Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
105 (2)


__ADS_3

"Mar, jangan godain aku."


Mardiyah menjauh dari telinga Lutfan. "Siapa yang godain? Aku lagi buat penawaran sama kamu. Kalau nggak mau pun juga nggak pa-pa."


"Astaghfirullah ..." Lutfan menutup matanya sejenak. "Memangnya kamu beneran nggak capek?"


"Aku udah bilang enggak, kan?"


Lutfan menghela napas, dan tidur telentang. Netranya menatap tampilan Mardiyah yang benar-benar ... ya cantik. Istrinya ini selalu cantik. "Jelasin dulu bedanya apa?"


"Kenapa pakai di jelasin?"


"Aku kan tanya."


Mardiyah terdiam sejenak. "Langsung mulai aja. Kamunya agak sinian, biar langsung ngerti apa bedanya."


Dia ini nggak bohong? Mau layani gue pakai cara apa lagi? batin Lutfan yang menuruti permintaan Mardiyah dengan sedikit menggeser tubuhnya. "Mar, jangan macam-macam lho. Inget kamu lagi haid, nanti perutmu sakit."


"Aku nggak niat macam-macam." Tangan Mardiyah yang tadinya berada di lengan tangan Lutfan. Kini meraba-raba turun pada paha suaminya. "Aku pi---"


"Mar, apa-apaan sih." Lutfan menyanggah dengan meminta tangan Mardiyah pergi dari pahanya. "Kamu bilang nggak godain aku. Tapi kamu pegang-pegang."


"Nggak boleh?"


Pipi Lutfan memerah padam. "Bukan nggak boleh." Tapi kamu kan lagi haid. Bisa nggak sih nggak usah gini? lanjutnya dalam hati.


"Terus?"


"Mar ... jangan gini, ih. Kamu nanti kalau aku tegang siapa yang tanggung jawab?"


Mardiyah menatap. "Ya, aku. Memang siapa lagi?"


Ah, gila. Istri gue bisa gini nih gimana ceritanya? Mentang-mentang beda usia tiga tahun dia berani banget, batin Lutfan yang mulai menutup kedua matanya dengan lengan. Istrinya itu mulai bergerak tidak karuan, dan ia hanya bisa memasrahkan diri.


Tentunya, dengan menikmati saja.



"Gimana?"


Lutfan merubah posisinya dengan tidur membelakangi sang istri. "Jangan tanya apa-apa, Mar. Tidur."


"Aku kan cuma tanya ... yang tadi, gimana rasa---"


"Mar ... udah dong!" Pipi Lutfan benar-benar sudah merah. Lutfan berbalik, dan menarik istrinya dalam pelukan. "Tidur. Tutup mata, tutup mulut. Udah malem banget ini."


Mardiyah tersenyum tipis. "Kalau gitu. Besok paginya aku tanya kamu harus jawab, ya?"

__ADS_1


"Iya. Sekarang tidur, Mar."



Mendengar azan subuh Lutfan terbangun lebih dahulu. Dada bidangnya terasa berat, ternyata kepala Mardiyah masih tertidur di sana. Jadi mau tidak mau perlahan-lahan ia menidurkan kepala sang istri pada bantal empuk. Hingga tanpa sadar, Mardiyah menggerakan tubuh dan tidur membelakanginya.


Darah? batin Lutfan dengan kening mengerut. Lingerie putih berkain satin itu mengecap warna merah yang pekat. "Tembus?" lirihnya.


"Ssssttt ... perutku," lirih Mardiyah yang terdengar sampai ke telinga Lutfan. Bahkan tangan kurus istrinya mencengkram-cengkram perut.


Perut dia sakit banget apa, ya? batin Lutfan yang perlahan-lahan turun ranjang dan berpindah pada kursi roda. Ia mendekat pada telepon putih yang berada di meja. Dan mencari-cari nomor pelayanan kamar.


"Pelayanan kamar, ya?" Lutfan menjeda. "Saya boleh minta sarapan lebih awal?"


"Boleh, Tuan. Kami akan segera mengirim."


Setelahnya menutup telepon. Lutfan ke mandi, ia mencari-cari sesuatu yang bisa digunakan wadah untuk mengompres. Andaikan saja ada botol kaca, mungkin bisa langsung ia isi air. Namun sayangnya tidak ada.


"Lutfan ..."


"Lutfan, kamu di kamar mandi?"


Lutfan menengok ke belakang saat suara itu semakin dekat, dan rintihan kesakitan semakin terdengar. "Iya, Mar."


"Lutfan, aku ... mau ganti pe*mbalut dulu." Mardiyah mencengkram kuat ganggang pintu. "Ma-af. Bisa tolong kamu ke luar sebentar?"


Lutfan mendekati sang istri dengan menarik rodanya kuat-kuat. "Aku tunggu di sini aja. Aku tutup mata. Aku mau bantuin kamu. Aku takut kamu---"


Lutfan terburu-buru mengambil pe*mbalut di laci kedua. Setelahnya, ia memberikan itu pada Mardiyah dan langsung memejamkan mata.


"Sudah," lirih Mardiyah beberapa menit kemudian.


Lutfan membuka mata. "Aku udah pesan sarapan lebih awal. Mungkin, habis ini datang. Kamu mau sarapan dulu nggak? Barangkali kamu laper gara-gara---"


"Aku nggak selera makan," sanggah Mardiyah.


Lutfan terdiam sejenak, menatapi pakaian istrinya yang masih sama. "Kamu nggak ganti baju? Kayaknya ... tadi tembus."


"Iya. Aku tahu." Mardiyah terlihat lemas dengan menyadarkan diri pada kloset. "Tapi aku masih nggak kuat buat ganti baju."


Gue harus ambil baju dia dulu, batin Lutfan yang menarik roda secepatnya. Ia harus cepat-cepat sampai pada koper, dan mengambil dress tidur yang ada. Semoga saja istrinya itu membawa dua baju. Jika langsung gamis, ia takut akan basah di kamar mandi.


"Alhamdulillah! Ternyata dia bawa baju tidur satu lagi."


Baju tidur telah berada di pangkuan Lutfan. Lantas dengan terburu-buru ia kembali ke kamar mandi, dan melihat istrinya itu memejamkan mata. Sumpah. Gue nggak bisa lihat dia kayak gini, batinnya yang langsung merosot turun dari kursi roda.


Bugh!

__ADS_1


Lutut Lutfan benar-benar terbentur langsung dengan lantai. Hingga membuat Mardiyah membuka mata.


"Lutfan, kamu ja--kamu ngapain?"


Senyum lebar Lutfan itu menjadi sambutan untuk jawaban Mardiyah. "Ini, aku bawa baju tidur kamu. Aku bantu ganti, ya?"


"Aku tahu. Tapi kenapa turunmu dari kursi roda nggak pelan-pelan?" Mardiyah meminta suaminya itu duduk. Lalu tangan Mardiyah mengusap-usap lutut Lutfan. "Sakit?"


"Enggak. Aku baik-baik aja."


Mardiyah menatap Lutfan dengan berkaca-kaca. Rasanya bercampur. Antara perutnya yang sakit, dan haru akan perhatian kecil Lutfan. "Makasih, Lutfan."


"Sama-sama." Lutfan menyentuh baju tidur yang menempel di paha istrinya. "Aku bantu buka, ya?"


Mardiyah mengangguk dan mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.


"Aku bantu pakaiin juga. Kamu angkat tangan aja," ujar Lutfan.


Baju Mardiyah telah terpasang rapi. Lutfan masih duduk dengan menatapinya. Sedangkan Mardiyah pun sama, tetapi tangannya yang tadi memegang perut kini beralih menyentuh pipi suaminya.


"Aku udah baik-baik aja." Usapan lembutnya beralih ke kepala Lutfan. "Sekarang kamu bisa tinggalin aku buat sholat subuh."


"Kamu yakin?"


"Iya, Lutfan."


Mardiyah perlahan-lahan berdiri. Kemudian ia sedikit menunduk, untuk menarik Lutfan berdiri. "Aku bantuin berdiri, sebelum telat subuhannya."


"Aku sholat di kamar aja." Lutfan memilih berdiri dengan menumpu pada kloset di bandingkan tubuh Mardiyah yang lemah. "Sekalian lihatin kamu."


"Aku nggak pa-pa."


"Iya. Aku percaya, kamu nggak pa-pa. Tapi---"


"Tapi apa?"


Lutfan sudah duduk di kursi roda. "Mar, aku kan khawatir. Tolong dong kamu ngerti perasaan aku."


Mardiyah tiba-tiba mendekatkan bibirnya pada kening Lutfan. Dan mengecup singkat beberapa kali di sana. "Sudah. Itu tanda, biar kamu nggak khawatir."


Bisa-bisanya sih kamu. Aku kan jadi makin nggak bisa ninggalin kamu buat ke Mushola, batin Lutfan.


"Gih, ke Mushola. Kalau ada apa-apa aku bakalan telepon kamu langsung. Janji. Aku nggak bohong," lanjut Mardiyah, menyakinkan.


.


Note:

__ADS_1


Tiada hentinya saya mengingatkan bagi yang belum baca WIYATI silakan baca Karena sudah tamat. Dan ini kelanjutannya kisahnya Linggar Adiwangsa dan Shanum Citaprasada.



__ADS_2