Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
Bagian 38 : Perbincangan Di Kamar Lutfan


__ADS_3

Kedatangan Lutfan di sambut oleh Mas Jafar, Alma dan juga Salwa. Sebab Umma Sarah dan Ummi Salamah masih berada di rumah Kiai Bashir. Cak Sur menggendong Lutfan dan mendudukkan di kursi roda, beruntungnya desain rumah yang ditinggali ini, datar bagian bawahnya. Sehingga segala hal memudahkan keadaan Lutfan.


Mardiyah sibuk memasukkan tas-tas yang di telah dikeluarkan oleh Cak Sur ke dalam kamar Lutfan. Sebenarnya sungkan, namun mau bagaimana lagi ia harus sesegera mungkin meletakkan barang-barang Lutfan. Saat masuk di edarkan pandangannya melihat sekeliling kamar Lutfan yang benar-benar seperti remaja; ranjang ukuran sedang dengan seprai putih, ada lampu hias yang bergantung di plafon, beberapa koleksi poster dan boneka kecil anime favoritnya, tidak lupa juga hiasan dinding motivasi.


Dan saat Mardiyah menatap ke arah rak meja yang cukup luas, di samping tepatnya ada beberapa buku tersusun. Di antaranya; komik, novel, Al-Qur'an, buku-buku healing dengan segala judul, tidak lupa juga ada ... buku-buku islami yang entah apa saja tidak sanggup Mardiyah baca semua.


Aku ... bener-bener menikahi lelaki muda, batin Mardiyah tiba-tiba. "Lagi pula dia pulang pergi semenjak usia 17 tahun, jadi nggak salah kalau sekalipun kamarnya begini."


"Mbak Mardiyah!" Salwa masuk tiba-tiba dengan tersenyum lebar. "Mbak, lama banget lho. Dicariin sama suami berondongnya Mbak Mar itu lho."


"Astaghfirullah, Salwa. Lagian beda tiga tahun bisa-bisanya kamu sebut Masmu itu suami brondong," ujar Mardiyah dengan berbalik menatap Salwa. "Memang kamu pikir Mbak punya suami lagi yang suami tua gitu?"


"Astaghfirullah, Mbak! Ya jangan toh. Kan kan aku becanda lho." Salwa mengerucutkan bibir. "Masa di ambilnya serius banget. Cukup Mas Lutfan, cukup Masku aja, dia soalnya ganteng, tajir dan kelihatan cinta banget sama Mbak Mar. Seriusan aku nggak bohong. Aku bisa lihat dari mata dan hatinya bener-bener kelihatan. Beruntung banget kan sampean, Mbak."


Mardiyah tersenyum tipis. "Udah jangan banyak bicara. Ayo keluar."


Saat keluar dari kamar. Lutfan melihat Salwa mengandeng lengan Mardiyah dengan senyum lebar yang tidak hilang.


"Mas, mau makan? Aku berencana mau masak sama Mbak Mar sama Kak Alma juga," ujar Salwa.


Mas Jafar memandang Salwa dengan senyum tipis. Sedangkan Lutfan menatap dengan pandangan kesal. "Sal, jangan aneh-aneh deh, Mas nggak suka lho kalau kamu ngerepotin orang lain!"


"Orang lain apanya sih, Mas? Orang ini Kak Alma sama Mbak Mar, kan kedua perempuan cantik ini istri Mas-masku ya ndak pa-pa dong aku repotin bentar aja," ujar Salwa mencari pembelaan.


Alma menyahut, "Nggak ngerepotin. Kebetulan saya lagi di sini sama Mas Jafar, jadi sekalian masak aja. Niatnya tadi mau di bawain dari Kedai tapi ternyata kamu bilang pulangnya dadakan jadi nggak jadi deh."


"Tapi kan---"


"Assalamualaikum."


Terdengar suara salam dari pintu depan. Ternyata Umma Sarah telah datang, beliau membawa beberapa bingkisan, yang mana beliau langsung masuk mendekati sang Putra dan mengecup kening Lutfan beberapa kali.


"Waalaikumussalam."


"Umma ... udah dong," protes Lutfan yang entah mengapa malu, sebab di sini ada Mardiyah. Ia tidak mau terlihat seperti anak kecil. "Cium keningnya, udah Umma."


"Iya-iya. Udah." Pandangan Umma Sarah beralih pada Mardiyah, Alma dan Salwa. Kemudian menyerahkan bingkisan yang beliau bawa. "Ini ada lauk sama nasi. Umma minta tolong ya Nak taruh di piring satu-satu buat kalian makan."


"Iya, Umma."


Seperti yang di minta Umma Sarah, setelah meletakkan pada piring satu-satu. Mardiyah, Alma, Salwa, Lutfan serta Mas Jafar makan bersama. Sedangkan Umma Sarah istirahat di kamar beliau. Dan alhamdulillah kabar tentang Kakek---Kiai Bashir telah membaik, sekarang yang menjaga beliau adalah Ummi Salamah.


"Lutfan, Mardiyah saya sama Mas Jafar pamit, ya?"


"Aku juga pamit, Mbak, Mas. Mau ikut ke pesantren juga."

__ADS_1


Lutfan mengangguk, pandangnya beralih pada Jafar. "Hati-hati di jalan. Sorry ngerepotin Mas sama istri Mas."


"Nggak ngerepotin, kok," jawab Alma.


"Salwa, jangan nakal-nakal, jangan buat masalah di pesantren," nasihat Lutfan dengan menampilkan wajah garangnya yang mana langsung di sambut cubitan pipi oleh Salwa. "Eh! Dasar!"


"Habis gemes aku sama Mas Lutfan." Seketika langsung Salwa merubah posisi tegak dan hormat. "Siap! Aku nggak bakal cari masalah, palingan cari jodoh. Dah! Assalamualaikum!"


Mardiyah menggeleng-geleng melihat tingkah Salwa yang benar-benar seperti Lutfan versi perempuan. Menggemaskan memang. Setelahnya rumah Umma Sarah kembali sepi, Lutfan mendongak menatapnya.


"Apa?"


Lutfan menggeleng.


"Kamu mau tidur?"


"Boleh. Kayaknya gue ngantuk."


Mardiyah mengambil posisi di belakang Lutfan, perlahan-lahan tangannya mendorong kursi roda memasuki kamar suaminya. Lagi-lagi di sambut oleh lampu hias yang seingatnya tadi mati, dan yang hidup tadi adalah lampu tengah.


Apa otomatis? batin Mardiyah.


Di dorongnya kursi roda sampai berdekatan dengan ranjang. Lalu dengan sekuat tenaga Mardiyah menuntun Lutfan duduk, dengan tangan kanan Lutfan yang menyentuh kursi roda, sedangkan tangan kirinya memeluk erat pinggang Mardiyah.


Namun tiba-tiba, Lutfan merasa hilang keseimbangan, spontanitas tangan kirinya menarik Mardiyah supaya tidak jatuh ke lantai, hingga sang istri jatuh tengkurap tepat menabrak dada bidangnya. "Aduh ... so-sorry. Lo nggak pa-pa?"


Lutfan mengambil posisi duduk dengan pipi merah, serta menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Gue ... baik kok. Sorry ngerepotin lo. Ada yang sakit?"


"Enggak."


"Hm. Alhamdulillah kalau gitu. Lo ..." Lutfan berbalik menatap ranjang sedang. Sebenarnya cukup untuk di gunakan tidur berdua, namun mungkin harus saling berdekatan. Bahkan tidak bisa di beri pembatas di tengah-tengah. Mardiyah pasti menolak jika tidak ada pembatas. "Nggak pa-pa tidur di sini?"


"Nggak pa-pa. Kalau kamu izinin sih."


Lutfan menyahut cepat, "Gue izinin lah! Eh? ... a-anu maksud gu-gue gini ... lo boleh tidur di sini, lagian kan ini itu rumah punya Umma. Bukan punya gue."


"Tapi kan ini kamarmu."


Lutfan mulai bingung mencari alasan. "Ya-ya sama aja 'kan? Kamar gue bagian dari rumah Umma."


"Iya juga, ya." Mardiyah bangkit, memindahkan kursi roda pada pojok dinding yang dekat dengan rak-rak buku. "Oh iya, Lutfan. Baju ... gantimu di taruh di mana?"


Lutfan menunjuk lemari pakaian minimalis berwarna abu-abu. "Di sana."


"Saya boleh buka?"

__ADS_1


"Ya boleh. Lo kan ..." Lutfan memandang ke arah lain. "Istri gue. Jadi, ya nggak pa-pa."


"Hm. Okay." Mardiyah mengambil tas yang berada di bawah lantas mendekat ke arah lemari, lalu membuka resleting tas dan lemari mulai memasukkan baju serta hal-hal lain milik Lutfan di sana. "Udah."


"Baju lo juga masukin." Lutfan menunjuk pada bagian sebelah. "Gamis-gamis lo bisa di gantung di sana."


"Iya. Tapi saya cuma bawa dua gamis aja. Sisanya nanti saya ambil di asrama."


Lutfan mengangguk-angguk. Dan ia melihat Mardiyah telah usai menyusun pakaian, dan sang istri pun berjalan mendekat, dan duduk tepat di sampingnya. "Lo mau mandi?"


"Kamu enggak?"


"Gue tanya lo, Mar. Ya Allah ..."


Mardiyah menggeleng. "Nanti aja."


"Ya udah gue dulu. Tolong ambilin kursi rodanya."


Mardiyah menengok menatap sang suami. "Saya bantu, ya?"


"E-enggak-enggak nggak usah. Gue bisa sendiri. Tolong ambilin kursi rodanya aja," ujar Lutfan dengan menunjuk kursi rodanya. "Tolong Mar ..."


"Kamu suka gini. Saya nggak suka."


Lutfan mengerutkan kening. "Gini gimana sih Mar, Ya Allah ... jelasin coba."


"Saya menawarkan kamu nggak mau. Padahal jelas-jelas kamu butuh di bantu," jawab Mardiyah.


Ya emang butuh banget. Tapi ... ya nggak lo juga kan? Gue ini bener-bener suka deg-degan kalau lo pegang-pegang, batin Lutfan dengan wajah yang memerah padam. "Enggak. Gue cuma butuh bantuan ambilin kursi roda aja."


"Hm. Gitu? Terus, mandi di mana? Di kamar mandi deket dapur?"


Lutfan menggeleng, menunjuk pintu kamar mandi yang terlihat menyerupai dinding. "Itu kamar mandi."


"Kok ... kayak dinding, ya?"


"Iya. Sengaja gue buat gitu."


Mardiyah mengangguk-angguk. "Ya udah, saya bantu ya? Lepas dulu bajunya di sini."


"Eh enggak-enggak." Mardiyah bangkit, menyentuh kerah baju Lutfan, turun pada kancing pertama dan membuka. "Mar, Mar, Ya Allah ... gue bisa sendiri. Kan gue bilang nggak usah. Astaghfirullah. Lo denger nggak sih, Mar?"


"Denger. Makanya saya bantu lepasin baju aja."


"Gue kan udah bilang bisa sendiri."

__ADS_1


Mardiyah mundur, terdiam sejenak. "Okay. Kalau gitu buka bajumu sendiri, saya bantu mandinya saja."


Apa?!


__ADS_2