
"Jika begitu ... berarti Papa harus berterima kasih pada menantu Papa itu, kan?" ujar Pak Gautama dengan membuka dan menatap sang anak dari samping.
Mardiyah menunduk menatap jari jemarinya. "Anda sudah selesai bicara?"
"Belum."
"Anda ingin berbicara apa lagi?"
Pak Gautama mengusap wajah dengan kedua tangan. "Papa mengakhiri pembicaraan, jika kamu bersedia memenuhi keinginan Papa, Nak."
"Anda terlalu menuntut."
"Papa memang selalu seperti ini," jelas Pak Gautama. "Peluk Papa sebentar. Setidaknya, supaya Papa bisa benar-benar ikhlas membiarkanmu tinggal bersama Lutfan. Katakan saja bahwa pelukan itu adalah restu terbaik Papa untuk pernikahanmu."
Ucapan itu ... dada ku sakit, batin Mardiyah yang tanpa sadar menyusupkan tangannya dari dalam kerudung dan memegangi dada. "Iya," lirihnya.
"Iya?" Netra Pak Gautama melebar. Mata yang terbiasa menatap orang dengan datar dan dingin. Kini berganti dengan sendu, menatap sang putri. "Kamu mengabulkan permintaan Papa?"
Mardiyah mengangguk, dengan masih menunduk ia mengubah posisi sedikit ke samping. Lalu tangannya merentang perlahan, menyambut pelukan, dengan salah satu tangan di pinggang sang Ayah dan salah satunya lagi pada bahu.
"A ... yah ..."
Bulir air mata menjadi sambutan penuh haru atas dekapan Ayah dan anak ini. Mardiyah tidak pernah berpikir untuk memeluk sang Ayah lagi. Begitupula dengan Gautama yang tidak pernah menyangka bahwa sang anak akan mengabulkan pintanya.
"Maafkan Papa, Nak," ujar Gautama.
Mardiyah menggeleng dalam dekapan sang Ayah. "Maaf. Harusnya ... aku ... aku yang minta maaf, Ayah."
__ADS_1
Lagi-lagi dia menangis Zanitha, batin Gautama dengan masih memeluk anaknya erat. "Apapun kesalahanmu Papa sudah memaafkan. Karena bagaimana pun yang bersalah adalah Papa, Nak."
"Berhentilah menangis," lanjut Gautama yang mengusap-usap kepala Mardiyah yang tertutupi oleh kerudung. "Papa tidak mau acaramu memiliki awal yang menyedihkan seperti ini. Papa ingin kamu tersenyum bahagia, Nak."
Saat Mardiyah hendak menjawab. Kecupan singkat terasa mendarat di pucuk kepalanya. "Ayah datang ya nanti? Duduk jauh dari aku nggak pa-pa. Asal itu nggak buat Ayah malu, harus mengakui anak sepertiku ini."
Papa tidak akan pernah merasa malu, batin Gautama.
"Kamu habis nangis?"
Mardiyah mengangguk-angguk dengan mengusap mata kiri dan kanannya bergantian.
"Sini, Mar. Aku peluk," ujar Lutfan lagi, yang meminta istrinya mendekat. "Ayo sini."
Mardiyah mendekat. Untung saja para penata rias belum datang, dan di kamar ini hanya ada dirinya dan Lutfan. Suaminya itu duduk di atas ranjang, sedangkan Mardiyah mendekatkan dan duduk bersimpuh di bawah.
"Lutfan ... "
"Apa?"
Mardiyah terdiam sejenak. "Kamu ... beneran izinin Ayahku datang ke resepsi?"
"Iya, Mar. Bukannya H-seminggu kita udah ke sana minta beliau sama Pak Manggala datang?"
Mardiyah mengangguk-angguk. "Aku tahu. Ta ... pi, kamu bilang kan ... kamu belum bisa maafin Ayah. Jadi a-aku---"
__ADS_1
"Mar, apa kamu pikir aku bakal sejahat itu?" Usapan tangan Lutfan beralih pada punggung sang istri. "Ini hari bahagia kita bersama. Apa aku bakal egois buat larang keluarga kamu datang? Aku nggak gitu, Mar. Aku nggak mau di sini yang bahagia cuma aku. Aku juga mau kamu bahagia dengan kedatangan seluruh keluarga kamu." Bahkan ... aku diam-diam mendatangi Rajendra juga, Mar. Setidaknya lelaki itu harus diberitahu. Supaya lebih sopan, Mar. Aku nggak mau dia tiba-tiba buat kegaduhan di resepsi pernikahan kita, lanjut Lutfan dalan hati.
"Makasih, Lutfan."
"Iya." Lutfan menyusupkan tangannya pada kedua tangan sang istri. "Ayo berdiri. Jangan di bawah gitu, Mar."
Mardiyah berdiri. Kedua netra itu langsung saling menatap, dan fokus mata Mardiyah pada bibir Lutfan yang sedikit menganga. Lantas dengan sadar Mardiyah sedikit menunduk menempelkan bibirnya pada benda kenyal milik sang suami.
Lutfan jujur terkejut. Namun beberapa saat ia mulai mengikuti alur permainan bibir sang istri. Lalu dengan sadar Lutfan menarik Mardiyah kian dekat untuk memperdalam ciuman. Bahkan tangan yang semula mengusap-usap pinggang kini meraba pada pergelangan tangan, berlalu pada lengan dan berhenti tepat pada bukit kembar itu.
"Ah."
Mardiyah melepas ciuman tiba-tiba, kakinya sedikit lemah, getaran aneh ini selalu ia rasakan saat Lutfan menyentuh di tempat itu. Jujur saja ia terlalu sensitif di tempat itu. "Lut ... fan, ah ..."
"Kamu suka, Mar?"
Mardiyah mengganguk. Namun sekejap saja menggeleng. "Lutfan ... berhenti."
"Kamu yang mulai," ujar Lutfan pelan.
Tapi aku kan cuma mau cium bibir, batin Mardiyah.
Spontan tangan Lutfan langsung menghentikan aksinya pada di tempat itu. Saat melihat seorang wanita yang tidak lain adalah penata rias. "Mar, penata riasnya udah dateng," ujarnya.
"Permisi, Mbak Mardiyah sama Mas Lutfan, ya?
Mardiyah menunduk, menatap bagian dada sejenak, lalu membenarkan kerudungnya yang tidak beraturan. "Iya, Mbak." Mardiyah langsung berbalik dan tersenyum tipis. "Saya mau makan dulu, ya Mbak?"
__ADS_1
"Nggak pa-pa, Mbak Mardiyah. Silakan. Make up pertama ini insya Allah cepat kok. Lagi pula nggak terlalu berat kayak make up kedua nanti," jelas penata rias.
"Terima kasih, Mbak."