
"Kenapa, sih? ... Kenapa hidup gue harus kayak gini?"
Lutfan merubah posisinya dengan duduk lagi. Ia menyugar surai hitam kebelakang beberapa kali, deru nampaknya terdengar. Ia sedikit sesak. Ingatan buruk itu tak bisa hilang dengan sekejap. Ia sungguh paham semua membutuhkan proses, tetapi memang harus selama ini?!
Lelah. Rasanya ingin menangis saja.
Saat ia mendongak netranya menatap meja, tepat pada pigura kecil yang terdapat fotonya, Umma, Abi, Bibi Salamah, Paman Hairul, Mas Jafar, dan juga Mardiyah. Gilanya hanya kenang itu yang dipunya sewaktu kecil. Tak ada lagi foto bersama dengan Abinya. Orang-orang benar, penyesalan memang datang di akhir saja. Mengapa dulu ia tak mengikat sekuatnya sang Abi? Meminta waktu sebanyak-banyaknya pula dan bahkan ... seharusnya ia tak menuruti Abinya untuk ikut bersama Kakek tinggal di kota.
Salahnya. Semua ini salahnya.
Bahkan Mardiyah. Perempuan itu berubah. Mana janjinya dulu untuk selalu ada di saat dukanya? Dia sendiri yang berjanji untuk selalu memberi pelukan di saat-saat sulit kehidupannya.
Ingkar. Mardiyah ingkar.
Kepastian hidup ini memang tidak selamanya bahagia saja. Ternyata saat-saat tersedih dalam hidupnya telah terlihat, semakin lama semakin menyakitkan saja.
"Mas Lutfan," ujar Uwais dengan mengetuk pintu.
Lutfan berteriak, "Masuk!"
"Mas, Cak Sur udah datang."
Lutfan mengangguk. "Bentar lagi saya keluar. Tolong sampean bilang ke Cak Sur."
Jarum jam menunjukkan pukul sepuluh. Sudah waktunya berpindah outlet. Dan dari grup sekolah pun tak ada kabar penting. Baiknya ia izin saja, lagi pula sudah ujian nasional dan tinggal menunggu wisuda. Lutfan sama sekali tidak berniat ikut rekreasi bersama.
Alasannya tetap sama, ia tidak mau lepas dari tanggung jawab.
__ADS_1
Lutfan bangkit dan menuju parkiran. Setelah berpamitan pada Uwais dan lain-lainnya, mobil langsung meninggalkan pelataran kedai.
"Mas, sampean kenapa toh?"
Lutfan menggeleng. "Saya nggak kenapa-napa. Emang saya kelihatan aneh ta, Cak?"
"Ndak seh. Cuma pucet, Mas. Sampean belum makan ta?"
"Sampun, Cak."
Cak Sur mengangguk-angguk. "Mungkin sampean kurang tidur. Atau ndak enak badan, Mas?"
"Kayaknya emang kurang tidur, Cak."
"Ya uwes tidur dulu sampean. Nanti Cacak bangunin kalau udah sampe, Mas."
Lutfan menggeleng. Ia lelah, tapi tak ingin tidur. Lagi-lagi terulang, padahal akhir-akhir ini ia sudah bisa tidur normal. Mengapa harus kembali seperti ini? "Enggak, Cak. Nanti aja di outlet selanjutnya saya tidur."
"Kenapa Cak?"
"Nanti ke hotelnya berangkat bareng sama Mbak Mardiyah? Apa gimana?"
Lutfan terdiam sejenak. "Sendiri-sendiri, Cak."
Cak Sur mengangguk paham.
Gawai Jafar yang berada di tas tiba-tiba saja berbunyi. Mungkin notifikasi biasa. Saat di ambilnya ternyata berasal dari aplikasi pesan singkat, Mas Jafar.
__ADS_1
Mas Jafar
Terima kasih, Lutfan.
^^^Sama-sama, Mas^^^
^^^Kalau butuh apa-apa sampean bilang aja ke adiknya Mas ini, okay?^^^
Mas Jafar
Iya
Asal kamu tidak kerepotan
^^^Nggak bakal^^^
Layar gawai Lutfan matikan. Berbicara mengenai Kakak sepupunya, Mas Jafar---beliau saat terbangun dari koma harus mengalami kebisuan. Penyebabnya karena trauma kepala, ia sudah lebih bersyukur karena Mas Jafar tidak meninggalkan Bibi Salamah. Mas Jafar berjuang hingga bisa pulih kembali. Rasa-rasanya jika Mas Jafar pergi juga, ia tak akan sanggup bertahan lagi.
Bahkan Bibi Salamah dan Kakek membuat Mas Jafar seolah-olah masih berada di kota. Padahal sebenarnya, beliau sudah berada di kediaman Paman Hairul, di pesantren. Sungguh menyembunyikan Mas Jafar, bukan lah takut akan gunjingan orang-orang. Tapi hanya untuk pemulihan Mas Jafar, tanpa gangguan.
"Mas," ucap Cak Sur.
"Ya, Cak?"
"Kalau ada apa-apa. Sampean bisa minta tolong ke Cacak. Wes ndak usah sungkan. Abi Aziz itu wes Cacak anggep kayak Masnya Cacak sendiri. Cacak tahu, Le. Di tinggal pasti sakit, keinget terus, tapi sampean kudu ikhlas."
Lutfan mengangguk. "Nggih, Cak."
__ADS_1
"Kalau gitu njenengan bisa marah-marahin saya kayak marahin ponakan Cak. Boleh banget. Nanti juga saya mau ngerepot-repotin Cacak terus. Anter sini lah sana lah. Semua minta anterin Cacak. Tapi nggak pa-pa emang, Cak?" lanjut Lutfan.
"Ndak pa-pa Cacak malahan suka."