Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
109 (2) : Perbincangan Dini Hari Mardiyah Dan Nenek Aisha.


__ADS_3


Dini hari. Pukul 02.00 WIB. Mardiyah terbangun saat merasa tidak nyaman bergerak ke kiri, karena ternyata Lutfan tertidur dengan memeluknya. Terkadang-kadang memang selalu seperti ini, apa tangan Lutfan tidak kesemutan? Atau sakit?


Mardiyah menurunkan tangan Lutfan pelan dari bahunya. Kemudian ia bergerak pelan untuk menuruni ranjang, dan melihat ke arah cermin langsung, yang tanpa ia sadari matanya bengkak. Aku benar-benar nangis semalaman. Bahkan rasanya buat buka mata aja susah, batinnya dengan mulai berdiri, berjalan meninggalkan kamar menuju ke dapur.


"Sepi." Mardiyah menatap pintu kamar Nenek Aisha sejenak. "Nenek ... masih bangun atau udah tidur? Aku ... khawatir."


Segelas air Mardiyah teguk dengan duduk. Lalu ia berdiri lagi untuk membuka pintu kamar sang Nenek, dan masuk perlahan-lahan. Terlihat Nenek Aisha terbaring tidur dengan menghadap ke kiri, beliau sendirian, ia mengira tadi bersama Umma Sarah. Saat telah sampai di tepi ranjang, Mardiyah memilih duduk bersimpuh, sembari menatapi wajah keriput itu.


Nenek ... apa Nenek semarah itu waktu tahu aku bukan Ibu? batin Mardiyah.


Sreg.


Beliau membuat pergerakan dengan mengubah posisi tidur menghadap kiri yang mana langsung Mardiyah bisa menatap. Wajah keriput dan sendu itu, tidak mirip dengannya, bukankah berarti ia mirip dengan sang Kakek?


"Nek ..." lirih Mardiyah.


Mata itu sama sekali tidak terbuka.

__ADS_1


"Maafin cucu Nenek ini, ya?" Mardiyah menjeda dengan duduk bersimpuh di bawah ranjang. "Maafin semua kesalahanku, Nek. Mulai dari berpura-pura jadi Ibu, dan juga kesalahanku menerima Pak Gautama sebagai Ayah."


Mardiyah menjeda. Matanya memandang pada lantai, lalu detik berikutnya berkaca-kaca. "Aku selalu berharap Ibu ... dan Ayah nggak pernah ketemu, Nek. Jadi ... nggak bakalan ada aku. Nenek sama Kakek pun nggak bakal kehilangan Ibu. Dan Ibu juga nggak bakal pergi dengan cara semenyakitkan itu."


"Ulangi."


Mardiyah mendongak. Mata Nenek Aisha tiba-tiba terbuka. Jadi suara itu berasal dari beliau? "Ulangi semua ucapanmu," lanjut beliau.


"Nenek ..."


"Kamu berharap anakku dan Adiwangsa itu nggak ketemu?" Nenek Aisha menjeda. "Kamu perlu tahu, bahwa seumur hidup ini. Harapan yang selalu ku panjatkan adalah ... hilangnya mimpi buruk tentang kepergian anakku Nitha."


Mardiyah terdiam.


"Kamu ... sebagai anak Nitha. Seharusnya lebih memahami penderitaan dia dibandingkan aku Ibunya. Kenapa kamu mengakui lelaki bajingan itu sebagai Ayahmu? Apa kelaharin yang diberikan Nitha untukmu nggak cukup? Sampai-sampai kamu haus kasih sayang dari lelaki itu? Buat apa juga kamu cari Nenekmu ini? Toh keluarga besarmu itu menerima kamu dengan lapang dada. Bahkan Manggala nggak benci kamu sama sekali. Dia nggak sebenci itu waktu menatapmu di bandingkan menatap anakku! Lelaki tua itu, benar-benar turut andil atas penderitaan anakku. Dan kamu ... bisa-bisanya menampakkan diri di hadapanku dengan memamerkan cinta kasih dari keluarga yang menyakiti anakku!" sambung Nenek Aisha.


Mardiyah menggeleng. "Nek ... aku ... nggak berniat gitu. Aku cari Nenek juga ... karena aku mau tahu tentang Ibu. Aku mau tahu semua kenangan yang Ibu tinggalin sama Nenek. Aku ..."


"Pembohong. Buktinya kamu hidup bahagia sama Tama," sahut Nenek Aisha.

__ADS_1


"Bahagia yang bagaimana yang Nenek lihat? Kita baru bertemu beberapa bulan." Netra Mardiyah berkaca-kaca lagi. Ia menatap sendu pada Nenek Aisha. "Nenek nggak tahu gimana sakitnya aku hidup di panti asuhan. Umma Sarah baik. Tapi beliau bukan Ibuku. Kalau Nenek tanya, apa kelahiran yang diberikan Ibu ke aku ini nggak cukup? Aku bakal jawab, nggak cukup, Nek."


"Karena aku juga butuh Ibu di dunia. Buat apa aku lahir kalau cuma buat di tinggal sendiri, Nek? Nenek dengar berita itu juga, kan? Ibu meninggal karena meminum racun. Ibu juga nulis surat yang harus aku baca waktu aku besar. Aku udah baca, Nek ... ibu bilang Ibu di perkosa. Bahkan ... cuma buat melindungi aku dari keluarga Adiwangsa, Ibu nggak mau kasih aku nama, Nek." Mardiyah menunduk. "Nama yang aku punya ini pun dari Umma Sarah. Mertuaku, Nek. Ibu dari Lutfan. Bahkan beliau juga rela membagi kasih sayang anak beliau untukku, Nek."


"Dan di hari Pak Gautama dan Pak Manggala datang. Kiai Bashir dan Umma Sarah berdiri di depan aku, Nek. Beliau-beliau mengakui aku adalah keluarganya. Sekarang Nenek tanya gimana bisa aku mengakui Pak Gautama sebagai Ayah?" Mardiyah mengigit bibir bawahnya pelan. "Semua ini karena permohonan Nyonya Cecilia. Beliau adalah istri Pak Gautama. Nek ... semua orang merasa sakit. Entah aku, entah Ibu, Nenek, Nyonya Cecilia, Pak Gautama, dan juga Pak Manggala. Semua sakit, Nek. Nenek nggak bisa menyalahkan pihak mana pun. Karena pada akhirnya Nenek juga ... ikut andil menyakiti Ibu."


Nenek Aisha terdiam, saat mendengar ucapan terakhir cucunya.


"Sekarang ... sebagai cucu Nenek. Aku minta maaf. Apapun perlakuanku pada Nenek, aku benar-benar memohon maaf. Dan kalau Nenek mau, minggu ini Nenek ikut ke pemakaman Ibu," sambung Mardiyah dengan menatap sang Nenek.


"Tahu dari makam anakku?"


"Rajendra, putra dari Nyonya Cecilia," jawab Mardiyah.


Nenek Aisha bertanya, "Anak dari Gautama?"


"Iya. Dia membantuku, Nek. Dan aku percaya dia. Kalau Nenek memang mau bertemu Ibu. Nenek harus ikut." Mardiyah menjeda. "Nenek mau, kan?"


[.]

__ADS_1


__ADS_2