah menggeleng, di usap-usapnya punggung Mardiyah yang berada dalam dekapannya. "Kamu nggak salah, Nak."


Mardiyah diam.


"Lutfan di mana?"


Mardiyah menjawab, "Di kamar. Mardiyah suruh Lutfan istirahat, Umma."


Cinta kasih yang dimilikinya untuk Mardiyah setara besarnya dengan Lutfan. Sebab sendari kecil, Mardiyah telah menjadi anaknya, ia hidupi dan ia didik sedemikian tulus tanpa pamrih. Namun mengapa tiba-tiba saja Manggala datang? Lantas meminta segala rincian biaya atas kasih sayang tulusnya pada Mardiyah hingga kini?


Umma sayang sama kamu, Nak. Kalau pun memang kamu harus pergi, harus hidup bersama keluargamu. Umma nggak pa-pa. Tapi tolong ... jangan meninggalkan Lutfan sendiri, batin Umma Sarah dengan air mata yang mengalir tanpa sadar. Segala hinaan untuk Lutfan ia tanggalkan, ia tak ingin mengingat. Sebab apa yang di ucap oleh Manggala adalah benar. Umma Sarah tidak bisa mengelak.


"Umma ..."


"Iya?"


Mardiyah berujar, "Mardiyah bohong."


"Bohong? Bohong tentang apa?"


Dengan masih mendekap Umma Sarah. Mardiyah menggigit bibir bawahnya, dan berucap lirih, "Mardiyah belum melakukan itu dengan Lutfan."


"Bashir."


Bashir memandang lurus pada Manggala.


"Saya akan menunggu satu sampai dua minggu. Atau jika mungkin, satu bulan sekali pun. Saya hanya perlu memastikan bahwa cucu saya itu tidak hamil," ujar Manggala.


Umma Sarah memejamkan netranya sejenak. Lantas menghela napas pelan, saat mendengar fakta bahwa Mardiyah dan Lutfan belum melakukan hubungan intim. "Kenapa kamu bohong, Nak?"


"Mardiyah nggak mau mereka semena-mena Umma. Mardiyah nggak mau jadi bagian dari mereka. Keluarga Mardiyah itu Umma dan Lutfan enggak ada yang lainnya," jelas Mardiyah.

__ADS_1


Umma Sarah terdiam sejenak. "Pak Manggala bilang, beliau akan datang lagi, Nak."


"Mardiyah tahu, Umma."


Usapan di kepala dan punggung Mardiyah, Umma Sarah hentikan. "Mar ..."


"Ya, Umma?"


"Secepatnya lakukan itu dengan Lutfan, Nak." Umma Sarah menjeda. "Umma nggak berniat maksa kamu. Tapi kalau kamu emang benar-benar masih mau hidup bersama Lutfan dan Umma. Maka mengandung lah, Nak. Itu satu-satunya cara, supaya Pak Manggala nggak menjauhkan kamu dari Umma dan Lutfan."


Mardiyah terdiam.


"Umma tahu. Anak nggak semudah itu ada di rahim kamu. Tapi ... dengan kamu dan Lutfan yang sudah berusaha Umma yakin, segera. Pasti akan segera ada," imbuh Umma Sarah.


Mardiyah menghela napas pelan. Ia tidak pernah berpikir semua akan berakhir seperti ini. Dirinya tahu, jika mengandung Bapak Manggala akan merasa sedikit iba untuk menjauhkannya dari Lutfan. Tetapi, haruskah ia memaksa suaminya? Lutfan seperti menolak, ia sudah berusaha mengajak. Bahkan tidak segan berucap ingin memiliki bayi.


"Mardiyah masih haid, Umma."


"Setelah haid, pasti masa subur, Nak. Itu kabar baik, kamu bisa segera hamil."


Mardiyah mengangguk dan melepas dekapan. Lantas netranya menatap Umma Sarah yang terlihat mengusap kedua pipi beliau.


"Umma." Jeda tiga detik Mardiyah kembali berujar, "Sampai kapan pun. Mardiyah nggak akan pernah ninggalin Umma. Mardiyah sayang sama Umma."


"Akan lebih baik kamu bicara ini semua ke Lutfan, Nak." Seulas senyum tipis Umma Sarah tunjukkan. "Umma nggak masalah kamu ninggalin Umma. Tapi Umma bakal sakit berkali-kali lipat, kalau kamu dan Lutfan berpisah. Umma tahu ... pernikahan ini adalah amanah. Iya ... seperti yang Pak Manggala ucap, kalau faktanya pernikahan ini memang merugikan kamu dan---"


Mardiyah menggeleng-geleng, spontan tangannya menyentuh tangan Umma Sarah. "Demi Allah enggak, Umma. Siapa yang merasa di rugi kan? Mardiyah sama sekali nggak ngerasain itu."


"Lutfan sekarang suami Mardiyah. Sampai kapan pun, orang yang berhak atas diri Mardiyah cuma Lutfan. Dan Mardiyah enggak akan pernah ninggalin Lutfan," lanjut Mardiyah.


Umma Sarah mengangguk.



Saat kembali ke kamar. Lutfan sudah terlelap, Mardiyah duduk di tepi ranjang, netranya fokus memperhatikan suaminya. Sungguh tiada pernah ia berpikir, bahwa dirinya dan Lutfan akan berstatus suami istri. Di pikirnya dulu sangat tak mungkin.


Ia percaya Umma Sarah akan memilih laki-laki yang baik. Namun nyatanya Umma memberi harta terbaik, yang ia kandung dan besarkan untuk menjadi suaminya yang sekarang. Jujur saja, ia terkejut.


Tangan kanannya yang semula diam, terangkat mengusap-usap dahi suaminya. Jika memang mengenal dan menikah dengan Lutfan adalah takdir, Mardiyah sama sekali tidak keberatan. Sebab hatinya terkadang-kadang masih ragu untuk menyerahkan kasih sayang dan cintanya untuk orang lain. Selain Umma Sarah dan Lutfan.

__ADS_1


"Eghmm." Mardiyah berhenti mengusap-usap. Saat netra Lutfan bergerak dan terbuka. Bahkan tangannya yang belum sempat turun spontan di genggam erat oleh Lutfan. "Lo ... belum tidur?"


"Belum."


Mardiyah menatapi netra Lutfan.


"Habis ngapain?"


"Tadi, ke kamar Umma bentar."


Lutfan mengangguk-angguk. "Mar ..."


"Apa?"


Lutfan menjeda dengan menelan ludahnya. "Lo ... beneran mau kita ... ngelakuin itu?"


"Iya," lirih Mardiyah.


Lutfan tiba-tiba saja mengubah posisi dengan duduk di bantu Mardiyah. Sehingga tangan Mardiyah yang semula mengusap-usap dahi Lutfan berhenti. Netra itu saling beradu, menatap dalam mencari-cari jawaban dari semua keraguan.


"Gue ... mau. Tapi ..."


Mardiyah menunggu ucapan Lutfan selanjutnya.


"Tapi nggak harus kayak gini keadaannya, Mar." Lutfan memutuskan kontak matanya. "Gue ngerasa hal-hal semacam itu nggak boleh di lakuin secara terpaksa, Mar."


Mardiyah berucap, "Tapi saya merasa nggak terpaksa, Lutfan."


"Enggak." Lutfan menengok, menatap Mardiyah lagi. "Lo bohong, Mar."


Mardiyah diam.


"Lo di bawah tekanan. Lo seakan-akan cuma bisa mikir kalau satu-satunya cara lepas dari Pak Manggala itu dengan lo hamil aja." Lutfan menjeda. "Lo nggak bisa mikir solusi yang lainnya."


Mardiyah menunduk, tangannya basah, ia merasa gamis yang masih digunakannya. "Karena memang cuma itu satu-satunya cara."


Lutfan menggeleng.


"Lo nggak harus hamil, kita juga nggak harus ngelakuin itu di bawah tekanan." Netra Lutfan menatap sayu pada Mardiyah. "Gue bisa, Mar. Gue bisa ngehalangin mereka buat bawa lo. Karena gue suami lo. Lo sendiri yang bilang, cuma gue yang berhak atas lo. Jadi tolong ... lo percaya sama gue."

__ADS_1


Mardiyah mengangguk dengan tangan yang terangkat mengusap-usap pipi kiri Lutfan. "Saya percaya sama kamu. Tapi berurusan dengan Adiwangsa nggak akan semudah itu terselesaikan, Lutfan."


"Segimana pun mereka berusaha. Mereka nggak akan berhasil. Kalau ..." Lutfan menatapi Mardiyah yang masih menunduk. "Akhirnya lo tetap milih hidup sama gue, Mar."


__ADS_2