Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
66 : Please ... Demi Istri Lo.


__ADS_3

"Ngapain sih lo ke sini?"


Aldo merebah dirinya langsung di ranjang. "Gue udah bilang kan, gue khawatir."


"Anjir, jijik gue dengernya."


Aldo spontan merubah posisinya menjadi duduk. "Anjir, Lut! Tega lo, ya? Sebagai seorang sahabat yang sangat baik hati. Gue ini niat bantuin lo, gue bener-bener ngerasa khawatir, Lut."


"Ya, ya terserah lo," ujar Lutfan dengan melihat pemandangan luar dari jendela penginapan.


Aldo mengecek sosial media Abhimata dan Abhimana di mana kedua saudara kembar itu ternyata sedang bersama. Di sana juga ada Cecilia Adiwangsa, sepertinya memang mereka telah kembali dari vila.


"Lut, kayaknya Abhimata di Jyotika ira deh," ujar Aldo dengan membalik gawainya menunjukkan video singkat di story. "Gue mau tanya ke resepsionis siapa tahu mereka lihat Abhimata."


"Ya. Gue tunggu di sini."


Aldo keluar.


Sedangkan Lutfan terdiam, membuka gawai dan mengklik galeri satu foto yang di ambilnya diam-diam saat Mardiyah sedang sibuk merawatnya kala itu. Semua kenangan manis di mana sang istri merawatnya masih teringat jelas.


"Mar ... gue kangen. Gue bener-bener kangen sama lo," gumam Lutfan.



Dua puluh menit menunggu, pintu kamar penginapan terbuka lagi. Aldo tidak datang sendiri, melainkan dengan Abhimata dan Abhimana. Lutfan tidak pernah menyangka bahwa sahabatnya itu akan berhasil membawakan kedua saudara kembar ini.


Rasa khawatir itu bukan sekadar ucapan. Aldo yang biasanya terlalu sering bercanda dan main-main ternyata serius. Ia jadi benar-benar terharu.


"Sorry, lama Lut," ujar Aldo.


"Santai, nggak pa-pa," jawab Lutfan dengan memandangi Abhimata dan Abhimana yang mengambil duduk di sofa panjang.


Abhimata menatap Lutfan. "Ada perlu?"


"Menurut lo?" Lutfan merubah pandangan yang biasanya ramah menjadi datar. "Gue nggak perlu jelasin ada perlu apa gue sama lo, Abhimata."


"Songong banget lo, Lut. Harusnya lo sadar, lo butuh kita buat ketemu sama istri lo," sahut Abhimana.


Pandangan Lutfan beralih pada Abhimana. "Gue ini dari dulu sadar. Sedang lo dan kelurga lo? Gila ... baru kali ini gue lihat orang yang terang-terangan bawa istri orang lain dengan dalih ngasih tahu kenangan Ibunya. Nyatanya apa?"


" ... Bokap lo nggak pulangin istri gue."


Abhimata menghela napas pelan.

__ADS_1


"Dia baik-baik aja."


"Gue nggak tanya keadaan dia, gue mau lo suruh Bokap sama Kakek lo itu pulangin istri gue!"


Abhimana menyahut, "Nggak bisa. Kalau lo mau dia pulang, lo temuin mereka sendiri."


Abhimata melihat Lutfan sepertinya, benar-benar marah dan sangat kalut. "Lut, gue bakal usaha buat bawa dia pulang ke elo. Tapi tolong, lo jangan ke Lazuardi hotel, Jyotika Ira atau ke mana di tempat keluarga gue. Itu bakal ngaruh nanti, lo bakal bikin rencana gue gagal. Please ... demi istri lo."


"Nggak. Gue nggak bakal ke makan bujuk---"


Ucapan Lutfan di sanggah oleh Abhimata. "Gue nggak bohong, Lut. Lo mau bukti apa supaya lo percaya sama gue?"


"Telpon dia buat gue."


Abhimata menggeleng. "Itu nggak bisa."


"Kalau lo minta foto, surat atau lain-lainnya selain telpon dan ketemu, mungkin kita bisa ngabulin," sahut Abhimana.


"Oke suruh dia nulis surat buat gue." Lutfan membalik kursi rodanya membelakangi Abhimata, Abhimana dan juga Aldo. Seenggaknya, gue hafal tulisan dia, kalau mereka bohong, gue bakal ambil tindakan sendiri, batinnya.



Memasuki waktu magrib, Mardiyah salat sendirian, ia telah cukup sadar untuk tidak berusaha meninggalkan vila ini lagi. Ia tak mau diperlakukan lebih tidak manusiawi oleh Gautama dan Manggala.


Mukena yang telah digunakan ia lipat dengan rapih lantas meletakkan di atas meja dan ia berjalan ke arah jendela yang di tutupi dengan besi-besi menyamping.


Malam ini gemerlap cahaya rembulan dan bintang-bintang nampak jelas di langit. Ingatan masa kecilnya dan Lutfan berputar kembali.


"Kak Mar! Coba lihat di langit bintang-bintangnya banyak lho."


Mendengar Lutfan menyebut bintang, Mardiyah spontan menengadah melihat langit yang begitu tinggi berjajar cahaya-cahaya kecil di sana.


"Bagus ya, Lutfan?" ujar Mardiyah.


"Iya, bagus, Kak." Lutfan menatapi Mardiyah dari samping. "Kak, aku punya ide."


"Ide apa?"


"Kalau suatu saat Kakak lagi pergi ke mana gitu ... terus pisah sama aku. Kak Mar ..." Pandangan Lutfan beralih pada langit. "Tinggal lihatin langit, terus ... bayangin aja wajah aku he-he-he."


"Ide bagus. Kamu juga gitu, ya?"


"Iya. Siap. Tapi ... kayaknya kita nggak bakalan pisah, Kak."

__ADS_1


Nyatanya kita berpisah, Lutfan, batin Mardiyah dengan menunduk menatap lantai kamar.


"Nona Muda. Nona Muda!"


Mardiyah langsung tersadar. "Ya? Ada apa?"


"Saya pikir anda kenapa-napa. Maafkan saya Nona Muda," ujar Meera.


Mardiyah menggeleng. "Nggak. Saya nggak pa-pa. Ada apa?"


"Nona Muda, sore ini ... Tuan Gautama meminta saya untuk mengajak Nona Muda keluar menggeliling vila ini." Meera memberikan set pakaian muslimah berwarna navy pada Mardiyah. "Ini baju yang bisa Nona gunakan."


"Ya. Letakkan di meja saja."


Setelah pelayan muda itu keluar Mardiyah menatap pakaian itu. Untuk apa keluar? Lagi pula sebentar lagi benar-benar gelap, batinnya dengan mulai membuka baju tidurnya, mengganti dengan pakaian yang sudah di sediakan.


Tok. Tok. Tok.


Pintu terketuk saat ia telah selesai menggunakan pakaian dan hanya tinggal kerudung saja. Lantas tak lama pintu kamar terbuka, menampilkan Abhimata yang masuk dengan senyum simpulnya.


"Kak ..."


"Ada apa?"


Abhimata menggeleng. "Nggak ada apa-apa."


"Kamu aneh."


Abhimata mengeluarkan amplop putih yang entah berisikan apa lantas diberikan pada Mardiyah.


"Ini apa?"


Abhimata melihat ke lain arah. "Nggak tahu."


"Maksudnya?" Kening Mardiyah mengerut, dengan membolak-balik amplop. "Apa isinya?"


"Nggak tahu. Itu dari orang."


"Siapa?"


Abhimata terdiam sejenak. "Suami Kakak."


Su ... ami? Lutfan? Dari Lutfan?

__ADS_1


__ADS_2