
Lazuardi hotel.
Mobil berhenti di parkiran bawah tanah. Sesaat kemudian Manggala membukakan pintu untuknya, lantas menyambut tangan. Namun Mardiyah tolak dengan alasan ingin berjalan sendiri.
Dibelakang juga ada Linggar, Lingga, Abhimana, dan Abhimata yang terpaksa ikut bersamanya. Mardiyah berjalan perlahan bersebelahan dengan Gautama dan Gumira. Sedangkan yang memimpin adalah Manggala.
"Tama, ajak anakmu ke kamar itu," ujar Manggala.
Gautama terdiam sejenak. "Pa, tapi ..."
"Ajak saja, Nak. Di sana ada beberapa kenanganmu dengan Zanitha, kan?" ujar Manggala, lagi.
Gautama hanya bisa mengangguk. "Ayo, Nak. Ikut Papa."
Mardiyah menatapi Gautama sejenak. Kemudian berjalan perlahan mengikuti Gautama di belakang, hingga memasuki lift. Selanjutnya di klik lantai 10 dan lift pun berhenti di sana.
"Kenangan apa saja yang Pak Gautama punya dengan Ibu saya?"
Gautama terlihat menghela napas. "Bagaimana bisa kamu memanggil Zanitha dengan sebutan Ibu. Sedangkan saya ... dengan sebutan Pak Gautama. Kamu tidak ingin memanggil saya Papa, Nak?"
"Ibu saya tidak pernah berkeluarga lagi. Sedangkan Pak Gautama memiliki seorang anak yang masih bisa memanggil anda dengan sebutan itu," jelas Mardiyah.
Gautama hanya mengangguk, perlahan-lahan berjalan dan berhenti di kamar nomor 105 lantas membuka kunci itu. Gautama mempersilahkan Mardiyah untuk masuk terlebih dahulu.
"Di kamar ... ini?"
Gautam mengangguk. "Kamar ini adalah tempat istirahat khusus untuk sekertaris saya. Tetapi kamar ini adalah pilihan Zanitha."
"Apa anda mempunyai foto Ibu saya?"
__ADS_1
Gautama terdiam sejenak. "Maaf."
"Pak Gautama tidak punya? Jadi, Pak Manggala berbohong?"
Jeda tiga detik Gautama berujar, "Tidak bisa di katakan berbohong sepenuhnya. Karena di sini memang ada beberapa barang yang di tinggalkan Ibumu."
"Apa itu?"
Gautama mendekat ke arah laci dan membuka yang pertama. "Lihat ... ini semua milik Ibumu."
Mardiyah mendekat, mengambil salah satu kain yang tergeletak di sana dan menatapinya sebentar. "Kerudung? Ini ... punya Ibu?"
"Iya. Itu punya Ibumu."
Mardiyah menggenggam kerudung, dan menatap ke arah televisi yang tertempel di dinding. "Saya boleh bertanya?"
Mardiyah berkata, "Apa yang membuat Bapak tega melakukan itu pada seorang gadis?"
"Papa harus menjawab?"
Mardiyah mengangguk.
"Jika waktu bisa di ulang. Papa tidak akan pernah menyetujui Zanitha untuk menjadi sekertaris. Sehingga gadis sebaik Ibumu tidak akan pernah berada dalam jangkauan orang seperti Papa." Gautama berjalan ke arah jendela, ia tersenyum getir mengingat-ingat paras menyedihkan Zanitha. "Orang-orang salah tentang Ibumu. Bagaimana bisa seorang gadis terpelajar, dari keluarga baik-baik berani menggoda laki-laki?"
"Papa yang jahat, Nak," imbuh Gautama.
Mardiyah terdiam, meletakkan kembali kerudung. "Hanya ini saja kenangan yang Pak Gautama maksud?"
"Iya. Hanya ini saja. Tidak ada satu pun foto yang Papa punyai bersama Ibumu," jawab Gautama.
__ADS_1
Mardiyah berbalik hendak menuju pintu. "Kalau begitu. Saya pamit. Saya harus pergi---"
"Siapa yang mengizinkan kamu pergi, Nak?" sanggah Gautama yang mendekat ke arah Mardiyah, pintu kamar masih tertutup. "Papa tidak akan pernah mengizinkan kamu kembali lagi ke panti asuhan itu."
Mardiyah menengok menatap tajam Gautama. "Bapak ingin mengingkari janji? Saya benar-benar akan membenci anda jika anda melarang saya untuk kembali ke panti asuhan lagi. Lagi pula apa hak an---"
"Kamu masih mempertanyakan hak Papa, Nak?" Gautama sudah mendekat ke arah Mardiyah. Bahkan mulai menyentuh lengan sang anak. "Kamu adalah anak Papa. Papa juga berhak atas kamu."
"Saya anak di luar pernikahan. Bapak sama sekali tidak berhak---hmmpp." Gautama membungkam Mardiyah dengan kain yang telah ditetesi obat bius. Dan tanpa persiapan apa pun Mardiyah tidak bisa melawan hingga kesadarannya hilang detik itu juga.
"Ah, kepalaku ..."
Mardiyah perlahan-lahan membuka matanya, melihat sekeliling ruangan yang milik kamar dominasi putih. Kedua tangannya menumpu ke belakang, untuk mengambil posisi duduk. Lantas matanya melihat ke arah jendela, langit telah gelap. Kiranya berapa jam ia tak sadarkan diri?
Tangan kanan Mardiyah terangkat menyentuh kepalanya. Rambut? Leher? batinnya yang tersadar bahwa ia tidak menggunakan penutup kepala sama sekali. Kemudian Mardiyah membuka selimut, melihat pakaian yang di gunakannya seperti dress ... tidur? Yang panjangnya selutut.
"Pembohong ..."
Mardiyah meremas selimut kuat-kuat. Ingatannya telah pulih, ia mengingat Gautama telah membiusnya. Mengapa ia harus ikut? Mengapa iming-iming tentang kenangan sang Ibu sangat membuatnya tak berdaya? Bahkan seharusnya Lutfan melarangnya pergi.
Clek.
Terdengar seseorang yang membuka kunci pintu kamar. Jadi dirinya di kurung? Tak lama seorang wanita paruh baya memasuki kamar dengan membawa makanan dan beberapa tas pakaian.
"Selamat malam Nona Muda Mahika."
Nona Muda Mahika? Aku ... Mahika?
__ADS_1